Chapter Twenty Five
Lampu-Lampu
POV: Evelyn | ±1024 kata
Evelyn baru benar-benar mengerti seberapa banyak lampu yang pernah dinyalakan Adam — justru dari urutan padamnya.
Lampu pertama yang dia sadari sudah mati: payung. Itu yang paling terang, jadi paling terasa. Tapi minggu-minggu berikutnya mengajarinya bahwa payung cuma satu dari sekian, dan sisanya padam satu-satu dengan jadwal yang hampir sopan, seperti gedung yang dimatikan lantai per lantai oleh petugas yang teliti.
Meja jendela selatan: dia datang ke perpustakaan hari Senin dan mendapati mejanya diduduki dua mahasiswa tingkat akhir. Tidak ada tumpukan jurnal metalurgi. Dia bertanya ke Pak Yusuf, sesantai yang dia bisa, “Pak, jurnal-jurnal yang biasa di meja situ ke mana ya?” — dan lelaki tua itu menatapnya sebentar dengan mata yang tahu terlalu banyak, lalu menjawab pelan, “Sudah dikembalikan ke gudang, Neng. Yang biasa minjem... kayaknya lagi nggak minjem dulu.”
Perpustakaan menyimpan satu percobaan yang tidak dia ceritakan bahkan ke Annisa.
Hari Rabu, Evelyn meminjam novel lama itu — novel pertama, yang bab tujuhnya sedih — dan menyelipkan sticky note pink di halaman tiga puluh, halaman yang sama dengan awal segalanya:
“penunggu meja pojok. kamu ke mana? bukunya sepi. — penunggu meja jendela selatan”
Dia mengembalikannya ke rak “kantor pos” dan menunggu.
Kamis: tidak berbalas. Jumat: tidak berbalas. Senin, ketika dia memeriksa lagi, sticky note itu masih di sana, sendirian, persis seperti miliknya yang dulu — dan dari meja sirkulasi, Pak Yusuf mengamati mahasiswi laptop bunga itu menutup buku pelan-pelan, dan memutuskan sore itu untuk menyeduh teh lebih manis dari biasanya, karena ada hari-hari ketika penjaga perpustakaan cuma bisa membantu lewat gula.
Kursi kelas MKU: pojok kiri belakang kosong tiga pertemuan berturut-turut. Dia menemukannya akhirnya — pojok kanan, balik tiang, posisi yang dipilih jelas bukan karena jendela. Dia tidak menghampiri. Aturan kucing liar. Tapi hari itu dia mencatat semua materi dengan tulisan yang makin lama makin ditekan sampai kertasnya nyaris sobek.
Sapaan koridor: dari “Lyn” — jadi “Eve” — jadi angguk — jadi rute yang tidak pernah berpapasan sama sekali. Butuh dua minggu untuk turun empat anak tangga itu, dan Evelyn merasakan setiap anaknya.
Dan yang paling sakit justru yang paling kecil: gorengan. Tiap Sabtu di panti mereka punya ritual tidak tertulis — Adam selalu menyisihkan bala-bala terakhir untuknya, ditaruh di piring kecil terpisah sebelum diserbu anak-anak, tidak pernah dibahas. Sabtu kemarin, saat Evelyn datang siang (sesuai “biar nggak nunggu”), piring kecil itu tidak ada. Bala-balanya habis. Adam sudah pulang sejam sebelumnya.
Dia berdiri di dapur panti menatap piring-piring kosong, dan di situlah, di antara bekas gorengan dan sisa teh manis, Evelyn — yang bertahan tidak menangis selama dua minggu penuh — hampir kalah oleh sebuah piring kecil.
“Kak Eve.” Salsa muncul di pintu dapur. Tanpa buku catatan. Itu sendiri sudah pengumuman. “Kak Adam kenapa?”
“...Sibuk, katanya. Proyeknya lagi rame.”
“Kak Eve.” Salsa menatapnya dengan tatapan yang membuat Evelyn ingat bahwa anak ini sudah melihat lebih banyak orang datang dan pergi daripada kebanyakan orang dewasa. “Kak Adam kalau sibuk, dia tetep dateng terus ceritanya pendek-pendek. Kalau dia dateng terus pulang cepet sebelum orang dateng — itu bukan sibuk. Itu ngindarin.”
