Chapter Six
Kesetrum
POV: Adam & Evelyn | ±1075 kata
Perang itu dimulai dari sebuah pembatas buku.
Adam meminjam novel dari perpustakaan — satu-satunya kemewahan yang dia izinkan untuk dirinya sendiri, karena gratis. Novel itu baru saja dikembalikan peminjam sebelumnya, dan ketika Adam membukanya di halaman tiga puluh, dia menemukan sesuatu terselip.
Sticky note kuning. Tulisan tangan bulat-bulat rapi:
“Yang minjem buku ini setelah aku: bab 7 sedih banget. siapin mental. — penunggu meja jendela selatan”
Adam menatap sticky note itu.
Meja jendela selatan.
Jantungnya melakukan hal yang tidak dianjurkan dokter.
Dia tahu siapa penunggu meja jendela selatan. Seluruh operasinya selama ini justru memastikan meja itu tetap menjadi milik penunggunya. Tapi tidak mungkin dia membalas. Membalas artinya membuka komunikasi. Membuka komunikasi artinya— tidak. Tidak tidak tidak.
Adam membaca novel itu sampai selesai dalam dua malam.
Bab tujuh memang sedih.
Dan entah setan dari mana, ketika mengembalikan buku itu, tangan Adam — yang jelas-jelas tidak mendapat izin dari otaknya — menyelipkan sticky note balasan di halaman yang sama. Tulisannya kecil, kaku, seperti orang yang menulis sambil siap-siap kabur:
“Udah dibaca. Bab 7 nggak sedih. Bab 9 yang sedih. Bab 7 cuma pemanasan.”
Tanpa nama. Tentu saja tanpa nama.
Tiga hari kemudian, novel itu dipinjam lagi oleh seseorang. Dan ketika akhirnya kembali ke rak, di halaman yang sama sudah menunggu sticky note baru, kali ini pink:
“BENERAN BAB 9?! aku nangis di perpus dikira kenapa2 sama pak yusuf. tanggung jawab. rekomendasiin buku yang lucu buat nebus dosa. — penunggu meja jendela selatan”
Maka dimulailah perang paling aneh dalam sejarah perpustakaan itu: dua orang yang duduknya cuma terpisah lima belas meter, saling membalas lewat sticky note di dalam buku-buku, seperti dua agen rahasia yang bertukar dokumen negara. Adam merekomendasikan buku. Evelyn membalas dengan review penuh huruf kapital. Adam membalas review itu dengan koreksi pendek yang sok cool padahal ditulisnya sambil senyum-senyum. Pak Yusuf, yang lama-lama hafal buku mana saja yang jadi “kantor pos”, diam-diam memindahkan buku-buku itu ke rak yang mudah dijangkau.
Beberapa arsip dari perang itu, untuk sejarah:
“buku yang ini PLOT TWISTNYA APAAN SIH aku sampe balik ke bab 1 buat mastiin. kamu pasti udah nebak dari awal ya orang kayak kamu gitu” — “Bab 4. Ada tokoh yang bohong soal jam. Dari situ ketauan.” — “KAMU NGESELIN.”
“rekomendasi minggu ini mana? aku udah selesai yang kemarin. iya aku baca cepet. iya aku nggak ada kerjaan. jangan dihakimi” — “Rak sastra, baris ketiga, yang sampulnya jelek sendiri. Jangan nilai dari sampul.” — “...ok ini bagus banget. maaf ya buku, kamu nggak jelek. kamu unik.”
“kalau misalnya nih MISALNYA penunggu meja pojok sama penunggu meja jendela selatan ngobrol beneran, kira2 bahas apa ya” — (yang ini tidak berbalas selama empat hari, dan ketika akhirnya berbalas, isinya:) “Buku.” — “...yaudah deh. buku juga boleh.”
Tidak ada yang menyebut nama. Dua-duanya tahu. Dua-duanya pura-pura tidak tahu. Ada keamanan yang aneh dalam pura-pura itu: selama tidak ada nama, Adam tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa dia sedang berbalas pesan dengan matahari.
Yang tidak diketahui penunggu meja jendela selatan: semua sticky note-nya punya rumah.
Di kontrakan petak itu, di balik pintu lemari plastik — sisi dalam, yang tidak akan pernah dilihat tamu, yang memang tidak pernah ada tamunya — tertempel berjejer rapi: kuning, pink, kuning, pink. Diurutkan berdasarkan tanggal. Yang hurufnya kapital semua (review buku yang membuatnya menangis di perpus) ditempel paling tengah, posisi terhormat.
