Chapter Thirty Two
Pacaran Versi Hemat
POV: Adam & Evelyn | ±1025 kata
“Jadi,” kata Evelyn di awal minggu itu, membuka ponselnya dengan gaya sekretaris rapat, “aku udah bikin list. Tempat-tempat yang katanya wajib buat couple: rooftop dining yang di mall baru, kafe yang ada live music-nya, terus yang lagi viral itu—“
“Lyn.”
“Bercanda.” Dia menutup ponselnya, tertawa melihat wajah Adam yang sudah pucat menghitung. “Aku mau nunjukin sesuatu. Ini list-ku yang beneran.”
List yang beneran, ditulis di notes dengan judul KENCAN TERBAIK VERSI KITA, isinya: 1. warung bu imas (bala2 + teh anget). 2. es krim minimarket + trotoar. 3. pasar pagi. 4. rooftop kampus (bawa gorengan). 5. labkom (aku pura2 tidur, kamu megang tangan, kita pura2 ga sadar). 6. panti (rame2 sm anak2). 7. kontrakan (masak mie, hujan2an di dalem).
Adam membaca list itu dua kali.
“...Ini semua tempat gratis.”
“Ini semua tempat kita,” koreksi Evelyn. “Beda. Yang mahal-mahal itu tempatnya siapa aja. Yang ini nggak bisa dibeli orang.”
Maka minggu itu berjalan sesuai list, dan menjadi minggu yang kelak mereka berdua arsipkan sebagai salah satu yang terbaik: bala-bala Bu Imas yang sekarang selalu dapat bonus “buat pasangan paling setia” (gosip pasar bergerak cepat), es krim trotoar jam sepuluh malam sambil main tebak-tebakan plat nomor, dan rooftop sore-sore — tempat Adam, pelan-pelan, satu sesi satu keping, mulai menceritakan versi panjang dari “proyek kecil”-nya.
“Jadi sekarang... berapa yayasan?” tanya Evelyn di rooftop itu, kaki menjuntai, gorengan di antara mereka.
“Per kemarin...” Adam mengecek ponsel, menyebut angka dengan nada meminta maaf, “...tiga ratus dua belas.”
Evelyn tersedak bala-bala. “TIGA RATUS— Dam. DAM. Itu bukan proyek kecil. Itu—“ dia menggerakkan tangannya mencari kata yang cukup besar, “—itu infrastruktur!”
“Nggak segitunya—“
“Kamu sendirian ngurusin sistem yang dipake tiga ratus yayasan, GRATIS, sambil kuliah, sambil ke panti tiap hari.” Evelyn menatapnya dengan ekspresi campuran yang belum pernah Adam lihat: bangga, gemas, dan sedikit ngeri. “Kamu tau nggak sih kamu ini apa?”
“...Capek?”
“Itu juga.” Dia menggeser duduknya mendekat, menyandarkan kepala ke bahu yang sudah resmi jadi propertinya. “Dam, serius. Yang kayak gini tuh harusnya udah jadi perusahaan. Minimal yayasan resmi. Kamu nggak kepikiran?”
Adam diam sebentar. “Ada yang pernah nawarin. Beberapa. Ada yang mau bayar, ada yang ngajak kerja sama, ada satu yang...” dia mengingat-ingat, “...perusahaan gede. CSR-nya ngejar-ngejar mau meeting dari kapan tau. Aku belum bales.”
“Kenapa nggak dibales?!”
“Karena aku nggak tau mereka maunya apa.” Nada Adam berubah sedikit — nada yang dipakai orang untuk menjaga sesuatu. “Sistem ini isinya data anak-anak, Lyn. Data panti. Kalau yang masuk niatnya duit, ini barang bagus banget buat dijadiin etalase amal. Aku nggak mau panti-panti jadi... konten.” Dia mengangkat bahu. “Jadi selama aku belum yakin, jawabannya diem dulu. Untung mereka taunya aku cuma ‘K.’, jadi nggak bisa nyamperin.”
“‘K.’?”
“Nama samaran. Dari nama tengahku.” Adam nyengir kecil, malu. “Biar keren dikit.”
