Chapter Thirty
Caranya Adam
POV: Evelyn & Adam | ±1087 kata
Seminggu setelah halte, Evelyn menyadari ada yang sedang terjadi — karena Adam mulai mencurigakan dengan cara yang baru.
Bukan menjauh. Sebaliknya: semua lampu menyala lagi, lebih terang dari sebelumnya — payung kembali bertugas bahkan di hari yang cuma mendung tipis, bala-bala kembali ke piring kecilnya, chat kembali panjang dan garing. Tapi di sela semua itu, cowok itu jadi sering... menghilang sebentar. Di panti, dia dan Salsa berbisik-bisik lalu bubar mendadak kalau Evelyn lewat. Ada bekas potongan kertas kecil di meja labkom. Dan Dede — barometer kebocoran paling akurat sedunia — setiap melihat Evelyn jadi senyum-senyum menahan sesuatu sampai mukanya merah, lalu lari.
“Nis, dia mau ngapain sih,” Evelyn video call sambil mondar-mandir. “Aku curiga. Tapi curiganya yang deg-degan.”
“Nggak tau. Sumpah nggak tau.” (Annisa tahu. Annisa dilibatkan untuk urusan jadwal. Annisa layak Oscar.)
(Gladi resik berlangsung Jumat malam di ruang belajar panti, tertutup untuk umum. Adam berdiri di depan juri: Salsa, memegang papan penilaian; Dede, memegang papan skor; Bima, memegang senter sebagai “lampu panggung”.
“Ulang dari ‘Lyn’,” perintah Salsa. “Yang tadi kurang niat.”
“...Kalian tuh tau nggak sih artinya niat—“
“TAU. Kayak senyum tiket bioskop. Ulang.”
Adam mengulang. Tujuh ronde. Di ronde terakhir, Salsa menaruh papannya, menatapnya lama, lalu memberi keputusan akhir dengan keseriusan hakim agung sepuluh tahun: “Udah. Yang ini udah niat banget. Besok jangan dikurangin ya, Kak. Ditambahin boleh.”
Dan Dede mengangkat papan skornya yang bertuliskan angka seratus, digambar sendiri, angka nolnya ada tiga.)
Sabtu sore, jebakan itu dipasang dengan gaya paling tidak mencurigakan sedunia: Salsa mengumumkan bahwa anak-anak “mau nunjukin pertunjukan” dan semua kakak-kakak wajib duduk di teras. Kursi cuma dua. Bersebelahan. Menghadap halaman.
Evelyn duduk. Adam duduk di sebelahnya dengan gaya orang yang duduknya sudah dilatih tapi tetap kaku. Matahari sore miring di atas pohon jambu.
Pertunjukannya: dua belas anak berbaris, dan atas aba-aba Salsa, menyanyikan lagu kepala-pundak-lutut-kaki — lagu pertama yang dulu diajarkan Kak Eve, di sore pertama, dengan gerakan heboh yang sama. Evelyn tertawa, bertepuk tangan, setengah terharu setengah bingung kenapa ini terasa seperti upacara.
Lalu di bait terakhir, barisan itu membelah dua — dan dari belakang, Dede berjalan maju dengan langkah pasukan pengibar bendera, membawa sebuah kotak kardus kecil dihias kertas krep, diserahkan kepada Evelyn dengan dua tangan dan wajah paling khidmat yang pernah dia punya.
“Buat Kak Eve,” katanya. “Dari Kak Adam. TAPI DEDE YANG NGANTERIN.”
Evelyn menoleh ke sebelah. Adam menatap lurus ke halaman, tangan di lutut, telinga sudah menyerah dari tadi.
Di dalam kotak: dua origami bangau.
Yang pertama dia kenal seketika dan napasnya tertahan — bangau motif bunga itu, bangau miringnya, tapi sudah diperbaiki: lipatan-lipatan yang lecek dirapikan dengan sabar oleh tangan yang jelas berhati-hati, sobekan kecil di sayap direkat dari dalam. Lehernya tetap miring. Itu jelas disengaja. Lehernya tidak diluruskan.
Yang kedua adalah bangau baru — kertas biru tua — dan bentuknya... berjuang. Lipatannya tebal di tempat yang salah, sayapnya tidak simetris, lehernya miring ke arah yang berlawanan dari bangau pertama. Bangau yang dibuat seseorang yang belajar dari nol dengan keras kepala.
Dan di dasar kotak, selembar kertas kecil, tulisan tegak yang dia hafal sampai huruf ‘k’-nya:
Punyamu udah 15 tahun sama aku. Sekarang aku minta izin jagain yang punya.
(Bangau biru itu bikinan sendiri. Tiga malem. Youtube. Salsa bilang jelek. Dede bilang bagus. Aku ikut Dede.)
