Chapter Forty Four
Malam di Panti
POV: Adam & Evelyn | ±1099 kata
Syukuran itu digelar hari Sabtu, dua minggu setelah tanda tangan kemitraan, dan Rumah Teduh belum pernah seramai itu: tumpeng sumbangan ibu-ibu pasar (Bang Udin menyumbang telur dua papan, “buat Aa yang sekarang katanya bos”), spanduk hasil karya divisi kreatif Salsa bertuliskan SELAMAT ATAS KERJASAMA TEDUHAPP & YANG PENTING SUSU AMAN SELAMANYA, Pak Yusuf datang membawa hadiah tiga novel bekas stempel perpustakaan (“sudah dihapusbukukan resmi, jangan lapor-lapor”), Annisa dan Raka berkenalan lalu dalam satu jam sudah membentuk aliansi paling berbahaya di acara itu, dan di sudut teras, pemandangan yang membuat semua yang tahu sejarahnya pura-pura tidak menonton sambil menonton habis-habisan: Pak Hendrawan, tanpa jas, duduk kikuk di bangku plastik, dikerubungi anak-anak yang sudah mengendus bahwa bapak-bapak ini kalau ditodong cerita akan menyerah dan kalau ditodong jajan akan menyerah lebih cepat.
“Om ini papanya Kak Eve?” Dede memeriksa, naik ke bangku sebelahnya tanpa izin. “Kok mukanya serem tapi baik?”
“...Om lagi latihan yang baiknya,” kata Pak Hendrawan, dan menyerahkan sisa amunisi jajannya tanpa perlawanan.
Satu momen kecil sore itu luput dari hampir semua mata kecuali Bu Ratna: Pak Hendrawan dan Adam, di dekat meja tumpeng, berbicara berdua untuk pertama kalinya sejak ruang rapat — dua orang kaku yang sama-sama tidak berbakat basa-basi, sehingga percakapannya efisien:
“Sistemmu. Modul pelaporannya. Direksi saya minta lisensi buat internal audit CSR.”
“Bisa, Om. Gratis buat sesama program sosial.”
“Gratis lagi.” Pak Hendrawan menggeleng. “Kapan-kapan kita bicara soal alergi kamu sama uang.” Jeda. Dia menatap halaman, anak-anak, spanduk soal susu. Lalu, tanpa menoleh, dengan volume yang hampir tidak selamat dari jarak satu meter: “Terima kasih. Sudah jagain anak saya... waktu saya sibuk salah hitung.”
Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Dia cuma mengangguk, sekali — dan menyodorkan piring bala-bala, yang setelah dua detik pertimbangan diterima, dan begitulah dua lelaki paling kaku di halaman itu berdamai: berdiri bersebelahan, makan gorengan, tidak mengatakan apa-apa lagi, dan sama-sama merasa percakapan itu berjalan sangat baik.
Malam turun pelan-pelan. Tamu pulang satu-satu. Anak-anak — setelah drama sikat gigi massal dan tiga dongeng (Adam dipaksa memakai suara naga di depan Pak Hendrawan; harga diri dikorbankan demi rakyat) — akhirnya tumbang di kamar masing-masing.
Dan jam sepuluh lewat, halaman Rumah Teduh sunyi, tinggal dua orang di bangku panjang teras — bangku yang catnya sudah berganti entah berapa kali, di bawah langit yang bersih sehabis musim hujan panjang.
“Capek?” tanya Evelyn, kepalanya di bahu yang sudah bertahun-tahun jadi propertinya.
“He-eh. Capek yang enak.” Adam menatap halaman: pohon jambu, pagar hijau, bekas garis lomba tarik tambang yang tidak pernah benar-benar hilang. “Lyn. Kamu inget nggak, posisi kamu waktu itu. Yang lima belas tahun lalu.”
Evelyn mengangkat kepala. “...Hah?”
“Di mana persisnya. Kamu berdiri di mana.”
Dia menatap Adam, lalu halaman, lalu bangkit pelan — dan berjalan ke dekat pagar, ke satu titik yang kakinya temukan sendiri tanpa perlu diperintah kepala, karena ada peta yang disimpan lebih dalam dari ingatan. “Sini. Deket pager. Aku megang boneka. Semua anak main, aku nggak ngerti caranya ikutan.” Suaranya mengecil. “Terus kamu dateng dari arah... sana.”
Adam sudah berdiri. Dari arah sana. Dan di tangannya — Evelyn butuh sedetik untuk percaya pada matanya — ada satu roti manis, plastik bermerek fotokopian, jenis roti paling murah di warung Bu Nah.
