← Chapters Ch. 8 / 45

Chapter Eight

Sakit Seminggu

POV: Evelyn & Adam | ±1033 kata

Evelyn menghilang dari kampus hari Senin.

Adam menyadarinya dengan cara yang memalukan: jam sepuluh pagi, di kelas MKU, matanya sudah tiga kali melirik bangku dua baris di depan pojok kiri — dan tiga kali menemukan bangku itu kosong. Tidak ada laptop stiker bunga. Tidak ada rambut yang kena angin AC.

Bukan urusanmu, kata penjaga di kepalanya.

Selasa, bangku itu masih kosong. Meja jendela selatan di perpustakaan juga. Rabu, sama.

Kamis, Adam mendengarnya tanpa sengaja dari dua mahasiswi di depannya saat antre fotokopi: “Evelyn masih sakit ya? DBD katanya. Udah dari minggu lalu drop— ih kasian, minggu depan kan kuis MKU.”

Adam pulang ke kontrakan malam itu dan mendapati dirinya tidak bisa fokus mengetik satu baris kode pun.

Bukan urusanmu, penjaga itu mengulang.

Tapi ada suara lain yang lebih tua dari penjaga itu. Suara yang terbentuk dari bertahun-tahun tinggal di rumah penuh anak-anak yang sering sakit bergantian: orang sakit itu nggak butuh kamu jadi siapa-siapanya. Orang sakit cuma butuh dibantu.

Dan kalau dipikir-pikir — Adam memang juara satu dalam membantu tanpa menjadi siapa-siapa.

Jumat sore, Adam duduk di mejanya di perpustakaan, tapi bukan untuk dirinya. Di depannya terbuka catatan MKU miliknya sendiri — rapi, lengkap, dengan diagram-diagram kecil di pinggir halaman. Dia menyalin semuanya ke buku tulis baru (beli di koperasi, 7 ribu, sudah dia relakan dari jatah gorengan). Bukan difotokopi. Disalin tangan. Karena catatan aslinya bercampur dengan coretan-coretan pribadi, dan karena... entahlah. Rasanya harus disalin.

Butuh tiga jam. Tangannya pegal. Di bagian bab tiga, yang minggu lalu dijelaskan dosen dengan kecepatan kereta ekspres, Adam berhenti, berpikir, lalu menempelkan satu sticky note kuning:

“bab 3 dosennya ngebut. pelan-pelan aja bacanya. yang penting sembuh dulu.”

Dia menatap kalimat terakhir itu. Yang penting sembuh dulu. Terlalu... perhatian. Ketahuan. Dia hampir mencabutnya.

Tidak jadi.

(Suara kecil yang bandel itu menang satu ronde. Kadang-kadang dia menang.)

Senin pagi, sebelum kampus ramai, buku tulis itu sudah berpindah ke dalam loker Evelyn — diselipkan lewat celahnya, tanpa nama, oleh seseorang yang datang jam setengah tujuh pagi khusus untuk itu dan langsung pergi ke gedung lain dengan jantung berdebar seperti maling.


Evelyn menemukannya hari Rabu, hari pertama dia masuk lagi — masih agak pucat, masih dipapah larangan mamanya lewat telepon setiap dua jam.

Dia membuka loker untuk menaruh helm, dan sebuah buku tulis biasa jatuh ke tangannya.

Dia membukanya.

Dan berdiri di depan loker itu selama lima menit penuh, tidak bergerak, sampai Annisa yang menyusul dari parkiran menemukannya dalam kondisi memeluk sebuah buku tulis seharga tujuh ribu rupiah seperti memeluk barang paling mahal di dunia.

“Eve? Kamu nangis?!”

“Nggak,” kata Evelyn, sambil nangis.

“Itu apa— buku apa itu?”

“Catatan.” Suara Evelyn pecah di tengah. “Disalin tangan, Nis. Ada diagramnya. Ada... ada sticky note-nya. Suruh aku pelan-pelan bacanya. Suruh aku sembuh dulu.”

Annisa mengambil buku itu, membacanya, membaca sticky note-nya, lalu menatap sahabatnya yang berantakan.

“...Oke,” kata Annisa akhirnya, menyerah pada sesuatu yang lebih besar dari logika. “Aku tarik semua ledekanku. Cowok ini bahaya beneran.”

Ada satu hal yang Evelyn tidak tahu tentang hari Rabu itu.