Evelyn membaca catatan itu dua kali, tiga kali, dan huruf-hurufnya mulai berenang karena matanya sudah kalah dari tadi.
“Dua bangaunya nolehnya beda arah,” kata Adam. Suaranya pelan, masih ke arah halaman, karena kalimat yang sudah dilatih tiga malam ini cuma bisa keluar kalau tidak sambil menatap. “Biar... saling ngeliatin. Kayak yang bikin.”
Halaman panti senyap total. Dua belas anak menahan napas berjamaah. Bu Ratna di ambang pintu sudah memegang ujung kerudungnya.
“Lyn.” Dan akhirnya Adam menoleh — telinga merah, jantung kedengaran dari sebelah, tapi matanya tidak lari ke mana-mana. “Aku nggak bisa janji banyak hal. Aku masih ngitung-ngitung uang, masih kaku, masih suka kelamaan mikir, suara jelek di kepalaku kadang masih suka masuk kerja. Tapi satu yang aku bisa: hal-hal kecil. Tiap hari. Nggak akan telat lagi — payungnya, semuanya. Jadi...” dia menarik napas terakhir, “...mau nggak, jadi—“
“MAU.”
“...Aku belum selesai—“
“MAU. Udah. Sah. Nggak ada tarik ulang.” Evelyn sudah setengah menangis setengah tertawa, memeluk kotak kardus itu seperti barang paling mahal yang pernah dia terima seumur hidupnya — dan memang. “Kamu tuh ya. TIGA MALEM belajar origami. Kenapa nggak bilang-bilang— buat apa aku— DAM, AKU TUH UDAH MAU DARI UMUR DELAPAN TAHUN—“
Dan halaman itu meledak — “CIEEEE” paling bersejarah dalam sejarah Rumah Teduh, dua belas anak melompat-lompat, Dede berlari keliling halaman tiga putaran dengan sepatu petirnya meneriakkan “JADIAN! JADIAN!” kepada burung-burung, Salsa mencoret sesuatu besar-besar di buku catatannya lalu — demi sejarah — menutup buku itu untuk terakhir kalinya, dan Bu Ratna mengangkat dua tangannya ke langit:
“AKHIRNYA. Ibu mau sujud syukur. SERIUS INI. Salsa, ambilin Ibu mukena.”
Di tengah keriuhan itu, Adam — dengan sisa-sisa keberanian tiga malamnya — meraih tangan Evelyn, menggenggamnya dengan dua tangan, dan mencium keningnya. Singkat. Kikuk. Sempurna.
“CIEEEEEE—“
“YANG TADI ULANGIN KAK! DEDE KEDIP!”
Sore itu ditutup dengan pesta dadakan — teh manis, kerupuk, sisa popcorn Kak Eve yang gosongnya tinggal seperempat (kemajuan) — dan ketika Evelyn akhirnya pamit pulang, di pagar, dia menoleh sekali lagi ke halaman itu: pohon jambu, bangku panjang, cowok berjaket abu yang sedang digelayuti dua belas anak dan tertawa lepas.
Tempat yang sama. Lima belas tahun.
Sore itu kamu ngasih aku setengah roti, pikirnya, memeluk kotak berisi dua bangau yang saling menoleh. Sekarang liat. Aku bawa pulang setengahnya lagi.
Perubahan administratif malam itu juga tercatat dalam sejarah: nama kontak.
Eve: dam. kamu nyimpen nomorku pake nama apa
Adam: nama kamu
Eve: evelyn doang?
Adam: he-eh. emang harusnya apa
Eve: yaudah gapapa
Eve: aku nyimpen kamu “Adam ❤” mulai malem ini. pemberitahuan aja. bukan diskusi.
Adam: ...
Adam: yaudah
Eve: yaudah doang?
Adam: [mengetik...]
Adam: [mengetik...]
Adam: punyaku juga udah kuganti
Eve: JADI APA
Adam: rahasia
Eve: DAM
Adam: udah malem. tidur. besok payungnya jangan telat bangunnya
(Nama kontak itu — yang baru ketahuan berbulan-bulan kemudian dan menyebabkan Evelyn tidak bisa berfungsi normal setengah hari — adalah “Lyn — jangan telat”.)
Malam itu, di sudut kamar Evelyn, payung biru tua mendapat teman: dua bangau kertas di atas meja kecil, ditata saling berhadapan. Dan di kontrakan petak di sisi lain kota, seorang cowok menempel satu sticky note baru di balik pintu lemarinya — bukan dari siapa-siapa, tulisannya sendiri, satu-satunya arsip yang dia tulis sendiri seumur hidup:
Hari ini nanya. Jawabannya iya. Datanya valid. — A.