Chapter Forty Three
Luluh
POV: Pak Hendrawan & Evelyn | ±1039 kata
Antara meeting dan makan malam itu, Pak Hendrawan melakukan hal yang selalu dia lakukan sebelum keputusan besar: uji tuntas.
Kali ini tidak lewat orang suruhan. Instingnya bilang laporan sehari kemarin itu — yatim piatu, kontrakan, tidak punya apa-apa — adalah laporan yang semua barisnya benar dan kesimpulannya salah, dan laporan seperti itu tidak bisa diperbaiki oleh orang suruhan yang sama.
Sumber pertamanya mendatanginya sendiri: Raka, yang mencium perubahan angin dengan kecepatan agen ganda profesional, dan menyerbu makan siang omnya dengan berkas tidak resmi. “Om nggak akan percaya yang aku kumpulin. Nih. Grup komunitas pengurus panti — baca testimoninya soal ‘Mas K.’ Nih lagi, menfess kampus, dari zaman dia diserang — yang bela dia duluan bukan pacarnya, Om. Anak-anak panti, pake HP kepala pantinya. Sama nih satu lagi—“ dia menggeser ponselnya, “—ketua BEM yang pernah ditolak Evelyn di depan umum aja bilang respect. Om tau susahnya bikin cowok ditolak bilang respect?”
Sumber kedua dia datangi sendiri, Rabu sore, tanpa jas, dengan mobil yang dia parkir dua ratus meter dari tujuan — jarak yang, tanpa dia tahu, persis jarak yang dulu dipakai anaknya menyembunyikan mobil yang sama.
Bu Ratna menerimanya di teras dengan teh manis dan tanpa rasa gentar sedikit pun, karena kepala panti yang sudah membesarkan ratusan anak tidak punya stok gentar untuk bapak-bapak, sekaya apa pun.
“Jadi Bapak papanya Neng Eve.” Dia mengangguk-angguk, menyesap tehnya. “Pantes. Keras kepalanya persis.”
“Saya cuma mau tanya-tanya soal... Adam. Bu Ratna yang membesarkan?”
“Tiga tahun dia di sini. Selebihnya dia yang besarin diri sendiri — sama besarin dua belas anak itu sekalian.” Dan Bu Ratna bercerita — tanpa membela, tanpa menjual, dengan datar khas orang yang tidak butuh apa-apa dari pendengarnya, dan justru itu yang membuat setiap kalimatnya mendarat: tentang anak enam belas tahun yang datang bawa satu tas dan bertanya buat apa setiap kali diberi selimut. Tentang uang jajan yang bocor jadi susu bertahun-tahun. Tentang sistem yang dibangun tengah malam “biar laporan Ibu nggak tulis tangan” dan sekarang dipakai tiga ratus panti. Tentang sepatu petir.
“Bapak mau tau Adam itu siapa?” Bu Ratna menaruh gelasnya, dan menunjuk halaman dengan dagunya. “Nggak usah denger Ibu. Duduk situ agak mojok, sebentar lagi jam empat. Liat aja sendiri.”
Jam empat, pagar hijau berderit, dan Pak Hendrawan — duduk agak mojok di teras, disamarkan bayangan pohon jambu — menyaksikan pemandangan yang tidak pernah disiapkan oleh seluruh hidupnya:
“KAK ADAM PULAAAANG!”
Serbuan dua belas anak. Bocah bersepatu merah yang memanjat seperti tiang listrik. Anak perempuan menodong PR. Dan anak gang sempit itu — yang di meja makannya duduk kaku, yang di ruang rapatnya berdiri setegak tiang — di sini meleleh jadi bentuk aslinya: menggendong satu, menyeimbangkan tiga, tertawa dengan tawa yang tidak pernah muncul di dua meja mahal itu, ditagih dongeng, ditagih janji, ditagih pulang.
Dan lima menit kemudian, dari arah yang sama, suara kedua: “KAK EVE DATENG!”
Anaknya. Anaknya sendiri — yang di rumah besar itu bertahun-tahun makan dalam denting sendok, yang tumbuh jadi sempurna dan jauh — turun dari ojek, dikeroyok pasukan yang sama, tertawa dengan suara yang Pak Hendrawan butuh beberapa detik untuk mengenalinya karena terakhir mendengarnya... kapan? Tertawa seperti itu — kepala mendongak, tidak dijaga, tidak untuk siapa-siapa. Anaknya mengambil sapu ikut membersihkan halaman. Anaknya digandeng bocah-bocah ke ruang belajar. Anaknya, di halaman panti yang lantainya semen kasar, kelihatan seperti orang yang pulang.
