Chapter Thirty Seven
Perjodohan
POV: Evelyn & Pak Hendrawan | ±1031 kata
Nathan Wijaya, harus diakui dengan berat hati oleh semua pihak, bukan orang jahat.
Itu yang membuat Senin malam itu makin sulit. Kalau dia menyebalkan, Evelyn tinggal jadi es sepanjang makan malam dan selesai. Tapi Nathan datang dengan sopan, membawa oleh-oleh untuk mamanya, bercerita lucu tentang salah budaya di Melbourne, dan — ini bagian terburuknya — di menit empat puluh, saat orang tua sedang sibuk membahas proyek, dia mencondongkan badan dan berkata pelan:
“Kak Evelyn. Boleh jujur? Aku tau ini acara apa. Kakak juga tau. Dan aku liat dari tadi Kakak nge-cek HP di bawah meja tiap lima menit.” Dia tersenyum, tanpa tersinggung. “Ada orangnya ya?”
Evelyn menatapnya, menimbang, dan memutuskan anak ini layak kejujuran. “Ada. Udah lama banget.”
“Yang di postingan itu? Aku baca. Adik sepupuku yang nunjukin, dia nangis.” Nathan mengangguk-angguk, lalu menyandarkan punggung dengan lega yang tulus. “Syukurlah. Soalnya aku juga ada orangnya, di Melbourne, dan bokapku belum bisa nerima karena dia ‘cuma’ guru. Jadi gimana kalau kita berdua malem ini pura-pura ngobrol asik, biar orang tua seneng, terus abis ini masing-masing berjuang di front masing-masing?”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Evelyn pulang dari acara perjodohan dengan satu sekutu baru dan strategi papanya yang berputar balik memakan tuannya: karena melihat “anak-anak cocok, ngobrolnya nyambung”, kedua keluarga jadi makin semangat — dan tekanan naik satu tingkat.
Tekanan berikutnya datang hari Rabu, bentuknya administratif, khas papanya: notifikasi di ponsel Evelyn. Kartu utamanya dinonaktifkan. Menyusul pesan dari sekretaris papa, sopan dan mengerikan: “Non, sesuai arahan Bapak, fasilitas Non disesuaikan dulu sementara. Uang saku bulanan tetap berjalan dengan nominal baru.” Nominal baru itu — Evelyn menghitung — kira-kira setara anggaran hidup Adam.
Ironinya membuat dia tertawa sendirian di kamar. Papanya bermaksud menunjukkan rasanya hidup seperti anak itu. Yang papanya tidak tahu: anaknya sudah setengah tahun berlatih dari ahlinya langsung.
Eve: dam. mulai bulan ini aku miskin. papaku motong semuanya
Adam: ...kamu gapapa?
Eve: gapapa. cuma mau tanya satu hal penting
Adam: apa
Eve: warung bu imas tanggal tua tetep bisa kan. bala2nya masuk anggaran ga
Adam: masuk. tanggal tua itu spesialisasiku. selamat datang di dunia per-recehan
Eve: ajarin yang bener ya. aku ga mau nyusahin kamu
Adam: ga akan. justru
Adam: [mengetik...]
Adam: akhirnya ada yang bisa aku ajarin. biasanya kamu terus yang ngajarin aku
Yang tidak masuk chat: malam itu Adam duduk lama di depan tabel keuangannya, menghitung ulang semuanya, memindahkan pos demi pos, dan menambahkan satu baris baru yang membuat dadanya sesak oleh dua hal sekaligus — bangga dan tidak berdaya: dana darurat: buat Lyn (jangan sampe dia tau).
Pelajaran per-recehan perdana digelar Sabtu di kontrakan, dengan kurikulum resmi: sistem amplop.
“Jadi gajimu — uang sakumu — begitu masuk, langsung dibagi.” Adam menjejerkan amplop bekas yang sudah ditulisi. “Makan. Transport. Kuota. Darurat. Sama satu amplop bebas, buat yang bikin kamu waras.”
“Amplop warasmu isinya apa?” Evelyn mengintip. Amplop bertuliskan bebas itu berisi uang paling sedikit dari semuanya, dan satu kertas kecil bertuliskan bala2 + es krim (berdua).
“...Itu bukan buat dibaca.”
