← Chapters Ch. 29 / 45

Chapter Twenty Nine

Sehabis Hujan

POV: Adam & Evelyn | ±1022 kata

Hujan besar selalu berakhir, dan yang ditinggalkannya sore itu adalah: satu halte kecil, dua orang dengan mata bengkak, satu bangau kertas dalam plastik yang diletakkan di antara mereka di bangku halte seperti saksi resmi, dan percakapan yang tidak mau berhenti.

“Jadi kamu—“ Adam masih mencerna, kepalanya seperti komputer yang baru selesai update besar dan menyalakan ulang semua program satu-satu, “—kamu ngenalin aku dari cara belah roti. Di gerbang. Hari pertama.”

“He-eh. Buat tukang tisu.”

“Terus kamu masuk kelas MKU-ku.”

“Ngincer. Aku ngecek KRS-mu— eh ini ilegal nggak sih? Yaudah anggep aja takdir yang dibantu dikit.”

“Meja jendela selatan—“

“Aku pilih yang keliatan dari meja pojok. Iya. Semuanya, Dam. Payungmu aku nggak pernah pake — dia berdiri di sudut kamarku kayak piala. Pulpenmu masih aku simpen. Sticky note pertamamu aku foto sebelum aku tempel balik, takut ilang.” Evelyn menghitung dengan jari, makin lama makin cepat, seperti bendungan yang sudah lama ingin jebol. “Buku tulis catetanmu ada di laci khusus. Aku apal huruf ‘k’-mu yang patah dua. Aku— astaga akhirnya bisa ngomong semua ini keras-keras, kamu tau nggak sih rasanya nyimpen lima belas—“

“Lyn.”

“Apa.”

“...Aku juga.” Adam menatap lantai halte, telinganya merah, tapi kali ini dia tidak berhenti. “Sticky note kamu. Semuanya. Di balik pintu lemari, ditempel urut tanggal. Yang huruf gede semua — yang kamu nangis di perpus — itu paling tengah.” Dia berdehem. “Sama... aku tau merek samponya. Maksudku— bukan tau. Kecium. Waktu nonton film itu. Terus aku— lupain. Itu aneh. Lupain.”

Evelyn menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

“KAMU,” katanya akhirnya, menunjuk dengan seluruh lengan, “selama ini SEGINI-nya, dan muka kamu di kampus DATAR KAYAK TRIPLEK—“

“Kamu juga! ‘Eh maaf penuh banget ya kayaknya’— ruangannya KOSONG, Lyn, dua meter di sebelahku kosong—“

“ITU NAMANYA STRATEGI—“

Dan mereka bertengkar tentang siapa yang lebih parah selama sepuluh menit penuh, di halte basah, dengan volume yang membuat bapak-bapak lewat menoleh, dan itu pertengkaran terbaik yang pernah dimiliki keduanya seumur hidup — jenis pertengkaran yang setiap kalimatnya sebenarnya berbunyi aku sayang kamu dari dulu dalam bahasa yang lebih aman.

Ketika hujan tinggal gerimis, giliran cerita yang pelan-pelan.

Evelyn bercerita tentang umur dua belas: minta diantar sopir “nyumbang buku” ke Rumah Teduh, mencari anak laki-laki tanpa nama, pulang dengan tangan kosong dan memutuskan tidak menangis di depan sopir. Tentang tahun-tahun menandai setiap acara amal keluarga dengan harapan kecil yang selalu salah alamat. Tentang hampir menyerah — “kelas dua SMA aku sempet mikir, udahlah, mungkin dia cuma sore yang bagus, bukan orang beneran” — dan tentang hari pertama semester lima, di gerbang, ketika sore yang bagus itu berjalan lewat sambil membelah roti.

Adam bercerita lebih pendek — bercerita memang bukan keahliannya, dan Evelyn tidak memaksa — tapi yang keluar, keluar utuh: tentang menemukan bangau itu lagi di kardus waktu umur enam belas, di minggu-minggu pertama panti, ketika dunianya baru saja patah. “Aku nggak inget kamu. Tapi aku megang burung ini terus mikir: dulu pernah ada yang nganggep aku... cukup. Itu doang. Itu yang bikin minggu-minggu itu lewat.”

Evelyn menangis lagi. Sudah tidak dihitung yang ke berapa.

“Dam. Boleh jujur satu lagi?”

