← Chapters Ch. 22 / 45

Chapter Twenty Two

Pasar Pagi

POV: Adam & Evelyn | ±1024 kata

“Jadi gini aturannya,” kata Adam di depan gerbang pasar, dengan keseriusan orang menjelaskan protokol keselamatan. “Satu: jangan pegang-pegang dagangan kalau nggak niat beli. Dua: jangan kelihatan pengen banget — begitu abangnya tau kamu pengen, harga naik. Tiga—“

“Dam.”

“Hm.”

“Ini pasar. Bukan medan perang.”

“Sama aja,” kata Adam, dan dari caranya mengatakan itu sambil menggulung lengan jaket, Evelyn tertawa sampai ditegur ibu-ibu lewat.

Misi hari itu: belanja bulanan panti, jatah besar karena ada tambahan dari donatur rutin misterius (Evelyn menjaga wajahnya tetap netral setiap topik itu muncul, keahlian yang makin terasah). Bu Ratna berhalangan; Adam ditunjuk; dan Evelyn merebut kursi pendamping dengan kecepatan yang membuat Salsa mencatat lagi.

Dan pasar pagi, ternyata, adalah panggung terbaik untuk menonton Adam versi yang bahkan panti jarang lihat: Adam yang menguasai medan.

Cowok yang di kampus memilih rute memutar demi menghindari kenalan, di sini menyapa duluan: “Bang Udin! Telurnya yang kemarin bagus, ambil dua papan lagi ya. Harga kemarin.” Ditawari sayur setengah layu didiskon, dia memeriksa dengan jari seperti kurator: “Ini buat sop masih bagus, Bu. Bungkus. Yang wortelnya sekalian — nah jangan yang itu, yang belakang.” Ibu-ibu lapak memanggilnya Aa, menanyakan kabar “adik-adiknya”, menyelipkan bonus cabai tanpa diminta.

“Kamu tuh ya,” kata Evelyn takjub, memeluk kantong belanja, “di sini kayak walikota.”

“Di sini semua orang ngomongnya seperlunya,” kata Adam. “Harga, barang, kabar. Nggak ada basa-basi nggak jelas. Enak.”

“Oh, jadi kamu bukan pendiem. Kamu cuma anti basa-basi.”

“...Kurang lebih.”

“Berarti selama ini sama aku basa-basi juga?”

“Sama kamu—“ Adam berhenti, menyadari jebakan, telinga menyala, dan memilih menyelamatkan diri: “—itu beras, harus ke lapak sebelah.”

Insiden pertama terjadi di lapak jeruk. Evelyn, dengan semangat murid teladan, memutuskan mempraktikkan ilmu menawar yang baru dipelajarinya.

“Bang, jeruknya sekilo berapa?”

“Dua puluh, Neng.”

“Hmm.” Evelyn memasang wajah menimbang yang sudah dia latih. “Dua puluh lima deh.”

Hening. Abang jeruk mengerjap. Adam pelan-pelan menutup wajah dengan satu tangan.

“...Neng nawarnya ke atas?”

“Eh.” Evelyn baru sadar. “EH. Maksudku lima belas! LIMA BELAS!”

“Telat, Neng, udah ketok palu. Dua lima ya.” Abangnya sudah menimbang sambil menahan tawa. “Bercanda. Lima belas dah, buat Neng yang udah ngehibur pasar pagi-pagi.”

Adam membayar sambil menggeleng-geleng, dan sepanjang lorong berikutnya Evelyn merajuk bahwa itu strategi psikologis tingkat tinggi yang belum ada namanya, dan Adam berkata “iya, namanya rugi”, dan Evelyn memukul lengannya dengan seikat kangkung.

Di lapak ayam, kuliah lapangan berlanjut. Adam mengajari cara memeriksa kesegaran — “tekan dikit, kalau baliknya cepet, bagus; warnanya jangan yang pucet” — dan Evelyn mempraktikkannya dengan keseriusan mahasiswa kedokteran memeriksa pasien, sampai ibu lapak tertawa.

“Baru pertama nemenin belanja, Neng?”

“Kelihatan banget ya, Bu?”

“Kelihatan. Tapi bagus, mau belajar.” Ibu itu membungkus pesanan sambil melirik dua-duanya bergantian dengan mata ibu-ibu pasar yang sudah menikahkan ratusan pasangan dalam imajinasinya. “Biasanya yang kayak Aa gini belanjanya sendirian terus. Baru kali ini bawa temen. Awet ya.”

