← Chapters Ch. 19 / 45

Chapter Nineteen

Mode Manja Perdana

POV: Adam | ±1023 kata

Perjanjian damai itu membawa era baru, dan era baru itu punya aturan-aturan yang tidak pernah dibicarakan tapi berjalan sendiri.

Aturan satu: di kampus, mereka sekarang saling sapa. Bukan basa-basi — sapa sungguhan, kadang plus dua-tiga kalimat. Bagi orang lain ini bukan berita. Bagi yang paham sejarahnya (Annisa; Pak Yusuf; dan entah bagaimana, tukang fotokopi depan gerbang), ini setara pengumuman negara.

Aturan dua: chat mereka hidup. Masih didominasi urusan panti, tapi mulai bocor ke mana-mana — Evelyn mengirim foto sop buatannya di rumah (“nilai dong. jujur tapi bohong dikit”), Adam membalas “7. warnanya udah kayak makanan”, dan Evelyn membaca dua kata itu sambil tersenyum-senyum seperti menerima piagam.

Aturan tiga, yang paling penting dan paling tidak dibicarakan: payung biru tua kembali bertugas. Setiap langit mendung, payung itu — Adam membeli yang baru lagi, biru tua lagi, jangan tanya — muncul terselip di jok motor matic putih. Bedanya sekarang: tidak anonim lagi. Dua-duanya tahu. Dua-duanya tidak membahas. Ada hal-hal yang justru sakral karena tidak dibahas.

Sampai Jumat itu, sistem sakral tersebut mengalami gangguan teknis.

Adam ada piket labkom sampai sore — jadwal asistensi yang tidak bisa ditinggal. Langit sudah menghitam sejak jam dua. Jam empat, hujan turun seperti ditumpahkan. Dan payung biru tua, untuk pertama kalinya sejak era baru dimulai, tidak berada di tempat tugasnya.

Jam setengah enam, Adam sampai di panti — basah di bahu, setengah berlari dari parkiran — dan menemukan pemandangan yang membuatnya berhenti di pagar.

Evelyn duduk di bangku teras. Rambutnya agak lepek sisa gerimis. Di sebelahnya: payung pinjaman warna pink motif tokoh kartun, jelas milik Salsa. Dan wajahnya—

Wajahnya ditekuk. Bukan marah. Ini spesies ekspresi yang belum pernah Adam lihat di wajah itu, dan insting purbanya langsung tahu dia dalam bahaya jenis baru.

“...Eve?”

“Hm.” Tidak menoleh.

“Kamu... kehujanan?”

“Dikit.” Masih tidak menoleh. Kakinya mengayun pelan, menendang-nendang udara. “Untung ada payungnya Salsa. Untung ya. Untung.”

Adam berdiri di depan bangku, memegang tali ransel, mencoba membaca situasi dengan perangkat yang tidak dia miliki. “Aku tadi piket. Asistensi. Nggak bisa—“

“Iya. Aku tau. Kamu udah bilang di chat.” Dan akhirnya Evelyn menoleh, dan tekukan di wajahnya itu penuh, matang, diperagakan dengan komitmen total: “Tapi kan mendungnya udah dari jam DUA, Adam. Jam dua. Kamu piketnya jam tiga. Ada satu jam. Payungnya nggak dateng-dateng. Aku nungguin— eh, maksudnya, motorku nungguin.”

Adam mengerjap.

Butuh tiga detik penuh untuk memproses bahwa: satu, dia sedang dimarahi; dua, dimarahinya karena telat menaruh payung yang tidak pernah diminta siapa pun; tiga, yang memarahi menyebut dirinya sendiri lalu mengoreksi jadi motornya; dan empat — ini yang membuat sistemnya mogok total — dimarahi seperti ini rasanya kok...

...menyenangkan?

“...Maaf?” katanya, memilih respons paling aman dari katalog terbatas miliknya.

“Gitu doang?”

“Maaf... banget?”

“Ih.” Evelyn membuang muka lagi, tapi Adam sempat melihat ujung bibirnya berkedut, dan di jendela belakangnya dua belas penonton sudah menempel di kaca seperti cicak, Salsa memegang buku catatan, Dede memegang— itu skor? Mereka bikin PAPAN SKOR?

“Yaudah,” kata Evelyn kepada halaman. “Ganti ruginya, sekarang temenin aku beli gorengan di Bu Imas. Ujan-ujan gini enaknya bala-bala. Kamu yang pegang payungnya. Payung Salsa. Yang pink. Sepanjang jalan.”

