Chapter Forty Five
Epilog: Roti Utuh
POV: Adam & Evelyn (epilog) | ±1021 kata
Satu tahun kemudian.
Menfess kampus, yang setahun lalu menggelar sayembara “SIAPA ORANGNYA EVELYN”, kini punya konten musiman baru yang selalu ramai: laporan penampakan. “guys barusan liat mereka di perpus, cowoknya jelasin sesuatu di laptop, ceweknya ketiduran di bahunya, pak yusuf lewat naruh tanda JANGAN BERISIK di meja sebelahnya. gue nangis di rak jurnal.”
Banyak yang berubah dalam setahun. Yang paling terlihat: TeduhApp resmi berbadan hukum — yayasan, bukan perusahaan, keputusan yang membuat tiga investor mundur dan Adam tidur nyenyak — dengan program kemitraan CSR nasional yang diteken bersama Hendrawan Group sebagai mitra pertama (bukan pemilik; klausul itu kini dipajang Pak Hendrawan di materi pelatihan direksi dengan judul “Negosiasi: Studi Kasus Anak IT”). Kantornya pindah dari kontrakan petak ke ruko dua lantai dekat panti, dengan tiga karyawan pertama yang direkrut langsung: dua lulusan panti angkatan lama, dan satu kepala keuangan paruh waktu yang galaknya melebihi auditor mana pun — Bu Ratna, yang menerima jabatan itu dengan syarat “gajinya Ibu tentuin sendiri: seikhlasnya, dipotong doa”.
Yang tidak berubah, dengan keras kepala yang disengaja: motor bebek itu (sekarang helm-nya dua, yang satu ada stiker petir), jaket abu (hak asuh tetap berat sebelah), warung Bu Imas tanggal tua, es krim trotoar, dan tabel keuangan lecek yang ikut pindah ke dinding ruko — ditempel di sebelah sertifikat karton stempel kentang, dua dokumen pendiri yang tidak boleh diganggu gugat.
Adam sendiri — dan ini yang paling sering dibahas orang — sudah cair. Bukan berubah jadi orang lain; introvert tetap introvert, kosakata tetap efisien, rooftop tetap dikunjungi kalau dunia kebanyakan suara. Tapi cair: dia menyapa duluan sekarang, kadang-kadang. Dia bisa dipanggil presentasi tamu di kelas adik tingkat tanpa demam sehari sebelumnya. Dan kalau ada yang menggodanya soal Evelyn di koridor, dia tidak lagi pura-pura tidak dengar — dia cuma mengangguk, bilang “iya, alhamdulillah,” dan jalan terus, meninggalkan penggodanya kehabisan bahan.
Makan malam Jumat di rumah besar kini rutin, dan evolusinya terdokumentasi baik: bulan-bulan awal — kaku, Mama Evelyn jadi penerjemah dua arah. Bulan keempat — Pak Hendrawan dan Adam ketahuan berdebat tiga puluh menit soal arsitektur data dan harus dihentikan paksa karena supnya dingin. Bulan ketujuh — Pak Hendrawan mulai menyebut “Adam” tanpa jeda di depannya. Dan bulan kesepuluh, insiden bersejarah itu: Papa, ditegur istrinya karena membahas kerjaan di meja makan, membela diri dengan kalimat “saya ngobrol sama calon— dengan Adam,” dan seisi meja pura-pura tidak mendengar koreksi itu selama tepat tiga detik sebelum Evelyn tersedak sup.
(Nathan Wijaya mengirim undangan dari Melbourne bulan lalu: dia menikahi gurunya. Di amplopnya ada catatan kecil untuk Evelyn: “front-ku menang duluan. gantian ya.”)
Sore itu, sore yang cerah di ujung musim kemarau, Rumah Teduh berulang tahun lagi.
Rantai kertasnya kini lurus (tangga baru; Adam menepati janji administratifnya), tumpengnya lebih besar, tamunya meluber: ibu-ibu pasar, Pak Yusuf, Annisa dan Raka (yang aliansinya berkembang jadi sesuatu yang keduanya tolak beri nama tapi semua orang sudah memberi nama), keluarga Hendrawan lengkap, dan tiga pengurus panti mitra dari luar kota yang datang khusus untuk bersalaman dengan “Mas K.” lalu kebingungan karena Mas K. sedang jongkok mewasiti lomba balap karung.
