Chapter Twelve
Sandaran
POV: Adam & Evelyn | ±1003 kata
Ide malam film datang dari Bima, disponsori proyektor pinjaman dari masjid sebelah (dipinjamkan Pak RT dengan syarat filmnya “yang bener”), dan layarnya adalah sprei putih paling mulus yang bisa ditemukan di lemari panti, dibentangkan di dinding ruang tengah.
Filmnya kartun tentang robot yang belajar berkebun. Sudah ditonton anak-anak empat kali. Justru itu serunya, kata Dede: bisa ikut ngomong duluan sebelum tokohnya.
Adam datang membawa dua kantong kerupuk dan satu termos teh manis. Kak Eve datang membawa — anak-anak bersorak — popcorn buatan sendiri yang gosongnya cuma sepertiga, kemajuan pesat yang diakui juri Salsa dengan nilai tujuh.
Pengaturan tempat duduk berlangsung dengan kecepatan dan presisi yang mencurigakan.
“Kak Adam sini!” Dede menepuk-nepuk spot di lantai, di atas tikar. “Sebelah Dede!”
Adam duduk. Sedetik kemudian, dengan koordinasi yang kalau dipikir-pikir membutuhkan latihan, Dede pindah ke pangkuan Salsa di sisi lain, dan tempat kosong di sebelah Adam diisi oleh—
“Eh,” kata Kak Eve, yang didorong halus oleh tiga anak sekaligus dengan alasan “biar kakak-kakak duduknya bareng, kami mau depan”. “Maaf ya, penuh banget kayaknya.”
“...Gapapa.”
Tidak penuh. Ruangan itu longgar. Ada kira-kira dua meter ruang kosong di sisi kiri Adam. Tapi dua meter itu kini dijaga ketat oleh Bima yang tiba-tiba merasa perlu tiduran melintang di sana seperti palang parkir.
Film dimulai.
Selama tiga puluh menit pertama, Adam menonton robot belajar berkebun tanpa menyerap satu adegan pun. Seluruh kapasitas otaknya teralokasi untuk satu proyek: duduk normal. Tangan di mana. Napas seberapa. Jarak bahu ke bahu sebelah: tiga puluh senti, aman, jangan berkurang. Di sebelahnya, Kak Eve ikut menyuarakan dialog bersama anak-anak, tertawa di bagian yang sudah dia hafal, dan sesekali — Adam bisa merasakannya tanpa menoleh — melirik.
Lalu masuk babak film yang tenang. Musiknya lembut. Anak-anak mulai bertumbangan satu per satu seperti kena gas tidur: Dede duluan, lalu Bima si palang parkir, lalu barisan depan.
Dan di tengah adegan robot menyiram bibit di bawah hujan animasi, terjadi insiden itu.
Salsa — yang belakangan diketahui masih bangun dan karena itu status “insiden”-nya diperdebatkan sejarawan — menggeser posisi tidurnya, mendorong bantal, yang mendorong Dede, yang menggelinding menabrak Kak Eve dari samping.
Dan kepala Kak Eve terdorong, mendarat di bahu Adam.
Waktu berhenti.
Adam menatap lurus ke layar. Robot menyiram bibit. Hujan animasi turun. Di bahunya ada berat yang hangat dan wangi sampo yang dia tidak tahu namanya tapi otaknya langsung mengarsipkan ke folder permanen.
Dia pasti mau bangun, pikir Adam. Kasih waktu dua detik. Dia bakal ngangkat kepalanya, bilang maaf, terus—
Dua detik lewat. Empat. Sepuluh.
Kepala itu tidak bangun.
(Di sisi lain bahu itu, Evelyn sedang melakukan perhitungan yang persis sama dari arah sebaliknya: Dia pasti bakal geser. Kasih dua detik. Dia bakal berdehem, terus aku pura-pura kaget, terus— kok dia nggak geser. DIA NGGAK GESER. Oke. Oke. Jangan gerak. Siapa pun jangan gerak. Napas aja jangan kenceng-kenceng.)
Maka selama empat puluh menit berikutnya, dua orang dewasa menonton film kartun tentang robot berkebun dalam kondisi tidak menonton sama sekali: yang satu menjaga bahunya tetap setinggi dan sediam mungkin sampai pegal ke tulang belikat, yang satu menjaga kepalanya tetap “tertidur” sambil berdoa filmnya diputar dua kali.
