Chapter Twenty Seven
Detektif Annisa
POV: Annisa & Adam | ±1006 kata
Annisa memulai penyelidikan resminya dengan satu prinsip yang dia pegang sejak SMA: kalau dua orang bodoh saling menyayangi, dibutuhkan satu orang waras yang bersedia capek.
Langkah satu: konfirmasi alibi. “Jumat itu,” dia menginterogasi Evelyn sambil menyetir, “jam berapa persisnya Raka jemput? Menit. Aku butuh menit.”
“Jam satu-an? Kelasku bubar jam satu kurang, aku langsung turun karena Raka udah chat ‘depan’. Nis, kamu mau ngapain sih—“
“Terus lo ngapain aja di depan lobi? Detail. Reka ulang.”
“Ya biasa aja! Ketemu, aku pukul dia karena minggu lalu dia ngatain fotoku, terus—“ Evelyn mengingat, makin pelan, makin ngeri, “—terus dia meluk bentar, cipika-cipiki, ngacak rambutku, aku masuk mobil. Nis. Nis, kalau diliat orang yang nggak tau, itu...”
“Itu trailer film romantis,” kata Annisa datar. “Lengkap. Tinggal judulnya.”
Langkah dua: konfirmasi keberadaan tersangka korban di lokasi. Ini yang paling sulit, dan di sinilah sejarah mencatat jasa dua belas informan cilik.
Sabtu siang, Annisa datang ke Rumah Teduh untuk pertama kalinya — memperkenalkan diri ke Bu Ratna sebagai “temannya Eve, mau bantu-bantu” — dan dalam satu jam berhasil direkrut paksa menjadi juri lomba gambar. Di sela-sela menilai dua belas kuda yang semuanya mirip kecoa, dia bertanya, santai, kepada ketua intelijen setempat:
“Salsa. Kakak boleh nanya nggak. Kak Adam hari Jumat dua minggu lalu — yang sebelum dia mulai sibuk — dia ada cerita mau ke mana nggak habis kuliah?”
Salsa menatapnya lima detik penuh, lalu membuka buku catatannya ke halaman yang sudah ditandai.
“Kamis sore dia belajar masak sama kami,” lapor Salsa. “Sop bening, ayam kecap, tumis buncis. Dimarahin dua kali soal garem. Kotak bekelnya biru tua, dua tingkat. Dede yang kasih tau jadwal kelasnya Kak Eve, Jumat selesai jam satu.” Dia menutup buku. “Kami udah nunggu laporannya sampe sekarang. Nggak pernah dateng. Sabtunya Kak Adam mulai aneh.”
Annisa menatap anak sepuluh tahun itu dengan hormat yang tulus. “Kamu kalau udah gede mau kerja apa? Kakak mau invest.”
Maka lengkaplah rekonstruksinya, dan malam itu Annisa menyusunnya untuk Evelyn dengan papan tulis kecilnya, dan menyaksikan sahabatnya hancur pelan-pelan di setiap poin: Adam belajar masak dua hari. Untuk bekal. Untuk Evelyn. Diantar Jumat siang, jam satu, ke gedung Manajemen. Tepat ketika Evelyn berlari turun tangga ke pelukan Raka.
“Dia bawa bekel, Nis.” Suara Evelyn nyaris tidak keluar. “Dia belajar masak. Dia yang nggak pernah berani ngapa-ngapain duluan, sekali-kalinya dia maju duluan, dan yang dia liat—“
“Makanya sekarang kita benerin,” kata Annisa. “Besok. Dan bukan kamu yang maju duluan. Aku.”
“Kenapa kamu?”
“Karena kamu itu pihak. Semua kata-katamu bakal dia sortir. Aku saksi netral — yaaa, netral-netral gemes.” Annisa mengecek sesuatu di ponselnya. “Anak labkom bilang dia tiap malem di sana. Besok sore aku samperin. Kamu — dengerin baik-baik — kamu nggak ikut. Kamu nunggu.”
