← Chapters Ch. 39 / 45

Chapter Thirty Nine

Sebelum Medan Perang

POV: Adam & Evelyn | ±1015 kata

Sopir itu — Pak Darto, yang sudah mengantar Evelyn sejak SD, yang dulu diam-diam membelokkan mobil ke panti “nyumbang buku” waktu nona kecilnya memohon — berdiri di gerbang dengan wajah orang yang membawa pesan yang tidak dia setujui.

“Non. Bapak minta Non pulang sekarang. Ada... pembicaraan keluarga.” Dia menunduk sedikit, dan menambahkan, pelan, dari dirinya sendiri: “Maaf ya, Non. Bapak lagi... begitu.”

Pembicaraan keluarga malam itu, yang Evelyn ceritakan kepada Adam lewat telepon jam sebelas dengan suara habis, isinya ultimatum yang dibungkus rapi: keluarga Wijaya mengajak makan malam lanjutan akhir bulan — “bukan perjodohan, cuma silaturahmi” — dan Papa “berharap” Evelyn hadir dengan sikap yang benar. Kata berharap dari papanya, semua orang di rumah itu tahu, adalah perintah yang diberi dasi.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Adam.

“Belum aku jawab. Aku bilang aku pikirin.” Jeda panjang di seberang. “Dam. Jangan diartiin macem-macem ya, aku bilang gitu biar perang besarnya nggak malem ini. Aku capek. Minggu ini aku capek banget.”

Dan Adam, memegang ponsel di kontrakan petaknya, mendengar capek itu — capek yang dia hitung-hitung di neraca jam dua paginya, capek yang menurut auditor salah itu disebabkan olehnya — dan untuk pertama kalinya sejak halte, dia merasakan tanah di bawah janjinya bergetar.

“Lyn.”

“Hm.”

“Besok kosongin jadwal. Seharian.”

Jeda heran. “...Kamu ngajak aku kencan? Kamu? Ngajak duluan?”

“He-eh.”

“Siapa ini? Mana Adam? ADAM DICULIK—“

“Besok jam tujuh. Pake sepatu yang enak buat jalan.” Dan sebelum menutup telepon, dengan keberanian yang dia sendiri tidak tahu asalnya dari mana — mungkin dari rasa takut; keberanian dan takut ternyata satu sumber — dia menambahkan: “Aku pengen seharian sama kamu. Sebelum kamu perang. Biar kamu inget persisnya kamu perang buat apa.”


Hari itu kelak diarsipkan Evelyn dengan judul Kencan Napak Tilas — dan dieksekusi Adam dengan presisi seorang perencana anggaran yang untuk sekali ini menganggarkan segalanya.

Jam tujuh: pasar pagi. Formasi lama — Evelyn memegang kresek, Adam menghitung — dan semua ibu-ibu lapak yang sudah hafal mereka (“Neng! Udah pinter nawar belum?” “UDAH, BU. Kemarin dapet diskon— “ “Dia nawarnya masih ke atas, Bu.” “DAM.”) Sarapan bubur di kursi plastik, satu mangkok dua sendok, karena kata Adam begitu lebih hemat dan kata Evelyn alasannya bukan itu dan kata Adam terserah yang penting hemat.

Jam sepuluh: perpustakaan. Pak Yusuf menyambut mereka seperti veteran menyambut veteran. Mereka duduk di meja jendela selatan — berdua sekarang, tidak perlu lima belas meter — dan Adam mengeluarkan sesuatu dari ranselnya: novel lama itu. Yang bab tujuhnya sedih. Dipinjam resmi, untuk dibaca ulang berdua, dan di halaman tiga puluh Evelyn menemukan sticky note baru berwarna kuning:

“penunggu meja jendela selatan. maaf ya dulu lama balesnya. sekarang penunggu meja pojok pindah domisili. — A.”

Jam dua belas: labkom. Stasiun nomor lima di list, dieksekusi sesuai naskah aslinya: Evelyn duduk di dua kursi yang dijejer, mengumumkan “aku mau pura-pura tidur, kamu tau tugasmu”, memejamkan mata dengan senyum yang sama sekali tidak membantu aktingnya — dan Adam, sambil geleng-geleng, menggenggam tangannya tanpa drama sepuluh menit, tanpa debat internal, tanpa alasan sirkulasi darah.

