Chapter Forty
Mini Heartbreak II
POV: Adam & Evelyn | ±1055 kata
Mereka duduk di kafe dekat kampus — kafe yang terlalu mahal untuk mahasiswa, yang sore itu sepi, yang kopinya dipesankan Pak Hendrawan dua tanpa bertanya. Adam tidak menyentuh miliknya. Tabel di kepalanya otomatis menghitung harga kopi itu: tiga hari makan.
“Santai,” kata Pak Hendrawan, yang justru membuat semuanya tidak santai. “Saya bukan datang untuk drama. Kasih amplop, ancam-ancam — itu cara orang di sinetron. Saya nggak pernah perlu begitu.” Dia menyesap kopinya, menaruhnya, dan menatap Adam dengan tatapan yang berbeda dari makan malam itu — bukan tatapan auditor. Lebih sabar. Lebih berbahaya. “Saya cuma mau ngobrol. Laki-laki sama laki-laki. Boleh?”
“...Silakan, Om.”
“Waktu makan malam itu, kamu bilang satu kalimat yang jujur. ‘Itu bukan level saya.’ Saya hargai kejujurannya.” Jeda yang diukur. “Tapi saya perhatikan Evelyn marah waktu kamu bilang itu. Dan sekarang saya mau tanya — bukan sebagai bapaknya Evelyn. Sebagai sesama orang yang pernah muda dan pernah nggak punya apa-apa; iya, saya dulu mulai dari nol juga, itu yang orang suka lupa.” Dia mencondongkan badan sedikit. “Pertanyaan saya satu, dan saya minta kamu jawab ke diri kamu sendiri, bukan ke saya:
Kamu sendiri — bukan Evelyn, bukan internet, kamu — percaya nggak, kamu cukup buat dia?”
Kafe itu sepi. Mesin kopi berdesis di kejauhan.
“Sebelum jawab, dengar dulu.” Pak Hendrawan bersandar, dan melanjutkan dengan nada yang hampir lembut — dan di situlah letak bahayanya, karena kalimat-kalimat berikutnya tidak dirancang untuk menyerang; kalimat-kalimat itu dirancang untuk setuju: “Saya lihat kamu waktu makan malam. Kamu anak baik. Sopan, jujur, tahan banting. Kalau kamu pegawai saya, karier kamu bagus. Ini bukan soal kamu kurang baik, Adam. Ini soal berat. Kamu ngerti timbangan, kan — kamu anak yang hidupnya ngitung.”
“Evelyn itu, sejak lahir, hidupnya disangga banyak tiang. Keluarga, nama, jaringan, dana. Kamu cabut dia dari situ, semua beban tiang-tiang itu pindah ke mana? Ke kamu. Sendirian. Kamu sanggup hari ini? Mungkin. Setahun? Lima tahun? Waktu anak kalian sakit dan tabungannya kalah sama satu malam di rumah sakit? Waktu dia nemenin kamu ngitung receh dan dia inget dulu nggak pernah perlu ngitung apa-apa?”
“Dia nggak akan ninggalin kamu, saya tau. Anak saya keras kepala, setianya bukan main — itu dari mamanya. Justru itu yang saya takutkan. Dia akan bertahan. Dia akan bilang nggak apa-apa. Dia akan bilang bahagia. Dan pelan-pelan, tahun demi tahun, kamu yang akan lihat sendiri sisa-sisanya — dan kamu, anak yang perhatiannya sedetail itu, akan sadar duluan sebelum siapa pun: dia layak dapat lebih. Nah.” Pak Hendrawan mengangkat cangkirnya lagi. “Yang saya minta bukan kamu pergi. Saya cuma minta kamu jawab jujur pertanyaan tadi. Karena kalau jawabanmu ‘nggak yakin’... kamu sendiri yang paling tahu harus ngapain. Kamu anak yang bertanggung jawab. Itu yang saya andalkan dari kamu.”
Dia berdiri, menaruh uang di meja — cukup untuk sepuluh kopi — dan merapikan jasnya.
“Nggak usah dijawab sekarang. Nggak usah dijawab ke saya sama sekali.” Di ambang jalan keluar, dia berhenti, dan menoleh untuk kalimat terakhir, diucapkan dengan sopan yang sempurna: “Terima kasih waktunya, Adam. Kamu... anak yang baik. Sungguh. Andai ketemunya di keadaan lain.”