(Langkah tiga, persiapan lapangan, diselesaikan Annisa hari Sabtu dengan efisiensi yang menakutkan: satu anak labkom disuap dua gelas kopi susu untuk membocorkan jam berapa “kak yang jaket abu” biasanya sendirian; satu draft skenario pembicaraan disusun di notes ponsel, direvisi empat kali; dan satu pesan dikirim ke Evelyn berbunyi “besok sore. kamu di rumah aja. berdoa. jangan chat dia apapun yang terjadi” — yang dibalas Evelyn dengan tujuh pertanyaan dan tidak satu pun dijawab.)
Minggu sore, pintu labkom diketuk. Adam membukanya dan menemukan cewek yang dia kenali samar sebagai sahabatnya Evelyn — dan refleksnya langsung menoleh mencari orang kedua.
“Sendirian,” kata Annisa, membaca gerakan itu. “Boleh masuk? Lima menit. Habis itu aku pergi, mau kamu usir juga gapapa.”
Adam, yang tidak pernah punya protokol untuk situasi ini, minggir dari pintu.
Annisa tidak duduk. Dia berdiri, menatap cowok di depannya — lebih kurus dari yang diceritakan, matanya kurang tidur, dan di sekelilingnya ada jenis rapi yang menyedihkan: meja tertata, kode berjalan, semuanya berfungsi, seperti rumah yang bersih karena penghuninya sudah siap pindah.
“Aku nggak akan basa-basi. Jumat, dua minggu lalu, depan gedung Manajemen. Kamu di sana. Bawa bekel.”
Wajah Adam berubah — sepersekian detik pertahanannya bocor sebelum ditambal lagi. “...Nggak tau maksudnya—“
“Sop bening, ayam kecap, tumis buncis. Kotak biru tua. Aku dapet laporannya dari intel sepuluh tahun yang nyatet garem kamu diprotes dua kali.” Annisa melihat bahu cowok itu turun, menyerah pada fakta. “Dan yang kamu liat di lobi: cowok, mobil sport, meluk Eve, ngacak rambutnya. Terus kamu pulang, dan mulai Sabtu-nya kamu matiin semua lampu satu-satu. Bener sampe sini?”
Adam diam. Diamnya mengiyakan.
“Namanya Raka,” kata Annisa. “R-A-K-A. Anak tante Laras — adiknya mamanya Eve. Sepupu. Sepupu yang tiap dateng kerjaannya ngatain foto Eve jelek terus dipukulin. Jumat itu mereka jenguk oma mereka di rumah sakit. Omanya. Yang operasi lutut.”
Ruangan itu hening. Komputer-komputer berdengung pelan.
“Sepupu,” ulang Adam akhirnya. Suaranya aneh, seperti orang mengeja kata asing.
“Sepupu.” Annisa mengangguk. “Dan sekarang bagian yang bikin aku pengen jitak kamu, tapi aku tahan karena kata Eve kamu gampang kabur. Kamu — yang katanya juara satu merhatiin hal kecil, yang apal dia benci becek dari denger sekali — nemu satu data gede yang nggak cocok sama semua data lainmu, dan bukannya nanya, kamu langsung bikin kesimpulan, terus... eksekusi. Rapi banget lagi eksekusinya. Payungnya, mejanya, piring bala-balanya. Kamu tau nggak dia ngitungin itu satu-satu? Dia nangis di dapur panti gara-gara piring, Adam. PIRING.”
Adam memejamkan mata. Setiap kata mendarat, dan tidak ada satu pun yang bisa dia tangkis, karena semuanya benar, dan yang paling benar sekaligus paling tidak tertahankan adalah gambar Evelyn menangis karena piring kecil yang dia pikir tidak pernah disadari siapa-siapa.
“Aku selesai. Eh, satu lagi.” Annisa berhenti di pintu, dan menembakkan kalimat penutup yang sudah dia siapkan dari rumah: “Yang di panggung itu — ‘udah lama suka sama orang lain, lama banget’ — aku satu-satunya orang yang tau siapa yang dia maksud. Udah lima belas taun aku yang dengerin. Aku nggak akan bilang siapa. Bukan hak-ku.” Dia membuka pintu. “Tapi kamu, tukang data. Lima belas taun. Itung aja mundur. Terus tanya diri kamu sendiri: lima belas taun yang lalu... kamu lagi di mana?”
Pintu ditutup.
Dan Adam berdiri sendirian di labkom yang berdengung, dengan satu angka berputar di kepalanya seperti kunci yang mencari lubangnya.
Lima belas tahun.