Chapter Twenty Eight
Halte, Hujan
POV: Adam & Evelyn | ±1105 kata
Adam tidak tidur semalaman, dan untuk pertama kalinya sejak lama, bukan karena patah.
Karena berhitung.
Lima belas tahun. Dia duduk di lantai kontrakan dengan bangau pudar di tangan, dan kepalanya — kepala yang paling jago membaca data seangkatan — akhirnya diberi izin menjalankan perhitungan yang selama ini dilarang oleh penjaga tuanya. Lima belas tahun lalu: Adam umur delapan, sembilan. Panti — dia belum tinggal di panti, tapi dia sering main ke sana, anak kampung sebelah yang ikut makan kalau ada acara. Acara. Acara amal. Mobil-mobil bagus. Anak perempuan berbaju paling mahal yang berdiri paling jauh dari semua orang—
Roti.
“Kamu kelihatan lebih laper daripada kami.”
Bangau. “Biar kamu nggak lupa.”
Mobil hitam yang pergi dan tidak pernah kembali.
Dan seperti kode yang tiba-tiba terkompilasi setelah error bertahun-tahun, semuanya jalan sekaligus: kenapa relawan bermasker itu terasa seperti lagu yang dia tahu nadanya. Cara melambai dua tangan. Mata di atas masker. “Aku iri. Kamu punya rumah yang beneran rumah.” Kenapa dia memilih Rumah Teduh dari semua panti di kota. Kenapa dia bilang tempat ini penting dari sebelum tau kamu di sini. Kenapa — ya Tuhan — kenapa dia menerima payung butut tanpa nama seperti menerima barang berharga, kenapa dia menyimpan sticky note, kenapa dia bertahan ditolak-tolak halus selama berbulan-bulan oleh cowok yang tidak punya apa-apa—
“Udah lama suka sama orang lain. Lama banget.”
Adam menatap bangau miring di telapak tangannya, dan tangannya gemetar.
Nggak mungkin. Itu— hitungannya nggak masuk. Dia Evelyn. Aku— orang kayak dia nggak nyimpen anak kayak aku selama lima belas—
Tapi bantahan itu, untuk pertama kalinya seumur hidup, kalah suara. Karena datanya terlalu banyak, terlalu rapi, terlalu satu arah. Dan Adam sudah pernah salah sekali dengan kesimpulan cepat — mahal sekali harganya — jadi malam ini dia melakukan satu hal yang tidak pernah dia lakukan atas nama dirinya sendiri:
Dia memutuskan untuk bertanya.
Chat Annisa masuk jam enam pagi, satu kalimat, tanpa konteks: dia nunggu di halte deket panti tiap sore. hujan ga hujan. udah seminggu.
Sore itu hujan turun seperti ditumpahkan — hujan bulan yang sama dengan payung pertama, hujan yang tidak tanggung-tanggung.
Evelyn duduk di halte dekat panti, sendirian, memangku payung biru tua yang tidak dia buka. Seminggu ini begini: pulang dari kampus atau panti, dia mampir, duduk, menunggu entah apa — tempat ini satu-satunya yang terasa seperti milik mereka berdua, dan menunggu di tempat itu terasa lebih masuk akal daripada menunggu di mana pun.
Dia tidak mendengar motor bebek di tengah deras hujan. Dia baru sadar ketika sosok itu sudah berdiri di mulut halte — jaket abu kuyup, napas naik-turun, rambut menetes — seperti orang yang berangkat mendadak dan lupa bahwa dunia sedang hujan.
“...Dam?”
Adam berdiri di sana, di batas antara hujan dan atap halte, dan dari wajahnya Evelyn langsung tahu ini bukan Adam yang dua minggu ini — bukan yang rapi, yang sopan, yang berjarak. Ini Adam yang bocor di semua sisi.
“Aku mau nanya satu,” kata Adam. Suaranya serak, hampir kalah dari hujan. “Dan aku minta jawab jujur. Apa pun jawabannya aku terima. Aku cuma— aku udah capek nyimpulin sendiri. Kesimpulanku jelek-jelek terus.”
Evelyn berdiri pelan. “Tanya.”
Adam merogoh saku jaketnya yang basah, dan mengeluarkan — dengan dua tangan, seperti menyerahkan berkas negara, seperti menyerahkan jantung — sesuatu yang dilindungi plastik bening:
Origami bangau. Kertas motif bunga. Pudar, lecek, lehernya miring.
Dunia Evelyn berhenti.