“Hm.”

“Bekelnya.” Dia memutar badan menghadap Adam sepenuhnya. “Yang sop bening itu. Aku pengen tau — kamu apain?”

“...Aku makan. Sendirian. Sampe habis.” Adam menatap gerimis. “Makanan nggak boleh dibuang.”

Hening sebentar. Lalu Evelyn menyandarkan kepalanya ke bahu Adam — bahu yang sekarang boleh, yang tidak perlu pura-pura tidur dulu — dan berkata dengan suara kecil yang serak:

“Minggu depan masak lagi. Yang itu. Persis. Terus kita makan berdua. Utang sop itu harus lunas.”

“...Iya.”

“Garemnya jangan banyak-banyak.”

“Salsa udah ngajarin.”

Langit sudah gelap ketika mereka akhirnya beranjak — Adam mengantarkan Evelyn pulang, motor bebek berjalan pelan di jalanan sehabis hujan yang memantulkan lampu-lampu kota, dan tangan Evelyn sepanjang jalan tidak lagi memegang ujung jaket. Melingkar. Pindah status.

Di tengah perjalanan, motor itu menepi di depan minimarket yang mereka kenal.

“Bentar,” kata Adam, dan masuk, dan keluar lagi membawa dua teh kotak hangat dari mesin pemanas — lalu, setelah jeda pertimbangan yang Evelyn tonton dari atas motor dengan gemas, masuk lagi dan keluar membawa satu es krim.

“Kamu abis ujan-ujanan beli es krim?”

“Bukan buat aku.” Dia menyerahkannya. “Kamu kalo abis nangis biasanya laper yang manis. Kata kamu sendiri. Bulan lalu. Habis nonton film yang anjingnya mati.”

Evelyn menerima es krim itu dan menatapnya lama.

“Apa,” kata Adam.

“Nggak.” Dia membuka bungkusnya, duduk lagi di jok, dan tersenyum ke punggung jaket abu yang basah itu. “Lampunya nyala semua lagi. Terang banget. Silau.”

Di depan gerbang rumah besar itu, Evelyn turun, melepas helm, dan berdiri sebentar.

“Dam.”

“Hm.”

“Aku nggak akan nanya ‘kita ini apa’ malem ini. Aku tau kamu — kamu butuh mikir dulu, nyusun dulu, kamu nggak bisa didesak, dan aku udah nunggu lima belas taun jadi seminggu dua minggu mah bonus.” Dia menatap cowok di atas motor bebek itu, kuyup, berantakan, dan bagi Evelyn malam itu tidak ada pemandangan yang lebih bagus di seluruh kota. “Tapi satu hal aku minta sekarang. Janji.”

“Apa?”

“Pelan-pelan boleh.” Suaranya turun, dan seluruh keberanian panggungnya menepi, menyisakan yang paling telanjang: “Tapi jangan mundur lagi. Apa pun yang kamu liat, apa pun yang suara jelek di kepalamu bilang — jangan matiin lampunya lagi. Nanya dulu. Aku nggak takut ditanya, Dam. Aku takutnya didiemin.”

Adam menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, kalimat yang keluar dari mulutnya tidak melewati pos pemeriksaan mana pun, tidak disusun, tidak dilatih:

“Janji.” Jeda. “Lagian mundur ke mana. Semua arah baliknya ke kamu.”

Evelyn membeku.

“...APA TADI?”

“Nggak.” Telinga merah total. Mesin motor dinyalakan dengan urgensi nasional. “Nggak ada. Udah malem. Masuk sana.”

“DAM. ULANGIN. AKU MAU REKAM—“

“Nggak denger. Ini helm tebel.”

“ADAM!”

Motor bebek itu pergi dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah pemakaiannya, meninggalkan Evelyn tertawa sendirian di depan gerbang — tawa basah, bengkak, paling bahagia — dan malam itu dua sisi kota sama-sama tidak tidur cepat: satu karena mengetik laporan panjang ke Annisa yang dibalas “ALHAMDULILLAH YA ALLAH AKHIRNYA. traktiran.”, dan satu karena berbaring menatap bangau miring di meja, tersenyum seperti orang bodoh, dan untuk pertama kalinya seumur hidup tidak mendengar suara penjaga tua itu sama sekali.

Mungkin sedang cuti. Mungkin sedang dipecat pelan-pelan.