← Chapters Ch. 7 / 45

Chapter Seven

Membunuh Harapan

POV: Adam (ditutup Evelyn) | ±1054 kata

Harapan itu datang jam sebelas malam, lewat sebuah sticky note.

Adam sedang di kontrakannya, laptop menyala, mengerjakan sistem laporan donasi untuk panti — proyek kecil yang belakangan mulai dipakai dua panti lain di kota sebelah, entah tahu dari mana. Sistem itu — yang dia namai asal-asalan “SiTeduh” di file proyeknya — mulai punya kehidupan sendiri yang tidak Adam rencanakan. Malam ini saja ada dua email masuk. Satu dari pengurus panti di kota sebelah: “Mas, izin, kami sudah pakai tiga bulan, donatur kami senang laporannya rapi. Ini kami mau transfer alakadarnya buat jasa—“ Adam membalasnya sebelum selesai membaca: “Tidak usah, Pak. Gratis. Dipakai saja sudah senang.” Email kedua dari yayasan yang dia tidak tahu ada di mana, bertanya apakah sistemnya bisa dipakai untuk enam puluh anak. Adam membalas: bisa, nanti dia sesuaikan.

Tidak ada yang tahu ini. Bukan karena rahasia besar — cuma karena tidak ada yang akan bertanya, dan Adam tidak punya kebiasaan bercerita. Di dunia nyata dia mahasiswa pojok yang dipanggil Adi. Jam segini, di depan laptop bekas yang kipasnya ngorok, dia adalah seseorang yang emailnya ditunggu pengurus-pengurus panti di tiga kota.

Dia sedang mengetik penyesuaian untuk enam puluh anak itu ketika matanya melirik ke sebelah laptop.

Di sebelah laptop, tergeletak buku perpustakaan yang tadi sore dia pinjam.

Dia membuka halamannya untuk membaca, dan menemukan sticky note pink yang belum pernah dia lihat:

“makasih ya, rekomendasi bukumu nggak pernah gagal. penunggu meja pojok emang selera tulisannya bagus. bukunya... sama orangnya juga kayaknya :) — penunggu meja jendela selatan”

Adam membaca kalimat itu satu kali.

Dua kali.

Tujuh kali.

Sama orangnya juga kayaknya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sistem pertahanan yang dia bangun dengan sangat rapi itu jebol di satu titik. Harapan masuk lewat celahnya — tanpa permisi, tanpa izin, langsung menyalakan lampu di ruangan-ruangan yang sudah lama Adam gembok.

Selama sepuluh menit, Adam duduk di kasur lantainya dan membiarkan dirinya membayangkan.

Membayangkan membalas sticky note itu dengan namanya. Membayangkan duduk di meja jendela selatan, bukan di pojok. Membayangkan menunggu di gerbang bukan untuk menghindari orang, tapi untuk menunggu satu orang. Membayangkan suatu sore hujan, satu payung, dua—

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari aplikasi keuangannya, pengingat otomatis yang dia setel sendiri: Cek pengeluaran mingguan.

Dan seperti alarm kebakaran, bunyi kecil itu membangunkan penjaga lama di kepalanya.

Adam bangkit, berdiri di depan tabel keuangan di dinding. Menatap angka-angkanya. Lalu, dengan ketenangan orang yang sudah sering melakukan ini, dia mengambil kertas kosong dan pulpen, duduk, dan menulis dua kolom.

Kolom kiri: Dia.
Kolom kanan: Kamu.

Dia: anak pemilik grup perusahaan. Kamu: saldo bulan ini sisa 480 ribu.
Dia: satu kampus hafal namanya. Kamu: dosen pembimbing manggil kamu “Adi” selama dua semester.
Dia: dideketin ketua BEM. Kamu: ngasih payung aja kabur.
Dia: kalau dia sedih, ada seribu orang antre nawarin bahu. Kamu: kalau kamu ilang, yang nyariin cuma anak panti sama Bu Ratna.
Dia: bisa milih siapa aja.
Kamu:

Pulpennya berhenti di baris terakhir kolom kanan.

Lama.

Lalu Adam menulis, hurufnya kecil dan tegak dan kejam:

Kamu: jangan bikin dia harus nolak kamu baik-baik. Dia terlalu baik buat dibebanin itu.