“ITU ANGGARAN PACARAN KAMU? SEGINI?” Evelyn mengangkat amplop itu dengan dua tangan seperti barang pecah belah. “Dam. Ini. Aku pernah abisin segini buat ongkir doang.”
“Makanya diajarin,” kata Adam kalem, mengambil amplopnya kembali. “Dan asal kamu tau, amplop itu nggak pernah defisit. Satu-satunya pos yang nggak pernah aku potong.” Dia menaruhnya paling atas. “Prioritas.”
Sementara itu, dua front lain bergerak tanpa mereka lihat.
Front pertama: Raka. Sepupu itu muncul di rumah besar hari Kamis, resmi untuk “nengok Om”, tidak resmi untuk misi yang dia umumkan sendiri ke Evelyn di dapur: “Gue denger semuanya dari nyokap gue. Jadi lo pacaran sama cowok yang patah hati gara-gara gue? GARA-GARA GUE? Itu kegoblokan paling romantis yang pernah gue denger. Gue harus ketemu orangnya.” Dan sejak hari itu Raka mengangkat dirinya sendiri jadi agen ganda: makan siang dengan Om Hendrawan membawa cerita-cerita “objektif” (“Om, temen aku anak panti juga, sekarang bawa perusahaan logistik—“), lalu sorenya melapor perkembangan ke Evelyn seperti wartawan perang.
Front kedua: sebuah ruangan rapat di lantai dua puluh gedung Hendrawan Group.
“Jadi dia balas?” Pak Hendrawan menatap layar presentasi.
“Balas, Pak.” Bu Rina, kepala CSR, membuka email di layar. “Tapi bukan terima. Dia... menolak proposal revisi. Padahal angkanya sudah kita naikkan tiga kali lipat.” Dia menggulir ke email yang dimaksud, dan seisi ruangan membaca balasan dari alamat k@teduhapp.org — dua paragraf, sopan, rapi, dan menurut standar dunia Pak Hendrawan: gila.
“...Terima kasih atas revisinya. Namun keberatan saya bukan pada angka, jadi menaikkan angka tidak mengubah jawaban. Klausul 4 masih memberi pihak Bapak/Ibu hak atas data dan arah sistem. Sistem ini bukan milik saya untuk dijual — saya cuma yang bangun. Pemiliknya anak-anak yang datanya ada di dalamnya.
Kalau suatu hari proposalnya berubah dari ‘akuisisi’ jadi ‘menitip bantuan tanpa pegang setir’, pintu saya terbuka. Sebelum itu, mohon maaf sudah membuat menunggu. — K.”
Ruangan rapat itu hening. Seseorang berdeham.
“Berapa valuasi internal kita untuk sistem ini?” tanya Pak Hendrawan.
“Dengan jaringan tiga ratusan yayasan dan tingkat kepercayaan datanya... signifikan, Pak. Belum ada pemain lain di ceruk ini. Makanya kita kejar dari awal.”
“Dan dia menolak angka signifikan itu... karena klausul empat.” Pak Hendrawan menatap dua paragraf di layar itu lama sekali. Ada satu kategori manusia yang tidak pernah bisa dia prediksi, kategori yang paling jarang dia temui dan diam-diam paling dia hormati dan karena itu paling mengganggunya: orang yang tidak bisa dibeli naik harga. “Cari tahu siapa dia. Saya mau nama.”
“Sudah kami coba, Pak. Domainnya privat, badan hukumnya belum ada — semua serba anonim. Yang kami tahu cuma inisial dan...” Bu Rina mengecek catatannya, “...dari gaya komunikasinya, tim kami menduga dia masih sangat muda.”
Pak Hendrawan mengetuk-ngetuk meja dengan satu jari.
“Muda, tidak bisa dibeli, dan lebih peduli anak-anak panti daripada uang.” Dia mendengus pelan — bunyi yang di ruang rapat itu tidak ada yang berani menerjemahkan. “Zaman sekarang masih ada barang begitu.”
Dan tidak ada satu orang pun di lantai dua puluh itu — apalagi dia — yang tahu bahwa “barang begitu” sedang duduk di sebuah kontrakan petak di gang sempit, mengetik penyesuaian sistem untuk panti ke tiga ratus tiga belas, memakai kemeja yang disetrika kepala panti, dengan stiker petir masih menempel di balik kerahnya karena tidak tega dilepas.