Chapter Ten
Kak Ganteng & Kak Cantik
POV: Adam | ±1117 kata
Sabtu sore, Adam datang ke panti dengan kantong kresek berisi tiga bungkus kerupuk — hadiah kecil karena Salsa juara kelas — dan menemukan tatanan dunianya berubah.
Pertama: halaman terlalu sepi. Jam segini biasanya sudah ada minimal tiga anak bergelantungan di pagar menunggunya.
Kedua: dari ruang belajar terdengar suara-suara yang tidak biasa. Suara anak-anak menyanyi... bahasa Inggris?
Ketiga — dan ini yang membuat Adam berhenti di ambang pintu ruang belajar seperti patung — di tengah ruangan, dikelilingi dua belas anak yang duduk rapi (RAPI! Dua belas anak itu! Rapi!), ada seorang perempuan asing sedang memimpin lagu tentang kepala-pundak-lutut-kaki dengan gerakan heboh.
Kaos polos. Rambut dikucir. Masker.
“KAK ADAAAM!” Dede yang pertama menyadari, dan formasi rapi itu langsung bubar total. “Kak Adam sini sini! Ada kakak baru! Namanya Kak Eve! Kak Eve cantik banget kayak di tipi-tipi!”
“Dede, kamu belum liat mukanya,” kata Salsa datar. “Dia pake masker dari tadi.”
“POKOKNYA CANTIK. Matanya cantik!”
Perempuan bermasker itu menoleh ke arah pintu.
Dan selama sepersekian detik, Adam merasakan sesuatu yang aneh — dejavu tanpa alamat, seperti mendengar sepotong lagu yang kamu tahu nadanya tapi lupa judulnya. Mata di atas masker itu...
Tidak. Tidak mungkin. Otaknya sedang lelah. Lagipula mata semua orang mirip-mirip kalau cuma kelihatan matanya.
“Halo,” kata perempuan itu, mengangkat tangan sedikit. Suaranya... juga terasa seperti lagu yang sama. “Aku Eve. Relawan baru. Mulai minggu ini tiap Sabtu. Kamu... Adam, ya? Bu Ratna udah cerita.”
Sistem sosial Adam, yang di kampus sudah teruji bertahun-tahun dalam seni menghindari percakapan, langsung menyala: jawab seperlunya, angguk, cari kesibukan.
“...Iya.” Angguk. “Salam kenal.”
Tiga kata. Dia berbalik hendak menyibukkan diri dengan kerupuk—
“Kak Adam!” Dede sudah bergelantungan di lengannya. “Kak Eve tadi ngajarin lagu! Terus Kak Eve bisa matematika lho! Salsa aja kalah!”
“Aku nggak kalah,” protes Salsa. “Kita belum tanding.”
“Terus Kak Eve bawa permen! Tapi katanya boleh dimakan kalau udah hafal lagunya! Kak Adam mau denger nggak? MAU KAN? Semuanya! Dari awal! Buat Kak Adam!”
Dan sebelum Adam bisa menolak, dua belas anak sudah berbaris lagi, dan perempuan bermasker itu — sambil tertawa kecil yang tertahan kain — memimpin ulang lagu kepala-pundak-lutut-kaki dari awal, khusus untuk penonton berjumlah satu orang yang berdiri kaku di ambang pintu sambil memeluk kantong kresek berisi kerupuk.
Adam tidak tahu harus menaruh tangannya di mana. Tidak tahu harus menatap ke mana. Ini teritorinya, tapi mendadak dia yang merasa jadi tamu.
Tapi kemudian Dede salah gerakan — memegang lutut waktu lagunya bilang pundak — dan jatuh menimpa Bima, dan dua belas anak tertawa, dan perempuan bermasker itu tertawa paling keras sampai membungkuk, dan...
...dan Adam tertawa.
Kecil saja. Setengah detik. Tapi tertawa.
Perempuan itu menoleh tepat pada momen itu — seperti radar — dan meskipun setengah wajahnya tertutup masker, Adam bisa melihat matanya menyipit senang.
“Nah,” kata Eve. “Ketawa juga akhirnya. Kata Bu Ratna kamu pendiem. Ternyata cuma pelit ketawa.”
“...Nggak pelit.” Adam berdehem, memasang wajah datar lagi, gagal. “Itu tadi... Dede aja yang jatuhnya lucu.”
“Berarti besok-besok aku suruh Dede jatuh terus.”
“JANGAN DONG KAK,” protes Dede dari lantai.
Dan sore itu berjalan tidak seperti sore-sore biasanya. Adam tetap Adam — lebih banyak diam, sibuk membetulkan engsel jendela yang sebenarnya tidak terlalu rusak, memunggungi keramaian. Tapi dari tempatnya, dia bisa mendengar semuanya: Eve mengajari Salsa perkalian dengan cara yang belum pernah Adam pikirkan, Eve kalah main tebak-tebakan dari Bima dan hukumannya harus menyanyi lagi, Eve menyebut kerupuk bawaan Adam “kerupuk terenak se-Indonesia” dan dua belas anak setuju berjamaah.
