← Adam & Eve

Chapter Thirty Six

Disaster Dinner

POV: Adam & Evelyn | ±1026 kata

Ide gila itu datang dari Evelyn sendiri, tiga hari setelah makan malam keluarga, diumumkan kepada Adam di rooftop dengan gaya jenderal memaparkan operasi:

“Kita serang duluan.”

“...Kita apa?”

“Papaku nyusun narasi: kamu itu bayangan misterius yang punya motif. Bayangan makin gelap kalau disembunyiin.” Evelyn mondar-mandir, dua langkah kiri, dua langkah kanan. “Jadi kita kasih cahaya. Kamu dateng. Makan malem. Resmi. Aku yang undang — ini rumahku juga. Papaku orangnya nggak akan bikin drama di depan tamu; paling buruk dia dingin. Kamu tahan dingin. Kamu juara satu tahan dingin.”

“Lyn.” Adam menatapnya. “Aku bahkan nggak tau garpu yang mana buat apa.”

“Nggak ada yang tau, Dam. Itu konspirasi orang kaya biar kelihatan sibuk.” Dia berhenti mondar-mandir, dan gaya jenderalnya luntur sebentar, memperlihatkan yang di baliknya: takut, dan nekat karena takut. “Aku nggak mau perang dingin bertahun-tahun. Aku mau papaku liat kamu. Sekali aja liat beneran. Aku... aku naif ya?”

Adam menatap perempuan itu — yang sudah pasang badan di depan satu internet, yang sekarang mau pasang badan di depan meja makan papanya sendiri — dan tahu bahwa jawaban jujurnya (iya, ini nggak akan berhasil, orang seperti papamu sudah selesai menilai sebelum pintu dibuka) bukan yang dibutuhkan malam ini.

“Aku dateng,” katanya. “Ajarin aku garpunya.”


Persiapannya tiga hari, dan melibatkan seluruh pasukan.

Annisa melatih “simulasi pertanyaan sulit” dengan berperan sebagai Pak Hendrawan — aktingnya terlalu bagus sampai Adam benar-benar berkeringat. Bu Ratna menyetrika kemeja terbaik Adam (satu-satunya kemeja Adam) sambil memberi wejangan: “Jawab jujur semua, Nak. Orang bisa nyerang segalanya kecuali orang yang nggak nyembunyiin apa-apa.” Salsa memberi arahan terakhir: “Kayak senyum tiket. Niat.” Dan Dede menyumbang jimat: stiker petir, ditempel di balik kerah kemeja, “biar Kak Adam kuat”.

Sabtu, jam tujuh malam, Adam berdiri di depan pintu rumah yang pagar-nya saja lebih panjang dari gang kontrakannya, memakai kemeja tersetrika Bu Ratna, jaket abu ditinggal di rumah untuk pertama kalinya bertahun-tahun (keputusan sulit; rapat panjang), membawa bingkisan yang dipilihnya dengan seluruh pertimbangan yang dia punya: kotak kue kering buatan dapur panti, dibuat bersama anak-anak, dibungkus rapi.

Evelyn membukakan pintu sendiri. “Inget,” bisiknya sambil merapikan kerah Adam yang tidak perlu dirapikan, jarinya menyenggol stiker petir dan matanya melunak sedetik, “apa pun yang dia bilang: kamu tamuku. Kamu berhak di sini.”

Makan malam itu berjalan seperti operasi yang gagal sesuai jadwal.

Menit lima belas — pembukaan dingin tapi selamat. Perkenalan. Bingkisan kue diterima asisten dengan sopan dan diletakkan di meja samping tanpa dibuka, seperti barang bukti. Mama Evelyn sesekali melempar pertanyaan penyelamat (“kuliahnya semester berapa?”) yang dijawab Adam dengan rapi.

Menit dua puluh — interogasi dimulai, halus, dengan sarung tangan.

“Adam.” Pak Hendrawan memotong dagingnya tanpa melihat lawan bicara. “Orang tua kamu dulu kerja apa?”

“Bapak saya sopir ekspedisi, Om. Ibu saya jahit di rumah.” Tenang. Jujur. Latihan Annisa terpakai. “Dua-duanya meninggal waktu saya SMA. Kecelakaan.”

“Hm. Terus biaya hidup kamu sekarang dari mana?”

“Uang santunan kecelakaan, Om. Saya atur supaya cukup sampai lulus.”

