Chapter Sixteen
Terbongkar
POV: Adam & Evelyn | ±1086 kata
Sabtu itu dibuka dengan lomba tujuh belasan versi latihan — ide Salsa, yang berpendapat bahwa Agustus terlalu lama untuk ditunggu dan panti butuh hiburan sekarang.
Maka halaman Rumah Teduh berubah jadi arena: balap karung pakai sarung, estafet sendok kelereng, dan acara puncak yang dipilih lewat voting (kecurangan Dede terdeteksi, dua suara lagi): tarik tambang, anak-anak versus Kak Adam dan Kak Eve.
“Dua lawan dua belas itu nggak adil,” protes Kak Eve.
“Kak Adam kuat,” kata Bima.
“Terus aku?”
“Kak Eve semangatnya kuat,” kata Salsa diplomatis, dan pertandingan dimulai sebelum banding diajukan.
Adam memegang ujung belakang tambang, Kak Eve di depannya, dua belas anak di seberang dengan koordinasi yang mengejutkan solid. Tanah halaman licin sisa hujan semalam. Sejak awal sudah jelas ini bukan pertandingan yang bisa dimenangkan pihak dewasa — dan memang bukan itu tujuannya; tujuannya adalah momen ketika barisan anak-anak menghentak serempak, Kak Eve terpeleset maju, tambang lepas, dan seluruh formasi runtuh dalam tumpukan tawa.
Adam jatuh terduduk. Kak Eve jatuh ke samping, tertawa sampai tidak bersuara, tangan menepuk-nepuk tanah.
Dan tawa itu — tawa lepas kepala mendongak, tawa yang tidak dijaga sama sekali — membuat maskernya, yang sudah kendur sejak balap karung, melorot turun melewati dagu.
Adam menoleh pada detik yang salah. Atau yang benar. Tergantung siapa yang bercerita.
Waktu tidak melambat seperti di film. Justru sebaliknya: semuanya menjadi sangat cepat dan sangat tajam sekaligus, seperti kaca jatuh. Wajah yang tertawa di bawah sinar matahari sore itu adalah wajah yang dia hindari di koridor. Wajah yang dua baris di depan bangku pojok. Wajah yang kemarin, di lapangan, mengumumkan pada dua ribu orang bahwa hatinya sudah lama ada isinya.
Kak Eve adalah Evelyn.
Evelyn adalah Kak Eve.
Semua data yang selama ini mengetuk-ngetuk pintu ingatannya masuk sekaligus tanpa antre: dejavu tanpa alamat. Lagu tanpa judul. Cara melambai dua tangan. Mata di atas masker. Suara yang terasa seperti lagu yang sama. Relawan yang muncul tepat ketika— tepat setelah— sejak kapan? Sejak kapan dia tahu? Apa saja yang dia—
“...Adam?”
Evelyn sudah berhenti tertawa. Tangannya bergerak ke masker — terlambat, dan dia tahu itu terlambat, dan dari caranya membeku Adam mendapat jawaban untuk pertanyaan yang belum sempat dia ucapkan: ini bukan kecelakaan yang baru saja terjadi. Ini rahasia yang baru saja bocor.
Adam berdiri. Membersihkan tanah dari celananya dengan gerakan pelan yang terlalu tenang.
“Lombanya lanjut ya,” katanya kepada anak-anak, dengan suara Kak Adam yang biasa, yang membuat tidak satu pun dari mereka curiga. “Kakak ambil minum dulu.”
Lalu dia berjalan ke belakang, melewati dapur, ke halaman samping tempat jemuran — satu-satunya sudut panti yang tidak terlihat dari mana-mana.
Evelyn menyusulnya tiga puluh detik kemudian. Maskernya sudah dilepas sepenuhnya. Tidak ada gunanya lagi.
“Adam—“
“Udah berapa lama?” Suaranya tidak keras. Itu yang paling buruk. Adam marah dengan cara orang yang tidak pernah diajari cara marah: semuanya masuk ke dalam, rata, dingin. “Kamu tau aku di sini... dari sebelum kamu daftar jadi relawan?”
Evelyn menegakkan badan. Dia berjanji pada dirinya sendiri sejak lama: kalau hari ini datang, dia tidak akan bohong lagi satu kalimat pun.
“Iya.”
“Payung itu. Kamu tau dari aku.”
“Iya.”
“Sticky note. Meja. Catetan waktu kamu sakit. Kamu tau semuanya dari aku.”
“Iya. Aku tau.”
Setiap iya mendarat di tempat yang sama, dan Adam merasakan sesuatu yang lebih tua dari kemarahan naik ke tenggorokannya — sesuatu dari teras rumah orang, umur lima belas, sepatu di tangan sendiri.
“Terus ini apa?” Dia akhirnya menatap Evelyn lurus, dan matanya yang biasa menunduk itu sekarang yang paling sulit dihadapi. “Kamu nyamar, dateng ke tempat— ke rumahku. Kamu nonton aku dari deket. Sambil tau aku nggak tau.” Napasnya pendek. “Kamu ngeliatin aku selama ini kayak apa, Evelyn? Kasihan? Penasaran? Apa aku... seru? Anak panti yang lucu ya, dikasih perhatian dikit langsung—“
“Jangan selesain kalimat itu.” Suara Evelyn tajam untuk pertama kalinya, dan matanya sudah basah. “Aku nggak pernah — sedetik pun — kasihan sama kamu.”