Suara besar di kepalanya itu punya tanggal lahir. Adam ingat persis.

Kelas satu SMA, tiga bulan setelah orang tuanya pergi. Dia diajak kerja kelompok di rumah teman sekelasnya — pertama kalinya sejak pindah ke panti dia diajak ke mana-mana, dan dia datang dengan hati yang masih polos, bawa buku, bawa semangat, bahkan mandi dua kali.

Dia sedang di teras melepas sepatu waktu mendengarnya dari balik pintu. Suara ibu temannya, pelan tapi jelas, jenis pelan yang tidak berniat sungguh-sungguh merahasiakan:

“Itu yang anak panti itu? ...Ya nggak apa-apa, kerja kelompok doang. Tapi kamu jangan deket-deket banget, ya. Bukan apa-apa. Kita kan nggak tau anak begituan gimana didikannya.”

Adam, lima belas tahun, berdiri di teras memegang sepatunya sendiri, dan merasakan sesuatu di dadanya menutup pintu pelan-pelan — sopan sekali, tanpa dibanting, seperti tamu yang tahu diri.

Dia tetap masuk. Tetap kerja kelompok. Tetap tersenyum dan pamit dengan baik. Sejak hari itu dia juara satu dalam pamit dengan baik.

Dan sejak hari itu pula, suara ibu itu tinggal di kepalanya, ganti baju, ganti kalimat, tapi kerjanya sama: berdiri di setiap pintu yang mau Adam masuki, dan bertanya dengan sopan, kamu yakin anak begituan boleh masuk sini?

Adam menatap kertas itu sampai matanya kering. Ini bukan menyakiti diri sendiri, dia selalu bilang begitu. Ini akuntansi. Sama seperti tabel di dinding: kamu mencatat apa yang kamu punya dan apa yang tidak, supaya kamu tidak belanja melebihi kemampuan. Harapan itu barang mahal. Dan Adam, dalam segala hal, tidak pernah mampu membeli barang mahal.

Dia melipat kertas itu, menyelipkannya di buku tulis paling bawah di tumpukan — kuburan tempat dia menyimpan semua hal yang tidak boleh dilihat lagi.

Sticky note pink itu tidak dia buang.

(Tidak pernah bisa. Itu masalahnya.)

Dia menyelipkannya di buku yang lain — buku lama, yang di dalamnya sudah ada penghuni: origami bangau lusuh dari kertas motif bunga, yang warnanya sudah pudar dimakan lima belas tahun.

Adam menatap dua benda itu bersebelahan selama beberapa detik — surat dari seseorang yang tidak mungkin, di samping kenangan dari seseorang yang sudah hilang — tanpa sedikit pun curiga bahwa keduanya berasal dari tangan yang sama.

Lalu dia menutup buku itu.

“Cukup,” katanya pelan, kepada kamar yang kosong. “Ngefans boleh. Berharap jangan. Kamu nggak punya anggarannya.”

Dia kembali ke laptop, ke barisan kode yang tidak pernah menanyakan levelnya, dan bekerja sampai jam dua pagi.

Sebelum tidur, Adam melakukan satu hal terakhir.

Dia membuka pintu lemari plastiknya. Barisan kuning-pink itu menyambutnya seperti biasa, seperti deretan lampu kecil. Dia membacanya sekali lagi dari awal sampai akhir, pelan, seperti orang berpamitan.

Tangannya sempat terangkat ke sticky note yang paling tengah — yang hurufnya kapital semua. Sudut isolasinya tinggal dikelupas.

Tangan itu turun lagi.

Arsip tidak dibuang, putusnya. Arsip cuma ditutup. Ada bedanya. Pasti ada bedanya.

Dia menutup pintu lemari pelan-pelan, mematikan lampu, dan berbaring menghadap tembok — teman sebangku paling setia, yang malam itu untuk pertama kalinya terasa terlalu diam.

Besoknya, untuk pertama kalinya sejak perang sticky note dimulai, buku “kantor pos” di rak perpustakaan tidak berbalas.

Lusanya juga tidak.

Di meja jendela selatan, Evelyn membuka halaman yang sama untuk ketiga kalinya, menemukan sticky note-nya sendiri masih sendirian di sana, dan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sejak operasi lima belas tahun ini dimulai.

Takut.