← Chapters Ch. 31 / 45

Chapter Thirty One

Kontrakan

POV: Adam & Evelyn | ±1005 kata

Permintaan itu datang hari Rabu, disampaikan Evelyn dengan nada yang sudah dia latih supaya terdengar santai dan gagal total:

“Dam. Aku mau main ke kontrakanmu.”

Adam, yang sedang minum es teh, membutuhkan waktu untuk menyelesaikan urusan tersedaknya sebelum menjawab. “...Ngapain?”

“Ya main. Masa pacaran—“ (kata itu masih baru; dua-duanya masih suka berhenti sepersekian detik tiap kali ada yang mengucapkannya, seperti mengecek ulang bahwa itu sungguhan) “—aku belum pernah liat tempat tinggalmu. Kamu tau kamarku aja dari cerita. Nggak adil.”

“Tempatku... kecil.”

“Terus?”

“Beneran kecil, Lyn. Bukan kecil yang di film-film. Kecil yang—“ Adam mencari perbandingan, menyerah, memilih jujur: “—kamar mandinya di luar. Bareng-bareng sekontrakan.”

“Oke.”

“Nggak ada AC. Kipas satu, bunyi.”

“Oke.”

“Kasurnya di lantai. Kursinya... nggak ada kursi. Ada satu, buat ngoding.”

“Dam.” Evelyn menatapnya lurus. “Aku nanya boleh main. Bukan minta brosur. Sabtu ya. Aku bawa cemilan.”

Maka Jumat malam, kontrakan petak itu mengalami operasi besar-besaran pertama dalam sejarahnya: Adam mengepel dua kali, menata kabel-kabel (hasilnya: kabel-kabel yang sama, tapi cemas), membeli pengharum ruangan termurah yang baunya malah mencurigakan sampai dia buang, dan berdiri lama di tengah ruangan menatap seluruh hidupnya yang muat dalam tiga kali empat meter — mencoba melihatnya dengan mata orang yang kamar mandinya sendiri lebih luas dari ini.

Dia bakal sopan, pikir Adam. Dia bakal bilang ‘nyaman kok’ sambil nyari tempat duduk yang nggak ada. Terus pulangnya dia bakal sedih. Bukan jijik — dia nggak gitu. Sedih. Itu lebih parah.

Sabtu sore, Evelyn datang membawa dua kresek cemilan, berdiri di ambang pintu, dan menyapu ruangan itu dengan satu pandangan panjang: kasur lantai yang rapi, lemari plastik, meja lipat penuh kabel yang cemas, tabel keuangan lecek di dinding, jendela kecil dengan tirai dari kain sarung.

Adam menunggu vonis dengan punggung yang sudah pasang kuda-kuda.

“...Dam.”

“Hm.”

“Ini semuanya kamu banget,” kata Evelyn, dan dia masuk, menaruh kresek, dan duduk bersila di kasur lantai seperti sudah ratusan kali ke sini. “Rapi. Fungsional. Nggak ada satu barang pun yang nggak kepake. Terus ini—“ dia menunjuk tabel di dinding, membacanya, dan menoleh dengan mata berbinar yang sungguh-sungguh, “—kamu bikin sistem anggaran sendiri?! Pantesan presentasimu waktu itu— Dam ini rapi banget, ajarin dong, aku tuh boros banget kalo—“

Dan begitulah. Tidak ada ‘nyaman kok’ yang sopan. Tidak ada sedih yang disembunyikan. Yang ada: Evelyn yang dalam lima belas menit sudah menemukan posisi paling enak bersandar di dinding, menginterogasi fungsi setiap benda (“ini kenapa sendoknya cuma dua?” “kenapa harus lebih?” “BENER JUGA”), dan menyatakan kipas angin bunyi itu “kayak white noise, malah enak”.

Insiden kecil terjadi di menit ketiga puluh, dan mengubah suhu ruangan itu selamanya.

Evelyn sedang berdiri meregangkan kaki ketika matanya menangkap pintu lemari plastik yang tidak tertutup rapat — dan di baliknya, warna-warna kecil: kuning, pink, kuning, pink, berjejer rapi berbaris-baris.

Dia membukanya pelan sebelum Adam sempat mencegah.

