← Chapters Ch. 14 / 45

Chapter Fourteen

CIEEE

POV: Adam & Evelyn | ±1014 kata

Ulang tahun Panti Rumah Teduh jatuh hari Minggu, dan persiapannya dimulai Sabtu sore dengan pembagian tugas ala Bu Ratna: yang kecil bikin hiasan rantai kertas, yang besar masak, “dan yang paling tinggi berdua itu — iya kalian — tugasnya masang.”

Begitulah Adam dan Kak Eve berakhir satu tim, satu tangga lipat, dan satu gulung besar rantai kertas warna-warni hasil karya dua belas seniman yang standar kualitasnya beragam.

Pembagian kerjanya terbentuk alami: Kak Eve di atas tangga (karena “aku yang paling ngerti estetika, kamu tim teknis”), Adam di bawah memegangi tangga (karena tangga lipat itu umurnya lebih tua dari Salsa dan bunyinya seperti mau pensiun).

“Geser kanan dikit,” instruksi Kak Eve dari atas, lidah terjulur konsentrasi, menempel ujung rantai kertas ke paku di dinding. “Nah. Eh menurut kamu ini kelurusan nggak? Jujur.”

“...Miring.”

“Miringnya artistik apa miring beneran?”

“Miring beneran.”

“Kok kamu gitu. Harusnya bilang artistik dulu biar aku nggak capek.”

“Kamu nyuruh jujur.”

“Iya tapi jujur yang bohong dikit.”

Adam, di bawah tangga, mendapati sudut bibirnya naik sendiri tanpa surat izin. Dua minggu terakhir memang begini terus: entah sejak kapan, bicara dengan Kak Eve tidak lagi terasa seperti ujian. Kalimatnya keluar sendiri. Pendek-pendek, memang. Tapi keluar sendiri.

Bencana datang di rantai kertas terakhir, sudut dekat jendela — daerah kekuasaan paku paling tinggi.

“Dikiiit lagi...” Kak Eve berjinjit di anak tangga teratas, melewati batas yang tertulis jelas di stiker pudar MAX. “Dapet— eh—“

Tangga tua itu memilih detik tersebut untuk mengeluh. Engselnya goyang. Kaki kirinya tergelincir dua senti di lantai semen.

Dua senti cukup.

“EH—!”

Yang terjadi berikutnya, menurut rekonstruksi para saksi mata (dua belas orang, semuanya di bawah umur, semuanya sangat bersemangat memberi keterangan): Kak Eve jatuh ke belakang, Kak Adam bergerak lebih cepat daripada yang pernah mereka lihat Kak Adam bergerak, tangga roboh ke kiri, rantai kertas melayang ke mana-mana seperti konfeti yang datang terlalu awal—

—dan ketika debu drama mengendap, posisi akhirnya adalah: Kak Eve mendarat di dada Kak Adam, dua lengan Kak Adam melingkar refleks di punggungnya, dua-duanya membeku dalam formasi yang di sinetron biasanya diberi musik.

Hening.

Adam bisa merasakan jantung — entah punya siapa, mungkin dua-duanya — berdebum di ruang sempit di antara mereka. Wangi sampo dari folder permanen itu ada di mana-mana. Kepalanya kosong melompong kecuali satu pengumuman darurat yang berkedip: LEPASIN. TANGANNYA. LEPASIN.

Tangannya tidak mendengarkan.

(Di dalam formasi itu, Evelyn — yang sudah tidak dalam bahaya apa pun sejak dua detik lalu dan sangat menyadarinya — mengambil keputusan eksekutif untuk membutuhkan waktu pemulihan tambahan. Matanya terpejam. Tangannya mencengkeram jaket abu. Lima detik lagi. Tiga. Oke sepuluh.)

“CIEEEEEE!”

Suara Dede membelah ruangan seperti terompet kiamat, langsung disambut koor dua belas suara dengan kekompakan yang tidak pernah mereka capai saat menyanyi lagu wajib:

“CIEEE KAK ADAM! CIEEE KAK EVE! CIEEEEE!”

