Chapter Thirty Three
Viral
POV: Adam | ±1043 kata
Adam bangun jam enam pagi karena ponselnya bergetar tidak berhenti.
Instingnya bilang SiTeduh error. Dia meraih ponsel dengan mata setengah terbuka, siap membaca laporan sistem — dan yang dia temukan adalah tujuh belas chat dari nomor-nomor yang tidak dia simpan, dua dari teman sekelompok yang hampir tidak pernah chat, dan satu dari Evelyn, dikirim jam lima pagi:
Lyn: dam. bangun jangan kaget. jangan buka menfess dulu. telfon aku dulu ya. tarik nafas dulu.
Adam, sebagai manusia, tentu saja langsung membuka menfess.
Dan menemukan dirinya sendiri.
Foto buram di dekat pasar. Foto trotoar minimarket. Foto baru yang muncul semalam: diambil di parkiran kampus, jelas, wajahnya kelihatan — sedang menyelipkan payung biru tua ke jok motor matic putih. Caption: “UDAH KETEMU. anak Informatika. namanya adam katanya. yang tau info share dong”
Enam ribu komentar.
Adam duduk di kasur lantainya, jam enam pagi, dan membaca internet membicarakan dirinya.
“adam yang mana dah. gapernah denger” — “anak pojok itu bukan sih yang ga pernah ngomong” — “GUE SEKELAS SAMA DIA DUA SEMESTER BARU TAU NAMANYA ADAM” — “kok bisa dapet evelyn????” — “cek ig nya ga ada. aneh bgt jaman gini ga ada sosmed” — “denger2 anak panti ya” — “pantes deket, evelyn kan sering csr2 gitu, mungkin awalnya kasian” — “matre alert ga sih. sori jahat tp mikir aja logis” — “jaketnya itu2 mulu liat deh semua foto” — “eh tapi yang naro payung itu sweet bgt sumpah” — “MATRE KOK NARO PAYUNG. matre tuh minta dibeliin. lu pada kenapa sih”
Dia berhenti membaca di suatu titik. Bukan karena tercabik — anehnya bukan itu yang pertama. Yang pertama datang adalah sensasi yang lebih tua dan lebih fisik: seperti mimpi berdiri di lapangan upacara dan sadar tidak pakai seragam. Seumur hidup dia membangun satu keahlian — tidak terlihat — dan pagi ini enam ribu orang sedang mengedarkan fotonya sambil memperdebatkan isi dompet dan niat hatinya.
Telepon Evelyn masuk. Dia mengangkatnya.
“Dam. Kamu buka ya. Padahal udah dibilangin.” Suara Evelyn tenang — tenang yang dibangun, tenang kapten kapal. “Dengerin aku. Ini bakal berlalu. Anak kampus tuh seminggu juga ganti topik. Kamu jangan baca komen, jangan bales apa-apa, kita jalanin normal—“
“Lyn.” Suara Adam sendiri terdengar jauh di telinganya. “Yang komen ‘awalnya kasian’... udah enam ratus like.”
Hening sebentar di seberang.
“Aku tau.” Dan tenang kapten kapal itu retak satu garis, jadi suara yang lebih keras dan lebih sakit: “Aku baca semuanya. Dan aku pengen bales satu-satu, Dam, sumpah jempolku udah gatel dari jam empat— tapi kalau aku ngamuk sekarang malah tambah rame. Makanya aku butuh kamu jangan ke mana-mana dulu. Jangan masuk mode itu. Aku kenal kamu. JANGAN.”
“...Mode apa.”
“Mode pamit pelan-pelan.” Tepat sasaran. “Aku denger napasmu, Adam. Kamu lagi ngitung. Berhenti ngitung.”
Hari itu Adam berangkat kuliah dan merasakan hidup sebagai tontonan dalam arti harfiah: kepala-kepala menoleh di koridor, bisik yang tidak disembunyikan, dua adik tingkat yang minta foto (“buat story doang bang, bercanda deng, eh beneran boleh ga”), dan dosen MKU yang menatapnya dua detik lebih lama dari biasanya saat absen. Di kantin, meja pojoknya — meja pojoknya sendiri — sudah diduduki orang-orang yang jelas berharap dia datang.
