Chapter Twenty
Rooftop
POV: Adam & Evelyn | ±1006 kata
Evelyn menemukan tempat itu karena payung.
Selasa siang, langit mendung, dan payung biru tua belum muncul di joknya — padahal dia tahu Adam ada di kampus; mereka satu kelas MKU dua jam lalu. Aneh. Sistem tidak pernah telat dua kali. Maka Evelyn melakukan yang selama ini dia tahan-tahan: mencari.
Perpustakaan: meja pojok kosong. Labkom: asisten lain bilang Adam izin keluar. Kantin: nihil. Dan saat dia hampir menyerah di tangga gedung fakultas, dia melihat pintu besi di ujung lantai empat — pintu ke rooftop yang seharusnya terkunci — terganjal sepotong kayu kecil.
Dia naik.
Rooftop itu bukan rooftop yang bagus. Lantai semen, tandon air, tali jemuran entah punya siapa. Tapi di sisi baratnya ada pemandangan atap-atap kota sampai kaki bukit, dan di pinggir itu, duduk di lantai bersandar dinding pembatas, ada jaket abu yang sedang menatap jauh dengan ekspresi yang belum pernah Evelyn lihat: kosong. Bukan kosongnya orang melamun. Kosongnya orang yang sedang berada sangat jauh dari badannya sendiri.
“...Dam?”
Adam menoleh cepat, kaget, refleks mengusap wajah — gerakan kecil yang gagal menyembunyikan apa pun.
“Eh. Lyn.” Suaranya serak sedikit. “Kok tau sini.”
“Payungku telat. Aku nyariin yang piket payung.” Evelyn berjalan mendekat pelan-pelan, memberi waktu, lalu duduk di sebelahnya dengan jarak sejengkal yang sudah jadi jarak resmi mereka. “Tempat apa ini?”
“Tempat... kalau penuh.” Adam menatap atap-atap kota lagi. “Kalau orang kebanyakan. Suara kebanyakan. Ke sini dulu bentar, biar... muat lagi.”
Evelyn mengangguk dan tidak bertanya lagi. Dia sudah belajar: kucing liar tidak ditanya-tanya. Dia cuma duduk, ikut menatap kota, dan membiarkan angin yang bekerja.
Lima menit kemudian, Adam yang bicara duluan. Mungkin karena angin. Mungkin karena Evelyn tidak bertanya — dan justru itu yang membuat pintu terbuka.
“Hari ini... tanggalnya,” katanya. “Orang tuaku. Enam tahun.”
Evelyn menoleh pelan. Adam masih menatap kota.
“Kecelakaan. Mobil travel, pulang dari nengok saudara. Aku nggak ikut karena besoknya ada ulangan.” Dia mengatakannya datar, hafalan yang sudah sering diucapkan dalam hati dan tidak pernah keluar. “Ulangan matematika. Aku dapet sembilan. Itu yang paling aku inget dari minggu itu — konyol ya. Sembilan.”
“Nggak konyol,” kata Evelyn pelan.
“Habis itu... rame. Rumah dijual buat nutup ini-itu, saudara pada dateng terus pada sibuk sendiri, terus tau-tau aku udah di Rumah Teduh bawa satu tas.” Sudut bibirnya naik sedikit, tanpa humor. “Umur enam belas aku udah khatam satu hal yang orang lain belajarnya pelan-pelan: kalau kamu nggak megang apa-apa, kamu nggak bisa jatohin apa-apa. Makanya aku ngitung semua. Uang santunan itu... itu bukan uang, Lyn. Itu sisa umur orang tuaku yang dititipin ke aku. Sekali aku boros, rasanya kayak ngabisin mereka dua kali.”
Evelyn diam. Ada seribu kalimat penghiburan yang antre dan semuanya terdengar murah. Jadi dia memilih yang bukan penghiburan:
“Mereka pasti bangga.”
“Jangan yang itu,” Adam menggeleng kecil. “Semua orang bilang itu.”
“Belum selesai.” Evelyn menunggu sampai Adam menoleh. “Mereka pasti bangga — bukan karena kamu kuat, atau hemat, atau nilai kamu bagus. Itu mah bonus. Mereka bangga karena anaknya, yang nggak megang apa-apa, tiap sore malah dateng ke tempat yang isinya anak-anak yang juga nggak megang apa-apa — terus bagi-bagiin yang dia nggak punya.” Suaranya turun. “Uang mereka kamu itung ketat banget. Tapi didikan mereka kamu hambur-hamburin tiap hari ke dua belas anak. Itu, Dam. Yang bikin bangga itu.”