Adam tidak pernah merencanakan koleksi itu. Awalnya cuma satu, disimpan karena sayang dibuang. Lalu dua. Lalu dia membeli isolasi.
Kadang-kadang, sebelum tidur, dia membuka pintu lemari itu dan membacanya berurutan dari awal, seperti orang membaca ulang percakapan. Di bawah lampu kontrakan yang redup, tulisan bulat-bulat itu seperti punya suara — suara yang dia tidak tahu persis seperti apa aslinya, karena mereka tidak pernah benar-benar bicara, tapi yang di kepalanya selalu terdengar hangat.
Ini tidak masuk kategori berharap, dia meyakinkan dirinya. Ini arsip. Orang boleh punya arsip.
(Di sisi lain kota, di kamar yang jauh lebih besar, sebuah pulpen tersimpan di bagian terpisah sebuah tempat pensil, sebuah payung biru tua berdiri di sudut yang selalu terlihat dari tempat tidur, dan sebuah buku tulis seharga tujuh ribu— ah, itu belum terjadi. Itu nanti. Intinya: mereka berdua sama-sama tidak tahu bahwa di dua penjuru kota, dua orang sedang mengarsipkan satu sama lain dengan tingkat kerapian yang memalukan.)
Sampai hari Kamis itu.
Adam baru saja mengambil buku “kantor pos” terbaru dari rak, membuka halamannya untuk menaruh balasan — ketika sebuah tangan terulur dari sisi lain rak untuk mengambil buku yang sama.
Waktu melambat.
Jari mereka bersentuhan di punggung buku.
Adam menarik tangannya secepat orang menyentuh panci panas. Buku itu nyaris jatuh; dia menangkapnya dengan gerakan panik yang menjatuhkan dua buku lain dari rak; suara bruk menggema; Pak Yusuf mendongak dari mejanya; dan di sisi lain rak, lewat celah di antara jurnal-jurnal metalurgi, sepasang mata yang sangat dia kenal sedang menatapnya.
“Eh,” kata Evelyn. Ada senyum yang berusaha ditahan di ujung bibirnya, gagal total. “Buku itu... kamu duluan yang pegang. Silakan.”
Otak Adam menyajikan tiga puluh kemungkinan balasan. Yang keluar dari mulutnya:
“...Nggak. Gapapa. Kamu... aja.”
Adam meletakkan buku itu di rak seperti meletakkan bom, memungut dua buku yang jatuh dengan tangan yang tidak bisa diajak kerja sama, membungkuk kecil entah kepada siapa — kepada Evelyn? kepada rak? kepada Tuhan? — lalu berjalan pergi dengan kecepatan yang menyalahi peraturan perpustakaan.
Dia baru berhenti di tangga, jantungnya berisik seperti mesin motornya kalau pagi.
Tangannya masih panas di titik yang tadi bersentuhan.
“Kesetrum,” bisiknya, membenarkan diagnosis sendiri. “Kabel. Pasti ada kabel.”
Sementara itu, di antara rak jurnal metalurgi, Evelyn berdiri memeluk buku itu dengan dua tangan, wajahnya merah, senyumnya lebar, dan malam itu dia mengirim satu pesan ke Annisa yang isinya cuma:
Eve: nis. tangan kami senggolan.
Annisa: terus
Eve: itu aja. udah. aku cuma mau ngabarin.
Annisa: eve kalian ini kelas 2 SMP?
Eve: NIS TANGAN KAMI SENGGOLAN
Annisa: iya sayang. selamat ya. semoga tahun depan udah berani tukeran nama.
Eve: nis serius deh
Eve: tangannya anget
Annisa: eve itu namanya suhu tubuh manusia. 36 koma. semua orang punya
Eve: ANGETNYA BEDA
Annisa: oke. angetnya beda. aku mau tidur. tolong jangan cerita mimpi kamu besok pagi
Eve: nggak janji
Annisa meletakkan ponselnya, menatap langit-langit, dan menghela napas panjang atas nama seluruh umat manusia yang waras.
Lalu dia mengambil ponselnya lagi dan mengetik satu pesan terakhir:
Annisa: eve
Eve: apa
Annisa: aku ikut seneng. beneran. udah gih tidur, senyum2 mulu dari tadi pasti
Eve: kok tau
Annisa: 15 taun woy. aku juga hafal kamu.