“Diatur.” Pak Hendrawan mengangguk pelan, seperti auditor menemukan pos anggaran menarik. “Cukupnya sampai lulus. Terus setelah lulus?” Dia akhirnya mengangkat wajah, dan pertanyaan berikutnya diluncurkan dengan presisi orang yang sudah menyimpannya sejak sore: “Rencana kamu apa, persisnya, untuk kasih makan anak saya? Angka, Adam. Saya orang angka.”

“Pa,” suara Evelyn tajam.

“Papa nanya baik-baik.”

Dan Adam — Adam yang punya jawaban sesungguhnya, yang punya tiga ratus dua belas yayasan dan sebuah sistem yang dikejar-kejar perusahaan orang di depannya ini — membuka mulut, dan mendapati bahwa jawaban itu tidak mau keluar. Bukan karena takut. Karena di detik itu dia sadar: kalau dia menyebut SiTeduh sekarang, di meja ini, di bawah tatapan itu, maka sistemnya — anak-anaknya, panti-pantinya — akan langsung berubah jadi alat tawar. Nih Om, saya punya ini, saya laku kok. Dan Adam lebih baik ditelan meja mahoni ini bulat-bulat daripada memakai Rumah Teduh sebagai mahar.

“...Saya belum bisa kasih angka, Om,” katanya akhirnya, pelan tapi tidak menunduk. “Sekarang saya cuma bisa jawab: saya nggak akan pernah biarin dia kekurangan hal-hal yang penting. Dan saya tau bedanya yang penting sama yang mahal.”

Satu detik, meja itu hening — dan Mama Evelyn, nyaris tanpa suara, menaruh sendoknya dan menatap pemuda itu sedikit lebih lama.

“Jawaban bagus,” kata Pak Hendrawan. Nadanya seperti memberi nilai enam. “Puitis. Sayangnya, Adam, anak saya tumbuh besar dengan hal-hal yang penting dan mahal. Dua-duanya. Itu standar hidupnya, dari lahir. Kamu mau dia turun standar demi... hal-hal kecil?”

“Pa—“

“Nggak apa-apa, Lyn.” Adam menahan Evelyn dengan satu gerakan kecil, dan menjawab dengan kejujuran terakhir yang dia punya malam itu — kejujuran yang salah ruangan: “Saya nggak akan pernah bisa nyaingin standar itu, Om. Saya nggak akan bohong bisa. Saya cuma tau, di tempat saya, Evelyn keliatan... bahagia. Tapi soal standar — Om benar. Itu bukan level saya.”

Itu bukan level saya. Kalimat yang salah, kepada orang yang salah. Karena bagi Pak Hendrawan, itu bukan kerendahhatian.

Itu pengakuan.

“Nah.” Pak Hendrawan menaruh pisau dan garpunya, sejajar, rapi, penutup rapat. “Akhirnya kita sepakat satu hal.” Dia menoleh ke asisten di sudut ruangan. “Mas Adam sudah selesai makannya. Tolong siapkan mobil, antar pulang. Gangnya sempit, kan? Sopir saya hafal daerah situ.”

Penghinaan itu dikirim dengan bungkus jasa baik, dan semua orang di meja memahaminya dengan sempurna.

“Nggak usah, Om. Saya bawa motor.” Adam berdiri, membungkuk sopan kepada Mama Evelyn, “Terima kasih makan malamnya, Tante. Om.” — juara satu pamit dengan baik, medali terakhirnya malam itu — dan berjalan ke pintu diantar Evelyn yang rahangnya sudah keras oleh air mata yang ditahan pakai kemarahan.

Di teras, jauh dari pintu, Evelyn mencengkeram lengannya. “Yang tadi itu — ‘bukan level saya’ — CABUT. Kamu nggak boleh percaya itu. Dam. Liat aku. Jangan bawa pulang kalimat itu.”

Adam menatapnya, dan tersenyum — senyum sopan yang dilatih bertahun-tahun, yang malam ini untuk pertama kalinya dipakai kepada Evelyn:

“Iya. Nggak dibawa.”

Dia membawanya pulang.

Dan di meja makan yang sudah sepi, Pak Hendrawan menyesap tehnya, membuka ponsel, dan mengetik pesan singkat kepada sekretarisnya — bukan tentang Adam; Adam baginya sudah selesai malam ini — tapi tentang pekerjaan yang tertunda:

“Bu Rina. Developer TeduhApp yang tidak pernah balas itu — kirim proposal revisi. Naikkan angkanya. Saya tidak suka dibuat menunggu dua kali.”