Chapter Eleven
Versi Asli
POV: Evelyn & Adam | ±1067 kata
Sabtu kedua, Evelyn datang dengan misi ilmiah: membuktikan bahwa yang dia lihat minggu lalu — Adam tertawa — bukan halusinasi.
Hasil penelitiannya melebihi hipotesis.
Sore itu dia menyaksikan hal-hal yang tidak akan dipercaya siapa pun di kampus. Adam menengahi sengketa krayon antara Dede dan Bima dengan gaya hakim konstitusi (“Krayon biru ini milik bersama. Yang megang duluan dapet lima menit. Ada keberatan? Ketok.”). Adam mengajari Salsa pecahan pakai analogi membagi martabak yang detailnya terlalu spesifik untuk orang yang jarang beli martabak. Dan puncaknya, bakda asar, atas desakan massa: Adam mendongeng.
Evelyn duduk di barisan paling belakang, di lantai, di antara anak-anak, dan menonton cowok yang di kampus butuh dua kata untuk menjawab pertanyaan — kini memainkan lima suara berbeda. Suara naga: berat, mendayu. Suara raja: sengau, sok wibawa. Suara ayam bijaksana (jangan tanya): entah bagaimana meyakinkan. Anak-anak menjerit di bagian seram, protes di bagian sedih, dan Adam mengendalikan ruangan itu seperti dirigen.
Di tengah dongeng, mata mereka bertemu — Adam sedang memperagakan naga takut ketinggian dengan tangan direntangkan — dan selama sedetik cowok itu kelihatan sadar diri, suaranya turun setengah oktaf.
“Kak Adam kenapa naganya jadi pelan?!” protes Dede.
“...Naganya lagi ngatur napas,” kata Adam, dan melanjutkan dengan volume penuh, dan memutuskan untuk tidak melihat ke barisan belakang lagi sampai dongeng selesai.
Evelyn menggigit bibirnya supaya tidak tersenyum terlalu lebar. Gagal.
Ini dia, pikirnya. Ini yang dulu ngasih aku setengah roti. Dia nggak ke mana-mana. Dia cuma... ngumpet.
Senin pagi, penelitian itu mendapat data pembanding.
Evelyn berpapasan dengan Adam di koridor fakultas — sengaja, tentu saja; dia sudah hafal jalur migrasi cowok itu — dan menyapa dengan kadar yang sudah dia takar: “Adam. Pagi.”
Yang disapa menoleh, dan Evelyn bisa melihat proses bootingnya: mata membesar sepersekian detik, bahu naik, sistem sosial darurat menyala.
“...Pagi.” Angguk. Jalan terus.
Dua kata dan satu angguk. Itu pun sudah kemajuan — minggu lalu cuma angguk.
Evelyn menatap punggung jaket abu yang menjauh itu dan merasakan gemas dalam bentuknya yang paling murni. Kemarin sore cowok itu jadi lima karakter sekaligus. Pagi ini jadi patung. Kalau dia tidak tahu apa yang dia tahu, mungkin dia akan menyerah seperti cewek-cewek lain yang pernah mencoba dan mental.
Tapi dia tahu apa yang dia tahu.
Eve: nis, aku udah nemu istilah ilmiahnya
Annisa: apa
Eve: kulkas dua pintu. pintu kampus: beku. pintu panti: isinya hangat semua
Annisa: terus strategi kamu apa, buka paksa?
Eve: nggak. kulkas nggak dibuka paksa
Eve: kulkas dicabut colokannya pelan-pelan
Di perpustakaan, sementara itu, seorang lelaki lima puluh dua tahun sedang berduka dengan caranya sendiri.
Pak Yusuf sudah tiga minggu memperhatikan bahwa buku-buku “kantor pos” tidak lagi berpindah-pindah. Novel yang dulu paling sibuk di raknya kini diam, sticky note terakhir di dalamnya tidak berbalas, dan dua penunggu meja itu — yang pojok dan yang jendela selatan — datang di jam yang berbeda seperti dua kereta yang jadwalnya sengaja digeser.
Dia tidak tahu apa yang terjadi. Penjaga perpustakaan tahu segalanya kecuali isi cerita.
Tapi tumpukan jurnal metalurgi di meja jendela selatan tetap dia rawat setiap pagi — dirapikan, diganti kalau ada yang meminjam (tidak pernah ada yang meminjam), dijaga seperti orang menjaga lampu teras untuk penghuni yang belum tentu pulang.
“Siapa tau,” katanya kepada kartu katalog, “kereta-nya balik lagi.”
