Chapter Thirty Four
Pasang Badan
POV: Evelyn & Adam | ±1013 kata
Evelyn bertahan tiga hari.
Tiga hari menjalankan strateginya sendiri — diam, normal, tunggu reda — sambil menonton api itu tidak mereda: teori “awalnya kasian” naik jadi narasi utama, seseorang membuat utas “analisis” berisi foto-foto Adam dari kejauhan dengan panah-panah merah ke jaketnya, ke motornya, ke sepatunya, dan puncaknya Kamis malam: sebuah akun gosip kampus memposting foto pagar Rumah Teduh — pantinya, rumahnya, dengan anak-anaknya samar di halaman — dengan caption “katanya sering ke sini. modus csr apa gimana nih”.
Evelyn membaca itu jam sembilan malam, di kamarnya, dan sesuatu di dalamnya berhenti berdebat.
Anak-anak. Mereka menyeret anak-anak.
Dia menelepon Annisa. Percakapannya empat menit. Annisa cuma bertanya satu hal penting: “Kamu udah mikirin bokapmu bakal liat?” — dan Evelyn menjawab dengan suara yang sudah selesai berpikir: “Dia bakal liat dari siapa pun juga akhirnya. Mending dari aku, dengan kata-kataku sendiri.”
Pukul 21.30, akun Evelyn — yang isinya selama ini cuma repost seperlunya, diikuti belasan ribu orang yang seleranya menunggu — memposting sesuatu untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.
Satu foto. Bukan foto candid buram. Foto yang dia pilih dari galerinya sendiri: di teras panti, sore, Adam sedang tertawa dengan Dede di punggungnya dan Salsa menunjuk-nunjuk PR di tangannya — foto yang dia ambil diam-diam berbulan-bulan lalu, waktu masih jadi Kak Eve, waktu tertawa itu belum jadi miliknya.
Captionnya dia tulis sekali jadi, tanpa draft, karena lima belas tahun adalah draft yang cukup panjang:
“Namanya Adam. Pacarku. Iya, yang jaketnya itu-itu aja — karena uang jaketnya dipake buat hal-hal yang kalian nggak akan pernah liat, dan dia bakal malu aku nulis ini.
Aku yang suka dia duluan. Bertahun-tahun. Aku yang ngejar, aku yang nyamar jadi relawan biar bisa deket, aku yang nunggu — tanya sahabatku kalau nggak percaya, dia saksi hidup dan korban curhat.
Jadi buat yang nulis ‘awalnya kasian’: bener banget, awalnya emang ada yang kasian. Dia. Sama aku. Waktu umur delapan tahun, waktu aku sendirian, dia satu-satunya yang nyamperin.
Terakhir: yang bawa-bawa panti dan anak-anak — hapus. Sekarang. Kalian boleh gosipin aku sampe lulus, itu risiko jadi rame. Anak-anak itu nggak ikut milih jadi konten kalian.
— Evelyn. Bukan klarifikasi. Pengumuman.”
Dia menekan kirim, menaruh ponsel menghadap bawah, dan pergi mandi.
Ketika dia keluar dua puluh menit kemudian, dunia sudah terbakar ke arah yang berlawanan.
Postingan panti dihapus dalam satu jam — pemiliknya minta maaf publik setelah kolom komentarnya diserbu. Utas “analisis” berubah jadi bahan olok-olok. Dan narasi baru menyebar lebih cepat dari yang lama, karena internet selalu lebih lapar pada cerita yang lebih bagus, dan cerita yang ini bagus sekali: cewek paling populer ternyata bertepuk sebelah tangan bertahun-tahun sama cowok paling nggak kelihatan — dan cowoknya diam-diam sedermawan itu. Komentar “matre” tenggelam di bawah ribuan “AKU NANGIS”, “umur 8 tahun woy”, “JAKETNYA. ITU-ITU AJA KARENA UANGNYA— gue ga kuat”, dan satu komentar dari akun bernama aneh yang di-like dua puluh ribu kali:
anakpanti_rumahteduh (akun baru, foto profil: gambar kuda mirip kecoa): “KAK ADAM ITU KAKAK KAMI. DIA YANG BELIIN SEPATU PETIR DEDE PAKE UANG JAJANNYA. YANG NGATAIN KAK ADAM BERURUSAN SAMA KAMI SEMUA. ini yang ngetik salsa umur 10 kelas 4 juara 1”
(Investigasi singkat mengungkap akun itu dibuat malam itu juga memakai ponsel Bu Ratna, atas inisiatif rapat darurat dua belas anak. Bu Ratna, ketika dimintai konfirmasi, mengaku “kecolongan tapi nggak nyesel”.)
