← Chapters Ch. 1 / 45

Chapter One

Cowok Bangku Pojok

POV: Adam (ditutup Evelyn) | ±1017 kata

Lima belas tahun yang lalu, di halaman sebuah panti asuhan, ada anak perempuan berbaju paling bagus yang berdiri paling jauh dari semua orang.

Anak-anak lain bermain kejar-kejaran. Orang-orang dewasa sibuk memotret spanduk bertuliskan Bakti Sosial. Dan anak perempuan itu cuma berdiri di dekat pagar, memeluk boneka yang harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi panti, dengan wajah yang tidak tahu harus ke mana.

Seorang anak laki-laki menghampirinya. Kurus, kaosnya kebesaran, rambutnya berantakan. Di tangannya ada satu roti manis — jatah yang cuma datang kalau ada tamu.

Anak laki-laki itu membelah rotinya jadi dua, lalu menyodorkan setengahnya.

“Nih.”

“...Aku nggak boleh jajan sembarangan.”

“Ini bukan jajan. Ini dikasih.” Anak itu menyodorkannya lebih dekat. “Kamu kelihatan lebih laper daripada kami.”

Anak perempuan itu bengong. Lalu, pelan-pelan, dia menerima setengah roti itu.

Sore itu, untuk pertama kalinya, dia main kejar-kejaran sampai keringatan. Sampai bonekanya kotor kena tanah dan dia tidak peduli. Sampai dipanggil pulang dan dia menolak, ditarik, hampir nangis.

Sebelum masuk mobil, dia berlari balik, menyodorkan sesuatu ke anak laki-laki itu. Origami bangau dari kertas motif bunga.

“Buat kamu. Aku bikin sendiri.”

“Kok dikasih aku?”

Anak perempuan itu mikir sebentar. “Biar kamu nggak lupa.”

Mobil hitam itu pergi. Dan tidak pernah kembali.


Lima belas tahun kemudian, Adam berdiri di depan cermin retak di kontrakannya, memakai jaket abu yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi.

Bukan karena dia tidak punya baju lain. Dia punya. Tiga.

Tapi jaket abu itu paling awet, paling tidak mencolok, dan paling bisa diandalkan untuk misi terpenting dalam hidupnya: tidak terlihat.

Kontrakan Adam cuma satu petak. Kasur lantai, satu lemari plastik, satu meja lipat yang penuh kabel dan laptop bekas yang kipasnya bunyi kayak orang ngorok. Di dinding tertempel kertas berisi tabel yang sudah lecek dilipat-buka ratusan kali.

Sisa dana: cukup 5 semester. Syarat: makan 2x. Bensin seminggu 20 ribu. Tidak ada pengeluaran bodoh.

Adam menatap tabel itu sebentar — kebiasaan tiap pagi, kayak orang lain ngaca. Buat sebagian orang, kuliah itu masa paling bebas. Buat Adam, kuliah itu matematika. Uang santunan kematian orang tuanya adalah satu-satunya warisan yang dia punya, dan angka itu tidak boleh salah hitung. Salah hitung artinya berhenti kuliah. Berhenti kuliah artinya semua perhitungan orang-orang yang dulu memandangnya kasihan jadi benar.

Dia tidak akan membiarkan mereka benar.

Sebelum berangkat, ada satu ritual lagi.

Warung Bu Nah di ujung gang sudah buka, dan seperti tiap pagi, Adam membeli satu roti manis — roti paling murah, yang plastiknya cuma bertuliskan merek fotokopian. Dan seperti tiap pagi pula, sebelum naik motor, dia membelah roti itu jadi dua. Setengah dimakan sekarang, sebagai sarapan. Setengahnya lagi dibungkus balik, masuk ransel, untuk makan siang.

Bu Nah, yang sudah dua tahun menonton ritual ini, pernah bertanya kenapa tidak beli dua sekalian.

“Sama aja, Bu,” jawab Adam waktu itu. “Ini cuma... kebiasaan.”

Dia tidak bercerita bahwa kebiasaan itu lebih tua dari kontrakan ini, lebih tua dari statusnya sebagai mahasiswa. Bahwa di panti dulu, roti adalah barang mewah yang cuma datang kalau ada tamu — dan anak-anak yang besar di sana belajar satu matematika yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: satu roti yang dibagi dua rasanya lebih kenyang daripada satu roti yang dimakan sendiri.

