Chapter Fifteen
Penolakan
POV: Evelyn & Adam | ±1054 kata
Acara welcoming BEM digelar di lapangan tengah kampus, lengkap dengan panggung, sound system, dan bazar — jenis acara yang Adam datangi hanya karena satu alasan: labkom, tempat pelariannya, terkunci untuk persiapan lomba, dan jalur pulang ke parkiran hari itu mau tidak mau memotong lapangan.
Dia sedang menghitung rute tercepat menembus keramaian ketika dari panggung, mikrofon berdengung, dan suara yang dikenal satu kampus berkumandang.
“Sebelum acara ditutup — izin selingan sebentar ya semuanya.”
Bimo. Di atas panggung. Memegang mik dengan satu tangan dan — kerumunan mulai berteriak heboh — buket bunga besar di tangan lainnya.
“Ada yang mau aku sampaikan. Udah kelamaan dipendam.” Bimo tersenyum senyum iklan pasta giginya, percaya diri terpasang penuh, menikmati setiap detik. “Evelyn. Aku tahu kamu di sini. Bisa maju sebentar?”
Lapangan meledak. Sorakan, siulan, ratusan ponsel terangkat merekam. Kerumunan membelah dengan sendirinya, membentuk lorong menuju satu titik: Evelyn, yang berdiri bersama Annisa di dekat stan bazar, dengan ekspresi yang dari jarak jauh terlihat tenang — dan dari jarak dekat, Annisa bisa melihat, sedang menghitung mundur untuk menahan marah.
“Dia ngapain sih,” bisik Evelyn.
“Bikin konten,” bisik Annisa. “Sabar. Jangan lempar sepatu. Banyak kamera.”
Evelyn tidak maju ke panggung. Maka Bimo yang turun, berjalan di lorong kerumunan dengan buket dan mik, berhenti tiga langkah di depannya, dan berlutut satu kaki.
Lapangan mendekati histeria.
“Evelyn. Dari semester satu aku merhatiin kamu. Aku nggak nemu cewek yang lebih—“
“Kak.” Suara Evelyn memotong, tidak keras, tapi jenis suara yang membuat sound system pun terasa kalah. Dia tidak mengambil bunga itu. “Berdiri dulu. Please.”
Bimo berdiri, senyumnya goyah satu milimeter.
“Aku hargai keberaniannya,” kata Evelyn. Tiap kata jelas, cukup keras untuk kerumunan yang mendadak senyap, karena dia tahu — kalau ini harus terjadi, biar terjadi sekali dan tuntas. “Dan aku minta maaf karena jawabannya harus di sini, di depan semua orang, karena Kakak yang milih tempatnya. Jawabanku nggak, Kak. Bukan karena Kakak kurang. Kakak nggak kurang apa-apa.”
Dia menarik napas. Dan kalimat berikutnya keluar bukan sebagai pengumuman, tapi sebagai sesuatu yang sudah lima belas tahun antre di pintu:
“Tapi aku udah lama suka sama orang lain. Lama banget. Maaf ya, Kak.”
Satu detik hening total.
Lalu lapangan meledak untuk alasan yang sepenuhnya baru.
Menfess kampus malam itu mencetak rekor: sayembara “SIAPA ORANGNYA EVELYN” mengumpulkan enam ratus balasan dalam tiga jam. Teori-teori yang beredar antara lain: kating Kedokteran (dibantah anak Kedokteran), atlet nasional (dibantah manajemen atlet yang bersangkutan), “kayaknya artis” (tidak bisa dibantah siapa-siapa), sampai teori paling liar sekaligus paling dekat yang tenggelam di antara ratusan komentar tanpa satu pun jempol: “jangan2 orangnya bahkan bukan anak populer. jangan2 kita semua salah arah.”
Evelyn membaca teori terakhir itu sebelum tidur dan memberikannya satu-satunya jempol.
Lalu dia mencabut jempolnya lagi tiga detik kemudian. Jangan ninggalin jejak.
Adam mendengar semuanya dari pinggir lapangan, terjebak di antara kerumunan yang tidak bisa ditembus, dekat gerobak es.
Dia mendengar sorakan berubah jadi “CIEE SIAPA TUH” massal. Dia melihat Bimo menyerahkan buket itu dengan sisa-sisa gengsi kepada panitia terdekat dan turun panggung diiringi tepuk tangan simpati. Dia melihat Evelyn menarik Annisa pergi dari lapangan, dikejar pertanyaan dari segala arah — siapa? anak sini? kating? SIAPA?
