← Adam & Eve

Chapter Forty Two

Meeting

POV: Adam & Pak Hendrawan | ±1081 kata

Email balasan dari k@teduhapp.org tiba di inbox Bu Rina hari Selasa jam sembilan pagi, dan isinya membuat kepala CSR itu berjalan lebih cepat dari biasanya ke lantai dua puluh:

“Selamat pagi. Saya bersedia bertemu — sekali, tatap muka, tanpa perantara. Syaratnya dua: agenda terbuka membahas kemitraan (bukan akuisisi), dan pihak yang hadir dari Bapak/Ibu adalah pengambil keputusan tertinggi. Saya tidak mau presentasi dua kali. Jumat, jam 10. — K.”

“Berani sekali anak ini,” kata Pak Hendrawan, membaca ulang. Nadanya sulit dibedakan antara terganggu dan senang. “Atur. Saya hadir.”

Jumat jam sembilan lewat lima puluh, ruang rapat utama lantai dua puluh sudah terisi: Bu Rina dan dua stafnya, direktur legal, dan di kepala meja, Pak Hendrawan — yang menyisihkan waktu untuk ini di antara dua rapat lain karena, meskipun tidak akan diakuinya, enam bulan penasaran itu nyata.

Jam sepuluh kurang dua menit, resepsionis mengabarkan tamunya naik.

Pintu kaca terbuka.

Dan yang masuk adalah: kemeja rapi yang jelas disetrika dengan sungguh-sungguh, ransel pudar yang diturunkan sopan ke sisi kursi, dan wajah yang membuat Pak Hendrawan — untuk pertama kalinya dalam sejarah karier yang panjang dan penuh kejutan — benar-benar berhenti bergerak selama tiga detik penuh.

“Selamat pagi,” kata Adam. Suaranya lebih stabil daripada yang dia duga bisa. Latihan semalaman dengan Evelyn dan Annisa terpakai — tapi yang paling terpakai justru nasihat Bu Ratna, dibisikkan tadi pagi sambil merapikan kerahnya: “Kamu udah biasa ngomong di depan penonton paling jujur sedunia: anak-anak. Bapak-bapak berjas itu lebih gampang, Nak. Mereka nggak bakal motong kamu buat bilang mau pipis.” “Saya K. Nama lengkap saya Adam. Terima kasih sudah menyediakan waktu.”

Ruangan itu — yang tidak tahu apa-apa — mempersilakan dengan sopan. Dua manusia di dalamnya — yang tahu segalanya — saling menatap sepersekian detik di atas meja rapat panjang: yang satu mendapati bahwa “anak gang sempit” dan “orang yang tidak bisa dibeli” ternyata satu orang; yang satu memutuskan bahwa hari ini dia bukan pacar anak siapa-siapa.

“...Silakan, Mas K.,” kata Pak Hendrawan akhirnya, dan memilih — untuk alasan yang dia sendiri belum selesai memahami — untuk tidak membuka kartu itu di depan anak buahnya. “Kami dengarkan.”

Empat puluh menit berikutnya adalah empat puluh menit yang kelak diceritakan Bu Rina bertahun-tahun dengan kalimat pembuka “saya pernah lihat anak dua puluh dua tahun bikin satu ruang rapat diam.”

Karena Adam, di elemennya, adalah orang yang berbeda. Gagapnya tidak ikut naik lift. Dia membuka dengan data — tiga ratus tiga belas yayasan, sebelas ribu anak dalam sistem, tingkat transparansi laporan yang membuat donatur bertahan — dipresentasikan tanpa satu slide hiasan pun, karena setiap angka dia kenal secara pribadi, karena di balik angka sebelas ribu itu ada Dede-Dede dan Salsa-Salsa yang dia tahu nama dan ukuran sepatunya. Dia menjawab pertanyaan legal dengan tenang. Dia mengakui yang belum ada (“badan hukum — sedang saya urus; sistemnya saya bangun sendirian sambil kuliah, ada banyak yang belum sempat”) tanpa sekali pun terdengar minta maaf atas dirinya.

Lalu direktur legal membuka draft, dan sampai di klausul empat.

