← Chapters Ch. 2 / 45

Chapter Two

Kak Adam Pulang

POV: Adam | ±1125 kata

Ada dua versi Adam di dunia ini.

Versi pertama turun dari motor bebek di depan pagar hijau pudar bertuliskan PANTI ASUHAN RUMAH TEDUH — dan bahkan cara turunnya saja sudah beda. Bahunya turun. Rahangnya longgar. Jaket abunya entah kenapa kelihatan lebih hangat.

Versi kedua tidak sempat dipikirkan, karena begitu pagar berderit—

“KAK ADAM PULAAAANG!”

—dua belas anak menyerbu seperti pasukan kecil yang sudah menyusun strategi sejak siang.

Dede, tujuh tahun, juara satu kategori paling lengket, langsung memanjat kaki Adam seperti tiang listrik. Salsa, sepuluh tahun, ketua geng cewek-cewek, menodongkan buku PR matematika bahkan sebelum mengucapkan halo. Tiga bocah lain berebut ransel Adam karena tahu di dalamnya kadang ada sesuatu.

“Kak, PR-ku susah!”
“Kak, si Bima tadi nangis jatuh dari pohon jambu!”
“Kak Adam, kata Bu Ratna kalau Kakak dateng suruh langsung ke dapur!”
“KAK GENDONG.”

“Satu-satu.” Adam mengangkat Dede dengan satu tangan — gerakan yang sudah dia lakukan ribuan kali. “Yang nangis siapa? Bima? Mana orangnya? Masih hidup? Oke, berarti nggak seru. PR susah yang mana— Salsa, ini kamu belum baca soalnya udah bilang susah. Dan aku denger tuh yang nyebut kata dapur. Ada apa di dapur?”

“RAHASIAAA,” koor dua belas anak, yang artinya seluruh panti sudah tahu kecuali Adam.

Di sinilah keajaiban yang tidak pernah disaksikan siapa pun dari kampus: Adam ngomong. Banyak. Adam melucu. Adam menirukan suara. Adam yang di kelas menjawab dosen dengan volume dua persen, di sini bisa mendongeng dengan lima suara berbeda sampai anak-anak menjerit.

Panti Rumah Teduh bukan tempat Adam menjadi orang lain. Justru sebaliknya. Ini satu-satunya tempat dia tidak perlu menjadi orang lain.

Dulu, waktu orang tuanya baru meninggal dan dunia rasanya seperti lantai yang ditarik dari bawah kakinya, pagar hijau ini yang menangkapnya. Tiga tahun dia tidur di kamar belakang, makan dari dapur yang sama, dimarahi dan disayangi Bu Ratna dengan takaran yang selalu pas. Sekarang dia sudah keluar, ngontrak sendiri — tapi kata pulang di kepalanya tetap tertuju ke sini.

Di dapur, Bu Ratna sedang menghitung sesuatu di buku tulis lecek. Perempuan lima puluhan itu mengangkat kacamatanya ke atas kepala saat Adam masuk.

“Nah. Baru juga dipikirin.”

“Mikirin apa, Bu?”

“Susu.” Bu Ratna mengetuk buku tulisnya. “Harganya naik lagi. Ibu itung-itung, bulan ini kayaknya susunya diselang-seling aja, nggak tiap hari—“

“Jangan.” Jawaban Adam keluar terlalu cepat. Dia berdehem, menurunkan volume. “Maksudku... jangan dulu, Bu. Dede sama yang kecil-kecil lagi masa-masanya. Biar aku yang—“

“Adam.” Bu Ratna menatapnya dengan tatapan yang sudah Adam hafal sejak umur enam belas: tatapan Ibu-tahu-isi-dompetmu. “Uang kamu itu buat kamu kuliah. Bukan buat nombokin panti.”

“Aku nggak nombokin. Aku...” Adam mencari kata. “...invest. Anak pinter itu aset, Bu. Salsa aja udah bisa ngoreksi PR adik-adiknya. Itu karena susu.”

“Itu karena Salsa emang pinter.”

“Karena susu,” Adam keras kepala.

Bu Ratna menghela napas panjang, kalah — seperti biasa. Yang tidak dia tahu, malam ini Adam akan pulang, membuka tabel keuangannya, dan mencoret satu baris di bagian makan untuk menambah satu baris baru di bagian yang dia beri judul samar: operasional.

Yang dia tahu — karena ibu-ibu selalu tahu — cuma satu hal, dan dia mengucapkannya pelan waktu Adam sudah di ambang pintu dapur:

“Adam.”

“Ya, Bu?”

“Kamu itu terlalu sibuk mastiin semua orang kebagian.” Bu Ratna menatapnya lurus. “Kapan-kapan, sisain buat diri kamu sendiri. Nggak semua hal harus dibagi dua.”