Sticky note-nya. Semuanya. Yang paling awal — “bab 7 sedih banget, siapin mental” — sampai yang huruf kapital, yang posisinya paling tengah, posisi terhormat. Diurutkan. Dirawat. Dan di antara barisan itu, sekarang, sticky note tulisan tegak yang dia hafal: Hari ini nanya. Jawabannya iya. Datanya valid.

“Itu—“ suara Adam dari belakang, panik menyusun pembelaan, “—itu arsip. Orang boleh punya—“

Dia tidak selesai, karena Evelyn berbalik dan wajahnya sudah basah, dan dia tertawa di saat yang sama, dan yang keluar dari mulutnya adalah: “Kamu ngerawat sampah kertasku kayak barang museum,” dengan nada orang yang baru menemukan hartanya sendiri disimpan orang lain lebih baik daripada dia menyimpannya sendiri.

“...Bukan sampah,” kata Adam pelan. Menyerah membela diri. “Itu satu-satunya suara kamu yang boleh aku simpen. Waktu itu.”

Puncak acara: masak mie berdua di dapur sepetak ujung lorong kontrakan — dapur yang cuma muat satu setengah orang, sehingga sepanjang proses mereka bersenggolan terus-terusan, dan Evelyn yang bertugas mengaduk terus-terusan menyenggol dengan frekuensi yang secara statistik mustahil terjadi secara alami.

“Kamu sengaja,” kata Adam akhirnya, menatap panci.

“Sempit,” kata Evelyn, menatap panci juga, senyumnya kelihatan dari samping. “Salahin dapurnya.”

Mereka makan mie di kasur lantai dari panci yang sama (piringnya cuma dua dan satu dipakai buat kerupuk — prioritas), sambil Evelyn bercerita dan Adam mendengarkan, sampai di luar hujan turun pelan, dan cerita makin jarang, dan jeda makin panjang dan makin nyaman, dan jam sembilan lewat Evelyn menguap untuk ketiga kalinya.

“Lyn. Udah malem. Aku anterin—“

“Lima menit.” Evelyn sudah bergeser, berbaring miring di kasur lantai itu, memeluk bantal satu-satunya. “Ujan. Nunggu reda. Lima menit doang.”

“Lyn—“

“Ssst. White noise-nya bagus.”

Lima menit itu, sesuai tradisi, berumur panjang.

Dan Adam duduk di lantai bersandar dinding, satu meter dari kasurnya sendiri yang sedang diduduki — ditiduri — oleh perempuan yang paling tidak masuk perhitungan mana pun dalam hidupnya, dan tidak tahu harus mengapakan pemandangan itu: Evelyn, tidur beneran (kali ini sungguhan; hari yang panjang), di kontrakan petak, di kasur lantai, dengan wajah senyaman itu — seolah dari semua kamar di dunia yang bisa dia tiduri, yang tiga kali empat inilah yang paling aman.

Adam mengambil jaket abunya dari gantungan dan menyelimutkannya pelan-pelan.

Lalu dia kembali ke posisinya di lantai, bersandar dinding, dan berjaga.

Dia membangunkannya jam sepuluh, saat hujan benar-benar reda, dan mengantarnya pulang. Di gerbang rumah besar, Evelyn turun dari motor masih setengah mengantuk, masih memakai jaket abu itu — dan ketika Adam membuka mulut, dia mengangkat satu tangan:

“Jaketnya nginep di aku.”

“Itu jaket satu-satunya yang—“

“Makanya.” Evelyn mengeratkan jaket itu, dagunya terangkat, matanya masih lima puluh persen tidur, dan entah bagaimana tetap menang telak: “Biar kamu jemput. Besok. Sekalian sarapan. Dah.”

Dia masuk gerbang tanpa menunggu jawaban.

Adam duduk di atas motornya beberapa saat, di depan gerbang besar itu, kedinginan tanpa jaket, dan tersenyum sendirian seperti orang yang baru kalah dalam transaksi paling menguntungkan seumur hidupnya.

(Jaket itu tidak pernah benar-benar kembali. Statusnya berubah jadi milik bersama dengan hak asuh berat sebelah, dan bertahun-tahun kemudian pun, kalau dicari, tempat paling mungkin menemukannya bukan di lemari plastik kontrakan — tapi tersampir di kursi meja belajar seharga motor, di kamar yang luasnya bisa memuat empat kontrakan, dipakai tidur oleh pemilik kamarnya setiap kali pemilik jaketnya sedang tidak bisa ditemui.)