Chapter Three
Mata Kuliah Umum
POV: Adam & Evelyn | ±1065 kata
Kelas Mata Kuliah Umum itu dosa yang dilakukan universitas kepada para introvert: satu ruangan besar, seratus mahasiswa dari jurusan campur-campur, dan sistem duduk bebas.
Adam datang lima belas menit lebih awal — standar prosedur — dan mengamankan bangku pojok kiri paling belakang, dekat jendela. Posisi sempurna. Tidak ada orang di belakang yang bisa memperhatikan layarnya, ada tembok di kiri sebagai teman sebangku paling setia, dan jendela sebagai jalur evakuasi mata kalau dosen mulai mencari korban untuk menjawab.
Dia sedang membuka catatan ketika ruangan mendadak melakukan hal itu lagi — melambat.
Adam tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang masuk. Bisik-bisik satu ruangan sudah jadi pengumumannya.
“Eh itu Evelyn—“
“Anak Manajemen ngambil MKU ini juga?”
“Duduk sini duduk sini—“
Adam menatap catatannya lebih keras. Barisan tulisan tangannya mendadak jadi hal paling menarik di dunia. Jangan lihat. Matahari. Buta. Fokus.
Yang tidak masuk perhitungan Adam: dari sekian puluh bangku kosong yang diperebutkan orang untuk berada dekat Evelyn, cewek itu berjalan melewati semuanya — dan memilih bangku dua baris di depan pojok kiri belakang. Dekat jendela.
Tepat di garis pandang Adam.
Ini kecelakaan geografis, pikir Adam. Kebetulan. Mungkin dia suka jendela. Semua orang suka jendela.
Sepanjang kuliah dua jam itu, Adam belajar satu hal baru tentang dirinya: ternyata susah sekali mencatat kalau dua baris di depanmu ada seseorang yang rambutnya kena angin AC dan sesekali memiringkan kepala saat mencatat. Adam menulis kalimat yang sama tiga kali. Tiga-tiganya salah.
Lalu bencana itu terjadi di menit keempat puluh.
Evelyn menoleh ke belakang.
Kepanikan Adam berlangsung dalam tiga babak. Babak satu: mata mereka bertemu selama nol koma sekian detik yang rasanya seperti tabrakan. Babak dua: Adam refleks menunduk dengan kecepatan yang menyakiti lehernya sendiri. Babak tiga: dia baru sadar Evelyn masih menatap ke arahnya — dan sedang mengangkat... pulpen?
“Punya pulpen lagi, nggak?” bisik Evelyn. “Punyaku macet.”
Butuh dua detik penuh bagi otak Adam untuk memproses bahwa kalimat itu ditujukan padanya, karena tidak ada manusia lain di pojok ini kecuali tembok.
Adam membuka tempat pensilnya dengan gerakan orang yang sedang diawasi sniper. Di dalamnya ada dua pulpen: yang bagus, dan yang tintanya tinggal seperempat. Sepersekian detik dia berdebat dengan dirinya sendiri, lalu menyerahkan yang bagus.
“...Nih.”
“Makasih!” Evelyn tersenyum.
“...Iya.”
Selesai. Total kosakata yang berhasil dikeluarkan Adam dalam interaksi pertama dengan cewek yang satu kampus tergila-gila padanya: dua kata. Nih dan iya.
Di sela kuliah, dosen mengabsen acak untuk mengecek kehadiran. Ketika sampai di satu nama, beliau mendongak, menyapu ruangan, dan berkata: “Adi? Adi ada?”
Hening dua detik. Lalu dari pojok kiri belakang, sebuah tangan naik setengah tiang. “...Hadir, Pak.”
Dosen mengangguk dan lanjut. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang menyadari bahwa nama di absen itu Adam — tidak ada, kecuali satu orang di dua baris depan, yang menoleh cepat ke daftar nama di layar, mencocokkan, lalu menatap lurus ke papan tulis dengan rahang yang mengeras pelan.
Namanya Adam, batin Evelyn, kepada dosen, kepada seratus mahasiswa di ruangan itu, kepada dunia yang sudah lima belas tahun menyembunyikan nama itu darinya. A-D-A-M. Masa aku doang sih yang niat di sini.
Adam menghabiskan sisa kuliah dengan menatap papan tulis tanpa membaca apa pun. Ada perang di dalam dadanya antara dua suara. Suara pertama, kecil dan bandel: dia ngomong sama kamu. Suara kedua, besar dan berkuasa, suara yang sudah menemaninya bertahun-tahun: dia butuh pulpen. Kamu kebetulan punya pulpen. Jangan norak.