Dia sudah lupa dari mana persisnya kebiasaan itu bermula. Yang tertinggal cuma gerakannya: belah dua, simpan setengah.

Ada hal-hal yang menetap di tangan lebih lama daripada di ingatan.

Adam mengunci pintu, memanaskan motor bebeknya yang butuh tiga kali engkol, dan berangkat ke hari pertama semester lima.


Kampus di hari pertama semester itu berisik dengan cara yang membuat Adam ingin pulang.

Semua orang saling teriak nama. Pelukan-pelukan reuni. Cerita liburan. Adam melewati semuanya seperti air melewati batu — tidak menabrak siapa-siapa, tidak disapa siapa-siapa. Ini keahliannya. Empat semester dia sempurnakan: jalan di pinggir, duduk di pojok, datang tepat waktu supaya tidak perlu ngobrol basa-basi, pulang duluan supaya tidak diajak nongkrong.

Bukannya dia benci orang. Dia cuma... tahu diri. Ngobrol butuh bahan. Bahannya biasanya: nonton apa, liburan ke mana, nongkrong di mana. Adam tidak punya satu pun dari itu. Yang dia punya cuma jadwal, tabel, dan alasan pulang cepat.

Saking sempurnanya keahlian itu, semester lalu terjadi insiden yang Adam ceritakan kepada tidak seorang pun (karena memang tidak ada yang bisa diceritakan): dosen pembimbing akademiknya, selama dua semester penuh, memanggilnya “Adi”. Adam tidak pernah mengoreksi. Mengoreksi butuh momen, momen butuh percakapan, dan rasanya tidak sebanding. Lagipula Adi juga nama yang bagus. Di daftar absen dia tetap Adam; di dunia nyata dia boleh jadi siapa saja, toh tidak ada yang memakai namanya untuk memanggil.

Lagipula, tidak ada yang pernah benar-benar mencari Adam.

Dia baru saja mau belok ke arah gedung fakultas ketika koridor mendadak... melambat.

Bukan melambat beneran. Tapi begitulah rasanya setiap kali dia lewat.

Evelyn.

Adam tidak tahu banyak tentang cewek itu — dia bukan tipe yang mengikuti gosip kampus. Tapi ada hal-hal yang tidak butuh gosip untuk diketahui, karena udara pun seperti ikut mengumumkannya. Bahwa Evelyn itu anak konglomerat. Bahwa Evelyn itu ramah, tidak sombong, dan justru itu yang bikin satu kampus makin tergila-gila. Bahwa senyum Evelyn pernah menyebabkan seorang mahasiswa menabrak pintu kaca.

Dan bahwa cewek seperti itu hidup di orbit yang tidak akan pernah bersinggungan dengan cowok jaket abu dari bangku paling pojok.

Evelyn lewat, dikelilingi teman-temannya, tertawa karena sesuatu. Rambutnya kena cahaya jendela koridor dan Adam — bodohnya — berhenti setengah langkah.

Cantik. Ya sudah. Fakta. Sama seperti matahari itu panas. Kamu boleh tahu faktanya, tapi kamu tidak berdiri menatap matahari lama-lama. Bisa buta.

Adam menunduk, membetulkan tali ranselnya, dan berjalan lagi. Dalam hati, dia merapikan pikirannya sendiri seperti melipat tabel keuangan: Bukan levelmu. Jangan mulai. Kamu nggak punya anggaran buat patah hati.

Dia berbelok ke tangga dan tidak menoleh lagi.

Makanya dia tidak melihat.

Dia tidak melihat bahwa di tengah koridor itu, Evelyn berhenti tertawa.

Tidak melihat cewek itu menoleh — bukan ke arah teman-temannya, bukan ke arah cowok-cowok yang mencuri pandang — tapi ke punggung berjaket abu yang menjauh di tangga.

Temannya menyenggol. “Eve? Liatin apa?”

“Hah? Nggak.” Evelyn tersenyum, senyum yang biasa dia pakai untuk publik. “Kayak kenal aja.”

Padahal jantungnya sedang berisik sekali.

Ketemu.