Dari ruang tengah, Dede menyusul masuk, memeluk kaki Kak Eve tanpa kata — dan anak yang biasanya volume hidupnya di angka maksimal itu cuma bilang, pelan, ke kain rok Evelyn:
“Kak Eve sama Kak Adam berantem ya? Kayak yang dulu? Dede nggak suka. Sepatu Dede aja udah nggak petir lagi rasanya.”
Evelyn jongkok, memeluk Dede, dan menjaga suaranya tetap utuh dengan seluruh kekuatan yang tersisa: “Nggak berantem, sayang. Nggak ada yang berantem. Kak Eve cuma... lagi nyari saklar.”
“Oke, kita urutkan.” Annisa duduk bersila di karpet kamar Evelyn malam itu, papan tulis kecil (dia bawa sendiri; anak Psikologi punya alat perang sendiri) sudah penuh coretan garis waktu. “Terakhir kali semuanya normal: Jumat. Kalian chattingan, dia masih ngelawak garing, masih ‘Lyn’. Sabtu dia mulai dateng pagi pulang cepet. Berarti ada sesuatu antara Jumat sore sampai Sabtu.”
“Nggak ada apa-apa, Nis. Aku udah muter ulang seminggu itu sampe hafal. Jumat aku kuliah biasa, siangnya—“ Evelyn berhenti. “—siangnya aku dijemput Raka, kita ke rumah sakit jenguk Oma, terus—“
“Tunggu.” Annisa mengangkat spidol. “Raka. Sepupumu. Jemputnya di mana?”
“Depan lobi gedung— Nis, itu nggak nyambung, Adam bahkan nggak—“ Evelyn berhenti lagi.
Dua sahabat saling menatap.
“...Nggak mungkin,” kata Evelyn pelan. “Dia nggak mungkin liat. Ngapain dia di gedung Manajemen jam segitu.”
“Eve.” Annisa menaruh spidolnya. “Kita ngomongin cowok yang naro payung di motormu tiap mendung. Yang nyalin catetan tiga jam pake tangan. Kamu beneran mau bilang ‘ngapain dia di gedungku’ itu argumen?”
Evelyn terdiam. Kepalanya memutar ulang empat puluh detik di depan lobi itu — dia turun tangga, Raka keluar mobil, dia memukul lengannya, pelukan singkat, cipika-cipiki, kepalanya diacak — adegan keluarga yang biasa, yang tidak pernah dia pikirkan dua kali, yang kalau dilihat dari seberang jalan oleh seseorang yang tidak tahu apa-apa—
—oleh seseorang yang dua minggu sebelumnya mendengarnya berkata di depan dua ribu orang: aku udah lama suka sama orang lain—
“Nis.” Suara Evelyn berubah. “Nis, kalau dia liat itu. Kalau dia mikir Raka itu—“
“—orang yang kamu maksud di panggung,” Annisa menyelesaikan, dan dua-duanya terdiam di depan papan tulis kecil yang mendadak menjelaskan segalanya: kenapa tidak ada pertengkaran, kenapa tidak ada kalimat yang salah, kenapa yang terjadi justru mundur yang rapi dan sopan dan menyeluruh.
Karena Adam tidak merasa dikhianati. Orang yang merasa dikhianati itu marah, menuntut, minta penjelasan.
Adam merasa tidak berhak. Dan orang yang merasa tidak berhak tidak minta penjelasan — dia cuma minta diri.
“Aku harus ngomong sama dia.” Evelyn sudah setengah berdiri, meraih ponsel. “Sekarang. Aku telepon—“
“Eve. Duduk.” Annisa menariknya turun. “Kamu mau bilang apa di telepon? ‘Itu sepupuku’? Dia lagi di mode yang mana pun kata-katamu bakal dia terjemahin jadi ‘dia kasihan sama aku’. Kamu sendiri yang bilang: cowok ini kalau nutup pintu, sopan banget, rapi banget. Pintu kayak gitu nggak bisa dibuka lewat telepon.” Dia mengambil napas, dan mata detektifnya menyala dengan cara yang membuat Evelyn, di tengah semua kekacauan ini, merasa sedikit tertolong. “Yang bisa buka pintu itu bukti, bukan pembelaan. Dan bukti butuh saksi yang dia percaya.”
“...Maksudmu?”
“Maksudku,” kata Annisa, menutup papan tulisnya, “besok aku bolos kelas siang. Ada yang perlu aku datengin.”