Chapter Eighteen
Setengah Jujur
POV: Adam & Evelyn | ±1105 kata
Sabtu, jam tiga sore, Adam datang ke panti dengan rencana yang sudah dia susun sepanjang minggu: datang lebih awal, fokus ke anak-anak, kalau relawan itu datang — sopan, seperlunya, jaga jarak. Rencana yang rapi.
Rencana itu gugur di pagar.
Karena Evelyn sudah di sana. Bukan di dalam — di bangku teras depan, bangku panjang tua yang catnya sudah ganti entah berapa kali. Duduk sendirian, tanpa masker, rambut tidak dikucir seperti biasa Kak Eve. Bukan Kak Eve hari ini. Evelyn. Datang sebagai dirinya, dengan wajah orang yang sudah menunggu lama dan siap menunggu lebih lama lagi.
Dan dari jendela ruang tengah, dua belas kepala bertumpuk mengintip dengan formasi piramida yang runtuh begitu ketahuan.
“Anak-anak udah aku suruh masuk,” kata Evelyn. “Nggak mempan. Udah bayar pake permen juga. Salsa bilang uang suap diterima tapi tugas pengawasan tetap jalan.”
Adam berdiri di pagar, tangan di tali ransel. Seminggu penuh dia melatih kalimat-kalimat sopan berjarak, dan sekarang semuanya berserakan tidak ada yang ingat.
“...Ngapain di sini.”
“Nunggu kamu. Dari jam satu.” Evelyn menepuk bangku, sisi jauh, jarak aman satu orang. “Sepuluh menit. Habis itu kalau kamu tetep mau jaga jarak, aku hormatin. Aku pindah jadwal relawanku biar nggak barengan kamu. Sepuluh menit doang, Adam. Kamu boleh sambil nggak percaya. Aku cuma minta didengerin, bukan dipercaya.”
Mungkin karena kalimat terakhir itu. Mungkin karena seminggu ini sidang di kepalanya buntu di barang bukti sepatu Dede. Mungkin karena Bu Ratna lewat di teras membawa dua gelas teh, menaruhnya di bangku tanpa berkata apa-apa, dan pergi lagi dengan tatapan yang artinya jelas.
Adam duduk. Sisi jauh. Teh di antara mereka seperti garis batas.
“Aku mulai dari yang paling penting,” kata Evelyn. Dia menatap halaman, bukan Adam — sengaja, supaya cowok itu tidak merasa disorot. “Aku minta maaf. Bukan buat perasaanku, itu nggak akan aku minta maafin. Buat caranya. Aku dateng pake nama Eve, pake masker, sambil tau banyak hal tentang kamu yang kamu nggak tau aku tau. Dari kursimu, itu rasanya pasti kayak dibohongin lama. Itu salah. Titik. Nggak ada tapi-tapinya.”
Adam menatap gelas tehnya. Uapnya naik tipis.
“Terus sekarang yang jujurnya,” lanjut Evelyn. “Kamu nanya buat apa. Ini jawabannya, sebagian — sisanya belum bisa, bukan nggak mau. Aku ke sini karena tempat ini penting buat aku. Beneran penting, dari sebelum aku tau kamu ke sini juga. Itu satu. Dua: aku emang pengen kenal kamu. Kamu, Adam. Bukan buat ditonton. Buat dikenal.”
“Kenapa harus nyamar,” suara Adam datar, tapi setidaknya keluar. “Kenapa nggak... dateng aja. Bilang aja.”
Evelyn tertawa kecil, pahit di ujungnya. “Coba bayangin. Evelyn — yang itu, yang namanya sampe duluan sebelum orangnya — dateng ke kamu di kampus, bilang ‘hai, boleh kenalan?’ Kamu bakal ngapain?”
Adam diam.
“Kamu bakal ngasih jawaban dua kata, nunduk, terus pindah ke galaksi lain,” kata Evelyn. “Jangan bantah, kamu tau itu bener. Aku udah nonton kamu ngelakuin itu ke seisi kampus empat semester.” Dia menarik napas. “Nama belakangku itu, Adam... ke mana-mana dia jalan duluan. Orang liat nama itu dulu, baru aku — itu pun kalau sempet. Seumur hidup aku dikelilingin orang yang mau sesuatu dari nama itu. Terus aku nemu satu tempat, satu-satunya, di mana aku ditanyain ‘Kak Eve bisa nggak gambar kuda’ dan bukan ‘lo anaknya siapa’. Kamu tanya aku ngeliatin kamu kayak apa? Aku nggak pernah kasihan sama kamu. Aku iri.”
Kata itu membuat Adam akhirnya menoleh.
