by Aoi Kokoro
Adam hidup hemat dari uang peninggalan orang tuanya dan hanya merasa menjadi seseorang di panti asuhan tempat ia dibesarkan, sementara Evelyn punya wajah, nama, dan uang yang membuat satu kampus menoleh โ tapi tak seorang pun benar-benar melihatnya, kecuali anak laki-laki yang lima belas tahun lalu memberinya setengah roti. Ketika keduanya akhirnya bertemu lagi tanpa Adam menyadarinya, jarak yang tak pernah berhasil ditutup itu melahirkan salah paham demi salah paham, sampai keduanya harus memilih antara terus saling menebak atau akhirnya jujur.