Bahwa di ujung koridor loker, di balik tiang yang posisinya strategis, seseorang berdiri lebih lama dari yang diperlukan siapa pun untuk minum di dispenser. Seseorang yang jam setengah tujuh pagi kemarin lusa jadi maling, dan hari ini datang lagi ke lokasi kejadian — bukan untuk apa-apa. Cuma memastikan.

Memastikan bahwa yang jalan di koridor itu benar sudah sehat. Jalannya masih pelan, catat bagian kepala Adam yang tidak bisa dimatikan. Masih agak pucat. Tapi udah bisa ketawa sama temannya. Berarti beneran sembuh. Bagus. Sudah. Pulang.

Dia baru mau melangkah pergi ketika Evelyn — mungkin karena merasakan sesuatu, entah radar jenis apa yang dipasang cewek itu — menoleh ke arah tiang dispenser.

Satu detik. Mata bertemu mata, untuk kedua kalinya dalam sejarah.

Adam melakukan hal paling masuk akal menurut sistem sarafnya: berbalik badan sembilan puluh derajat dan berjalan pergi dengan kecepatan orang yang ketinggalan kereta, menabrak satu kursi, meminta maaf kepada kursinya, lalu hilang di tikungan.

Evelyn berdiri di depan lokernya, memeluk buku tulis tujuh ribuan itu, dan tersenyum sampai matanya hilang.

Dia tidak mengejar. Aturan mainnya sudah dia pahami sekarang: kucing liar tidak dikejar.

Tapi diam-diam dicatat, dengan tinta paling tebal di hatinya: dia nengokin aku.

“Eh tapi bentar,” kata Annisa waktu itu, masih memegang buku tulisnya, kening berkerut. “Kamu yakin ini dari dia? Nggak ada nama lho. Gimana kalau ternyata dari cowok lain? Secret admirer kamu kan satu batalyon.”

Evelyn mengambil buku itu kembali, membukanya di halaman sembilan, dan menunjuk satu kata di tengah catatan.

“Nis. Liat huruf ‘k’-nya.”

“...Kenapa emangnya huruf ‘k’-nya.”

“Kakinya nggak nyambung. Nulisnya patah dua kali. Aku udah baca tiga puluh dua sticky note dengan huruf ‘k’ kayak gini.” Evelyn menutup buku itu dan memeluknya lagi, dagunya terangkat, matanya masih bengkak tapi nadanya juara satu. “Aku bisa bedain tulisan dia dari tulisan seluruh cowok di kampus ini sambil merem.”

Annisa menatap sahabatnya lama sekali.

“Tiga puluh dua,” ulangnya datar. “Kamu ngitungin.”

“Aku ngearsipin. Beda.”

“Ya ampun. Kalian berdua tuh ya—“ Annisa mengurut pelipisnya, tidak tahu bahwa kalimat itu lebih tepat dari yang dia kira. “—pantesan jodoh. Sama-sama nggak waras dengan cara yang rapi.”

Malamnya, di kamar besarnya yang sepi, Evelyn duduk bersandar di kepala tempat tidur, membaca catatan itu pelan-pelan seperti disuruh. Setiap halaman rapi. Setiap halaman berjam-jam. Setiap halaman adalah suara orang yang sama, yang memberi payung tanpa nama, yang menjaga meja tanpa mengaku, yang membalas sticky note lalu tiba-tiba berhenti—

Berhenti.

Evelyn menurunkan buku itu, menatap langit-langit.

Dia mengerti sekarang. Sticky note terakhirnya. “Bukunya... sama orangnya juga kayaknya :)” Dia melangkah satu senti terlalu dekat — dan cowok itu mundur satu meter. Persis kata Annisa: larinya justru kalau mulai suka.

“Gitu ya mainnya,” bisik Evelyn ke langit-langit kamarnya. Dia mengusap sisa air matanya, dan yang tumbuh menggantikannya adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sedih: tekad.

“Yaudah. Kamu boleh mundur, Dam.”

Dia memeluk buku tulis tujuh ribuan itu.

“Tapi aku nggak akan ke mana-mana. Kita liat siapa yang capek duluan.”

Eve: nis. aku udah mutusin.
Annisa: apa lagi
Eve: aku mau masuk ke dunianya. bukan nunggu dia keluar.
Annisa: maksudnya??
Eve: dia tiap sabtu sore ke satu tempat. selalu. dari dulu.
Eve: dan aku tau tempatnya di mana.