“Lima belas tahun lalu,” kata Adam, dan suaranya pecah di tengah, dan dia meneruskannya juga, “di halaman panti, ada acara amal. Aku ngasih setengah roti ke anak perempuan yang berdiri sendirian deket pagar. Sorenya dia ngasih aku ini. Dia bilang biar aku nggak lupa. Terus dia masuk mobil item, dan nggak pernah balik.” Napasnya patah-patah. “Aku nggak pernah inget mukanya, Lyn. Aku cuma inget rasanya. Dan aku bawa-bawa burung ini pindah rumah tiga kali tanpa pernah ngerti kenapa nggak bisa dibuang.”
Hujan menderu di atap halte.
“Pertanyaannya,” kata Adam, “...itu kamu?”
Dan Evelyn — yang sudah menyusun rencana pembuktian berhari-hari, yang menyiapkan kata-kata, urutan, bukti — merasakan semua rancangan itu hanyut dalam sedetik, karena lima belas tahun menunggu ternyata jebol bukan oleh rencana, tapi oleh pertanyaan gemetar dari cowok kuyup yang menyodorkan burung kertas miring dengan dua tangan.
“Bangaunya miring,” kata Evelyn. Air matanya sudah turun duluan sebelum suaranya. “Karena yang bikin nggak pernah berhasil di bagian leher. Terus kamu bilang— kamu bilang bangau miring lebih bagus. Soalnya kelihatan lagi noleh.”
Adam berhenti bernapas.
“Itu aku, Dam.” Evelyn melangkah maju, hujan di luar dan di dalam sekaligus. “Anak yang kamu kasih setengah roti itu aku. Aku suka kamu. Dari umur delapan tahun. Aku nyariin kamu bertahun-tahun cuma modal inget senyummu. Yang di panggung itu — ‘lama banget’ itu — ITU KAMU. Dari dulu kamu. Kamu doang yang nggak pernah nanya!”
“Raka—“
“SEPUPUKU. Yang jemput aku jenguk Oma. Yang kalo tau kamu patah hati gara-gara dia bakal ngetawain kita berdua seminggu—“ suaranya hancur jadi tawa dan tangis sekaligus, “—Adam, kamu bawa bekel. Aku tau soal bekelnya. Kamu belajar masak dua hari terus liat aku meluk sepupuku dan kesimpulanmu langsung MUNDUR TERATUR—“
“Aku takut.” Kata itu keluar telanjang, tanpa pertahanan apa-apa lagi. “Lyn, aku takut. Dari awal. Kamu segalanya dan aku— aku ngitung uang receh buat beli sepatu. Tiap kali aku mau percaya kamu beneran... liat aku, ada suara yang bilang nggak mungkin, jangan berharap, kamu nggak punya anggarannya. Terus aku liat kamu sama dia dan suara itu bilang tuh kan. Dan lebih gampang percaya tuh kan daripada percaya... ini.” Dia menatap Evelyn, kuyup, habis, jujur sampai ke dasar. “Percaya kalo yang aku tungguin seumur hidup ternyata udah nungguin aku duluan.”
“Ya udah sekarang percaya,” kata Evelyn. “Aku di sini. Lima belas tahun, Dam. Aku nggak ke mana-mana. PERCAYA AJA KENAPA SIH SUSAH BANG—“
Dia tidak selesai.
Karena Adam — Adam yang tidak pernah memulai apa pun, yang seumur hidup menunggu diizinkan — melangkah maju dan menariknya ke dalam pelukan. Bukan pelukan kecelakaan tangga. Bukan refleks. Pelukan yang disengaja, dua lengan melingkar penuh, dagu di puncak kepala, erat seperti orang memeluk sesuatu yang pernah hilang lima belas tahun.
“Maaf,” bisiknya ke rambut Evelyn, berkali-kali, “maaf, maaf ya, aku bodoh, maaf—“
“Banget,” Evelyn terisak ke dadanya, tangannya mencengkeram punggung jaket basah itu seperti takut ditarik ombak. “Bodoh banget. Berdua. Kita berdua.”
Dan hujan turun sederas-derasnya di luar halte kecil itu, menutup suara dua orang yang akhirnya, setelah lima belas tahun dan satu kota salah paham, berdiri di tempat yang sama, di pelukan yang sama — sementara di saku Evelyn, payung biru tua tetap terlipat rapi, karena sore ini tidak ada yang butuh pulang cepat, dan tidak ada satu pun dari mereka yang ingin hujannya berhenti.