Suara kedua menang. Selalu menang.
Saat kelas bubar, Evelyn menoleh lagi untuk mengembalikan pulpen. Tapi bangku pojok kiri belakang sudah kosong. Cowok jaket abu itu sudah lenyap, secepat dan sesenyap kedatangannya.
Evelyn menatap pulpen di tangannya.
Lalu, alih-alih kesal, dia tersenyum kecil dan menyimpan pulpen itu di tempat pensilnya sendiri. Di bagian yang terpisah. Seperti barang bukti.
Malamnya, di kamar yang luasnya bisa memuat empat kontrakan Adam, Evelyn video call dengan Annisa sambil tiduran memeluk guling.
“Nis.”
“Hm.” Di layar, Annisa sedang maskeran, wajahnya hijau seperti alpukat. “Kenapa. Kok senyum-senyum. Serem.”
“Dia nggak berubah.”
Annisa diam dua detik. Masker hijaunya tidak bisa menyembunyikan matanya yang membesar. “Tunggu. TUNGGU. ‘Dia’ yang itu? Dia yang ITU?!”
“Satu kelas MKU sama aku.” Evelyn membenamkan setengah wajahnya ke guling, tapi matanya tersenyum. “Masih suka nunduk. Masih duduk paling pojok. Tadi aku pinjem pulpen, dia panik, Nis. Ngasih pulpennya kayak lagi nyerahin surat tilang.”
“Ya ampun.” Annisa menggeleng-geleng. “Lima belas taun, Eve. LIMA BELAS TAUN. Terus sekarang apa rencanamu, nona sultan? Samperin? Bilang, ‘hai, aku anak kecil yang kamu kasih roti dulu, yuk nikah’?”
“Ih. Nggak gitu.”
“Terus?”
Evelyn memutar badan, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dan sepi.
“Pelan-pelan aja,” katanya. “Dia kayak... kucing liar, Nis. Kalau kamu samperin langsung, dia kabur. Harus pura-pura nggak niat. Duduk agak jauh dulu. Nanti lama-lama dia yang biasa.”
“Itu strategi apa trauma ditolak?”
“Strategi.” Evelyn nyengir. “Lagian aku nggak buru-buru. Nunggu lima belas tahun aja kuat, kok.”
“Eh tapi seriusan,” kata Annisa, nada ledeknya turun satu level. “Kamu yakin itu dia? Lima belas taun, Eve. Muka orang berubah. Kamu aja waktu itu belum tau namanya.”
Evelyn diam sebentar.
“Aku nggak pernah tau namanya,” katanya. “Itu yang bikin lama, Nis. Umur dua belas aku pernah minta diantar balik ke panti itu — sok-sokan bilang mau nyumbang buku, padahal mau nyariin. Anaknya udah nggak ada. Pengasuhnya juga udah ganti. Nggak ada yang inget anak kecil yang mana yang aku maksud. Modalku cuma... senyumnya. Sama roti itu.”
“Terus kok sekarang kamu bisa seyakin itu?”
“Karena minggu lalu,” kata Evelyn, dan suaranya berubah — pelan, seperti orang menceritakan sesuatu yang sakral, “hari pertama semester. Aku lagi jalan di gerbang, terus liat ada cowok berhenti di deket tukang tisu — bapak-bapak tua yang jualannya nggak laku-laku itu. Cowok ini beli satu. Terus dia buka bekal rotinya dari tas, dibelah dua, setengahnya dikasih ke bapaknya. Nggak ngomong apa-apa. Habis itu jalan lagi, nunduk, kayak berharap nggak ada yang liat.”
Annisa di layar sudah tidak maskeran lagi. Dia lupa membilasnya.
“Orang bisa lupa muka, Nis,” kata Evelyn. “Tapi aku hafal caranya. Lima belas tahun aku hafal caranya. Cowok itu belah rotinya persis kayak dulu — mikir dulu setengah detik, terus milih ngasih bagian yang lebih besar.”
Annisa di layar menghela napas panjang, antara gemas dan terharu. “Oke. Tapi satu hal, Eve. Kalau dia beneran sepenakut itu... siap-siap ya. Orang kayak gitu larinya bukan karena nggak suka. Larinya justru kalau mulai suka.”
Evelyn terdiam sebentar.
“Iya,” katanya akhirnya, pelan. “Makanya aku yang harus nggak boleh capek.”