← Chapters Ch. 17 / 45

Chapter Seventeen

Dua Sisi Kota

POV: Adam & Evelyn (dua sisi kota) | ±1097 kata

Ada dua kamar di dua sisi kota, dan malam itu dua-duanya sama sepinya dengan cara yang berbeda.


Kamar pertama: kontrakan petak.

Adam tidak menyalakan lampu utama. Cuma lampu meja, dan laptop yang menyala tanpa disentuh, kursornya berkedip di baris kode yang sama sejak dua jam lalu.

Di kepalanya, sidang berlangsung tanpa hakim.

Dia tau semuanya dari awal. Payung yang dia kira operasi rahasia paling rapi seumur hidupnya — ketahuan. Meja yang dia jaga — ketahuan. Catatan yang dia salin tiga jam sampai tangannya pegal — ketahuan, diterima, dibaca oleh orang yang sepanjang waktu tahu persis siapa pengirimnya dan membiarkannya merasa aman dalam anonim.

Rasanya seperti bertahun-tahun bermain petak umpet, bangga tidak pernah ditemukan, lalu suatu hari sadar bahwa semua orang tahu tempat sembunyimu dari hari pertama — mereka cuma membiarkanmu di sana.

Buat apa?

Penjaga tua di kepalanya, yang malam ini bekerja lembur, menyodorkan jawaban-jawaban yang paling dia kuasai: Hiburan. Orang kaya suka yang begituan — hal-hal kecil, hal-hal ndeso, seru, beda. Kamu tuh wisata, Adam. Wisata kesederhanaan. Dan tiap kali jawaban itu diputar, ada yang mengiris di tempat yang sama, karena kalau itu benar, maka semua yang paling dia banggakan — memberi tanpa nama, hal-hal kecil, seluruh bahasa cintanya yang cuma satu-satunya itu — sudah ditonton seperti pertunjukan.

Tapi ada satu barang bukti yang menolak masuk skenario itu, dan Adam terus tersandung padanya:

Sepatu Dede.

Kalau dia cuma tontonan — buat apa Kak Eve ikut jongkok mengelap ingus Dede? Buat apa belajar masak dari nol sambil ditertawakan? Buat apa datang tiap Sabtu, panas-panasan, digelantungi dua belas anak, dibayar capek? Aktor sinetron saja tidak sesetia itu pada perannya.

Terus dia siapa, tanya Adam kepada langit-langit, dan aku ini apa.

Dia sempat mencoba kabur ke satu-satunya tempat yang biasanya berhasil: kerja. Membuka email SiTeduh — ada tiga pesan masuk, satu dari yayasan baru di luar pulau yang entah tahu dari mana, memuji sistem laporannya “seperti dibuat orang yang paham rasanya jadi pengurus panti”. Biasanya kalimat seperti itu bisa mengisi ulang baterainya seharian.

Malam ini dia membacanya dua kali dan tidak merasakan apa-apa. Kode di layar tetap kode. Pujian tetap huruf. Ternyata ada jenis penuh yang tidak bisa dikosongkan lewat kerja — dan Adam baru mengenalnya malam ini: penuh yang isinya satu orang.

Ponselnya menyala. Bu Ratna.

Adam menatapnya empat deringan sebelum mengangkat.

“...Halo, Bu.”

“Kamu belum tidur, kan. Ibu tau.” Suara Bu Ratna tenang, suara yang sudah menangkap ratusan anak jatuh. “Ibu nggak akan ikut campur. Ibu cuma mau cerita satu hal, boleh?”

Adam diam. Bu Ratna menganggapnya iya, karena memang selalu begitu artinya.

“Waktu kamu baru masuk Rumah Teduh dulu, umur enam belas, kamu inget kelakuan kamu kayak apa? Tiap dikasih apa-apa, kamu tanya ‘buat apa’. Dikasih selimut tebel: buat apa, Bu, yang lain juga butuh. Dikasih lauk lebih: buat apa. Ibu sampe capek.” Terdengar tawa kecil di seberang. “Kamu pikir semua yang dateng ke kamu pasti ada maunya, atau salah alamat. Butuh setahun sampe kamu mau nerima tanpa nanya.”

“...Ini beda, Bu.”

“Iya. Bedanya sekarang kamu udah gede, jadi nanyanya lebih pinter.” Jeda. Lalu suara itu melembut, satu kalimat yang menembus semua pertahanan karena dikirim dari orang yang tahu persis di mana pintunya: “Nak. Nggak semua orang yang dateng ke hidupmu itu mau ngambil sesuatu. Ada yang cuma mau ada. Dulu Ibu bilang gitu ke anak umur enam belas. Kayaknya perlu Ibu bilang lagi.”