“Aamiin,” kata Evelyn, refleks, jelas, tanpa jeda.

Adam menjatuhkan kembalian.

Sepanjang jalan ke lapak berikutnya, tidak ada yang membahas aamiin itu, dan justru karena tidak dibahas, dua-duanya sibuk memikirkannya sampai lorong beras.

Insiden kedua lebih tenang, dan Evelyn tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun kecuali Annisa.

Di lapak beras, sambil menunggu karung ditimbang, seorang ibu penjual bertanya dengan keramahan pasar yang tidak mengenal privasi: “Istrinya, A? Cantik banget. Baru nikah ya, masih keliatan malu-malu.”

Satu detik. Dua.

“Bukan, Bu,” kata Adam — dan Evelyn, yang sudah siap menikmati kepanikan cowok itu, justru mendengar suara yang tenang, yang cuma telinganya yang merah: “Belum.”

Belum.

Bukan bukan. Belum.

Ibu beras tertawa senang, menambah takaran “buat penglaris rumah tangga”, dan melanjutkan menimbang tanpa tahu bahwa satu kata yang baru saja lewat sedang dibingkai, digantung, dan diberi pencahayaan khusus di dalam kepala perempuan yang berdiri memeluk kangkung dengan wajah lurus dan jantung yang lari maraton.

(Adam sendiri menghabiskan tiga lorong berikutnya dalam krisis internal: kenapa jawabnya BELUM? BELUM itu apa? Siapa yang ngizinin mulutmu bilang BELUM? — sementara sisi lain kepalanya, sisi baru yang makin berisik, cuma bersiul santai dan tidak merasa perlu membela diri.)

Insiden ketiga — yang tidak masuk hitungan insiden karena terlalu tenang — terjadi di ujung pasar, di lapak bumbu.

Evelyn memperhatikan Adam memilih bawang dan bertanya, iseng, “Kamu belajar semua ini dari siapa sih? Bu Ratna?”

“Ibuku,” kata Adam. Tangannya tidak berhenti memilih. “Dulu tiap Minggu pagi aku ikut ke pasar. Tugasku megang kresek sama ngitung kembalian.” Dia menimbang bawang di tangan, memilah yang keras, dan melanjutkan dengan nada yang sama datarnya tapi tidak sama isinya: “Udah lama nggak ke pasar bareng orang. Ternyata... masih apal semuanya.”

Evelyn tidak berkomentar. Dia cuma maju setengah langkah, berdiri lebih dekat, dan mengulurkan tangan: “Sini kreseknya. Aku bagian megang. Kamu bagian ngitung.”

Dan Adam menyerahkan kresek-kresek itu tanpa berkata apa-apa, dan mereka menyusuri lorong terakhir pasar dalam formasi lama yang diisi orang baru, dan tidak ada satu pun dari dua-duanya yang merasa perlu menamai apa yang baru saja terjadi.

Mereka pulang naik motor bebek, keranjang depan penuh, kresek-kresek digantung ajaib di segala titik cantelan dengan keahlian yang cuma dimiliki motor bebek Indonesia. Evelyn duduk di belakang, dan di polisi tidur ketiga, dengan alasan keseimbangan yang secara ilmiah lemah, tangannya pindah dari besi belakang ke ujung jaket abu.

Adam tidak berkomentar. Motor melaju pelan-pelan saja, padahal jalanan kosong.

Yang tidak dilihat dua-duanya: di depan warung kopi seberang pasar, sekumpulan mahasiswa yang habis lari pagi sedang nongkrong, dan salah satunya — anak Manajemen, angkatan bawah — menyikut temannya sambil mengangkat ponsel.

“Eh eh. Itu Kak Evelyn bukan sih?”

“Mana— yang boncengan motor butut? Masa sih.”

“Mirip banget sumpah. Sama siapa tuh?”

Jepret.

Foto itu buram, diambil jauh, objeknya menghadap arah lain. Malam itu si pemotret men-scroll galerinya, menimbang mau diapakan, lalu lupa karena ada deadline laporan. Foto itu tenggelam di antara screenshot jadwal dan meme.

Tapi foto tidak pernah benar-benar hilang. Foto cuma menunggu.

Dan sementara itu, di jalan pulang menuju panti, dua orang di atas motor bebek — satu memegang ujung jaket, satu menjaga kecepatan tetap pelan — sedang berada di bagian cerita yang paling tenang, bagian yang hangat dan lambat, bagian yang di kemudian hari akan mereka berdua ingat dengan cara orang mengingat cuaca cerah terakhir sebelum musim berganti.