Dia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Evelyn, di titik yang sama di mana lima belas tahun lalu dunia pertama kali dibelah dua — dan membelah roti itu. Pelan. Rapi. Seperti ribuan pagi di depan warung, seperti satu sore yang mengubah segalanya.
Tapi kali ini dia tidak menyodorkan setengahnya.
Dia memegang dua-duanya, satu di tiap tangan, dan menatap Evelyn — dan mulai bicara, panjang, untuk ukurannya panjang sekali, dengan suara yang sesekali goyah dan tidak sekali pun berhenti:
“Dulu, di sini, aku ngasih kamu setengah. Karena segitu yang aku punya. Seumur hidup aku begitu — semua aku belah dua, aku kasih yang lebih gede, aku simpen yang kecil, dan aku selalu mikir hidupku emang jatahnya yang setengah itu. Setengah rumah. Setengah keluarga. Setengah berani.” Napasnya gemetar sedikit. Dia meneruskan. “Terus kamu balik. Dan kamu nggak minta setengahku yang satunya. Kamu malah... nunjukin kalo dari dulu aku nggak pernah setengah. Aku utuh. Cuma nggak ada yang pernah bilang.”
“Jadi malem ini aku mau ngasih yang belum pernah aku kasih ke siapa pun.” Dia menyatukan dua belahan roti itu kembali, utuh, dan meletakkannya di kedua tangan Evelyn yang sudah gemetar duluan. “Yang nggak dibelah. Semuanya. Aku sayang kamu, Lyn. Aku cinta kamu. Dari yang dulu belum ngerti namanya apa, sampe yang sekarang udah berani ngomongnya. Seluruhnya. Nggak pake sisa.”
Halaman itu sunyi. Langit bersih. Evelyn berdiri memegang satu roti utuh dengan dua tangan, menangis dengan cara yang paling tidak elegan dan paling bahagia sepanjang hidupnya.
“Kamu tuh ya—“ suaranya hancur total, “—lima belas tahun nggak ngomong-ngomong, sekalinya ngomong— SIAPA YANG NGAJARIN KAMU KALIMAT KAYAK GITU—“
“Nggak ada. Tiga malem nyusun sendiri.” Jeda. “Salsa bilang udah niat.”
Dan Evelyn tertawa di tengah tangisnya, dan Adam mengangkat tangan — pelan, dengan keberanian yang dikumpulkan dari tiga malam dan lima belas tahun — menangkup wajah yang basah itu, dan mencium keningnya. Lama. Seperti menaruh sesuatu yang selama ini dia jaga.
Lalu dia mundur setengah langkah, sopan, selesai, juara satu tahu diri—
—dan Evelyn, yang sudah menunggu lima belas tahun dan memutuskan bahwa kuota menunggunya resmi habis malam ini, menarik kerah jaket abu itu dengan dua tangan.
Ciuman pertama mereka terjadi di halaman Panti Asuhan Rumah Teduh, di titik yang sama dengan setengah roti pertama, di bawah langit sehabis hujan — kikuk di detik pertama, lalu tidak lagi; pelan, hangat, dan lima belas tahun terlambat sehingga tidak buru-buru sama sekali. Roti utuh itu terjepit hati-hati di antara mereka, dijaga dua tangan Evelyn di belakang punggung Adam, karena ada barang yang tidak boleh jatuh dua kali.
Ketika mereka akhirnya berpisah — dahi menempel dahi, dua-duanya tertawa kecil tanpa suara, dua-duanya merah sampai telinga — keheningan halaman itu dipecahkan oleh satu suara kecil dari jendela kamar anak-anak, suara yang seharusnya sudah tidur dari jam sembilan:
“...Kak Salsa. Kak Salsa bangun. BUKUNYA MANA. SKORNYA TAMAT.”
Dede. Tentu saja Dede.
“DEDE!” — dua suara, serempak.
“DEDE NGGAK LIAT APA-APA! DEDE MEREM! MEREMNYA BOLONG DIKIT DOANG!”
Dan besok paginya, sebelum sarapan, seluruh panti plus Bu Ratna plus (lewat laporan pandangan mata Dede yang detailnya makin dramatis setiap pengulangan) ibu-ibu pasar sudah tahu semuanya — tapi malam itu, sepuluh menit terakhirnya, masih murni milik dua orang di halaman: duduk kembali di bangku panjang, satu roti utuh dibagi dua untuk dimakan bersama — karena roti tetap harus dimakan, itu hukumnya — satu kepala di satu bahu, dan lima belas tahun yang akhirnya, akhirnya, lunas.