Chapter Twenty Three
Mobil Sport
POV: Adam | ±1075 kata
Rencana itu — kalau boleh disebut rencana, karena Adam menyusunnya selama empat hari dan membatalkannya enam kali — dimulai dari dapur panti hari Kamis sore.
“Jadi,” kata Salsa, bersandar di pintu dapur dengan gaya penyidik, “Kak Adam minta diajarin masak. Sama kami. Buat ‘nggak ada alasan apa-apa’.”
“He-eh.” Adam menata kotak bekal kosong yang dia beli — kotak bekal baru, dua tingkat, warna biru tua, jangan bahas — dengan wajah sedatar yang bisa dia usahakan. “Orang belajar masak nggak perlu alasan.”
“Kak Adam bisa masak. Nasi goreng Kak Adam enak.”
“Mau nambah menu.”
“Menu yang mau dipelajarin,” Salsa membaca catatan di meja, “sop bening, ayam kecap, sama tumis buncis. Itu menu bekel.”
“Kebetulan.”
“Bekelnya dua tingkat.”
“Biar muat.”
“Kotaknya biru tua.”
“Warnanya bagus aja.”
Salsa menatapnya lama, membuka buku catatannya, menulis satu baris panjang, lalu berkata dengan nada petugas yang meluluskan berkas: “Yaudah. Kami ajarin. Tapi kalau buat Kak Eve, garemnya jangan banyak-banyak. Kak Eve pernah bilang nggak suka keasinan.”
“...Ini bukan buat—“
“BESOK KAK EVE ADA KELAS SAMPE SIANG,” teriak Dede dari ruang tengah, yang sedari tadi ternyata menguping. “JAM SATU UDAH SELESAI! DEDE TAU JADWALNYA! DEDE HAFAL!”
Adam menyerah menjelaskan. Sore itu dapur panti berubah jadi akademi darurat: Bu Ratna memimpin (sambil senyum-senyum dan tidak bertanya apa-apa, karena ibu-ibu tidak perlu bertanya), Salsa jadi asisten cerewet, dan hasil akhirnya — setelah satu sop kebanyakan garam (“KAK. UDAH DIBILANGIN.”) dan satu tumis nyaris gosong — adalah bekal dua tingkat yang layak: sop bening yang benar-benar bening, ayam kecap, tumis buncis, nasi yang dipadatkan rapi.
Malamnya Adam menulis, lalu merobek, lalu menulis lagi, sebuah catatan kecil untuk diselipkan di kotak itu. Draft final, setelah delapan percobaan, berbunyi:
Dari dapur Rumah Teduh. Anak-anak yang ngajarin. Garemnya udah diprotes Salsa jadi harusnya pas. — A.
Sederhana. Aman. Bisa disangkal sebagai kiriman kolektif dari panti.
Tapi Adam tahu, sambil menaruh kotak itu di ranselnya Jumat pagi, bahwa ini bukan kiriman kolektif. Ini adalah langkah paling jauh yang pernah dia ambil ke arah gerbang yang bertahun-tahun dia yakini bukan untuknya. Bukan pengakuan — dia belum sampai sana, mungkin tidak akan pernah — tapi sesuatu yang untuk ukurannya setara berteriak: aku masak buat kamu. Aku mikirin kamu waktu ngukur garem.
Kamis malam, sebelum pulang dari panti, Dede sempat menginterogasinya di teras dengan gaya yang jelas hasil arahan Salsa:
“Kak Adam, besok kalau Kak Eve seneng bekelnya, Kak Adam mau bilang apa?”
“...Nggak bilang apa-apa. Udah ada catetannya.”
“Yaaah. Kata Kak Salsa, kalau Kak Eve senyum, Kak Adam harus ngomong. Latihan dulu sini sama Dede. Dede jadi Kak Eve.” Dede memasang pose, satu tangan di pinggang, suaranya dibuat-buat tinggi: “Waaah, Adam, bekelnya enak bangeeet.”
Adam menatap bocah tujuh tahun berperan sebagai Evelyn, mempertimbangkan hidupnya, dan akhirnya berkata datar: “...Syukur deh.”
“KAK. NIATNYA MANA. Ulang!”
Latihan itu berlangsung tiga ronde dan gagal semua menurut standar juri. Tapi Jumat pagi, di atas motor, Adam mendapati dirinya mengulang-ulang kalimat sederhana itu — syukur deh, garemnya udah pas kan — dengan degup yang tidak proporsional untuk kalimat sependek itu.
Kalimat yang, seperti bekalnya, tidak pernah sampai.
