← Chapters Ch. 5 / 45

Chapter Five

Ketua BEM

POV: Adam & Evelyn | ±1077 kata

Ada hukum tidak tertulis di setiap kampus: kalau ada cewek paling bersinar, cepat atau lambat akan muncul cowok yang merasa dirinya matahari tandingan.

Di kampus ini, namanya Bimo.

Ketua BEM. Kapten tim basket. Tinggi, putih, rahang tegas, senyum iklan pasta gigi. Mobilnya menyala dua kali lebih pelan dari suara namanya disebut cewek-cewek satu fakultas. Kalau hidup ini novel, Bimo adalah tokoh yang di sampulnya.

Dan siang itu, di kantin yang penuh, Bimo memutuskan untuk membuka babnya sendiri.

“Evelyn.” Dia berdiri di ujung meja Evelyn dengan dua gelas minuman, percaya diri terpasang penuh. “Kebetulan lewat. Matcha, kan? Aku perhatiin kamu selalu pesen itu.”

Setengah kantin langsung pura-pura tidak menonton dengan cara yang sangat menonton.

Evelyn mengangkat wajah dari makanannya. Senyum publiknya terpasang otomatis — sopan, manis, dan berjarak dua meter walau orangnya di depan mata. “Eh, Kak Bimo. Makasih. Tapi aku udah pesen, itu lagi dianter.”

“Ya udah buat cadangan.” Bimo meletakkan gelas itu, lalu duduk tanpa dipersilakan. “Minggu depan BEM ada acara welcoming. Aku pengen kamu jadi—“

Dari meja pojok kantin — meja yang paling dekat tembok, tentu saja — Adam menonton sambil mengaduk es teh yang sudah tidak dingin.

Dia tidak berniat menonton. Sungguh. Tapi kantin ini kecil dan suara Bimo besar.

Dan pemandangan itu, bagi Adam, seperti menonton dokumenter alam: beginilah, para pemirsa, cara spesies yang levelnya setara saling mendekat. Cowok yang punya segalanya, mendekati cewek yang punya segalanya. Dua matahari. Cocok. Masuk akal. Seimbang.

Adam menunduk, menatap es tehnya yang keruh.

Nah, itu. Suara besar di kepalanya bahkan tidak perlu berteriak, cukup berbisik santai seperti komentator yang yakin timnya menang. Cowok kayak gitu tuh yang pantes. Kamu? Kamu ngasih payung aja sembunyi-sembunyi.

Adam menghabiskan es tehnya dalam satu tegukan panjang, membereskan nampan, dan pergi dari kantin lebih cepat dari rencananya. Dia tidak sempat melihat bagian akhir dokumenter itu:

Evelyn yang menggeser gelas matcha pemberian Bimo dengan sopan ke tengah meja — tidak diminum. Evelyn yang menjawab ajakan jadi “muse acara welcoming” dengan “maaf Kak, aku nggak bisa, ada kegiatan rutin tiap akhir pekan”. Bimo yang pergi dengan senyum tetap terpasang tapi gelasnya ditinggal.

Dan Evelyn yang, begitu Bimo pergi, langsung melirik ke meja pojok dekat tembok — yang sudah kosong.

Bahunya turun sedikit. Yah. Udah pergi.

Kabar penolakan matcha itu menyebar ke seluruh kampus sebelum jam kantin berakhir — lengkap dengan tujuh versi berbeda, tiga di antaranya menyebutkan Evelyn membanting gelas (tidak terjadi), satu menyebutkan Bimo menangis (juga tidak, tapi versi ini yang paling laku).

Dan seperti hukum alam gosip: yang ditolak dikasihani sebentar, yang menolak dibahas lebih lama. Di toilet cewek lantai dua, Evelyn tanpa sengaja mendengar dari balik bilik: “...sok banget nggak sih? Bimo lho. BIMO. Emang dia nungguin siapa, pangeran?”

Evelyn keluar dari bilik, mencuci tangan dengan tenang di samping dua orang yang mendadak sibuk dengan ponselnya, menatap pantulannya sendiri di cermin, dan tersenyum.

Bukan pangeran, pikirnya, sambil merapikan poni. Lebih bagus dari itu.


Sorenya, di perpustakaan lantai dua, terjadi kejahatan kecil yang tidak tercatat di CCTV mana pun.

Perpustakaan adalah teritori Adam. Lebih tepatnya: meja pojok lantai dua, sisi timur, yang tersembunyi di balik rak jurnal lama yang tidak pernah disentuh manusia. Adam sudah dua tahun menempati meja itu, dan selama dua tahun pula dia mengira tidak ada yang memperhatikan.