“Oh iya, satu lagi.” Adam menggaruk kepalanya, bagian yang paling memalukan menurut standarnya. “Nama. Aku namain file-nya dari dulu ‘SiTeduh’. Terus komunitas pengurus panti — mereka punya grup, rame — nyebutnya ‘TeduhApp’. Aku udah koreksi dua kali, kalah suara. Sekarang di mana-mana namanya TeduhApp. Domainnya aja akhirnya aku beliin yang itu. Aku dijajah pengguna sendiri.”
“TeduhApp,” ulang Evelyn.
Dan di suatu tempat di belakang kepalanya, sesuatu berdenting samar — kayak pernah denger — bunyi sendok di meja makan dingin, suara papanya menggerutu tentang proposal yang tidak dibalas, sebuah nama yang lewat begitu saja di antara ribuan urusan kantor. Dentingnya terlalu samar. Sore itu terlalu hangat. Bala-balanya masih panas.
Keping itu lewat lagi, tidak tertangkap, berjalan pelan-pelan menuju tabrakannya.
Evelyn tertawa — dan menyimpan semua informasi sore itu baik-baik di arsipnya, tanpa tahu bahwa beberapa keping di antaranya sedang berjalan pelan-pelan menuju tabrakan besar: karena di rumahnya sendiri, di meja makan yang dingin itu, dia sudah dua kali mendengar papanya menyebut dengan nada frustrasi tentang “developer sok misterius” yang tidak membalas proposal kemitraan CSR terbesar mereka tahun ini. Dia tidak pernah menyimak. Urusan kantor papanya ada ribuan.
Beberapa keping memang baru kelihatan bentuknya setelah pecah.
Stasiun terakhir list minggu itu — panti, rame-rame — ditutup dengan upacara kecil yang tidak ada di rencana: Salsa, atas nama dua belas anak, menyerahkan “sertifikat” karton bertuliskan PASANGAN RESMI RUMAH TEDUH lengkap dengan dua tanda tangan saksi (Salsa, huruf tegak bersambung; Dede, setengah hieroglif) dan stempel dari kentang yang diukir sendiri.
“Ini harus ditempel di kontrakan Kak Adam,” tegas Salsa. “Biar sah.”
“Emang kalo nggak ditempel nggak sah?” tanya Evelyn.
“NGGAK SAH,” koor dua belas suara, dan maka sore itu juga, sertifikat karton berstempel kentang resmi menempel di dinding kontrakan petak — tepat di sebelah tabel keuangan lecek, dua dokumen paling penting di ruangan itu berdampingan — dan bertahan di sana lebih lama daripada yang bisa dibayangkan siapa pun sore itu.
Foto itu bergerak hari Kamis.
Mahasiswa pemotret warung kopi — yang sudah lupa total — sedang membersihkan galeri karena memori penuh, menemukan foto buram itu, dan hampir menghapusnya. Hampir. Tapi minggu itu menfess kampus sedang menghangat lagi dengan tebakan lama yang tidak pernah benar-benar mati (“guys inget ga sih evelyn pernah bilang suka sama seseorang. udah ketauan belum sih orangnya”), dan iseng — cuma iseng, sumpah cuma iseng, begitu nanti dia akan bercerita dengan menyesal — dia mengirim foto itu ke menfess dengan caption:
“ga tau relevan ga. kepotret ga sengaja bbrp bulan lalu deket pasar. itu kak evelyn bukan sih? yang boncengin siapa?”
Terkirim pukul 21.47.
Pukul 22.30, foto buram itu sudah punya enam ratus komentar.
Pukul 23.15, seseorang menambahkan foto kedua — lebih jelas, diambil di trotoar minimarket, dua orang duduk berdampingan dengan es krim, tertawa. “ini gue juga pernah liat. minggu lalu. mereka sering di situ.”
Pukul 23.40, seseorang men-zoom jaket abu di kedua foto dan menulis komentar yang akan dikutip ribuan kali:
“jaketnya sama. ini orang yang sama. WOI SIAPA DIA”
Dan malam itu, sementara mesin itu mulai berputar tanpa bisa dihentikan siapa pun, dua orang yang jadi bahan bakarnya sedang tidur nyenyak di dua sisi kota — satu memeluk jaket abu yang sedang diperkarakan seisi internet kampus, satu lagi baru menempel sticky note ke balik pintu lemari, tulisan tangan sendiri:
Minggu ini: list selesai 7 dari 7. Dia bilang tempat kita nggak bisa dibeli. Dicatat. — A.