Chapter Twenty One
Pura-Pura Tidur
POV: Adam & Evelyn | ±1085 kata
Rahasia labkom itu terbongkar gara-gara sebungkus nasi.
Rabu malam, jam sembilan, Evelyn baru selesai rapat tugas kelompok dan sedang berjalan ke parkiran ketika melihat satu-satunya jendela yang masih terang di gedung fakultas: labkom lantai dua. Dan di jendela itu, siluet yang dia hafal di mana pun, membungkuk di depan monitor.
Jam segini?
Dia mengecek chat mereka. Balasan terakhir Adam sore tadi: maaf ya bales lama, lagi ngerjain proyek dikit. Dikit. Jam sembilan malam. Evelyn menatap jendela terang itu, menatap arah parkiran, menatap jendela lagi — lalu berbelok ke warung depan gerbang.
Lima belas menit kemudian, pintu labkom diketuk. Adam membukanya dan menemukan Evelyn berdiri dengan dua bungkus nasi ayam, dua teh kotak, dan ekspresi petugas razia.
“‘Dikit,’“ kutip Evelyn. “Katanya.”
“...Ini emang dikit,” kata Adam, refleks bergeser menutupi monitor dengan badannya, gerakan yang dua-duanya sadari terlambat. “Kok kamu—“
“Jendelanya terang. Aku belum makan. Kamu — jangan bohong — juga belum.” Dia menyodorkan satu bungkus dan masuk begitu saja, karena era baru mereka sudah mengajarinya satu hal: kalau menunggu diizinkan masuk oleh cowok ini, kamu akan tua di depan pintu. “Makan dulu. Habis itu terserah mau lanjut, aku nemenin sambil ngerjain punyaku.”
Mereka makan di meja ujung, di antara komputer-komputer tidur. Dan sesudahnya, ketika Adam kembali ke monitornya, Evelyn menarik kursi ke sebelahnya — jarak sejengkal resmi — dan untuk pertama kalinya melihat layarnya dari dekat.
Bukan tugas kuliah. Barisan kode, dan di jendela lain, tampilan yang dia kenal: dashboard dengan logo kecil bergambar atap rumah. Dashboard yang sama dengan situs tempat “Hamba Allah” mengirim donasi tiap bulan.
Jantung Evelyn berhenti sebentar.
“Ini...” dia menjaga suaranya tetap ringan, “...sistem donasi yang dipake panti kita?”
“He-eh.” Adam mengetik, setengah fokus. “Yang bikin... aku. Dulu iseng. Buat bantu Bu Ratna aja awalnya, biar laporannya nggak tulis tangan.” Jeda mengetik. “Sekarang... ada beberapa panti lain ikut make. Jadi kalo malem gini suka ada yang perlu dibenerin. Bukan apa-apa kok. Proyek kecil.”
Evelyn menatap layar itu — daftar yayasan di panel kiri, jumlahnya digulung ke bawah dan terus ke bawah, jelas bukan “beberapa” — lalu menatap profil cowok di sebelahnya, yang menyebut semua ini bukan apa-apa dengan nada yang sama seperti menyebut kerupuknya pedas.
Satu keping lagi, pikirnya. Berapa banyak sih keping yang kamu umpetin, Dam?
Dia tidak mengejar. Kucing liar tidak dikejar. Dia cuma mencatat, di arsip yang makin tebal, dan berkata: “Proyek kecilmu bagus. Tampilannya rapi.”
“...Makasih.” Telinga merah. Data tercatat.
Krisis kecil sempat terjadi di menit kedua puluh.
Adam, sambil menjelaskan sepotong-sepotong (“ini panel donasi... ini laporan otomatisnya... yang ini masih jelek, belum sempet”), menggulirkan layar — dan di panel donatur, tersusun berdasarkan kontribusi, baris paling atas terpampang jelas: Hamba Allah — donatur rutin.
“Nah ini,” kata Adam, nadanya menghangat tanpa dia sadari, “penyelamat. Dateng tiba-tiba beberapa bulan lalu, rutin terus tiap bulan, nggak pernah mau dikontak. Gara-gara dia susu anak-anak aman, tangga lipat keganti. Aku suka doain, siapa pun dia.”
“Hmm,” kata Evelyn, dengan wajah paling netral yang pernah diproduksi wajahnya, sambil dalam hati menjerit dan mencatat untuk menelepon banknya besok memastikan tidak ada satu pun jejak nama. “Baik banget ya orangnya. Pasti... cantik.”
“...Kok cantik?”
“Feeling. Eh itu grafik apa? Yang warna ijo? Jelasin dong.” (Pengalihan isu: berhasil. Telinga aman. Krisis selesai.)