Sepanjang kuliah pagi dia memeriksa ransel dua kali, memastikan kotak itu tegak. Jam dua belas lewat, dia berjalan ke gedung Manajemen, jantungnya berisik, kalimat pembuka sudah dilatih: “Lyn. Ini dari panti.” Tiga kata. Sisanya biar catatan yang bicara.
Gedung Manajemen punya lobi menghadap jalan. Adam sampai di seberangnya jam satu kurang lima, berdiri di bawah pohon, menunggu kelas bubar.
Jam satu lewat dua menit, sebuah mobil berhenti di depan lobi.
Mobil sport. Putih. Jenis mobil yang membuat orang-orang di lobi menoleh dan setengahnya merekam.
Dan dari lobi, Evelyn keluar — Adam mengangkat tangan setengah jalan untuk melambai — berlari kecil menuruni tangga, ke arah mobil itu, dengan wajah yang terang oleh senyum yang Adam kenal betul karena dia mengoleksinya diam-diam: senyum lebar yang matanya ikut hilang, senyum kelas satu, senyum yang selama ini dia kira— dia kira—
Pintu pengemudi terbuka. Seorang cowok keluar. Tinggi, terang, tertawa lebar, jenis manusia yang kelihatan mahal bahkan dari seberang jalan. Evelyn memukul lengan cowok itu — gestur yang Adam tahu, gestur yang biasanya mendarat di lengannya sendiri — lalu mereka berpelukan sebentar, cipika-cipiki, dan cowok itu mengacak puncak kepala Evelyn dengan keakraban orang yang sudah bertahun-tahun boleh melakukannya.
Evelyn masuk ke mobil. Pintu ditutup. Mobil pergi.
Seluruh adegan berlangsung empat puluh detik.
Adam masih berdiri di bawah pohon. Tangannya yang tadi setengah terangkat sudah turun entah sejak kapan. Di dalam ranselnya, sop bening yang benar-benar bening pelan-pelan menjadi dingin.
Dunia di sekitarnya berjalan normal. Mahasiswa lalu-lalang. Tukang siomay membunyikan mangkok. Tidak ada musik sedih, tidak ada hujan tiba-tiba — dunia bahkan tidak repot-repot memberi cuaca yang sesuai. Cuma siang biasa, dan seorang cowok berdiri di bawah pohon dengan bekal dua tingkat berwarna biru tua, memutar ulang satu kalimat dari panggung yang jauh:
Aku udah lama suka sama orang lain. Lama banget.
Ini orangnya. Tentu saja ini orangnya. Cocok. Semuanya cocok — mobilnya, tawanya, cara mereka saling menyentuh tanpa canggung sedikit pun. Lama banget itu ya ini: keakraban yang tidak bisa dipalsukan, yang cuma bisa ditumbuhkan bertahun-tahun.
Dan hal-hal empat bulan terakhir — payung, labkom, tangan yang bertaut di antara dua kursi, belum di lapak beras — tersusun ulang dalam sekejap di kepala Adam menjadi bentuk yang selalu diprediksi penjaga tuanya: cewek baik yang hangat ke semua orang. Kamu bukan spesial, Adam. Kamu cuma salah baca. Kamu — juara satu membaca data — salah baca sampelmu sendiri, karena kamu terlalu ingin datanya bilang iya.
Oh, pikir Adam. Cuma itu. Tidak ada kalimat kedua. Oh. Iya. Harusnya dari awal aku tau.
Dia tidak marah. Marah butuh merasa berhak, dan Adam tidak pernah merasa berhak atas apa pun sejak umur enam belas.
Dia cuma berjalan pulang ke parkiran, pelan, menghidupkan motor, dan menempuh rute yang memutar — melewati panti tanpa berhenti, karena hari ini tidak sanggup — sampai ke kontrakan petaknya.
Kotak bekal biru tua itu dia keluarkan dari ransel dan taruh di meja. Dia menatapnya lama.
Lalu dia makan isinya sendirian, pelan-pelan, sampai habis, karena makanan tidak boleh dibuang — itu hukum tertinggi bagi anak yang pernah tidak punya.
Sop-nya sudah dingin. Garamnya pas.
Catatan kecil bertulisan — A. itu dia keluarkan dari kotak, lipat dua, lipat empat, dan selipkan ke buku tulis paling bawah di tumpukan — kuburan tempat dia menyimpan semua hal yang tidak boleh dilihat lagi — tepat di sebelah kertas dua kolom yang dulu, yang ternyata memang tidak pernah salah.