Dan di pinggir lapangan, dekat gerobak es, cowok jaket abu berdiri diam dengan sesuatu yang pecah pelan-pelan di dalam dadanya, tanpa suara, seperti retakan di gelas yang baru ketahuan waktu diisi air.
Udah lama suka sama orang lain. Lama banget.
Tentu saja.
Tentu saja ada orangnya. Cewek seperti itu — hangat, berani, disukai semua orang — tidak mungkin kosong. Selama ini Adam tahu itu secara teori, seperti orang tahu secara teori bahwa gunung bisa meletus: tahu, tapi tidak siap merasakan tanahnya bergetar.
Yang membuatnya malu — dan dia membenci dirinya untuk ini — adalah menyadari bahwa diam-diam, di ruangan paling belakang kepalanya, di balik semua peraturan dan tabel dan akuntansi, ternyata masih ada satu lilin kecil yang menyala. Dia baru tahu lilin itu ada justru dari rasa sakitnya saat padam.
Bodoh, kata penjaga tua di kepalanya — dan untuk pertama kalinya nadanya tidak menang, cuma capek. Udah dibilangin dari dulu.
Adam menembus kerumunan lewat jalur memutar, menghidupkan motor, dan pulang.
Di kontrakan, dia berdiri lama di depan lemari plastik. Lalu membuka pintunya.
Barisan kuning-pink itu masih di sana, rapi, seperti deretan lampu kecil.
Dia udah punya orang, dari lama banget, pikir Adam, menatap arsipnya. Semua sticky note ini ditulis sama orang yang hatinya udah ada isinya. Kamu tuh cuma... temen ngobrolin buku. Temen jaga meja. Panitia hal-hal kecil.
Anehnya, dia tidak mencabut satu pun.
Dia cuma menutup pintu lemari itu, pelan, dan mengucapkan kalimat yang sama seperti dulu — cuma sekarang bunyinya beda, sekarang bunyinya seperti orang mengalah:
“Ngefans boleh. Berharap jangan.”
Sementara di dalam mobil yang menjauh dari kampus, Annisa akhirnya meledak.
“KAMU SADAR NGGAK SIH BARUSAN NGAPAIN?!”
“Nolak Bimo.”
“KAMU BILANG ‘UDAH LAMA SUKA SAMA ORANG LAIN’ DI DEPAN DUA RIBU ORANG DAN TIGA RATUS KAMERA!”
“Biar tuntas. Biar nggak ada yang nyoba-nyoba lagi.” Evelyn bersandar, memejamkan mata. Lalu satu sudut bibirnya naik. “Lagian aku nggak nyebut nama.”
“Eve, satu kampus bakal nyari orangnya. Ini bakal jadi tebak-tebakan nasional.”
“Biarin. Nggak akan ada yang nebak dia.” Suaranya melembut di kata terakhir. “Nggak ada yang pernah liat dia, Nis. Itu masalahnya dari dulu. Cowok sebagus itu, dan nggak ada satu pun yang pernah bener-bener liat.”
Annisa menatap sahabatnya, menghela napas, dan menyalakan lampu sein.
“Ada satu yang liat,” katanya. “Lima belas taun nggak kedip.”
Evelyn tertawa kecil. Ponselnya banjir notifikasi — grup kelas, grup angkatan, menfess kampus yang sudah mulai membuka sayembara. Dia mematikan semuanya kecuali satu ruang chat yang sepi, yang isinya masih sebatas urusan jadwal panti, yang balasannya selalu pendek.
Dia menatap ruang chat sepi itu dan mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi, lalu menghapus lagi.
Akhirnya dia mengirim yang paling aman:
Eve: besok sabtu jadi kan? aku bawa bahan prakarya buat anak-anak
Balasan datang empat puluh menit kemudian. Lebih lama dari biasanya.
Adam: jadi.
Satu kata. Titik. Evelyn menatap titik itu — dia sudah cukup lama membaca cowok ini untuk tahu bahwa titik pun punya nada — dan merasakan firasat kecil yang tidak bisa dia namai.
Firasat itu benar. Tapi dia baru akan tahu besoknya, bahwa hari di mana dia menutup pintu untuk semua orang demi satu orang — adalah hari yang sama ketika satu orang itu memutuskan untuk menutup pintunya sendiri.