Jam sepuluh lewat, tugas Evelyn selesai, dan niat “nemenin sambil ngerjain” memasuki fase yang tidak direncanakan: dia menggeser dua kursi jadi sejajar, duduk menyamping, kepala bersandar ke sandaran kursi, “merem lima menit doang,” katanya.
Lima menit itu berumur panjang.
Adam baru sadar setengah jam kemudian, ketika suara di sebelahnya sudah lama hilang. Dia menoleh: Evelyn tertidur sungguhan, meringkuk di dua kursi, rambut jatuh menutupi sebagian wajah, dan tangan kanannya menggantung lepas di sisi kursi — terkulai, terbuka, sejangkauan dari tangan Adam di atas meja.
Adam menatap tangan itu.
Kembali ke monitor. Mengetik dua baris. Menoleh lagi.
Tangan itu masih di sana. Menggantung. Pasti pegal kalau dibiarkan, kata sebuah suara di kepalanya yang jelas-jelas sedang mencari pembenaran. Nanti kesemutan. Ini soal sirkulasi darah. Ini soal kesehatan.
Sepuluh menit penuh Adam berdebat dengan dirinya sendiri — sepuluh menit yang kalau ditranskrip akan memalukan semua pihak — sebelum akhirnya, pelan-pelan, seperti mendekati burung yang bisa terbang kapan saja, tangannya turun dari meja dan menggenggam tangan yang menggantung itu. Menaruhnya kembali ke pangkuan pemiliknya, harusnya. Itu rencananya. Misi kesehatan.
Tapi tangan itu — hangat, dan lebih kecil dari dugaannya, dan entah bagaimana jari-jarinya membalas melingkar pelan seperti punya kebijakan sendiri — dan rencana itu, seperti banyak rencana Adam akhir-akhir ini, gugur tanpa perlawanan.
Jadi begitulah mereka selama satu jam berikutnya: Evelyn “tidur” di dua kursi, Adam mengetik dengan satu tangan — produktivitas turun tujuh puluh persen, tidak ada yang protes — dan dua tangan bertaut di ruang sempit di antara dua kursi, di labkom yang sepi, disaksikan komputer-komputer yang tidur.
(Evelyn bangun tepat ketika tangan itu datang. Tentu saja dia bangun. Dan dengan disiplin seorang atlet, dia mempertahankan napas tidurnya tetap stabil selama satu jam penuh, sambil di dalam kepalanya kembang api dinyalakan tanpa jeda, sambil jarinya — pelan, supaya bisa disangkal, supaya bisa dibilang refleks orang tidur — membalas genggaman itu dan tidak pernah melepasnya.)
Jam sebelas lewat, Adam membangunkannya dengan suara paling pelan yang dimiliki manusia. Tangan sudah kembali ke pos masing-masing sejak tiga detik sebelumnya, koordinasi rapi dua orang yang sama-sama pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Lyn. Udah malem. Aku anterin ke parkiran.”
“Hmm? Eh— aku ketiduran?” (Empat. Nilai aktingnya masih empat.) “Maaf. Kamu udah selesai?”
“Udah cukup buat hari ini.”
Membangunkan Evelyn sendiri sempat jadi dilema tersendiri: Adam berdiri di sebelah dua kursi itu selama satu menit penuh, mempertimbangkan protokol. Menyentuh bahu? Terlalu jauh. Memanggil dari jarak aman? Sudah dicoba, volume pertama terlalu pelan bahkan untuk telinganya sendiri.
Akhirnya dia berjongkok, sejajar, dan memanggil sekali lagi — dan Evelyn membuka mata langsung ke wajah yang jaraknya tiga puluh senti, dan selama dua detik dua-duanya lupa protokol apa pun yang pernah ada di dunia, sampai sebuah komputer di pojok memutuskan menyalakan kipasnya sendiri dan memecah segalanya.
“...Parkiran,” kata Adam, berdiri terlalu cepat.
“Iya,” kata Evelyn, bangun terlalu cepat, menabrak meja.
Di parkiran, sebelum naik mobil, Evelyn menoleh. “Dam. Proyek kecilmu itu. Kapan-kapan ceritain lebih banyak ya. Aku pengen denger versi panjangnya.”
Adam mengangguk. “Kapan-kapan.”
Dan malam itu, dua orang pulang ke dua sisi kota dengan telapak tangan yang masing-masing terasa seperti masih menggenggam sesuatu — dan dua-duanya, sebelum tidur, menatap tangannya sendiri dengan bodohnya, dan dua-duanya tidak mencuci tangan itu dulu sampai besok pagi, dan tidak ada yang akan pernah mengakui bagian yang terakhir.