Pak Hendrawan duduk di bawah bayangan pohon jambu selama empat puluh menit, tidak menyentuh teh keduanya, menonton dua anak muda dan dua belas anak kecil menjalani sore yang tidak bisa dibeli oleh apa pun yang pernah dia bangun — dan pelan-pelan memahami kalimat yang seminggu ini mengganggunya dari laporan meeting: isinya anak-anak yang tidak punya siapa-siapa untuk protes.
Anak itu melindungi mereka seperti Pak Hendrawan seumur hidup mengira dia melindungi Evelyn.
Bedanya: yang dilindungi anak itu kelihatan bahagia.
“Sudah dapet jawabannya, Pak?” Bu Ratna muncul membawa teko, mengisi ulang gelas yang tidak diminum.
“...Saya dulu mulai dari nol, Bu,” kata Pak Hendrawan, kepada halaman, setelah lama. “Sepeda pinjaman. Ditolak bapaknya istri saya tiga tahun.” Dia tertawa pendek, bunyi berkarat. “Saya bersumpah anak saya nggak akan pernah ngerasain susah. Saya tepati. Semua saya tepati.” Jeda panjang. “Kok dia baru kelihatan hidup... di sini.”
“Karena Bapak ngasih dia semua yang Bapak dulu nggak punya,” kata Bu Ratna, menuang teh untuk dirinya sendiri, kalem seperti membahas cuaca, “kecuali satu-satunya yang dulu Bapak punya: orang yang nemenin susah. Itu nggak bisa diwarisin, Pak. Itu harus dicari sendiri. Dan anak Bapak nyarinya lima belas tahun.” Dia menyesap tehnya. “Nemu pula. Anak Ibu lagi. Selera anak Bapak bagus.”
Konfrontasi terakhir terjadi malam itu juga, di rumah besar, tapi bentuknya tidak seperti yang disiapkan Evelyn berhari-hari.
Dia pulang jam delapan, siap perang — dan menemukan papanya duduk di ruang tengah, tanpa laporan, tanpa ponsel, dengan dua gelas teh.
“Duduk,” kata papanya. Lalu, sebelum Evelyn sempat memasang kuda-kuda: “Papa dari panti tadi sore.”
Darah Evelyn turun ke kaki. “Papa ngapain—“
“Duduk dulu.” Dan ketika anaknya duduk, Pak Hendrawan menatap gelas tehnya, dan mengucapkan kalimat yang sudah dia susun-bongkar sepanjang perjalanan pulang, dan tetap keluar kaku, karena mesin yang lama tidak dipakai memang kaku: “Anak itu. K. Adam.” Dia berhenti. Mulai lagi. “Papa salah input data.”
Itu — dari papanya — setara pidato permintaan maaf tiga halaman, dan Evelyn tahu itu.
“Tapi Papa perlu denger dari kamu. Satu kali, langsung.” Dia akhirnya mengangkat wajah, dan di wajah rapat direksi itu ada retakan yang Evelyn terakhir lihat entah kapan. “Kamu sukanya dia... dari sebelum dia jadi K.? Dari sebelum semua sistem-sistem itu, sebelum Papa kejar-kejar dia, sebelum dia jadi... siapa-siapa?”
Dan Evelyn — yang menyiapkan amunisi perang bertahun-tahun untuk momen ini — mendapati bahwa yang dibutuhkan cuma satu kalimat, diucapkan pelan, tanpa gemetar:
“Aku sukanya dari sebelum kalian nganggep dia ada, Pa. Waktu dia cuma anak kurus yang ngebagi rotinya. Sisanya — TeduhApp, K., semuanya — itu cuma kalian yang baru nyusul tau.”
Pak Hendrawan mengangguk pelan. Sekali. Menyesap tehnya. Dan mengucapkan restunya dengan satu-satunya bahasa yang dia fasih:
“Jumat dia makan di sini. Bilang jangan bawa kue lagi — bawa nafsu makan. Papa suruh koki masak yang bener.” Jeda, dan dari balik gelas teh, hampir tidak terdengar: “...Sama bilang, klausul empatnya dia bagus. Papa pake buat ngajarin direksi.”