Orang asing, di teritorinya, dan anehnya... tidak terasa seperti alarm.
Satu-satunya insiden sore itu terjadi menjelang asar, dan pelakunya — siapa lagi — Dede.
Di tengah sesi menggambar bebas, sambil mewarnai sesuatu yang dia klaim sebagai kuda (berkaki enam), Dede bertanya tanpa mengangkat kepala, dengan volume penuh:
“Kak Eve udah punya pacar?”
Krayon-krayon berhenti serentak. Dua belas kepala menoleh. Di seberang ruangan, sebuah obeng terpeleset dari engsel jendela dan nyaris memakan korban jari.
“Hmm.” Kak Eve menimbang-nimbang, meneruskan mewarnai rumput dengan santai. “Belum. Tapi calonnya udah ada.”
“SIAPA?” koor dua belas suara.
“Rahasia. Doain aja ya, orangnya agak lama nyadarnya.”
“Emang calonnya di mana? Jauh?”
“Nggak,” kata Kak Eve, dan dari balik maskernya, tidak ada satu anak pun yang melihat senyumnya. “Deket, kok. Deket banget.”
Di jendela, Adam melanjutkan pekerjaannya dengan kepala yang mendadak berisik. Calon. Oh. Ya iyalah. Ya jelas. Obeng di tangannya memutar sekrup yang sudah kencang dari tadi, terus diputar, sampai engselnya berdecit protes.
Untung ada engsel. Engsel tidak pernah bertanya kenapa kamu tiba-tiba butuh kesibukan.
Menjelang magrib, saat Eve pamit pulang dan anak-anak mengantarnya ke pagar seperti mengantar presiden, Adam sedang membereskan ruang belajar. Dia menemukan sesuatu tertinggal di meja: spidol milik relawan baru itu.
Dia keluar untuk mengembalikannya — tapi di pagar, perempuan itu sudah naik ojek online, melambai ke anak-anak.
Dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang, dejavu tanpa alamat, waktu Adam melihat caranya melambai: heboh, pakai dua tangan, seperti anak kecil.
Seperti seseorang, suatu sore yang sangat lama, melambai dari jendela mobil hitam yang menjauh.
Adam berdiri di halaman memegang spidol itu, mengejar ingatan yang menguap lebih cepat dari kemampuannya menangkap.
“Kak Adam kenapa bengong?”
“...Nggak.” Adam menaruh spidol itu di sakunya. “Ayo beresin. Habis magrib belajar.”
Yang tidak Adam ketahui: sepeninggal Kak Eve, di kamar anak-anak berlangsung sidang rahasia.
Agenda sidang ditulis Salsa di papan tulis kecil dengan tulisan tegak bersambung terbaiknya: RAPAT PENTING. JANGAN BILANG BU RATNA. APALAGI KAK ADAM.
“Jadi,” Salsa membuka sidang, “semua udah liat kan tadi. Kak Adam ketawa.”
Hadirin mengangguk khidmat. Ini fakta persidangan yang tidak terbantahkan.
“Kak Adam kalau sama orang baru biasanya kayak kulkas,” lanjut Salsa. “Tadi sama Kak Eve, baru sejam udah ketawa. Ini namanya apa?”
“KEAJAIBAN,” jawab Dede.
“Ini namanya cocok,” koreksi Salsa. “Jadi sekarang kita voting. Yang setuju Kak Eve cocok jadi pacarnya Kak Adam, angkat tangan.”
Dua belas tangan naik. Tiga belas, karena Dede mengangkat dua.
“Dede, satu aja.”
“Aku setujunya dua kali!”
Maka diputuskanlah, secara demokratis dan bulat, sebuah misi jangka panjang yang diberi nama sandi oleh Salsa: Operasi Kulkas Mencair. Rinciannya sederhana, khas strategi anak-anak: pokoknya kalau Kak Eve datang, Kak Adam jangan dibiarkan kabur ke urusan betulin-betulin. Sisanya biar takdir.
Di teras, Adam — yang kebetulan lewat hendak menutup jendela kamar anak-anak — mendengar kata “pacarnya Kak Adam” menembus pintu, tersedak ludahnya sendiri, dan memutuskan dengan sangat cepat bahwa jendela bisa ditutup besok saja.
Malam itu, di kontrakan, Adam menulis di catatan kecilnya — bukan tabel keuangan, catatan satunya, yang isinya hal-hal panti:
Relawan baru: Kak Eve. Anak-anak langsung nempel. Salsa approve (rekor tercepat). Bisa ngajar beneran.
Dia menatap tulisannya sebentar, lalu menambahkan satu baris, entah kenapa:
Kayak pernah ketemu. Di mana ya.
Dia memandangi baris itu, merasa bodoh, hampir mencoretnya.
Tidak jadi.