Chapter Nine
Wali Hakim
POV: Azzam
Rena masuk ke kamarku hari Minggu malam tanpa mengetuk.
“Mas.”
Aku sedang menghitung ulang sesuatu di laptop yang sebenarnya tidak perlu dihitung ulang.
“Hm.”
“Mas, aku harus ngomong.”
Ada sesuatu di suaranya yang membuatku menutup laptop.
Dia berdiri di tengah kamarku, tangan di sisi badan, dan wajahnya wajah orang yang sudah berlatih di kamarnya sendiri selama satu jam dan tetap tidak siap.
“Kemarin,” katanya. “Sabtu. Aku ke rumah Kak Evelyn nganterin kue dari Mama.”
“Iya.”
“Dia nggak ada. Aku nungguin dua jam.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Terus dia pulang jam satu.” Rena menelan. “Mas, aku nggak sengaja. Aku beneran cuma nganterin kue. Tapi—“
“Rena.”
“Aku liat mukanya, Mas.”
“Rena.”
“Aku tau muka itu.” Suaranya pecah di tengah. “Aku pernah liat muka itu di kaca sendiri waktu kelas tiga SMA dan aku tau persis dia abis dari mana—“
“Rena.”
Dia berhenti.
Aku duduk di kursi meja belajarku yang sudah tidak pernah kupakai belajar sejak sepuluh tahun lalu, dan aku bertanya satu hal.
“Dia baik-baik aja?”
Rena menatapku.
“Apa?”
“Waktu pulang. Dia baik-baik aja nggak?”
“Mas.”
“Rena, dia baik-baik aja nggak?”
Adikku berdiri di tengah kamarku dengan mulut sedikit terbuka, dan aku bisa melihat dia sedang menyusun ulang seluruh percakapan ini di kepalanya, karena dia sudah menyiapkan jawaban untuk sepuluh pertanyaan lain dan tidak satu pun yang ini.
“Enggak,” katanya akhirnya. “Enggak baik-baik aja.”
“Ya sudah.”
“Ya sudah gimana—“
“Makasih udah bilang.”
Aku membuka laptop lagi.
Rena berdiri di situ mungkin dua puluh detik. Lalu dia keluar dan menutup pintu, pelan sekali kali ini, dan aku mendengar dia berhenti sebentar di lorong sebelum masuk ke kamarnya sendiri.
Aku bekerja sepanjang minggu itu.
Aku menyelesaikan berita acara perbaikan kolom C-4. Aku menutup dua opname progres. Aku mengantar surat izin cuti ke kantor pusat sendiri padahal bisa dikirim, karena aku ingin ada empat puluh menit di jalan tol.
Aku tidak menelepon Evelyn selain untuk hal-hal teknis, dan hal-hal teknis ada banyak, jadi tidak ada yang aneh.
Hari Rabu dia menelepon.
“Mas, mobil buat jemput tamu dari luar kota jadi berapa?”
“Dua. Aku udah booking Senin.”
“Mama bilang tiga.”
“Tiga juga bisa. Aku telepon.”
“Nggak usah, aku aja.”
“Nggak apa-apa. Kamu udah ngurus dekor, katering, sama souvenir. Ini punyaku.”
Dia diam sebentar.
“Kamu bagi-bagi tugas ya?” katanya.
“Iya.”
“Kapan?”
“Dari bulan lalu.”
“Kok aku nggak dikasih tau?”
“Karena kamu bakal minta yang lebih banyak.”
Dia tertawa di seberang sana, dan aku menutup mata di dalam mobil di rest area kilometer tiga puluh sembilan.
Empat hari lagi dia jadi istriku dan aku sedang membicarakan jumlah mobil jemputan dengan orang yang hari Sabtu lalu duduk di kafe dengan laki-laki lain, dan tidak ada satu pun dari itu yang terasa aneh sementara terjadi.
Itu bagian yang paling sulit dijelaskan ke orang. Hal-hal seperti ini tidak datang seperti badai. Datangnya seperti cuaca.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu deg-degan nggak?”
“Enggak.”
“Aku iya.”
“Deg-degan kenapa?”
Ada jeda.
“Nggak tau,” katanya. “Kayaknya karena udah deket.”
“Iya.”
“Ya udah, aku lanjut kerja ya.”
“Iya.”
Dia menutup telepon lebih dulu, dan aku duduk di rest area itu sepuluh menit lagi sebelum menyalakan mesin.
Satu hal yang kupikirkan berulang-ulang minggu itu, dan aku ingin menuliskannya persis seperti bentuknya waktu itu, bukan bentuk yang lebih pintar:
Kalau aku membatalkan sekarang, dia akan menikah dengan orang lain suatu hari nanti. Orang yang tidak tahu apa-apa. Orang yang akan bertanya soal cincin di kelingkingnya di bulan pertama dan tersinggung di bulan kedua.
Aku sudah tahu semuanya.
Dan orang yang sudah tahu semuanya adalah orang yang paling aman untuk ditumpangi.
Aku benar-benar berpikir begitu. Aku pikir itu semacam kemurahan hati.
Akadnya hari Sabtu jam delapan pagi.
Ada satu hal di pernikahan kami yang tidak ada di pernikahan mana pun yang pernah kudatangi, dan tidak ada yang membicarakannya sebelum hari itu, dan semua orang tahu.
Om Gunawan tidak bisa menikahkan anaknya.
Yang datang dari KUA namanya Pak Ustaz Solihin, umurnya sekitar lima puluh, dan beliau menjabat tangan Om Gunawan lebih dulu sebelum siapa pun, di teras, sebelum masuk. Aku melihat itu dari jauh. Aku tidak dengar apa yang dikatakan, tapi aku melihat Om Gunawan mengangguk dua kali dan menepuk lengan beliau.
