Chapter Thirteen
Sepatu Dede
POV: Evelyn | ±1096 kata
Semua berawal dari ajakan makan-makan kelompok tugas, hari Kamis, dan penolakan Adam yang ke sekian.
“Adam, ikut lah sekali-sekali,” kata ketua kelompok, setengah menyerah sebelum bertanya. “Nilai kita bagus nih, kita traktiran patungan doang kok, murah—“
“Duluan ya. Ada urusan.” Senyum sopan, angguk, pergi. Juara satu pamit dengan baik.
Evelyn — satu kelompok, bukan kebetulan, jangan tanya prosedurnya — memperhatikan dari kursinya. Minggu lalu juga begitu. Ajakan nonton bareng kelas: duluan ya. Syukuran ulang tahun anak Manajemen: duluan ya. Cewek-cewek di kelas sudah punya teori bahwa cowok itu sombong terselubung; cowok-cowok punya teori dia kerja sambilan malam; dan Evelyn, yang tahu lebih banyak dari semua orang, tetap merasa ada satu keping yang belum dia pegang.
Keping itu ditemukannya hari Sabtu, di pasar.
Dia sedang menemani Bu Ratna belanja bulanan — tugas relawan yang dia rebut dengan semangat mencurigakan — ketika dari ujung lorong pasar dia melihat sosok yang dia hafal di mana pun: jaket abu, di depan lapak sepatu anak.
“Bu, aku nyusul ya, mau liat... jepit rambut,” kata Evelyn, dan membelok.
Dia berhenti di balik tumpukan karung beras, jarak aman lima meter, dan menonton.
Adam sedang menawar. Bukan menawar iseng — menawar sungguhan, dengan wajah serius yang tidak pernah dia pakai di kampus bahkan saat presentasi. Di tangannya sepasang sepatu anak warna merah, ukuran kecil, ada gambar petirnya.
“Enam lima ya, Bang. Pas.”
“Tujuh puluh dah, itu udah sol karet—“
“Enam lima.” Adam mengeluarkan sesuatu dari saku jaket: lipatan uang yang sudah disusun, dua puluhan ribu, lima ribuan, dan — Evelyn merasakan sesuatu di dadanya berputar pelan — koin. Uang receh yang dihitung dan disusun dari rumah, dijepit karet gelang. “Ini pas segini, Bang. Kalau tujuh puluh, saya balik minggu depan.”
Abang sepatu menatap lipatan uang itu, menatap wajah pembelinya, dan menyerah dengan gerutu sayang. “Yaudah sini. Buat anaknya ya? Petir lagi rame nih.”
“Buat adik saya.” Dan di situlah Evelyn melihatnya: senyum yang pecah di wajah Adam saat sepatu itu masuk kantong kresek hitam. Senyum lebar, tanpa jaga-jaga, senyum orang yang baru memenangkan sesuatu yang besar. Cowok yang menolak semua traktiran, yang makan dua kali sehari, yang menyusun receh pakai karet gelang — tersenyum seperti orang paling kaya di pasar itu.
Evelyn berdiri di balik karung beras dan mengerti semuanya sekaligus: duluan ya itu bukan sombong, bukan sibuk. Duluan ya itu sepatu Dede. Duluan ya itu susu, telur, buku tulis. Duluan ya itu dua belas alasan yang tidak pernah dia sebut karena menyebutnya terdengar seperti minta dikasihani — dan Adam lebih baik dianggap sombong sedunia daripada dikasihani satu orang.
Dia baru sadar pipinya basah waktu abang lapak jepit rambut bertanya, “Neng? Nyari yang warna apa?”
“...Yang merah, Bang,” kata Evelyn, suaranya aman di ujung saja. “Yang ada petirnya kalau ada.”
Di depan lapak jepit rambut itu, Evelyn benar-benar membeli satu — merah, ada petirnya, satu-satunya yang tersisa di pojok etalase, sepertinya sudah lama tidak laku. Abangnya sampai mengecek dua kali apakah Neng ini serius.
“Buat siapa emangnya, Neng? Anaknya cowok kayaknya modelan gini.”
“Buat saya sendiri, Bang.”
Jepit petir itu kini terpasang di tasnya, tersemat di tali dalam yang tidak terlihat orang. Norak, kata bagian dirinya yang dibesarkan dengan tas-tas yang harganya tidak boleh ditanya. Biarin, jawab bagian dirinya yang lain, yang makin hari makin besar, yang diam-diam sedang belajar dari seseorang bahwa barang paling berharga justru yang tidak perlu dilihat siapa-siapa.