“...Itu payungnya muat buat—“

“Nggak muat. Makanya jalan yang deketan.” Evelyn berdiri, menyerahkan payung pink itu, dan berjalan duluan ke pagar dengan langkah yang sudah kembali riang sepenuhnya — badai berlalu secepat datangnya, meninggalkan Adam yang baru setengah paham apa yang baru saja terjadi tapi sudah seratus persen paham bahwa dia kalah.

Di jalan menuju warung, di bawah payung pink yang memang tidak muat, terjadilah kecelakaan kecil bersejarah itu.

Evelyn sedang bercerita panjang tentang Salsa yang tadi mengoreksi PR Bima dengan gaya dosen killer, dan Adam — yang sedang sibuk membagi konsentrasi antara memiringkan payung ke sisi Evelyn dan menjaga jarak bahu tetap konstitusional — menjawab tanpa memeriksa dulu kata-katanya di pos pemeriksaan:

“Iya. Kamu juga gitu kalo ngajar, Lyn.”

Langkah Evelyn berhenti. Di tengah gerimis. Di bawah payung pink.

“...Apa tadi?”

Adam memutar ulang kalimatnya sendiri dan merasakan darahnya berpindah semua ke telinga. “Salsa. Aku bilang Salsa—“

“Habis Salsa.”

“...Kamu.”

“Habis kamu.”

Hening. Gerimis. Seekor kucing lewat.

“Lyn,” kata Adam akhirnya, pelan, kepada genangan air di dekat sepatunya. “Aku manggil kamu... Lyn. Maaf. Kelepasan. Semua orang manggil kamu Eve, jadi aku—“ dia berhenti, dan entah keberanian dari mana, mungkin sisa adrenalin dimarahi soal payung, kalimat berikutnya keluar utuh: “—jadi aku mikirnya... biar ada satu yang beda. Yang cuma... punyaku.”

Satu. Dua. Tiga detik.

“...Oh,” kata Evelyn.

Suaranya normal. Wajahnya — Adam memberanikan diri melirik — juga normal. Terlalu normal. Normal yang dijaga dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, karena di dalam sana, di balik wajah normal itu, Evelyn sedang mengalami kebakaran besar yang meruntuhkan seluruh struktur, dan satu-satunya kalimat yang selamat dari kebakaran itu, yang diteriakkan berulang-ulang oleh seluruh penghuni kepalanya, adalah: YANG CUMA PUNYAKU KATANYA. NIS. NANTI AKU CERITA. NIS.

“Yaudah,” kata Evelyn, melanjutkan jalan, wajah lurus ke depan, langkah sedikit terlalu cepat. “Boleh.”

“...Boleh?”

“Boleh.” Dia mengangkat dagu. “Tapi konsekuen ya. Sekali Lyn tetap Lyn. Nggak boleh balik ke Eve. Aku nggak terima penurunan jabatan.”

“...Iya.”

“Bala-balanya kamu yang bayar.”

“Iya.”

“Sama besok payungnya jangan telat lagi.” Dan kali ini dia menoleh, dan senyum yang sedari tadi ditahan-tahan itu akhirnya lolos sepenuhnya, gerimis jadi latar belakangnya, dan Adam memutuskan bahwa dimarahi soal payung adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. “Mendungnya jangan dilawan, Dam. Kamu bakal kalah terus.”

(Papan skor itu, untuk kepentingan sejarah, adalah karton bekas dus mi yang digantung Salsa di dinding ruang belajar, berjudul SKOR OPERASI dengan sistem penilaian yang hanya dipahami penciptanya. Malam itu, di bawah cahaya lampu ruang belajar, Salsa menambahkan tulisan baru dengan spidol yang dipinjam — tidak akan dikembalikan — dari Kak Eve:

sabtu ini: target manggil Kak Eve pake nama baru. nama rahasia. Dede denger tapi lupa. dede memang begitu. yang penting SKOR NAIK BANYAK.

Dan di bawahnya, tulisan Dede yang dieja penuh perjuangan: KAK ADAM SENYUMNYA UDAH NIAT.)

Di belakang mereka, dari jendela panti yang jaraknya sudah jauh, samar-samar terdengar sesuatu yang mirip sorakan dua belas anak — dan satu suara kecil paling nyaring, milik Dede, yang berteriak kepada dunia:

“SKORNYA NAIK! KAK SALSA! SKORNYA NAIK!”