← Chapters Ch. 41 / 45

Chapter Forty One

Evelyn Menolak Sejarah Terulang

POV: Evelyn & Adam | ±1071 kata

Bedanya Evelyn yang sekarang dengan Evelyn arc pertama: dia sudah pernah menonton film ini, dan dia menolak duduk manis sampai kredit.

Chat ultimatum itu terkirim jam sembilan malam. Jam sepuluh, tidak dibalas. Jam sebelas, tidak dibalas — dan Evelyn, yang duduk di kamarnya menatap jaket abu di kursi, membuat keputusan yang dulu tidak dia buat: dulu aku nunggu di halte seminggu. Sekarang nggak. Sejarah boleh berima, tapi nggak boleh ngulang.

Jam dua belas kurang, dia menyambar jaket abu itu, turun lewat dapur, dan membangunkan satu-satunya orang di rumah yang pasti berpihak: “Pak Darto. Maaf malem-malem. Anterin aku. Bapak tau alamatnya.”

Pak Darto, yang lima belas tahun lalu membelokkan mobil ke panti demi nona kecilnya, menyalakan mesin tanpa bertanya.

Jam setengah satu pagi, pintu kontrakan petak itu diketuk. Adam — yang belum tidur, yang sedang duduk di lantai di depan tabel keuangannya dengan draft chat balasan ketujuh belas yang lagi-lagi dihapus — membukanya dan menemukan Evelyn berdiri di gang sempit itu, memakai jaket abunya, dengan wajah orang yang sudah selesai menangis di mobil dan datang untuk urusan lain.

“Lyn— jam segini— kamu nggak boleh di sini jam—“

“Aku boleh di mana aja.” Dia masuk, melewatinya, berdiri di tengah ruangan tiga kali empat itu — di bawah sertifikat karton stempel kentang, di samping tabel keuangan — dan berbalik. “Duduk, Dam. Malem ini kita selesain. Aku nggak pulang sebelum selesai.”

Dan Adam duduk. Dan pertahanan yang dibangun profesional itu, yang bertahan dari internet dan meja mahoni, runtuh dalam dua puluh menit di hadapan satu perempuan mengantuk berjaket kebesaran — karena Evelyn tidak menyerangnya. Dia cuma bertanya, pelan, pertanyaan yang tidak bisa dijawab penjaga mana pun:

“Ceritain. Papaku ngomong apa aja. Kata per kata. Kamu inget semua, aku tau kamu inget.”

Maka Adam menceritakan. Kafe itu. Kopi seharga tiga hari makan. Laki-laki sama laki-laki. Tiang-tiang. Rumah sakit. Dia akan bilang bahagia, dan kamu yang akan lihat sisa-sisanya. Dan pertanyaan itu — dia mengucapkannya dengan susah payah, menatap lantai: “kamu percaya nggak, kamu cukup buat dia” — “dan aku nggak bisa jawab, Lyn. Itu masalahnya. Aku nyari jawabannya empat hari. Kosong.”

Hening. Kipas angin berbunyi. White noise.

“Ya iyalah kosong,” kata Evelyn.

Adam mengangkat wajah.

“Pertanyaannya curang, Dam. Makanya kosong.” Dia duduk di depannya, bersila, lutut hampir bersentuhan. “‘Cukup’ itu bukan barang yang kamu punya sendirian terus dites papaku pake timbangan. Cukup itu urusan DUA orang. Kamu tanya aku — aku, satu-satunya yang berhak jawab — cukup nggak kamu buat aku?” Suaranya tidak naik; malah turun, jadi hampir bisikan, dan justru itu yang menembus: “Lima belas tahun, Adam. Aku ketemu semua ‘lebih’ yang papaku maksud. Lebih kaya, lebih tinggi, lebih lancar ngomongnya. Nggak ada satu pun yang mikir aku laper waktu semua orang mikir aku cantik. Harusnya papaku nanya itu ke kamu, terus kamu jawab: ‘Saya nggak tau, Om. Tapi anak Bapak bilang saya cukup, dan saya lebih percaya dia daripada saya sendiri.’“

Adam menatapnya lama. Sesuatu di dadanya yang empat hari ini terkunci mulai berderak.

“...Kamu tuh ya,” katanya akhirnya, serak. “Kalo ngomong nggak nanggung-nanggung.”

“Kata orang yang nyimpen sticky note-ku urut tanggal.” Evelyn meraih dua tangannya, menggenggamnya. “Dam. Malem ini aturannya satu: buka semua. Dua arah. Semua yang selama ini disimpen ‘biar nggak ngebebanin’. Aku duluan atau kamu duluan?”