Sabtu ketiga, giliran Adam yang tanpa sadar mengumpulkan data.
Data satu: Kak Eve ternyata tidak bisa masak. Sama sekali. Ditugasi Bu Ratna menjaga rebusan sayur, relawan itu berhasil membuat sop berubah warna menjadi sesuatu yang membuat Salsa bertanya apakah ini masih makanan atau sudah jadi eksperimen. Tapi — dan ini yang membuat Adam memperhatikan lebih lama dari yang dia rencanakan — Kak Eve tidak gengsi. Dia tertawa paling keras menertawakan sopnya sendiri, mencatat di ponsel “JANGAN TINGGALIN SOP” seperti mencatat materi kuliah, dan meminta diajari dari nol oleh Bu Ratna dengan sungguh-sungguh.
Data dua: Kak Eve selalu turun tangan duluan. Piring kotor, lantai kotor, ingus Dede — tidak ada yang membuatnya menunggu disuruh. Untuk seseorang yang tangannya sehalus itu (bukan berarti Adam memperhatikan tangannya) (oke, satu kali) (dua), dia bekerja seperti orang yang takut kehabisan jatah kerja.
Data tiga, yang paling mengganggu: kalau sedang menyemangati anak-anak, Kak Eve punya kebiasaan mengepalkan dua tangan di depan dada seperti sedang menggenggam sesuatu yang tidak terlihat. Dan setiap kali melihat gerakan itu, sistem lama di kepala Adam menyala lagi — dejavu tanpa alamat, lagu tanpa judul, sesuatu yang berdiri tepat di luar jangkauan ingatannya dan menolak masuk.
“Kak Adam.” Salsa muncul di sebelahnya, mengikuti arah pandangnya dengan mata detektif sepuluh tahun. “Dari tadi ngeliatin Kak Eve.”
“Ngeliatin sop,” kata Adam. “Takut kebakaran.”
“Sopnya udah diangkat dari tadi.”
“...Panci kosong juga bisa kebakaran.”
Salsa menatapnya lama dengan ekspresi yang terlalu dewasa untuk umurnya, lalu berjalan pergi sambil mencatat sesuatu di buku kecil yang belakangan selalu dia bawa. Adam tidak tahu bahwa di buku itu, di bawah judul OPERASI KULKAS MENCAIR, baru saja ditambahkan satu baris laporan intelijen: sabtu ke-3. target mulai sering ngeliatin. alasan makin nggak masuk akal. operasi berjalan sesuai rencana.
Sore itu ditutup insiden kecil yang memperkaya data semua pihak.
Menjelang pulang, hujan gerimis turun tiba-tiba. Kak Eve panik soal ojeknya; Adam, tanpa berpikir — itu masalahnya, akhir-akhir ini beberapa hal terjadi tanpa lewat pos pemeriksaan — berkata, “Nunggu aja dulu. Gerimis doang, bentar lagi reda. Teh dulu.”
Maka mereka menunggu di teras, dua gelas teh, ditemani Dede yang menolak tidur siang kelewat batas waktunya, sampai gerimis benar-benar reda. Bukan percakapan besar — Kak Eve bercerita, Adam mendengarkan sambil sesekali membalas dua-tiga kalimat, Dede tertidur di pangkuan Kak Eve di tengah-tengah cerita.
Tapi waktu ojeknya akhirnya datang dan Kak Eve pamit, dia bilang, “Tehnya enak. Minggu depan aku yang bikinin,” dan Adam mendapati dirinya, sepanjang perjalanan pulang, memikirkan kalimat sesederhana itu dengan intensitas yang tidak proporsional.
Malamnya, di kontrakan, Adam membuka catatan kecil urusan panti dan menulis:
Kak Eve: nggak bisa masak (bahaya level 3, jangan kasih pegang kompor sendirian). Tapi mau belajar. Anak-anak makin nempel. Salsa akhir-akhir ini bawa buku catetan, mencurigakan.
Dia berhenti, pulpennya mengambang di atas kertas.
Ada satu observasi lagi yang sejak sore mengetuk-ngetuk minta dicatat, dan setelah perdebatan singkat, Adam mengizinkannya masuk — ditulis kecil di pojok, hampir seperti bukan tulisan:
Kalau dia ketawa, ruangannya kayak lebih terang. Aneh. Perasaan lampunya segitu-gitu aja.
Dia menatap kalimat itu, merasa itu kalimat paling bodoh yang pernah dia tulis seumur hidupnya, dan menutup buku sebelum sempat berubah pikiran untuk mencoretnya.