Adam cuma tersenyum tipis. Tidak menjawab.

Karena jawaban jujurnya aneh: dia justru paling tenang kalau sedang memberi. Kalau sedang memastikan orang lain kebagian, dia tidak sempat mendengar suara kecil di kepalanya sendiri — suara yang selalu bilang bahwa Adam, kalau sedang tidak berguna untuk siapa-siapa, sebenarnya bukan siapa-siapa.

Rahasia dapur itu akhirnya meledak setelah magrib.

Adam baru selesai membetulkan keran waktu Salsa muncul di ambang pintu dengan gaya seorang ketua panitia, diikuti Dede yang membawa piring dengan dua tangan seperti membawa piala bergilir. Di piring itu: nasi goreng. Sebagian berwarna cokelat normal. Sebagian lagi berwarna... arang.

“Kami yang masak,” umum Salsa. “Buat Kak Adam.”

“Aku yang ngaduk!” Dede mengangkat tangan. “Yang gosong bagianku!”

Adam menatap piring itu, lalu menatap dua belas wajah yang mendadak berkumpul di pintu dapur dengan ekspresi menunggu vonis.

“...Dalam rangka apa?”

Anak-anak saling lirik. Akhirnya Salsa, sebagai juru bicara, membuang muka ke arah jendela dan berkata dengan nada sedatar mungkin, “Dede bilang, dia denger Kak Adam ngomong sama Bu Ratna. Katanya Kak Adam makannya cuma dua kali sehari. Biar hemat.”

Dapur itu hening sebentar.

“Jadi kami rapat,” lanjut Salsa, masih menatap jendela. “Terus mutusin, kalau Kak Adam ke sini, makannya harus tiga kali. Yang sekali biar kami yang tanggung. Uang kas kami cukup kok beli telor.”

Ada jeda di mana Adam tidak bisa mengatakan apa-apa, karena ada sesuatu yang naik dari dadanya ke tenggorokan dan berhenti di sana, panas.

“...Uang kas kalian itu buat beli bola.”

“Bola bisa nunggu,” kata Bima dari barisan belakang. “Kak Adam nggak boleh laper.”

Malam itu Adam menghabiskan sepiring nasi goreng yang sepertiganya gosong sampai butir terakhir, dinilai penuh oleh dua belas juri, dan menyatakannya sebagai nasi goreng terenak yang pernah dia makan seumur hidup — dan yang membuat anak-anak sorak-sorai adalah, dari cara Kak Adam mengatakannya, mereka tahu itu bukan bohongan.

Malam itu, sebelum tidur, anak-anak menagih dongeng. Adam mendongeng tentang naga yang takut ketinggian — pakai suara naga, suara raja, suara ayam (jangan tanya kenapa ada ayam, penonton yang minta). Di tengah dongeng — tepat ketika naga yang takut ketinggian sedang dibujuk seekor ayam bijaksana untuk mencoba terbang dari batu yang rendah dulu — Dede yang sudah setengah mengantuk tiba-tiba bertanya, dengan logika bebas khas jam sembilan malam:

“Kak Adam.”

“Hm.”

“Kalau Kak Adam nanti udah sukses... udah kaya... tinggalnya bakal jauh, ya?”

Sebelas anak lain yang tadinya sudah merem mendadak diam dengan cara yang berbeda. Diam mendengarkan.

Adam menurunkan buku dongengnya.

“Rumah Kakak di sini,” katanya. Tidak pakai nada dongeng. Nada biasa. Nada yang dipakai orang untuk hal-hal yang bukan cerita. “Mau Kakak sukses, mau nggak, pulangnya ke sini. Emangnya kalian bisa ke mana-mana tanpa Kakak? PR aja nyerah sebelum baca soal.”

“YEEE,” protes Salsa, dan suasana pecah lagi, dan naga itu akhirnya terbang di menit berikutnya.

Dede tertidur di menit ke sepuluh, mulutnya mangap, tangannya masih menggenggam ujung jaket abu.

Adam melepaskan genggaman kecil itu pelan-pelan, menyelimutinya, mematikan lampu.

Di teras panti, sambil memakai helm, dia mengecek ponselnya. Ada notifikasi dari sistem kecil yang dia rakit untuk panti — laporan donasi masuk otomatis. Nihil minggu ini. Dia menutup aplikasinya, menghidupkan motor.

Cowok paling tidak terlihat di kampus itu pulang ke kontrakan petaknya, membawa sisa suara tawa dua belas anak di kepalanya.

Dan untuk ukuran seseorang yang tidak dicari siapa-siapa — malam itu, seperti biasa, dia merasa cukup.

Setidaknya sampai besok pagi, saat dia akan kembali menjadi versi pertama: cowok bangku pojok, yang menatap matahari setengah detik terlalu lama.