Adam memejamkan mata. Tenggorokannya panas.

“Sabtu depan anak-anak nunggu. Dede nanyain kamu terus. Soal yang satunya — itu urusan kamu berdua, Ibu nggak ikut. Ibu cuma minta satu: apa pun keputusanmu, mutusinnya jangan malem-malem gini. Malem tuh pengacara paling jahat. Semua kelihatan kayak salah kamu.”

“...Iya, Bu.”

“Tidur.”

Telepon ditutup. Adam berbaring, dan untuk pertama kalinya malam itu, sidang di kepalanya reses.

Sebelum akhirnya berbaring, Adam melakukan satu ritual yang minggu ini bolong terus: mengecek tabel di dinding. Angka-angkanya masih sama, masih rapi, masih aman — dan untuk pertama kalinya sejak tabel itu ditempel, menatapnya tidak menenangkan sama sekali.

Dulu tabel itu adalah bukti bahwa hidupnya terkendali. Malam ini dia berdiri di depannya dan menyadari hal yang tidak pernah masuk kolom mana pun: dia bisa menghitung semuanya — pengeluaran, sisa semester, harga sepatu, jarak aman — kecuali satu ini. Tidak ada rumusnya. Tidak ada barisnya.

Kak Eve nggak bisa masak tapi mau belajar, kata catatan panti di kepalanya. Tangannya cengkeram jaket waktu jatuh. Kalau dia ketawa ruangannya lebih terang.

Dan dia tau siapa kamu dari awal, balas malam, sambil kamu nggak tau apa-apa.

Dua-duanya benar. Itu yang paling melelahkan.


Kamar kedua: rumah besar dengan langit-langit tinggi.

Evelyn duduk di lantai, bersandar ke sisi tempat tidur, di sebelah payung biru tua di sudutnya. Sudah tidak menangis. Air matanya habis di panti, dan yang tersisa sekarang lebih buruk: sunyi.

Annisa datang tanpa diminta — sahabat lima belas tahun punya alarm sendiri — membawa martabak yang tidak disentuh dan duduk di lantai di sebelahnya.

“...Dia bilang apa aja?” tanya Annisa akhirnya.

“Tontonan.” Suara Evelyn serak. “Proyek. Amal. Dia mikir aku ngeliatin dia kayak... kayak dia hiburan, Nis.” Dia tertawa sekali, tawa yang jelek. “Lima belas tahun aku nyariin dia. Terus pas ketemu, hal pertama yang berhasil aku bikin dia rasain adalah — dibohongin.”

Annisa diam sebentar. Lalu, karena dia sahabat dan bukan bantal, dia bilang yang perlu dibilang:

“Eve. Aku sayang kamu. Tapi kamu emang bohong.”

Evelyn menoleh.

“Niatmu bagus, caramu masuk akal, aku paham semua alasannya — takut dia lari, pengen dikenal sebagai kamu, semuanya valid.” Annisa menatapnya lurus. “Tapi dari kursi dia? Dia buka rumahnya ke orang asing, taunya orang asing itu tau semua rahasianya dari awal. Kamu nggak salah sayang sama dia. Kamu salah di satu tikungan. Ngaku aja dulu di situ. Jangan buru-buru bela diri.”

Evelyn menekuk lututnya lebih rapat. Lama dia diam.

“...Dia nggak marah-marah, Nis. Itu yang paling sakit. Suaranya pelan. Dia cuma... nutup pintu. Sambil bilang makasih.” Dia memejamkan mata. “Sopan banget. Kayak orang yang udah biasa banget ditinggalin, sampe pamitnya rapi.”

Annisa merangkulnya. Tidak bilang nanti juga baikan, tidak bilang dia pasti luluh — karena sahabat lima belas tahun juga tahu kapan janji-janji itu murahan.

Yang dia bilang: “Terus rencana kamu apa?”

Dan Evelyn, dengan mata bengkak dan suara habis, menjawab dengan satu-satunya kalimat yang membuat Annisa yakin sahabatnya akan baik-baik saja:

“Sabtu aku dateng lagi.”

“...Kalau dia nggak mau ketemu?”

“Ya aku dateng lagi Sabtu depannya.” Evelyn menatap payung biru tua di sudut kamarnya. “Dia boleh nutup pintu, Nis. Aku nggak akan dobrak. Aku cuma nggak akan pergi dari depan pintunya. Dia harus tau bedanya orang yang nonton... sama orang yang nunggu.”