Aku tahu sedikit soal ini karena Ibu pernah menjelaskannya di meja makan dua bulan lalu, dengan nada orang yang sudah mencari tahu sendiri sebelum ditanya siapa pun.
“Nanti walinya dari KUA,” kata beliau. “Namanya wali hakim.”
“Om Gunawan gimana?” tanya Rena.
“Om Gunawan tetap bapaknya.”
“Ya iyalah tetap bapaknya. Maksud aku—“
“Rena.” Ayahku, yang jarang bicara di meja makan, meletakkan sendoknya. “Sudah.”
Dan pembicaraan itu selesai di situ, dan tidak pernah dibuka lagi oleh siapa pun di rumah kami sampai hari H.
Aku pikir itu kesopanan.
Sekarang aku curiga itu ketidaksanggupan. Tidak ada di antara kami yang punya kalimat yang cukup bagus untuk itu, jadi kami memilih tidak punya kalimat sama sekali.
Lalu semua orang masuk dan duduk.
Om Gunawan duduk di barisan paling depan.
Bukan di meja akad. Di barisan depan, bersama Tante Wulan, di kursi tamu, tiga meter dari anaknya.
Dan Pak Solihin duduk di kursi yang seharusnya kursi beliau.
Aku duduk berhadapan dengan Pak Solihin dan aku bisa melihat Om Gunawan tepat di belakang bahu kirinya, dan sepanjang mukadimah aku tidak sanggup melihat ke sana.
Tidak ada yang salah dengan ini. Ini benar. Ini sudah diurus, sudah dijelaskan, sudah disepakati semua pihak berminggu-minggu lalu, dan tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang keberatan.
Tapi ada tiga meter, dan tiga meter itu tidak bisa dijelaskan oleh siapa pun.
Ijab qabulnya satu kali.
Aku tidak akan menuliskan kalimatnya. Aku mengucapkannya dan tanganku dipegang dan ada tiga orang saksi yang berkata sah, dan seluruhnya memakan waktu kurang dari sepuluh detik.
Yang kuingat justru bukan itu.
Yang kuingat: sesaat sebelum aku mulai, ruangan jadi sangat sunyi, dan di dalam kesunyian itu terdengar bunyi kipas angin berdiri di sudut yang lupa dimatikan.
Yang kuingat: tangan Pak Solihin hangat.
Yang kuingat: sesudah orang-orang berkata sah, ada satu detik jeda sebelum ruangan meledak, dan di dalam satu detik itu aku mendengar seseorang di barisan depan menarik napas panjang lewat hidung.
Aku tahu itu siapa. Aku tidak menoleh.
Evelyn duduk di sebelahku setelahnya.
Kami berdua diam sekitar setengah menit sementara orang-orang bergerak dan fotografer mengatur dan Ibu menangis dengan volume yang cukup untuk didengar dari halaman.
“Mas.”
“Hm.”
“Tangan kamu dingin banget.”
“Iya.”
“Kamu gugup?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Iya.”
Dia tertawa kecil, sekali, dan itu satu-satunya tawa dia pagi itu.
Aku mendatangi Om Gunawan sekitar sejam kemudian, waktu tamu mulai berkurang dan orang-orang sudah pindah ke belakang untuk makan.
Beliau berdiri sendirian di dekat pintu, memegang gelas air mineral yang belum dibuka.
“Om.”
“Zam.”
Kami berdiri berdampingan menghadap ruangan yang sudah kosong.
Aku sudah menyiapkan sesuatu. Aku selalu menyiapkan sesuatu. Kalimatnya panjang, isinya tentang bagaimana beliau tetap ayahnya dan tidak ada yang berubah dan aku akan selalu—
“Om,” kataku. “Maaf.”
Beliau menoleh.
“Maaf kenapa?”
Dan aku sadar aku tidak tahu cara menyelesaikan kalimat itu tanpa menyebut hal yang tidak boleh disebut.
Om Gunawan menunggu sebentar. Lalu beliau membuka tutup botol air mineralnya, minum sedikit, dan menutupnya lagi.
“Kamu tau,” katanya, “waktu Evie umur enam tahun, dia jatuh dari sepeda di depan rumah kamu. Yang nolongin ibumu, karena Om lagi kerja.”
“Saya nggak inget.”
“Kamu ada di situ. Kamu delapan tahun. Kamu nangis lebih kenceng daripada dia.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Om nggak sempet marah waktu itu,” lanjutnya. “Om cuma mikir, syukur ada orang di sana.”
Beliau menepuk bahuku sekali.
“Hari ini juga gitu. Om nggak duduk di kursi itu. Ya sudah. Yang penting ada orang di sana.”
Lalu beliau berjalan ke belakang untuk makan, meninggalkanku berdiri sendirian di ruangan yang tadi penuh.
Aku ingin sekali bisa bilang bahwa aku mengerti beratnya kalimat itu waktu itu juga.
Aku tidak. Aku cuma merasa hangat dan sedikit lega dan kembali ke tugas berikutnya, yang saat itu adalah foto bersama keluarga besar.
Butuh sembilan bulan sampai aku mengerti bahwa Om Gunawan baru saja memberiku sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Resepsinya sore. Tiga ratus dua puluh tamu, delapan puluh menit salaman, dan wajahku sakit sebelum tamu keseratus.
Evelyn berdiri di sebelahku selama seluruhnya.
Dia luar biasa. Aku ingin mencatat itu. Dia mengingat nama orang, dia menanyakan kabar anak orang, dia menunduk sedikit ke setiap tante yang lebih pendek darinya. