← Chapters Ch. 38 / 45

Chapter Thirty Eight

Retak

POV: Adam & Evelyn | ±1024 kata

Retakan tidak pernah datang sebagai gempa. Retakan datang sebagai bunyi-bunyi kecil yang kamu putuskan untuk tidak dengar — sampai suatu hari kamu sadar sudah lama berjalan miring.

Bunyi pertama: Adam mulai susah tidur lagi. Kalimat makan malam itu — rencana kamu apa, persisnya? angka, Adam, saya orang angka — ternyata jenis kalimat yang tidak pulang. Dia menginap. Dia ikut ke kampus, ke labkom, ke panti, dan paling rajin datang jam dua pagi, membawa teman-temannya: standar hidupnya dari lahir. Kamu mau dia turun standar?

Bunyi kedua: Adam mulai menghitung lagi — bukan uangnya; itu tidak pernah berhenti — tapi Evelyn. Menghitung yang hilang dari hidup cewek itu sejak bersamanya: kartu yang dimatikan, perang dingin di rumahnya sendiri, nama baiknya yang sempat digoreng internet, sopir yang dulu selalu siaga dan kini Evelyn ke mana-mana naik ojek sambil bilang “seru kok” dengan keceriaan yang sembilan puluh persen asli dan sepuluh persen — Adam bisa melihatnya, dia juara satu memperhatikan — capek.

Dan di kolom satunya, dia menghitung yang Evelyn dapat: bala-bala. Payung. Boncengan motor bebek. Es krim minimarket.

Neraca itu, dibaca jam dua pagi oleh auditor yang salah, hasilnya selalu sama.

(Malam setelah warung, harus dicatat, Adam sempat berjuang menepati janjinya. Draft chat itu tertulis lengkap di layarnya: “lyn. tadi aku ga sengaja kebaca chat tante kamu di grup keluarga. aku ga papa. cuma mau bilang sesuai janji.” Jempolnya di atas tombol kirim selama tiga menit.

Lalu penjaga berseragam baru itu berbisik dengan logika barunya yang mulia: dia lagi perang di rumahnya. Kamu mau nambahin bebannya cuma biar kamu lega? Itu bukan jujur, itu egois. Dan Adam — yang tidak pernah bisa menang melawan tuduhan egois — menghapus draft itu huruf demi huruf.

Janji tidak dilanggar malam itu. Janji cuma ditunda. Begitu katanya pada diri sendiri, dan begitulah retakan selalu bermula: bukan dari bohong, tapi dari jujur yang dijadwal ulang.)

Bunyi ketiga — yang paling nyaring — datang hari Jumat, dari tempat yang tidak disangka: warung Bu Imas.

Mereka sedang makan sore, dan Evelyn izin ke belakang, meninggalkan ponselnya di meja. Ponsel itu menyala dengan notifikasi grup keluarga besar — dan Adam tidak berniat membaca, sungguh tidak, tapi mata bergerak lebih cepat dari niat, dan pesan teratas dari nama Tante Laras terbaca utuh di layar:

“Eve sayang, Tante liat kamu kemarin di acara Wijaya kok cocok banget sama Nathan 😊 orang tua tuh doanya ga pernah salah nak. Dipikir lagi ya. Kasian papamu, beliau cuma mau yang terbaik. Jangan sampai nyesel cuma karena kasihan sama orang.”

Jangan sampai nyesel cuma karena kasihan sama orang.

Adam menaruh pandangannya kembali ke gorengan, dan ketika Evelyn kembali, dia sudah rapi. Terlalu rapi. Mereka melanjutkan makan, dan Adam tertawa di tempat yang benar, dan menanggapi di tempat yang benar, dan Evelyn — yang hafal setiap frekuensi cowok ini — pulang malam itu dengan perasaan mendengar bunyi retak yang tidak bisa dia temukan sumbernya.

Eve: nis
Eve: dia mulai lagi
Annisa: mulai apa
Eve: rapinya. rapinya yang itu.