Formasi itu bubar dengan kecepatan ledakan. Adam melepas tangannya dan mundur dua langkah sampai menabrak dinding. Kak Eve berdiri tegak sambil merapikan rambut yang tidak berantakan. Dua-duanya bicara bersamaan:

“Tangganya— tangganya licin—“
“Aku nggak papa! Tangganya— iya tangganya—“

“TANGGANYA CIEEE,” simpul Dede, dan dua belas anak tertawa sampai ada yang guling-guling, dan Bu Ratna muncul dari dapur bertanya ada apa, dan Salsa menjawab “nggak ada apa-apa Bu” sambil menulis di buku catatannya dengan kecepatan wartawan, dan sisa sore itu setiap kali Adam dan Kak Eve berada dalam radius dua meter, minimal satu anak akan berdehem dengan sangat tidak halus.


Acara ulang tahun panti keesokan harinya berjalan hangat: tumpeng kecil, doa bersama, rantai kertas yang miring artistik, dan dua belas anak yang bernyanyi dengan volume melebihi kapasitas ruangan.

Adam duduk di barisan belakang, di tempat biasanya. Yang tidak biasa: tanpa dikomando, tanpa membahas, Kak Eve menaruh kursinya di sebelah kursinya. Bukan pas sebelahan. Ada jarak sejengkal, jarak yang sopan.

Tapi sepanjang acara, jarak sejengkal itu terasa seperti satu-satunya hal di ruangan yang benar-benar Adam sadari.

Di tengah acara, ada sesi yang tidak tercantum di susunan panitia: penyerahan “kado” dari anak-anak untuk kakak-kakak — hasil rapat rahasia yang bahkan Bu Ratna tidak diberi tahu.

Kadonya selembar gambar krayon karya kolaborasi (sutradara: Dede; kontrol kualitas: Salsa), menampilkan dua sosok tinggi bergandengan di bawah satu payung pink, dikelilingi dua belas sosok kecil, satu matahari tersenyum, dan tulisan besar-besar di atasnya: KELUARGA RUMAH TEDUH.

“Yang jaketnya abu-abu ini Kak Adam,” Dede menjelaskan kepada hadirin, menunjuk. “Yang cantik ini Kak Eve. Ini payungnya Kak Salsa dipinjem. Terus ini kuda.”

“Itu aku yang gambar,” kata Kak Eve bangga.

“Iya makanya Dede jelasin, takut dikira kecoa.”

Gambar itu — atas keputusan sepihak Bu Ratna — langsung ditempel di dinding lorong, di antara foto-foto berbingkai, dan dua orang dewasa yang di gambar itu digandengkan cuma bisa saling melirik sekali lalu sibuk menatap arah yang berbeda-beda dengan telinga yang sama merahnya.

Saat tumpeng dipotong dan Bu Ratna berpidato singkat — “keluarga itu bukan yang darahnya sama, tapi yang kalau kamu jatuh, dia refleks nangkep” — dua belas pasang mata secara serempak dan sangat tidak halus menoleh ke barisan belakang, dan Bu Ratna sendiri menutup pidatonya sambil menahan senyum ke arah yang sama.

Adam pura-pura membetulkan tali jam. Dia tidak pakai jam.

Malamnya, di catatan urusan panti, di bawah tulisan ultah panti lancar, tangga lipat HARUS diganti (bahaya), Adam menulis satu baris lagi. Dia menulisnya cepat, seperti mencuri:

Tangannya cengkeram jaket. Waktu jatuh. Berarti refleksnya percaya.

Dia menatap kalimat itu lama. Ini melanggar semua peraturan yang dia buat sendiri — peraturan bab tujuh, peraturan dua kolom, peraturan akuntansi harapan.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ada suara ketiga di kepalanya. Bukan penjaga tua yang selalu bilang bukan levelmu. Bukan suara kecil bandel yang selalu kalah. Suara baru, pelan, netral, seperti pembaca berita:

Dia nggak bangun dari bahumu selama empat puluh menit. Dia cengkeram jaketmu waktu jatuh. Dia naro kursinya di sebelahmu.

Itu data, Adam. Kamu paling jago baca data.

Adam menutup buku catatan dan berbaring menghadap tembok.

“Datanya bias,” katanya kepada tembok. “Sampelnya kecil.”

Tapi malam itu dia tidur dengan sudut bibir yang naik, dan tembok — saksi paling setia — mencatat bahwa untuk pertama kalinya sejak lama, anak kontrakan petak itu tidak menghitung apa pun sebelum tidur.