“...Kamu duluan.”

“Oke.” Evelyn menarik napas panjang. “Aku Hamba Allah.”

Adam mengerjap. “...Amin?”

“BUKAN— Dam. Donatur rutin panti. Yang tiap bulan. Yang kamu doain panjang umur sambil bilang ‘pasti cantik’ — eh itu aku yang bilang. Pokoknya itu aku. Dari zaman aku liat kamu nawar sepatu Dede. Aku nggak berani pake nama, takut kamu nolak, jadi—“

Dia tidak selesai karena Adam menutup wajah dengan satu tangan dan mengeluarkan bunyi antara tawa dan tidak percaya. “Aku forward laporannya ke Bu Ratna tiap bulan. Aku bilang ‘ada rezeki, Bu.’ Rezekinya pacarku sendiri. Setahun. SETAHUN, Lyn.”

“Makanya. Nah sekarang kamu.” Evelyn menunjuknya. “Buka. Yang gede. Aku tau masih ada yang gede — kamu tiap nyebut ‘proyek kecil’ matamu ke kiri atas.”

Dan Adam — jam satu pagi, di titik paling habis sekaligus paling aman dalam hidupnya — akhirnya membuka yang terakhir. Bukan cuma tiga ratus tiga belas yayasan. Semuanya: tawaran-tawaran yang masuk. Perusahaan besar yang mengejar enam bulan. Proposal yang angkanya dinaikkan tiga kali lipat dan tetap dia tolak karena klausul empat. Email-email dari k@teduhapp.org.

“...Perusahaan yang mana,” tanya Evelyn pelan, dengan firasat yang sudah berdiri di belakang lehernya.

“Aku nggak terlalu merhatiin grupnya. CSR-nya yang ngontak. Bentar—“ Adam meraih laptop, membuka arsip email, memutar layarnya.

Kop surat itu menyala di layar laptop bekas yang kipasnya ngorok: logo yang tergantung dua meter di atas meja makan dua belas kursi, nama yang tercetak di gerbang rumahnya, di gedung dua puluh lantai, di akta kelahirannya sendiri.

HENDRAWAN GROUP — Divisi CSR & Kemitraan Sosial.

Gang sempit itu sunyi. Kipas berputar. Sertifikat stempel kentang menempel tenang di dinding.

“Dam,” kata Evelyn, dengan suara yang sangat, sangat tenang — tenangnya orang yang baru melihat seluruh papan catur dari atas untuk pertama kalinya. “Kamu ‘K.’“

“...He-eh?”

“PERUSAHAAN PAPAKU. NGEJAR-NGEJAR KAMU. ENAM BULAN.” Dia berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, jaket abu berkibar. “Papaku nyebut kamu ‘developer sok misterius’ di meja makan! Dia naikin proposalnya gara-gara GENGSI ditolak! Dia bilang— ya ampun dia bilang ke Bu Rina ‘zaman sekarang masih ada barang begitu’ — DAM. BARANG BEGITUNYA PACAR ANAKNYA—“

Dan di kontrakan petak, jam setengah dua pagi, dua orang yang minggu ini babak belur oleh dunia mendapati diri mereka tertawa — tertawa sampai sakit perut, sampai tetangga menggedor tembok, sampai air mata yang keluar tidak jelas lagi dari tawa atau dari lega — karena semesta, setelah semua yang dilemparkannya, ternyata menyimpan satu lelucon terbaiknya untuk terakhir.

“Oke.” Evelyn mengusap matanya, napasnya masih patah-patah oleh sisa tawa, dan ketika dia menatap Adam lagi, di matanya sudah menyala sesuatu yang baru: bukan sekadar harapan — rencana. “Dam. Dengerin. Papaku nggak akan pernah luluh sama cerita sedih. Tapi dia SELALU hormat sama satu hal: orang yang nggak bisa dia beli.” Dia menggenggam tangan Adam erat-erat. “Bales emailnya. Terima meetingnya. Dateng sebagai K.”

“Lyn, kalo aku dateng terus dia tau—“

“Justru itu.” Senyum Evelyn melebar pelan-pelan, senyum yang lima belas tahun lalu membuat seorang anak laki-laki membelah rotinya. “Kamu nggak akan menang di meja makannya. Itu meja dia, aturannya dia. Tapi meja meeting? Meja meeting itu netral, Dam. Di meja itu kamu bukan ‘anak nggak punya apa-apa’. Di meja itu, dia yang enam bulan ngejar-ngejar kamu.”