Annisa sendiri berkontribusi dengan caranya: satu story singkat, latar hitam polos, teks putih: “15 tahun jadi tempat curhatnya. 15 TAHUN. aku hafal cerita rotinya sampe bisa ujian. jadi kalau ada yang masih nulis ‘baru kenal udah sok posesif’: sayang, kamu telat satu setengah dekade.” — ditutup emoji minum teh, dan di-screenshot lebih banyak orang daripada gabungan seluruh postingannya seumur hidup.
Dan di tengah banjir itu, satu komentar muncul dari akun yang membuat seisi menfess terdiam sebelum meledak lagi lebih keras — akun terverifikasi kampus, ketua BEM:
bimo.pradana: “Gue yang waktu itu ditolak di panggung. Di depan semua orang. Sekarang gue tau kalahnya sama siapa — sama cowok yang udah dicintain dari sebelum gue bisa naik sepeda. Nggak ada yang perlu dianalisis, nggak ada yang matre. Kalian cuma nonton babak akhir dari cerita yang panjang banget. Respect buat dua-duanya. Case closed.”
(Komentar itu, menurut sejarawan menfess, adalah momen resmi berakhirnya teori matre — dan menurut Annisa, “satu-satunya hal berguna yang pernah dilakukan cowok itu, telat pula.”)
Adam menyaksikan semuanya dari kontrakan, dan butuh waktu lama untuk bisa menyebut apa yang dia rasakan.
Ada malu — tentu, malunya berlapis-lapis; seluruh kampus kini tahu soal jaket dan uangnya. Ada panik menyaksikan Evelyn membakar privasinya sendiri sebagai tameng. Tapi di bawah semua itu, ada sesuatu yang lebih besar, yang baru dia kenali ketika membaca captionnya untuk ketiga kali, di kalimat aku yang suka dia duluan:
Seumur hidup, Adam yang pasang badan untuk orang lain — diam-diam, dari belakang, tanpa nama. Malam ini, untuk pertama kalinya, ada orang yang berdiri di depan untuknya. Terang-terangan. Pakai nama lengkap. Di depan semua orang.
Rasanya seperti diberi payung, pikirnya. Oh. Jadi begini rasanya dari sisi sana.
Dia menelepon. Evelyn mengangkat di dering pertama.
“Marah ya,” kata Evelyn duluan, siap perang. “Aku tau harusnya diskusi dulu. Tapi mereka bawa-bawa panti, Dam, aku nggak bisa—“
“Lyn.”
“—dan soal jaket itu mungkin kelewatan, tapi biar mereka—“
“Lyn. Makasih.”
Hening di seberang. Lalu suara yang tiba-tiba kecil: “...Nggak marah?”
“Aku...” Adam mencari kata di langit-langit kontrakan, dan menemukan yang paling jujur: “Aku baru tau rasanya dipayungin. Ternyata gini.” Dia berdeham. “Pantesan kamu ngambek waktu telat.”
Tawa Evelyn pecah di seberang — tawa lega yang basah, tawa orang yang habis perang — dan mereka bicara sampai larut, dan untuk beberapa jam malam itu, semuanya terasa seperti sudah selesai, seperti badainya sudah lewat.
Belum.
Karena pukul 23.50, di sebuah rumah besar di kawasan paling mahal di kota, sebuah ponsel berdering di meja kerja mahoni. Pak Hendrawan, yang masih membaca laporan kuartal, mengangkatnya.
“Halo, Bu Laras— iya, belum tidur. Ada apa?”
Dan adik iparnya, dengan nada prihatin yang menikmati setiap suku katanya, berkata: “Pak, maaf malem-malem. Itu... Evelyn kenapa, Pak? Anak buah saya pada ngirimin postingannya. Udah liat belum? Rame banget lho.”