← Chapters Ch. 24 / 45

Chapter Twenty Four

Pamit Pelan-Pelan

POV: Adam & Evelyn | ±1105 kata

Adam tidak menghilang.

Menghilang itu berisik — menghilang mengundang pertanyaan, dan pertanyaan mengundang percakapan, dan percakapan adalah hal terakhir yang sanggup dia hadapi. Yang Adam lakukan adalah keahlian tertingginya, yang dia pelajari di teras rumah orang umur lima belas dan sempurnakan seumur hidup:

Pamit pelan-pelan. Tanpa suara. Tanpa pintu dibanting. Mundur sambil membungkuk.

Sabtu, dia datang ke panti lebih pagi dari jadwal Kak Eve, menghabiskan energi dua kali lipat bersama anak-anak, dan pamit “ada asistensi” tepat sebelum jam kedatangan relawan. Dede protes. Adam mengacak rambutnya dan berjanji besok datang lagi — janji yang dia tepati, di jam yang lagi-lagi dihitung.

Sabtu pagi itu juga, sebelum pulang, Dede mencegatnya di pagar dengan selembar kertas gambar yang masih bau krayon.

“Kak! Ini buat Kak Eve! Dede gambar kita semua naik motornya Kak Adam!” (Motor bebek itu di gambar memuat empat belas orang dan tetap melaju; fisika bukan urusan seniman.) “Kak Adam kan ntar ketemu Kak Eve di kampus. Titip ya! Bilang dari Dede!”

Adam menatap gambar itu. Empat belas orang di satu motor. Semua tersenyum. Yang paling depan pakai jaket abu-abu, yang diboncengan pertama rambutnya panjang digambar sampai keluar kertas.

“...Iya,” katanya. “Kakak titipin.”

Gambar itu tidak pernah sampai. Dia tersimpan rapi di map plastik di kontrakan, dijaga baik-baik oleh orang yang tidak sanggup menyerahkannya dan tidak akan pernah tega membuangnya — dan setiap kali Dede bertanya “udah dikasih belum?”, Adam menjawab “udah” dengan kebohongan yang paling membebani timbangannya minggu itu.

Chat masih dibalas. Tentu saja dibalas; tidak membalas itu berisik. Tapi ada yang bisa didengar dari balasan kalau kamu tahu cara mendengarnya:

Eve: DAM. sop buatanku hari ini BENING. beneran bening. bu ratna sampe curiga
Adam: bagus. selamat ya

(Sebelumnya: bagus. berarti muridnya lulus. gurunya siapa dulu — dan Evelyn menatap dua kalimat baru yang rapi dan sopan itu seperti menatap ruangan yang mendadak dingin.)

Eve: besok jadi kan benerin rak buku bareng? aku udah beli cat
Adam: kayaknya aku duluan aja ngerjainnya, besok pagi2. kamu dateng siang aja gapapa, biar ga nunggu

(Terjemahan, yang butuh tiga hari untuk Evelyn pahami: biar nggak barengan.)

Payung — dan ini yang pertama kali Evelyn sadari, hari Selasa, saat langit menghitam sejak jam dua dan dia keluar kelas jam empat menembus gerimis ke parkiran — tidak ada.

Jok motornya kosong.

Dia berdiri di sana, gerimis menebal di pundaknya, menatap sela jok dan stang yang selama berbulan-bulan tidak pernah kosong kalau langit gelap. Mungkin dia piket, pikirnya. Mungkin lupa. Manusiawi. Dia pulang dengan payung cadangan dari bagasi dan tidak membahasnya di chat, karena membahasnya terasa seperti menagih, dan hal itu tidak pernah jadi transaksi.

Kamis, mendung lagi. Jok kosong lagi.

Kali ini Evelyn berdiri di parkiran lebih lama, tidak peduli gerimis, dan merasakan sesuatu yang dingin merambat naik yang tidak ada hubungannya dengan hujan.

Sistem tidak pernah gagal dua kali.


Yang paling sulit dari pamit pelan-pelan, Adam belajar minggu itu, adalah tetap tinggal.

Kalau boleh, dia ingin lenyap saja — pindah kelas MKU, pindah jam panti, pindah galaksi. Tapi lenyap itu mewah. Anak-anak menunggunya; SiTeduh punya pengguna; kelas tidak bisa dipindah. Jadi dia tinggal, di dunia yang sama dengan Evelyn, dan mengerjakan pekerjaan yang paling menguras dari semua pekerjaan: hadir sambil menutup diri, satu lampu setiap hari.

