← Chapters Ch. 35 / 45

Chapter Thirty Five

Sampai ke Rumah

POV: Evelyn | ±1025 kata

Panggilan untuk makan malam keluarga datang lewat asisten rumah tangga, hari Sabtu pagi, dengan kalimat yang di rumah itu setara surat panggilan resmi: “Non, Bapak minta Non Evelyn ada di meja makan jam tujuh. Bapak sama Ibu dua-duanya di rumah.”

Dua-duanya di rumah. Di hari yang sama. Untuk makan malam.

Evelyn menatap asisten itu, mengangguk, dan begitu pintu kamarnya tertutup, mengirim satu chat:

Eve: nis. udah nyampe. malem ini.
Annisa: inget ya. jangan nangis duluan. nangis itu amunisi, dipake terakhir.

Meja makan keluarga Hendrawan panjangnya bisa memuat dua belas orang dan malam itu diisi tiga. Sup jagung diaduk tanpa dimakan. Denting sendok. Lampu gantung kristal yang cahayanya selalu membuat semua orang kelihatan lebih pucat.

Papanya membuka percakapan tanpa pembukaan, tanpa mengangkat wajah dari piring:

“Tante Laras kirim ke Papa postingan kamu.”

“Oh.” Evelyn menaruh sendoknya, pelan. Dia sudah berlatih untuk momen ini di depan cermin dua hari, dan keputusan pertamanya: tidak mengelak satu milimeter pun. “Berarti nggak usah aku ceritain dari awal. Enak, hemat waktu.”

“Evelyn.” Mamanya menyebut namanya dengan nada peringatan.

“Namanya Adam.” Pak Hendrawan akhirnya mengangkat wajah. Wajah rapat direksi: datar, efisien, sudah memegang semua data yang dia anggap perlu. “Mahasiswa Informatika. Yatim piatu. Besar di panti asuhan. Tinggal di kontrakan di gang. Tidak punya keluarga, tidak punya aset, tidak punya... apa-apa.” Setiap kata diletakkan seperti angka di laporan rugi. “Papa suruh orang cek dalam sehari. Bukan hal susah.”

“Papa nyuruh orang nge-background check pacarku?”

“Papa melindungi anak Papa. Itu tugas Papa.” Suaranya tidak naik. Suara itu tidak pernah perlu naik. “Dan hasilnya persis yang Papa takutkan sejak kamu kecil: kamu ini target, Evelyn. Kamu selalu jadi target. Bedanya target zaman sekarang mainnya halus — panti asuhan, jaket lusuh, cerita sedih. Bagus sekali ceritanya. Internet saja sampai nangis.”

Evelyn merasakan panas naik dari dadanya, dan menahannya. Amunisi. Terakhir.

“Papa udah selesai?”

“Belum. Senin depan keluarga Wijaya makan malam di sini. Anaknya, Nathan, baru pulang dari Melbourne, pegang perusahaan keluarganya. Kamu ikut duduk. Papa tidak minta kamu apa-apa selain hadir dan bersikap baik.”

“Nggak.”

Kata itu jatuh di meja panjang dan tinggal di sana.

Pak Hendrawan menaruh sendoknya. Untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar menatap anaknya. “Apa kamu bilang?”

“Aku bilang nggak, Pa.” Evelyn balas menatap, dan tangannya di pangkuan mengepal supaya tidak gemetar, dan suaranya keluar lebih tenang dari yang dia duga — mungkin karena kalimat-kalimat ini sudah lima belas tahun disiapkan. “Aku hadir kalau Papa minta aku hadir sebagai anak. Aku nggak hadir kalau aku dipajang sebagai... aset yang mau di-merger. Dan soal Adam: Papa cek dia sehari. Aku kenal dia lima belas tahun. Datanya Papa kurang lengkap.”

“Lima belas—“ Papanya mengernyit, lalu mengibaskannya, karena angka yang tidak masuk model dianggap salah input. “Evelyn. Papa sudah lihat ribuan orang seperti dia. Kamu belum. Itu bedanya kita. Orang tidak punya apa-apa yang mendekat ke yang punya segalanya, motifnya cuma satu—“

“Dia nggak pernah mendekat!” Suaranya akhirnya naik, satu-satunya sekali malam itu. “Papa mau tau datanya? AKU yang ngejar. Bertahun-tahun. Dia yang mundur terus karena mikir dia nggak pantes — karena orang-orang kayak Papa udah ngajarin dia seumur hidup kalau anak kayak dia nggak boleh masuk rumah kayak gini!” Dia menarik napas, gemetar, menurunkan nada lagi dengan susah payah. “Dia nolak aku traktir, Pa. Nolak. Aku. Traktir. Se-gelas-teh. Papa pernah ketemu spesies itu di ribuan orang Papa?”