Keduanya sibuk. Keduanya diam. Keduanya, kalau ditanya, akan bilang sedang fokus ke film.
Di suatu titik di paruh kedua film — dia kehilangan hitungan menit ke berapa — Adam menyadari sesuatu yang membuat dadanya melakukan hal yang aneh: napas di bahunya sudah berubah irama. Pelan, dalam, teratur. Yang di bahunya ini tidak sedang pura-pura menonton.
Dia benar-benar tertidur.
(Ini benar. Aktingnya Evelyn hanya bertahan lima belas menit sebelum kehangatan, suara hujan animasi, dan detak jantung yang bisa dia dengar samar dari balik jaket abu itu bersekongkol mengalahkannya. Rencananya pura-pura. Kalahnya sungguhan.)
Dan Adam, yang sepanjang hidup selalu punya rencana keluar dari setiap situasi, mendapati dirinya berada dalam satu-satunya situasi yang tidak ingin dia keluari. Bahunya kesemutan. Lehernya kaku. Film masih empat puluh menit lagi.
Dia berdoa filmnya diputar dua kali.
Kredit film naik. Lampu dinyalakan Bu Ratna dari belakang.
Kak Eve “terbangun” dengan akting yang kalau dinilai juri Salsa mungkin dapat empat: mengangkat kepala, mengerjap, “eh— aduh, maaf, aku ketiduran—“
“Gapapa.” Suara Adam keluar satu oktaf lebih rendah dari niatnya. Dia berdehem. “Filmnya... bagus.”
“Iya. Bagus banget.”
“Robotnya... nanam.”
“He-eh. Nanam.”
Dua-duanya mengangguk-angguk ke arah sprei putih kosong dengan wajah orang yang baru menyaksikan mahakarya, tidak mampu menyebutkan satu pun judul, tokoh, atau alur.
Dari balik pintu dapur, Bu Ratna menonton adegan itu sambil mengelap gelas yang sudah kering dari tadi, tersenyum dengan jenis senyum yang dimiliki ibu-ibu yang sudah tahu akhir cerita jauh sebelum tokoh-tokohnya.
“Kak Adam mukanya merah,” lapor Dede, yang ternyata sudah bangun, kepada publik.
“Kerupuknya pedes,” kata Adam.
“Kerupuknya nggak pedes, Kak. Dede makan banyak.”
“Kerupuk Kakak beda.”
“MANA? DEDE MAU YANG PEDES.”
“Habis.”
Sebelum film dimulai tadi, sempat terjadi upacara kecil yang menunda pemutaran dua puluh menit: anak-anak, dipimpin divisi kreatif Salsa, ternyata sudah menyiapkan “tiket bioskop” dari kertas origami — lengkap dengan nomor kursi yang tidak sesuai denah mana pun dan harga tiket “1 senyum”.
Semua penonton wajib membayar di pintu. Bu Ratna membayar dengan senyum plus pisang goreng (dinilai pembayaran terbaik). Kak Eve membayar dengan senyum plus pose peace. Dan ketika giliran Adam menyerahkan tiket, Dede si penjaga pintu menolak senyumnya yang pertama dengan alasan “kurang niat”, memaksa Adam mengulang tiga kali sampai standar mutu terpenuhi, disaksikan Kak Eve yang tertawa paling tidak sopan sedunia.
“Senyum kok diatur-atur,” gerutu Adam waktu akhirnya diloloskan masuk.
“Biasain, Kak,” kata Salsa misterius, mencatat sesuatu. “Latihan.”
Malam itu Adam pulang dengan bahu kanan yang pegalnya bertahan sampai besok pagi. Di kontrakan, sebelum tidur, dia mendapati dirinya duduk di kasur, menatap bahu kanannya sendiri seperti menatap tempat kejadian perkara.
Pegal, dia mengonfirmasi.
Lalu, jauh lebih pelan, di bagian kepala yang tidak pernah dia beri izin bicara: ...tapi kalau disuruh ngulang, mau.
Dia mematikan lampu dengan agak kasar, seolah gestur itu bisa sekalian mematikan pikirannya.
Tidak bisa. Lampu ternyata memang lebih gampang diatur daripada isi kepala — dan wangi sampo yang tidak dia ketahui namanya itu menemani sampai dia tertidur.