Senin, dia berhenti menandai meja jendela selatan. (Pak Yusuf memperhatikan jurnal metalurgi yang tidak dipindahkan seharian, dan sorenya memindahkannya sendiri ke gudang dengan wajah orang yang menurunkan bendera.)

Rabu, di kelas MKU, dia duduk di pojok kanan — seberang ruangan dari pojok kirinya yang biasa, di belakang tiang. Evelyn masuk, menoleh ke pojok kiri seperti biasa, dan Adam menyaksikan dari balik tiang bagaimana bahu cewek itu turun pelan waktu menemukan bangku kosong. Rasanya seperti menelan paku. Dia tetap di balik tiang.

Jumat, Evelyn mengirim voice note — hal yang tidak pernah dia lakukan, suaranya sengaja dibuat ringan: “Dam, kamu sibuk banget ya minggu ini? Proyeknya rame? Jangan lupa makan lho. Eh besok aku bawa bahan prakarya lagi nih buat anak-anak, kamu... dateng kan?”

Adam mendengarkannya empat kali di kontrakan yang gelap.

Lalu mengetik: rame banget minggu ini. maaf ya. besok kayaknya ga sempet, titip salam buat anak2.

Jempolnya melayang di atas tombol kirim selama satu menit penuh.

Ini yang bener, kata penjaga tua, yang minggu ini bekerja tanpa lembur karena tidak ada perlawanan. Dia punya dunianya. Mobil itu, cowok itu, hidup yang selevel. Kamu minggir sekarang, selagi mundurnya masih bisa rapi. Sebelum kamu jadi beban yang harus dia tolak baik-baik. Kamu sayang sama dia? Nah. Justru makanya.

Terkirim.

Malam itu Adam bekerja sampai jam tiga — SiTeduh tidak pernah bertanya kenapa dia datang, itu kelebihannya — dan sebelum tidur, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, dia tidak membuka pintu lemari plastik itu sama sekali.

Bukan karena sudah tidak ingin.

Karena kalau dibuka, dia tahu dia akan membaca semuanya dari awal, dan kalau dia membaca semuanya dari awal, ada risiko dia mulai berhitung ulang — dan berhitung ulang adalah pintu ke berharap, dan berharap, sudah terbukti dengan data terbaru yang valid, adalah barang yang paling tidak mampu dia beli.

Yang tidak diketahui siapa pun: rekor kebohongan minggu itu bukan “udah” kepada Dede.

Rekornya hari Kamis, di tangga fakultas, ketika mereka berpapasan tanpa sengaja — terlalu mendadak untuk dihindari, terlalu sempit untuk pura-pura tidak lihat. Evelyn berhenti satu anak tangga di bawahnya. “Dam.” Suaranya hati-hati, seperti orang menyapa burung. “Kamu... beneran baik-baik aja?”

Dan Adam menatap wajah itu — wajah yang khawatir, untuknya, masih untuknya — dan mengucapkan kebohongan terbesar yang pernah dia produksi seumur hidupnya, lengkap dengan senyum sopan yang dilatih bertahun-tahun:

“Baik. Cuma sibuk. Kamu gimana?”

Kamu gimana. Basa-basi. Kepada Evelyn. Dan dari cara mata cewek itu meredup sepersekian detik sebelum membalas “baik juga”, Adam tahu pesannya sampai: pintu sudah bukan cuma ditutup. Pintunya sudah dicat supaya kelihatan seperti tembok.

Dia menuruni sisa tangga dengan langkah stabil, membelok di koridor, masuk toilet kosong, dan berdiri memegangi wastafel selama lima menit penuh.


Di sisi lain kota, jam dua belas malam, Evelyn duduk di lantai kamarnya bersandar tempat tidur, menatap layar ponsel.

titip salam buat anak2.

Dia scroll ke atas. Minggu lalu: balasan panjang, candaan garing yang cuma lucu buat mereka berdua, “Lyn” di sana-sini. Minggu ini: kalimat-kalimat rapi. Sopan. Berjarak. Kayak brosur, pikirnya. Kayak customer service.

Dan tidak ada satu pun yang bisa dia tunjuk. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kejadian. Tidak ada kalimat yang salah. Cuma serangkaian ketidakhadiran kecil yang masing-masing punya alasan masuk akal dan yang kalau dijumlahkan membentuk satu bangun yang dia kenal bentuknya tapi belum berani dia sebut namanya.

Eve: nis. kamu bangun?
Annisa: baru mau tidur. kenapa
Eve: perasaanku nggak enak
Eve: kayak ada yang matiin lampu