“Soal ini,” kata Adam, dan seisi ruangan mencatat perubahan suhunya. “Saya baca revisinya. Angkanya naik lagi. Jadi izinkan saya perjelas sekali, supaya kita tidak buang waktu masing-masing.” Dia menutup map di depannya, menatap lurus kepala meja, dan mengucapkan kalimat-kalimat yang sudah dia bawa dari gang sempit: “TeduhApp tidak dijual. Bukan karena harganya kurang — karena barangnya memang bukan barang. Isinya data anak-anak yang tidak bisa memberi persetujuan dan tidak punya siapa-siapa untuk protes kalau datanya jadi etalase. Selama saya yang pegang, tidak akan ada logo perusahaan mana pun berdiri di atas kepala mereka.”

“Yang saya tawarkan kebalikannya: bapak-ibu titip bantuan, kami yang pegang setir. Dana CSR masuk lewat sistem, seratus persen tercatat, laporan real-time sampai ke rupiah terakhir — lebih transparan dari program CSR mana pun yang bapak-ibu pernah jalankan, dan saya sudah baca laporan tahunan bapak-ibu tiga tahun terakhir, jadi itu bukan klaim kosong. Nama perusahaan dapat tempat sebagai mitra. Bukan pemilik. Itu tawarannya. Satu-satunya. Tidak ada versi dua.”

Dia menutup dengan satu hal yang tidak ada di naskah latihan mana pun — kalimat yang naik sendiri dari gang sempit, dari dapur panti, dari lima belas tahun:

“Terakhir. Bapak-ibu mungkin bertanya kenapa saya sekeras ini soal setir, padahal saya cuma mahasiswa yang sistemnya jalan di laptop bekas. Jawabannya sederhana: saya besar di salah satu panti dalam data itu. Saya tahu persis rasanya jadi anak yang fotonya dipajang orang untuk keperluan orang. Sistem ini saya bangun supaya yang begitu berhenti. Jadi kalau harus milih antara dana besar dengan setir pindah, atau dana kecil dengan anak-anak tetap jadi manusia — saya sudah milih dari sebelum masuk ruangan ini. Tiap hari saya milihnya sama.”

Hening panjang. Direktur legal melirik kepala meja. Bu Rina menahan napas.

Pak Hendrawan menatap anak di ujung meja itu — anak yang di meja makannya tidak sanggup menyebut angka, yang di meja ini baru saja menolak angka terbesar yang pernah divisi CSR-nya tawarkan, demi anak-anak yang tidak akan pernah tahu — dan merasakan sesuatu yang sangat jarang dia rasakan dan karena itu butuh waktu untuk dikenali:

Dia sedang duduk di hadapan satu-satunya jenis manusia yang tidak punya harga. Dan jenis itu, di meja mana pun, selalu jadi pihak yang paling kuat.

“...Klausul empat dicoret,” kata Pak Hendrawan akhirnya, kepada direktur legalnya, tanpa mengalihkan pandangan dari Adam. “Susun ulang sesuai skema dia. Kemitraan. Setirnya di dia.” Dia berdiri, mengancingkan jasnya, dan mengulurkan tangan melintasi meja — gestur yang membuat seisi ruangan bertukar pandang, karena Bapak tidak pernah menyalami duluan. “Terima kasih presentasinya, Mas... K.”

Adam menjabat tangan itu. Genggaman dua orang yang sama-sama tahu bahwa percakapan yang sesungguhnya belum terjadi.

“Satu lagi.” Pak Hendrawan menahan jabatan itu sedetik lebih lama, dan menurunkan suaranya sehingga hanya mereka berdua yang dengar: “Pertanyaan saya yang di kafe. Sudah ketemu jawabannya?”

Dan Adam — yang minggu lalu akan tenggelam oleh pertanyaan itu — menjawab tanpa jeda, dengan kalimat yang disusun perempuan berjaket abu jam satu pagi di kontrakan petak:

“Belum, Om. Mungkin nggak akan pernah. Tapi anak Om bilang saya cukup — dan di antara saya dan dia, yang datanya lima belas tahun itu dia. Saya cuma ngikutin data yang paling panjang.”

Untuk pertama kalinya sejak siapa pun di lantai itu bisa mengingat, Pak Hendrawan tertawa di ruang rapat. Pendek. Satu kali. Tapi tertawa.

“Dasar anak IT,” katanya, melepas jabatan tangan, dan berjalan keluar — berhenti sebentar di pintu kaca tanpa menoleh: “Jumat depan. Makan malam. Bukan meeting.” Jeda. “Bawa kue yang kemarin. Belum sempat saya buka, sudah dihabiskan istri saya.”