← Chapters Ch. 26 / 45

Chapter Twenty Six

Titik Terendah

POV: Adam | ±1096 kata

Ada satu kebohongan yang Adam pelihara untuk dirinya sendiri selama dua minggu: bahwa dia baik-baik saja, karena semua berjalan sesuai rencana.

Dan memang berjalan. Itu yang mengerikan. Mundur pelan-pelan itu keahlian, dan keahlian tidak peduli kamu hancur atau tidak — dia jalan sendiri. Chat dijawab sopan: berjalan. Jadwal digeser: berjalan. Jarak terjaga: berjalan. Kalau hidup dinilai dari daftar centang, dua minggu ini Adam nyaris sempurna.

Yang tidak masuk daftar centang: dia berhenti makan di jam makan. Tabel keuangan di dinding tidak dicek sembilan hari — rekor sepanjang masa. Kode yang dia tulis mulai berantakan; Rabu malam dia menghapus pekerjaan tiga jam karena salah semua sejak baris kedua. Dan tidur — tidur jadi negosiasi panjang dengan langit-langit yang selalu dimenangkan langit-langit.

Bahkan SiTeduh — pelarian yang tidak pernah gagal — mulai terbengkalai. Kotak masuknya menumpuk sebelas email tidak terjawab, rekor terburuk sepanjang sejarah sistem itu berdiri. Satu pengurus yayasan di luar kota sampai mengirim pesan susulan yang sopan dan khawatir: “Mas K., sehat? Nggak biasanya slow respon. Nggak apa-apa, kami tunggu. Jaga kesehatan, Mas.”

Adam membacanya jam tiga pagi dan tidak sanggup membalas — karena satu-satunya jawaban jujur adalah tidak, saya tidak sehat, tapi bukan yang bisa diobati puskesmas — dan orang tidak menulis begitu kepada pengurus yayasan.

Sabtu pagi, kebohongan itu akhirnya ditagih.

Dia datang ke panti jam tujuh — jadwal barunya, tiga jam sebelum jadwal Kak Eve — dan mendapati Bu Ratna sudah menunggu di teras. Bukan duduk. Berdiri. Tangan terlipat.

Anak-anak, dengan radar mereka, sudah menghilang ke halaman belakang.

“Duduk,” kata Bu Ratna.

Adam duduk di bangku panjang. Bu Ratna tetap berdiri.

“Ibu mau tanya satu, jawabnya jujur. Kamu dateng jam tujuh pagi, pulang jam sepuluh, empat sabtu berturut-turut — itu buat anak-anak, atau buat ngindarin Eve?”

“...Dua-duanya bisa jalan bareng, Bu.”

“Adam.” Nada Bu Ratna turun satu tingkat, dan tingkat itu lebih menakutkan dari bentakan. “Kamu tau nggak kemarin Dede nangis? Bukan jatuh, bukan rebutan. Nangis sendiri di kamar, meluk sepatu petirnya. Ibu tanya kenapa. Dia bilang: ‘Kak Adam sama Kak Eve kayak papa mama temen Dede yang dulu. Awalnya nggak ngomong-ngomong, terus lama-lama satu rumahnya ilang.’“

Adam menunduk. Pukulan itu masuk telak, di tempat yang tidak dilindungi apa pun.

“Ibu nggak akan maksa kamu cerita ada apa. Tapi Ibu kasih tau satu hal, dan kamu dengerin baik-baik.” Bu Ratna akhirnya duduk di sebelahnya, dan suaranya melunak jadi suara yang dulu, suara yang menangkap anak enam belas tahun dengan satu tas. “Anak-anak di sini kenyang ditinggal orang, Nak. Mereka bisa nerima itu dari dunia. Yang mereka nggak akan bisa nerima — itu kalau yang ngajarin mereka soal ‘dateng terus’ tiba-tiba jadi contoh soal ‘pergi pelan-pelan’. Kamu boleh patah. Manusia. Tapi patahmu jangan kamu ajarin ke mereka.”

Adam tidak menjawab. Tidak bisa. Tenggorokannya sedang tidak menjalankan fungsi.

“Dan satu lagi.” Bu Ratna berdiri, merapikan dasternya, dan mengucapkan kalimat penutup dengan nada seorang ibu yang sudah kenyang menonton: “Ibu udah lima puluh lebih. Ibu udah liat segala jenis orang dateng dan pergi dari pagar itu. Eve itu — Ibu nggak tau urusan kalian, tapi Ibu tau cara dia ngepel lantai dapur Ibu. Orang yang cuma iseng, ngepelnya nggak sampe kolong, Nak. Kolong itu nggak keliatan. Dia ngepel sampe kolong.”