“Nilai aktingku berapa?” tanya Evelyn, mata masih terpejam.

“Dua.”

“DULU EMPAT.”

“Dulu kamu masih usaha.”

Jam satu: panti — cuma mampir, sebentar, “setor muka biar nggak diomelin” — yang berubah jadi dua jam karena Dede menuntut pertandingan ulang tarik tambang dan kalah lagi dan menuntut ulang lagi. Bu Ratna membekali mereka pisang goreng sambil menatap Evelyn lama, lalu memeluknya tanpa alasan yang diucapkan, dan berbisik sesuatu yang cuma mereka berdua yang dengar: “Apa pun yang terjadi di rumahmu, Nak — di sini gerbangnya nggak pernah dikunci.”

Jam empat: rooftop. Gorengan Bu Ratna, dua teh kotak, kota di bawah mereka mulai menyalakan lampu sore.

Dan jam lima, di trotoar minimarket, dengan es krim yang sama seperti malam sehabis hujan itu, napak tilas mencapai stasiun terakhirnya — dan Evelyn, yang sepanjang hari tertawa lebih banyak daripada gabungan dua minggu terakhir, akhirnya menyandarkan kepala ke bahu di sebelahnya dan berkata pelan:

“Aku tau kamu ngapain hari ini.”

“Hm?”

“Kamu lagi ngchargerin aku.” Dia tersenyum ke arah jalanan. “Sebelum perang. Kamu bawa aku keliling... kita. Biar baterainya penuh.” Suaranya turun. “Kamu tuh ya. Nggak pernah bilang sayang. Tapi caramu sayang tuh kayak gini — kayak infrastruktur. Nggak keliatan, tapi semuanya jalan di atasnya.”

Adam diam sebentar. Es krimnya meleleh sedikit di tangannya.

“...Aku nggak bisa dateng ke makan malemnya,” katanya akhirnya. “Nggak diundang, dan kalaupun dateng cuma memperkeruh. Aku nggak bisa bantu apa-apa di medannya. Jadi ini doang yang aku bisa: mastiin kamu berangkat perang dalam kondisi penuh.” Dia menatap es krimnya. “Sama satu lagi. Aku mau bilang... apa pun hasilnya nanti — kamu jangan mikirin aku waktu mutusin. Maksudku— jangan sampe gara-gara aku, kamu—“

“Stop.” Evelyn mengangkat kepala dari bahunya. “Kalimat itu jangan diterusin. Aku tau arahnya ke mana. Itu kalimat orang yang udah beli tiket.” Dia menatapnya, dan sore itu, di trotoar minimarket, di antara orang lalu-lalang, dia mengucapkan deklarasi perangnya dengan suara yang tidak keras dan tidak gemetar: “Dengerin, Adam. Apa pun yang papaku bilang, apa pun yang tante-tanteku bilang, apa pun yang enam ribu akun bilang — yang milih tetep aku. Dan aku milih kamu. Udah dari umur delapan. Nggak ada rapatnya, nggak ada revisinya. Kamu tinggal satu tugasnya: jangan bikin pilihanku nunggu di tempat kosong.”

Dia mencondongkan badan dan mencium pipi Adam — cepat, tepat, pertama kalinya — lalu berdiri dan mengulurkan tangan untuk menariknya pulang, meninggalkan cowok itu dalam kondisi sistem mati total selama empat detik penuh di trotoar.

Malam itu, Adam mengantarnya sampai gerbang, dan pulang ke kontrakan, dan duduk lama di depan tabel keuangannya dengan pipi yang masih hangat dan keputusan yang menguat: dia tidak akan lari. Habis-habisan. Sekali ini dia akan bertahan di tempat yang dia tidak yakin berhak dia tempati.

Keputusan itu tulus, bulat, dan berumur tepat empat hari.

Karena hari Kamis, di parkiran kampus, seorang lelaki berjas yang turun dari mobil hitam besar menghampirinya dengan langkah tenang seorang pemilik — pemilik gedung, pemilik kota, pemilik semua meja yang pernah menolaknya — dan berkata:

“Adam. Ada waktu? Saya cuma butuh lima belas menit. Nggak usah kasih tau Evelyn.”