Dia salah. Ada satu orang yang memperhatikan segalanya di perpustakaan itu: Pak Yusuf, penjaga perpus, lima puluh dua tahun, hafal semua anggota tetap perpustakaannya seperti hafal anak sendiri.

Dan belakangan, Pak Yusuf memperhatikan hal baru.

Anak jaket abu itu — yang biasanya datang, duduk, tenggelam, pulang — sejak beberapa hari ini datang lebih awal, dan sebelum ke mejanya sendiri, mampir dulu ke meja dekat jendela selatan. Meja yang belakangan sering dipakai mahasiswi cantik yang suka bawa laptop stiker bunga. Anak jaket abu itu akan meletakkan dua-tiga buku tebal di meja jendela selatan — seolah meja itu sudah ada yang pakai — lalu pergi ke pojoknya sendiri.

Dan benar saja. Setiap kali mahasiswi laptop bunga itu datang dan menemukan “meja favoritnya” kosong padahal perpus ramai, dia akan duduk di sana dengan senang, memindahkan buku-buku tebal itu ke ujung meja tanpa curiga.

Sementara dari balik rak jurnal lama, sepasang mata memastikan operasinya berhasil, lalu kembali menunduk ke laptop bekasnya.

Pak Yusuf menyaksikan ritual ini tiga kali sebelum akhirnya paham.

Dan sejak hari itu, kalau anak jaket abu datang terlambat, kadang-kadang ada tangan lain yang meletakkan buku-buku tebal di meja jendela selatan. Tangan yang lebih tua, sambil bersiul kecil.

Rahasia lelaki, pikir Pak Yusuf, harus dijaga sesama lelaki.

Persekutuan itu resmi terbentuk hari Jumat, tanpa satu pun kata diucapkan.

Ban motor Adam bocor pagi itu, dan urusan tambal-menambal membuatnya sampai perpustakaan terlambat empat puluh menit — empat puluh menit yang dia habiskan dengan gelisah memikirkan satu hal yang tidak mungkin dia akui kepada siapa pun: meja jendela selatan. Jam segini perpus mulai ramai. Meja itu pasti sudah—

Adam tiba di lantai dua dengan napas naik-turun, menoleh ke jendela selatan.

Meja itu kosong. Dijaga tumpukan tiga jurnal metalurgi yang tersusun rapi.

Adam berdiri di tempat, kebingungan. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, lalu — pelan-pelan — ke meja sirkulasi, tempat Pak Yusuf sedang menata kartu katalog sambil bersiul lagu dangdut dengan volume perpustakaan.

Mata mereka bertemu.

“Jurnal itu berat, Mas,” kata Pak Yusuf kalem, tanpa ditanya, matanya kembali ke kartu katalog. “Saya taruh situ biar dekat. Nanti juga saya beresin. Kalau udah nggak diperluin.”

Adam membuka mulut. Menutupnya lagi. Ada sepuluh kalimat yang antre dan tidak satu pun sanggup keluar.

“...Makasih, Pak.”

“Buat apa?” Pak Yusuf membalik satu kartu katalog. “Saya cuma naruh jurnal.”

Dan begitulah perjanjian itu disahkan: dua lelaki, satu rahasia, nol kata. Sejak hari itu, kalau jaket abu terlambat datang, jurnal-jurnal metalurgi akan berjaga menggantikannya — dan tidak ada satu pun pihak yang pernah membahasnya lagi.


Malamnya, Evelyn mengetik di grup berdua dengan Annisa.

Eve: nis. aneh deh
Eve: meja perpus favoritku tuh HARUSNYA selalu keisi. itu spot terbaik. deket jendela, colokan ada, adem
Eve: tapi tiap aku dateng selalu kosong. cuma ada tumpukan buku nggak jelas
Eve: jurnal metalurgi. NIS. SIAPA YANG BACA JURNAL METALURGI DI FAKULTAS KITA

Annisa: eve.
Annisa: sayang.
Annisa: kamu beneran nggak bisa nebak atau lagi pengen dipuji

Eve: ...
Eve: NGGAK MUNGKIN
Eve: masa sih
Eve: NIS MASA SIH

Annisa: kemarin payung. sekarang meja.
Annisa: eve, cowok itu diem2 udah bangun satu kota buat kamu. kamu doang yang belum dikasih kuncinya

Evelyn membenamkan wajah ke bantal dan tidak keluar selama lima menit.