Bu Ratna masuk. Adam duduk sendirian di bangku panjang itu lama sekali — bangku yang catnya sudah berganti entah berapa kali — tanpa tahu bahwa lima belas tahun lalu, di bangku yang sama, seorang anak perempuan berbaju mahal pernah duduk memeluk boneka, menunggu seseorang datang membelah dunia jadi dua.


Sepulang dari panti siang itu, dia sempat duduk lama di bangku panjang teras — sendirian, sebelum jam relawan — dan membiarkan kalimat Bu Ratna bekerja.

Ngepel sampe kolong.

Masalahnya bukan dia tidak percaya Evelyn tulus. Sudah lewat dari itu. Duduk di bangku itu, Adam akhirnya bisa menyebut bentuk perasaannya dengan presisi: dia percaya Evelyn tulus — tulus sebagai teman, sebagai kakak relawan, sebagai orang baik — dan justru itu yang tidak tertahankan. Karena ketulusan sebesar itu, dibagi rata ke semua orang, dan dia sempat mengira jatahnya beda.

Salah baca satu variabel, pikirnya, dan seluruh model runtuh.

(Dia tidak tahu — belum — bahwa variabelnya benar dan justru kesimpulannya yang salah arah. Tapi malam itu masih panjang, dan kardus itu sudah menunggu.)

Malam itu, di kontrakan, pertahanan Adam kalah oleh sebuah kardus.

Dia sedang mencari charger cadangan di tumpukan barang, dan yang tertarik keluar malah kardus lama itu — kardus bertuliskan spidol pudar BARANG ADAM, yang menemaninya dari rumah lama ke panti ke kontrakan, yang isinya tidak pernah dia bongkar penuh karena membongkarnya butuh jenis tenaga yang berbeda.

Malam ini, entah kenapa — mungkin karena kalimat Bu Ratna masih berdenging, mungkin karena dua minggu tanpa tidur membuat pertahanan tipis — dia membukanya.

Rapor SD. Foto keluarga yang sudutnya tertekuk. Jam tangan almarhum bapak yang baterainya mati di angka yang sama bertahun-tahun. Dan di dasar kardus, terselip di dalam buku tulis SD bersampul bola:

Origami bangau. Kertas motif bunga. Warnanya pudar, lipatannya lecek, lehernya miring.

Adam mengangkatnya pelan, seperti mengangkat sesuatu yang bisa berhenti bernapas.

Biar kamu nggak lupa.

Suara itu datang dari jauh sekali — bukan kalimat utuh, cuma gema: sore yang panas, halaman panti, roti yang dibelah, anak perempuan yang bonekanya jatuh ke tanah dan tidak peduli, yang pulang dipaksa masuk mobil hitam, yang berlari balik cuma untuk menyerahkan burung kertas miring ini ke tangan Adam kecil.

Dia tidak ingat wajahnya. Sudah dicoba bertahun-tahun; wajah itu tinggal cahaya dan bentuk samar. Yang dia ingat cuma rasanya: sore itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Adam kecil merasa dia punya sesuatu untuk diberikan — dan ada orang yang menerimanya seperti itu berharga.

Aneh, pikir Adam, duduk di lantai kontrakan dengan bangau pudar di telapak tangan. Aneh bahwa di titik terendahnya, tangannya mencari benda ini. Bukan foto keluarga. Bukan jam bapak. Bangau miring dari orang tanpa nama.

Mungkin karena bangau ini bukti dari teori yang sudah hampir dia kubur: bahwa pernah, sekali, ada orang yang datang ke Adam bukan untuk mengambil apa-apa.

Ada yang cuma mau ada, kata suara Bu Ratna.

Adam menaruh bangau itu di meja, di sebelah laptop — bukan kembali ke kardus. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, dia tidur sebelum jam dua belas.

Dia belum tahu apa-apa. Belum menghubungkan apa-apa. Bangau itu cuma bangau, kenangan dari orang asing yang hilang.

Tapi kadang tubuh tahu lebih dulu daripada kepala — dan malam itu, di kontrakan petak di satu sisi kota, seorang cowok patah hati tertidur dijaga burung kertas buatan tangan orang yang sama yang di sisi kota lainnya sedang menyusun rencana untuk mengetuk pintunya besok.