“Terus apa?” Suara Adam naik, akhirnya retak di ujung. “Kamu punya segalanya. Kamu bisa ke mana aja, sama siapa aja — kemarin aja kamu bilang di depan satu kampus kamu udah punya orang yang kamu suka dari lama. Terus kamu ke sini pake masker, pake nama Eve, ngedeketin aku yang bahkan nggak bisa ngajak kamu makan tanpa ngitung dompet dulu — BUAT APA? Aku ini apa di cerita kamu? Tontonan? Proyek? Amal?”
Kata-kata itu keluar semua sekaligus, bertahun-tahun isinya, dan begitu selesai Adam langsung menyesali setiap katanya dan tidak sanggup menarik satu pun.
Evelyn berdiri diam. Air matanya jatuh, tapi dagunya tidak turun.
Ada satu kartu di tangannya yang bisa mengakhiri semua ini sekarang juga. Lima belas tahun. Setengah roti. Bangau miring. Satu kalimat dan semuanya selesai.
Tapi menatap Adam yang sedang seperti ini — gemetar, terluka, siap menganggap dirinya lelucon — Evelyn mengerti dengan kejernihan yang menyakitkan: kalau kartu itu dibuka sekarang, di tengah dia merasa dibohongi, kartu itu cuma akan jadi bohong nomor dua. Nggak gini caranya. Nggak di sini.
“Buat apa-nya,” kata Evelyn pelan, “nggak bisa aku jawab sekarang. Bukan karena nggak ada. Karena kamu lagi nggak akan percaya apa pun yang keluar dari mulutku. Dan aku nggak mau jawaban itu kamu denger sambil nggak percaya.”
“Berarti nggak ada.” Adam mengangkat ranselnya dari bangku jemuran. Suaranya sudah kembali datar — pintu yang ditutup pelan, sopan, khas dia. “Makasih ya. Buat anak-anak, kamu beneran bagus. Itu nggak bohong. Sisanya...”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Juara satu pamit dengan baik, untuk pertama kalinya, pamit tanpa kata.
Evelyn berdiri di halaman jemuran sampai suara motor bebek itu hilang di ujung jalan, lalu jongkok pelan-pelan di tempat, dan menangis dengan cara yang sudah lima belas tahun tidak pernah dia lakukan: seperti anak kecil yang bonekanya jatuh dan sorenya harus pulang.
Di ruang tengah, lomba sudah bubar tanpa pengumuman juara.
Anak-anak tahu sesuatu terjadi — anak panti punya radar untuk suasana yang berubah, radar yang terpasang lebih awal dari seharusnya. Mereka tidak bertanya. Bima diam-diam menggulung tambang. Dede duduk di undakan teras memeluk lutut, menatap gerbang tempat motor Kak Adam tadi menghilang, dengan sepatu petirnya yang mendadak kelihatan terlalu merah untuk sore yang jadi kelabu.
Salsa membuka buku catatannya, menatap halaman OPERASI KULKAS MENCAIR yang penuh laporan kemajuan dan papan skor, lalu menutupnya pelan tanpa menulis apa-apa.
Hari itu tidak dicatat. Ada hal-hal yang bahkan detektif sepuluh tahun tahu tidak boleh diarsipkan.
Dari teras, Bu Ratna menyaksikan segalanya tanpa terlihat, memegang dua gelas teh yang tadinya untuk dua orang, dan menghela napas panjang.
“Ya ampun,” gumamnya. “Dua-duanya persis anak Ibu yang satu itu. Sama-sama nggak bisa nerima dikasih.”
- 1 Cowok Bangku Pojok
- 2 Kak Adam Pulang
- 3 Mata Kuliah Umum
- 4 Payung Pertama
- 5 Ketua BEM
- 6 Kesetrum
- 7 Membunuh Harapan
- 8 Sakit Seminggu
- 9 Volunteer
- 10 Kak Ganteng & Kak Cantik
- 11 Versi Asli
- 12 Sandaran
- 13 Sepatu Dede
- 14 CIEEE
- 15 Penolakan
- 16 Terbongkar reading
- 17 Dua Sisi Kota
- 18 Setengah Jujur
- 19 Mode Manja Perdana
- 20 Rooftop
- 21 Pura-Pura Tidur
- 22 Pasar Pagi
- 23 Mobil Sport
- 24 Pamit Pelan-Pelan
- 25 Lampu-Lampu
- 26 Titik Terendah
- 27 Detektif Annisa
- 28 Halte, Hujan
- 29 Sehabis Hujan
- 30 Caranya Adam
- 31 Kontrakan
- 32 Pacaran Versi Hemat
- 33 Viral
- 34 Pasang Badan
- 35 Sampai ke Rumah
- 36 Disaster Dinner
- 37 Perjodohan
- 38 Retak
- 39 Sebelum Medan Perang
- 40 Mini Heartbreak II
- 41 Evelyn Menolak Sejarah Terulang
- 42 Meeting
- 43 Luluh
- 44 Malam di Panti
- 45 Epilog: Roti Utuh