Hening panjang. Mamanya menatap sup jagungnya. Lampu kristal berdenting pelan disentuh AC.

“Selesai makannya,” kata Pak Hendrawan akhirnya, kepada piring, kepada ruangan, kepada struktur organisasi. “Senin kamu duduk di meja ini. Soal anak itu — Papa nggak akan ribut. Papa nggak pernah perlu ribut.” Dia berdiri, merapikan jasnya, dan mengucapkan kalimat penutup dengan nada yang paling menakutkan justru karena datarnya: “Hal-hal seperti ini selesai sendiri, Evelyn. Kamu terlalu muda untuk tahu: yang nggak punya fondasi itu nggak perlu dirobohkan. Ditunggu saja.”

Dia meninggalkan meja. Mamanya menyusul lima menit kemudian setelah satu tatapan panjang yang isinya tidak bisa dibaca — antara sabar ya dan jangan lawan dan mungkin dua-duanya.

Evelyn duduk sendirian di meja dua belas kursi itu, di depan sup jagung yang sudah dingin, sampai asisten datang membereskan.

Jam sepuluh, pintu kamar Evelyn diketuk pelan. Mamanya masuk membawa segelas teh — hal yang tidak dia lakukan sejak Evelyn SMP — menaruhnya di meja belajar, dan berdiri sebentar menatap barang-barang di sana: payung lipat biru tua di sudut, dua bangau kertas yang saling menoleh, jaket abu-abu di sandaran kursi.

Dia tidak menyentuh apa pun. Tidak bertanya apa pun.

“Papamu itu,” katanya akhirnya, kepada jendela, “dulu ngelamar Mama pake sepeda pinjeman. Kakekmu nggak keluar kamar tiga hari.”

Evelyn menoleh cepat. “...Mama?”

“Udah, tidur. Besok kuliah.” Mamanya berjalan ke pintu, berhenti di ambang, dan menutupnya sambil mengucapkan kalimat terakhir dengan nada datar yang jelas-jelas bukan datar: “Tehnya diminum. Perang itu butuh tenaga.”


Malamnya dia menelepon Adam, dan di sinilah dia membuat keputusan yang kelak dia sesali: dia menyaring.

Dia menceritakan garis besarnya — papa tahu, papa tidak setuju, ada makan malam yang dia dipaksa hadir, “tapi tenang, itu urusanku, aku yang beresin.” Dia tidak menceritakan kalimat ditunggu saja. Tidak menceritakan Nathan Wijaya. Tidak menceritakan bagaimana kata tidak punya apa-apa diucapkan papanya persis dengan nada yang paling ditakuti Adam seumur hidupnya.

Niatnya melindungi. Adam sedang babak belur oleh internet satu kampus; tidak perlu ditambah.

“Lyn.” Suara Adam di seberang, hati-hati. “Kamu lagi nyaring ya.”

Evelyn memejamkan mata. Cowok ini dan datanya.

“...Dikit.”

“Separah apa yang disaring?”

“Dam, aku cuma nggak mau kamu—“

“Janji yang di gerbang itu,” kata Adam pelan, “berlaku dua arah nggak sih? Yang nanya dulu. Yang nggak matiin lampu.”

Evelyn terdiam lama. Di sudut kamarnya, payung biru tua berdiri di tempatnya, dan dua bangau di meja saling menoleh, dan jaket abu tersampir di kursi.

“Iya,” katanya akhirnya, pelan. “Berlaku dua arah. Maaf.” Dia menarik napas. “Duduk yang bener, Dam. Ini agak panjang.”

Dan malam itu dia menceritakan semuanya — semuanya kecuali satu: dia tetap menyimpan kalimat ditunggu saja untuk dirinya sendiri, karena ada kalimat yang kalau dipindahkan ke kepala Adam akan bekerja persis seperti yang diinginkan pengucapnya.

Dia belum tahu bahwa papanya tidak butuh bantuannya untuk itu.

Kalimat-kalimat seperti itu selalu menemukan jalannya sendiri.