Adam menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, sesuatu yang dia telan, dan ketika akhirnya bicara, suaranya kecil:
“...Kamu kalo ngomong suka nggak nanggung-nanggung ya.”
“Kata orang yang manggil aku ‘Lyn’ biar ada yang jadi punyanya sendiri.”
“ITU—“ telinga Adam merah seketika, “—itu beda konteks.”
Evelyn tertawa, dan tawa itu memecah sisa berat di udara, dan mereka duduk lebih lama, dan gantian: Evelyn bercerita tentang rumah besarnya. Tentang jam makan malam yang isinya bunyi sendok. Tentang papa yang menyayanginya lewat transferan dan mama yang menyayanginya lewat jadwal. Tentang jadi anak yang di sekolah dikelilingi teman-teman yang orang tuanya berpesan “deketin tuh anaknya Pak Hendrawan” — dan bagaimana dia jadi hafal membedakan mata yang melihatnya dengan mata yang melihat nama belakangnya.
“Makanya aku betah banget di panti,” katanya. “Dede tuh pernah bilang aku cantik kayak di tipi-tipi, terus besoknya bilang gambar kudaku jelek banget kayak kecoa. Dua-duanya jujur. Aku nggak pernah dapet yang kayak gitu di tempat lain.”
“Gambar kudamu emang...” Adam mempertimbangkan hidupnya. “...unik.”
“HEH.”
“Kayak kecoa yang unik.”
Dan Evelyn memukul lengannya dengan punggung tangan, dan Adam — Adam tertawa. Bukan tawa setengah detik yang dulu. Tawa beneran, keluar sendiri, di rooftop yang jelek, di hari yang tadinya berat.
“Oh iya.” Adam tiba-tiba bangkit setengah berdiri, merogoh ranselnya, dan mengeluarkan — Evelyn butuh sedetik untuk percaya — payung lipat biru tua. “Tadi. Sebelum ke sini. Aku udah mau naro di motormu, terus... kepikiran pengen sendirian dulu. Jadi kebawa.”
Dia menyodorkannya, kaku, dengan dua tangan, seperti menyerahkan berkas negara.
“Telat. Maaf. Mendungnya udah dari jam sebelas.”
Evelyn menatap payung itu, lalu menatap cowok yang di hari terberatnya dalam setahun — hari yang dia habiskan sendirian di rooftop mengenang orang tuanya — masih sempat kepikiran soal jok motor orang lain dan masih menghitung jam mendung.
“Dam.”
“Hm.”
“Kamu tuh ya.” Dia menerima payung itu dengan dua tangan juga, dan tidak melanjutkan kalimatnya, karena lanjutannya bukan untuk hari ini. Yang dia izinkan keluar cuma: “Makasih. Payungnya nggak telat, kok. Yang penting dateng.”
Sore mulai turun. Kota di bawah mereka menyalakan lampu satu-satu.
“Dam,” kata Evelyn, saat mereka akhirnya berdiri untuk pulang. “Tempat ini. Boleh aku tau artinya aku boleh ke sini lagi? Kalau kamu lagi ‘penuh’?”
Adam berpikir. Sungguh-sungguh berpikir — Evelyn bisa melihat prosesnya, dan dia menunggu tanpa menyela, karena jawaban cowok ini tidak pernah basa-basi.
“...Kalau aku lagi penuh,” kata Adam akhirnya, “biasanya aku pengen sendirian.” Jeda. Dia menatap kota, bukan Evelyn, karena yang berikutnya tidak mungkin diucapkan sambil menatap orangnya: “Tapi akhir-akhir ini... sendirian sama kamu tuh rasanya masih kayak sendirian. Cuma versi yang nggak sepi.”
Evelyn berdiri diam di pintu rooftop, membiarkan kalimat itu mendarat pelan-pelan di semua tempat sekaligus.
Nis, batinnya, sambil mengikuti jaket abu itu menuruni tangga, aku nggak akan cerita yang ini. Yang ini punyaku.