Pintu kafe berdenting. Mobil hitam besar itu pergi.
Dan Adam duduk sendirian di kafe mahal itu, di depan kopi yang tidak dia sentuh, selama satu jam penuh.
Pak Hendrawan tidak menyerangnya. Itu yang mematikan. Orang itu masuk, menemukan penjaga tua di kepala Adam — yang sudah lemah, yang sudah hampir pensiun — lalu memberinya seragam baru, gaji baru, dan pembenaran paling mulia yang pernah ada: ini bukan minder, ini tanggung jawab. Ini bukan lari, ini sayang. Racun yang dibungkus persis seperti kebajikan, disuntikkan oleh profesional.
Kamu percaya nggak, kamu cukup buat dia?
Dan Adam — yang di halte sudah menjawab pertanyaan lima belas tahun, yang di panti sudah bilang mau, yang empat hari lalu bertekad habis-habisan — mendapati bahwa untuk pertanyaan yang satu ini, di dasar dirinya yang paling dasar, di lantai yang paling bawah:
jawabannya masih kosong.
Sore itu, di parkiran kafe, motor bebek tua itu butuh tujuh kali engkol untuk menyala — bukan karena mesinnya; mesinnya sudah dipanaskan pagi tadi — tapi karena pengendaranya berhenti di engkol ketiga dan duduk saja di sana, di atas jok, di parkiran kafe mahal, selama entah berapa lama, menatap stang.
Dia tidak mundur. Harus dicatat, demi keadilan sejarah: Adam tidak mundur.
Payung tetap jalan. Chat tetap dibalas — panjang, bahkan; dia melawan dengan panjangnya chat. Sabtu dia datang ke panti di jam yang benar. Dia memegang janjinya dengan sepuluh jari, dengan gigi, dengan segalanya.
Tapi janji yang dipegang sambil tenggelam bunyinya beda, dan Evelyn — seismograf paling sensitif di dunia untuk satu orang ini — menangkap getarannya dalam dua hari: senyum yang telat sepersekian detik. “Aku sayang kamu” (dia sudah mulai bisa mengucapkannya, pelan-pelan, sebulan terakhir) yang minggu ini berubah jadi “aku juga”. Dan yang paling nyaring dari semuanya, Minggu sore di rooftop, satu kalimat yang keluar entah dari lantai mana:
“Lyn. Kalau — misalnya ya, misal — suatu hari kamu nemu hidup yang lebih... ringan. Kamu janji nggak akan nolak cuma gara-gara kasian sama aku, kan?”
Evelyn menoleh sangat pelan.
“...Kamu ketemu papaku ya.”
Adam tidak menjawab. Tidak menjawabnya menjawab.
“Kapan.” Suara Evelyn datar, datarnya air sebelum mendidih. “Adam. Kapan. Dan kenapa aku taunya dari kalimat ‘hidup yang lebih ringan’ — bukan dari kamu.”
“Dia minta nggak usah bilang—“
“DAN KAMU NURUT?!” Dia berdiri. “Janji kita apa, Dam?! Nanya dulu! Bilang dulu! Kamu simpen ketemuan sama PAPAKU — tiga hari, TIGA HARI kamu senyum-senyum sopan sambil di dalemnya kamu udah mulai ngepak—“ suaranya patah di tengah, dan yang keluar setelahnya bukan marah lagi, melainkan takut yang telanjang: “Aku kenal pola ini. Aku pernah di sini. Lampunya masih nyala semua tapi kamunya udah nggak di rumah. Adam. ADAM. Liat aku—“
Tapi Adam sedang menatap kota di bawah sana, dengan wajah orang yang mendengar dua suara sekaligus dan tidak tahu lagi mana yang jaga malam ini — dan sore itu, untuk pertama kalinya sejak halte, Evelyn pulang dari rooftop sendirian, menuruni tangga darurat dengan langkah yang dia paksa tegak, dan baru menangis di dalam ojek, dan mengirim satu chat yang tidak dibalas sampai pagi:
Lyn: aku ga akan mundur. denger ya. AKU ga akan mundur.
Lyn: tapi kamu harus milih, dam. suara papaku atau suaraku. ga bisa dua2nya tinggal di kepalamu
Lyn: dan kali ini aku ga bisa milihin buat kamu