Sorenya di panti, serah terima berlangsung tanpa upacara — karena Adam memang tidak bisa memberi dengan upacara.
Sepatu lama Dede sudah dua minggu menganga di ujungnya, dijepit peniti oleh Bu Ratna, dan Dede tidak pernah mengeluh karena anak panti belajar tidak mengeluh lebih cepat daripada belajar membaca. Adam cuma menaruh kresek hitam itu di sebelah Dede yang sedang mewarnai, bilang “coba ukurannya”, dan pura-pura sibuk membetulkan rak.
Ledakan yang terjadi kemudian terdengar sampai jalan raya.
“PETIR! KAK ADAM INI PETIR! DEDE PUNYA SEPATU PETIR!” Dede memakai sepatunya terbalik saking paniknya, dibetulkan Salsa, lalu berlari keliling halaman tiga putaran penuh untuk “tes kecepatan”, diikuti sebelas anak yang minta giliran nyoba padahal ukurannya jelas beda.
Adam menonton dari teras sambil membetulkan rak yang tidak rusak, dengan wajah datar yang gagal di bagian mata.
Evelyn duduk di bangku, menonton Adam yang menonton Dede.
Lima belas tahun lalu kamu belah roti, pikirnya. Sekarang kamu belah semuanya. Uangmu, waktumu, tenagamu. Kamu nggak berubah — kamu cuma makin parah.
“Kak Eve kok senyum-senyum?” tanya Salsa, mendadak di sebelahnya, buku catatan siaga.
“Sepatunya bagus,” kata Evelyn.
Salsa mengikuti arah pandang Kak Eve — yang tidak sedang mengarah ke sepatu — lalu mencatat sesuatu.
Malam itu, Evelyn duduk di meja belajarnya yang seharga motor, membuka laptop, dan melakukan sesuatu yang sudah tiga minggu dia pikirkan.
Situs donasi panti itu sederhana — terlalu rapi untuk ukuran panti kecil, dengan sistem laporan yang bahkan yayasan besar tidak punya (dia belum tahu siapa yang membangunnya; satu keping lain untuk nanti). Dia mengisi formulir donatur.
Nama: dia mengetik Evelyn, menatapnya, menghapusnya huruf demi huruf.
Nama itu selalu tiba duluan sebelum orangnya. Kali ini tidak boleh.
Nama: Hamba Allah.
Nominal: dia mengetik angka yang untuknya kecil dan untuk panti itu berarti susu tidak perlu diselang-seling sampai tahun depan. Jadwal: rutin, tiap bulan. Konfirmasi.
Selesai. Tidak ada yang tahu. Tidak akan ada yang tahu.
Dia menutup laptop dan memeluk lututnya di kursi, merasa hangat dengan cara yang baru dia pelajari akhir-akhir ini — dari seseorang yang mengajarinya, tanpa pernah tahu sedang mengajar, bahwa memberi paling enak memang yang tidak pakai nama.
Laporan terakhir hari itu datang dari Bu Ratna, dikirim jam sembilan malam berupa satu foto tanpa keterangan: Dede, tidur pulas di kasurnya, selimut sampai dada — dan di kedua kakinya, masih terpasang lengkap, sepasang sepatu petir warna merah.
Di bawahnya menyusul pesan: “Nggak mau dilepas. Katanya takut besok bangun-bangun berubah jadi mimpi. Ibu nyerah.”
Adam menatap foto itu lama sekali di kontrakannya, dan memutuskan bahwa enam puluh lima ribu rupiah, yang di tabel keuangannya tercatat di baris operasional, adalah uang dengan kurs terbaik yang pernah dia belanjakan seumur hidup.
Di seberang kota, ponsel Adam berbunyi. Notifikasi dari sistem buatannya sendiri: Donatur rutin baru terdaftar.
Adam membuka laporan itu, membaca nominalnya, dan terdiam lama.
“...Hamba Allah,” gumamnya, antara bersyukur dan bingung. “Semoga panjang umur, siapa pun kamu.”
Lalu, karena hidup senang sekali dengan ironi: dia meneruskan notifikasi itu ke Bu Ratna dengan tambahan pesan singkat — Bu, ada rezeki. Susunya jangan diselang-seling lagi ya — tanpa sedikit pun tahu bahwa doa panjang umurnya baru saja dikirim ke orang yang sama yang tadi siang menangis di depan lapak jepit rambut karena melihatnya menawar sepatu.