Yang Evelyn tidak tahu: Adam malam itu tidak mundur. Dia sudah janji, dan janjinya dia pegang dengan sepuluh jari — tapi memegang janji dan tenggelam ternyata bisa terjadi bersamaan. Dia tidak mematikan satu lampu pun. Payung tetap jalan. Chat tetap panjang. Yang berubah tidak kelihatan dari luar: di dalam, dia mulai bersiap-siap. Diam-diam, tanpa sadar sepenuhnya, dia mulai memperlakukan setiap sore bersama Evelyn seperti orang memperlakukan cuaca bagus di musim hujan — dinikmati habis-habisan, karena sebentar lagi.

Dia mulai berpamitan pelan-pelan bukan dari Evelyn.

Dia mulai berpamitan pelan-pelan dari harapan bahwa ini bisa selamanya.


Sabtu sore di panti, keretakan itu akhirnya bersuara.

Mereka sedang mengecat ulang rak buku — proyek yang tertunda sejak zaman “pamit pelan-pelan” jilid satu — dan Evelyn, sambil mengaduk cat, memutuskan untuk menabrak saja:

“Dam. Kamu mau cerita sendiri, atau aku yang mulai?”

Kuas Adam berhenti sebentar. Lanjut lagi. “...Cerita apa?”

“Yang bikin kamu senyum pake senyum sopan ke aku sejak Jumat. Aku hafal senyum itu, Adam. Itu senyum buat dosen. Kamu nggak boleh pake itu ke aku, itu aturannya.”

Adam mengecat satu papan penuh sebelum menjawab. Dan ketika menjawab, dia memilih jujur — karena sudah janji — tapi jujurnya jujur yang berbahaya:

“Aku baca chat tante kamu. Nggak sengaja. Di warung.” Kuasnya tidak berhenti. “Terus aku mikir-mikir. Bukan mikir mundur — aku udah janji, aku pegang. Aku cuma mikir...” dia mencelupkan kuas, pelan-pelan, seperti mengulur waktu dari kalimatnya sendiri, “...mungkin semua orang di sekeliling kamu nggak salah-salah amat. Papamu. Tantemu. Internet. Mereka nggak kenal aku, tapi itung-itungan mereka bener, Lyn. Di atas kertas, itung-itungan mereka selalu bener. Yang salah cuma satu variabel: kamu sayang aku. Dan aku kadang mikir... variabel itu nutupin matamu dari itungan yang bener.”

Suara pengadukan cat berhenti.

“Ulangin,” kata Evelyn pelan.

“Lyn—“

“Ulangin bagian terakhir. Yang ‘nutupin mata’.” Dia berdiri, dan Adam akhirnya menoleh, dan yang dia lihat bukan Evelyn yang marah — lebih buruk: Evelyn yang terluka persis di tempat yang selama ini cuma dia yang tahu letaknya. “Jadi menurut kamu, perasaanku itu... apa? Gangguan penglihatan? Lima belas tahun, Dam. LIMA BELAS TAHUN aku ngeliat kamu — lebih lama dari papaku ngeliat kamu, lebih lama dari internet, lebih lama dari SIAPA PUN. Dan sekarang kamu bilang mata aku yang ketutup?”

“Bukan gitu maksudku—“

“Terus apa?” Suaranya pecah. “Kamu janji nggak matiin lampu. Iya, lampunya nyala semua — tapi kamu udah beres-beres di dalem, Adam! Kamu pikir aku nggak liat?! Kamu nikmatin tiap sore kayak— kayak orang yang udah beli tiket pulang!”

Kalimat itu menghantam telak, karena benar sampai ke koma-komanya.

Adam berdiri diam, kuas menetes di tangannya, tidak bisa membantah dan tidak sanggup mengiyakan — dan di keheningan itu, dari arah gerbang, Bu Ratna memanggil dengan nada yang aneh, nada yang belum pernah mereka dengar dari perempuan yang tidak pernah panik itu:

“Eve. Nak. Sini sebentar.” Jeda. “Ada tamu. Nyariin kamu.”

Di gerbang Rumah Teduh, di depan pagar hijau pudar itu, berdiri seorang sopir berseragam yang mereka berdua kenali — dan di belakangnya, terparkir menyilang seperti pernyataan, sebuah mobil hitam besar yang membuat sore itu, tiba-tiba, terasa seperti lima belas tahun yang lalu:

Mobil yang datang menjemput seorang anak perempuan untuk dibawa pulang.