“Iri,” ulang Evelyn, dan sekarang dia balas menatap. Matanya basah tapi tidak jatuh. “Kamu nggak punya apa-apa, kata dunia. Tapi kamu pulang ke tempat yang dua belas orang teriak namamu dari pagar. Aku punya ‘segalanya’ — dan rumahku satu-satunya suara isinya AC. Kamu kaya, Adam. Kamu kaya di semua tempat yang aku miskin. Jadi jangan pernah lagi mikir kamu itu tontonan. Orang nggak iri sama tontonan. Orang iri sama yang dia pengen punya.”
Halaman sepi. Dari dalam samar-samar terdengar Salsa menyuruh semua orang diam dengan cara yang lebih berisik dari yang disuruh diam.
Adam menunduk menatap tangannya sendiri. Lama.
“...Aku ngomong kasar kemarin,” katanya akhirnya, pelan. “Yang tontonan. Proyek. Itu...” Dia berhenti, mencari kata, menyerah, memilih yang paling jujur: “Itu bukan tentang kamu. Itu suara lama. Dia keluar duluan sebelum aku sempet mikir.”
“Aku tau,” kata Evelyn lembut. “Makanya aku nggak bales.”
Hening lagi. Tapi jenisnya sudah berubah — bukan garis batas, lebih seperti jeda napas.
“Satu pertanyaan,” kata Adam. Dia menatap gelas teh. “Yang kamu bilang di lapangan. Yang... udah lama suka sama orang.” Rahangnya kaku. “Aku nggak nanya siapa. Aku cuma— kalau aku dan kamu... temenan beneran, mulai ulang, tanpa masker— orang itu nggak masalah?”
Evelyn menatapnya.
Ya ampun, pikirnya, dengan gemas yang rasanya mau meledak jadi tangis dan tawa sekaligus. Kamu, Dam. ORANGNYA KAMU. Lima belas tahun. Aku ngomongnya di depan dua ribu orang dan satu-satunya yang nggak sampe ke dia ya kamu.
Kartu itu bergetar di tangannya, minta dibuka. Belum. Kalau dibuka sekarang, cowok ini akan lari ke galaksi lain sambil membawa gelas teh.
“Nggak masalah,” kata Evelyn. “Percaya deh. Dia paling nggak akan keberatan sedunia.”
“...Oke.” Adam mengangguk pelan. Ada sesuatu yang turun di bahunya — dan sesuatu lain yang dia simpan rapat, yang bunyinya seperti gelas retak diisi air, yang dia putuskan untuk tidak didengarkan hari ini. “Mulai ulang.”
Dia ragu sebentar, lalu mengulurkan tangan, kaku seperti orang latihan dari tutorial:
“Adam.”
Evelyn menatap tangan itu — tangan yang pernah membelah roti untuknya, lima belas tahun lalu, di halaman ini juga, lima meter dari bangku ini — dan menjabatnya dengan kedua tangannya sekaligus, seperti mengunci.
“Evelyn,” katanya. “Panggil Eve juga boleh. Dan kali ini, semua yang kamu tau tentang aku — bener semua.”
“Eh tunggu,” Adam menarik tangannya setelah jabat tangan itu bertahan beberapa detik melewati durasi wajar (tidak ada yang mengukur; dua-duanya mengukur). Dia berdehem, mencari kesibukan, menemukan gelas teh, meminumnya — sudah dingin, diminum juga. “Jadi... aku harus manggil kamu apa sekarang. Eve? Evelyn?”
Evelyn menimbang dengan serius, seolah ini keputusan kenegaraan.
“Bebas. Yang penting jangan ‘kamu yang di kampus’ lagi.” Dia menirukan nada datar Adam dengan akurasi yang menyakitkan. “‘Duluan ya.’ ‘Iya.’ ‘Nih.’ Aku hafal semua koleksi kosakatamu, lho. Dua semester cuma dapet segitu.”
“...Kosakataku nambah kok akhir-akhir ini.”
“Iya. Aku ngitung.” Dan senyum Evelyn saat mengatakannya membuat Adam memutuskan untuk tidak menanyakan sejak kapan penghitungan itu dimulai — karena jawabannya, walau dia belum tahu, sudah berumur lima belas tahun.
Dari jendela, dua belas anak yang sudah tidak tahan lagi meledak: “CIEEEEE SALAMAN! CIEEE BAIKAN!” — dan Bu Ratna, yang muncul membawa piring pisang goreng, mengumumkan dengan wibawa penuh bahwa mulai sore ini dilarang ada yang berantem di pantinya, “yang gede maupun yang kecil,” sambil menatap dua-duanya bergantian sampai dua-duanya menunduk seperti anak yang ketahuan.