Dia makan di tangga darurat, sendirian, dan untuk pertama kalinya sejak SMA menghitung berapa jam lagi hari ini selesai.
Satu pengecualian terjadi di perpustakaan, siang itu, dan menjadi legenda kecil di kalangan yang menyaksikan.
Adam mencoba berlindung di meja pojoknya — teritori terakhir — dan tiga mahasiswa mengikutinya masuk, ponsel siaga, berbisik-bisik sambil mengambil posisi memotret dari balik rak.
Mereka tidak pernah sampai memotret.
Karena Pak Yusuf muncul di ujung rak seperti tumbuh dari lantai, mengambil tiga buku tebal dari troli, dan menyodorkannya ke tangan masing-masing pemburu dengan senyum penjaga perpustakaan yang tidak bisa ditolak: “Kebetulan. Bantu bapak taruh ini di lantai satu ya. Jauh ya nak, iya, di lantai satu.” Dan begitu ketiganya pergi dengan bingung membawa jurnal metalurgi, lelaki tua itu lewat di depan meja pojok, tidak berhenti, tidak menoleh, cuma berkata pelan sambil merapikan kursi:
“Di perpustakaan dilarang berisik. Sama dilarang kurang ajar. Belajar yang tenang, Mas Adam.”
Itu pertama kalinya Pak Yusuf menyebut namanya. Adam baru sadar orang itu tahu.
Yang menyelamatkannya sore itu — dan dia tidak akan pernah lupa — adalah dua belas orang.
Karena begitu dia masuk pagar panti, dunia kembali ke ukuran yang benar: Dede menabrak kakinya dengan berita maha penting bahwa giginya copot satu, Salsa menagih janji soal PR pecahan, Bima melaporkan skor bola bekel, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu atau peduli bahwa Kak Adam sedang jadi topik nomor satu di internet kampus. Di sini dia bukan trending. Di sini dia jadwal — dan jadwal tidak bisa viral.
“Kak Adam kok lemes?” tanya Dede, dari pangkuan, memamerkan bekas giginya.
“Nggak lemes. Kenyang.”
“Kenyang kok mukanya gitu.”
“Kenyangnya kebanyakan,” kata Adam, dan memeluk bocah itu sedikit lebih lama dari biasanya.
Tapi malam menunggu di kontrakan, dan malam — seperti kata Bu Ratna — adalah pengacara paling jahat.
Jam dua belas, Adam berbaring menatap langit-langit, dan komentar-komentar itu memutar ulang dirinya sendiri tanpa diminta. Awalnya kasian. Matre alert. Kok bisa dapet Evelyn. Dan penjaga tua di kepalanya — yang sudah lama cuti, yang dia kira sudah dipecat — ternyata cuma menunggu amunisi, dan malam ini gudangnya penuh:
Denger tuh. Bukan cuma aku yang mikir gitu. Enam ribu orang, Adam. Mereka baru liat sehari udah nyampe kesimpulan yang aku bilangin dari dulu. Kamu pikir mereka semua salah dan kamu doang yang bener?
Adam bangkit, duduk, menyalakan lampu.
Dia menatap pintu lemari plastik itu. Membukanya. Barisan kuning-pink, dan di tengahnya sekarang sticky note-sticky note tulisannya sendiri — arsip yang hidup, yang tumbuh, yang dua nama.
Janji, katanya dalam hati, kepada barisan itu, kepada halte, kepada perempuan yang jam segini mungkin sedang perang menahan jempolnya. Nggak matiin lampu. Nanya dulu.
Dia mengambil ponsel dan mengetik — pelan, jujur, tanpa pos pemeriksaan:
Adam: lyn. masih bangun?
Adam: aku ga akan kemana2. cuma mau bilang: hari ini berat. beneran berat. aku ga apal caranya diliatin orang
Adam: tapi aku ga ngitung. udah janji.
Balasan datang dalam sebelas detik, seperti sudah menunggu di depan pintu:
Lyn: aku disini
Lyn: besok makin berat ga apa2. kita gantian megangin payungnya
Lyn: dan dam
Lyn: makasih udah bilang. itu doang yang aku minta seumur hidup