Menjelang magrib, saat acara memasuki sesi foto bersama, terjadilah konspirasi terakhir buku ini.
“SEMUANYA KUMPUL!” Salsa — sebelas tahun sekarang, wibawanya bertambah — mengatur barisan dengan otoritas penuh. “Yang kecil depan! Bu Ratna tengah! Om Hendrawan jangan kabur, Om udah keitung! Nah— eh bentar. Kak Adam sama Kak Eve maju. MAJU. Ke depan. Iya situ. Ada pengumuman.”
Dua tersangka bertukar pandang dan maju dengan curiga yang sangat beralasan.
Dede maju membawa sesuatu di balik punggung, dikawal Bima yang memegang senter menyala (lampu panggung; matahari masih terang; komitmen adalah komitmen). Dengan gaya pasukan pengibar yang sudah dilatih seminggu, dia menyerahkan sebuah bingkai.
Di dalamnya: gambar krayon yang setahun lalu ditempel di lorong — dua sosok di bawah payung pink dikelilingi dua belas sosok kecil — tapi sudah diperbarui oleh pelukisnya: payung pinknya kini dicat biru tua, di pojok ditambah sosok bapak-bapak berdasi yang tersenyum kaku, dan tulisan besarnya diganti, dieja dengan perjuangan penuh dan satu huruf terbalik:
KELUARGA UTUH.
“Yang nulis Dede sendiri,” lapor Dede, “Kak Salsa cuma benerin dikit. TIGA KALI.”
Dan di tengah tawa, kamera-kamera terangkat, aba-aba dihitung — dan tepat sebelum jepretan, di barisan depan, Evelyn merasakan tangan Adam mencari tangannya dan menggenggamnya, di depan semua orang, tanpa drama, tanpa telinga merah, seperti hal paling biasa di dunia. Dia menoleh. Adam sedang menatap kamera, tapi sudut bibirnya naik, dan dari samping begitu, di cahaya sore begitu, dia kelihatan persis seperti anak kurus yang dulu berjalan mendekat dari arah pohon jambu membawa satu roti.
“CIEEEE—“ (tradisi adalah tradisi)
Jepret.
Foto itu kelak dibingkai dan digantung di lorong panti, di dinding penuh foto tahun demi tahun — tidak jauh dari foto lama seorang remaja kurus yang berdiri setengah badan di luar bingkai. Kalau kedua foto itu dilihat berurutan, jarak di antaranya cuma sejengkal dinding.
Isinya sepuluh tahun belajar percaya bahwa dia boleh berdiri di tengah.
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan anak-anak tumbang, dua orang duduk di bangku panjang teras — posisi resmi, hak milik, sudah tidak perlu dibahas.
“Dam.”
“Hm.”
“Dulu, waktu ngasih aku roti itu — kamu mikir apa sih? Jujur. Umur delapan, liat anak asing berdiri sendirian, kok kepikiran ngebagi.”
Adam berpikir lama. Sungguh-sungguh, seperti biasa, karena pertanyaan Evelyn tidak pernah dia jawab asal.
“...Nggak mikir,” katanya akhirnya. “Itu masalahnya. Semua hal lain di hidupku aku itung. Itu doang yang nggak. Liat kamu, ya udah — belah, kasih. Kayak... tangannya duluan, mikirnya nggak ikut.” Dia menatap halaman yang gelap dan tenang. “Sekarang aku ngerti sih. Ada hal-hal yang emang bukan urusan kepala.”
Evelyn tersenyum, menyandarkan kepala ke bahunya, dan di kantong jaket abu yang dia pakai, jarinya menyentuh sesuatu — bungkus roti tadi sore, dilipat rapi, karena ada orang yang kebiasaannya menyimpan tidak akan pernah sembuh dan tidak perlu disembuhkan.
Dan cowok yang dulu merasa hidupnya cuma kebagian setengah dari segalanya itu memejamkan mata, merasakan berat yang hangat di bahunya, mendengar jangkrik dan sisa-sisa kota, dan berpikir — dengan kepala yang untuk sekali ini tidak menghitung apa-apa:
Ternyata gini rasanya utuh. Pantesan nggak bisa dibelah.
— TAMAT —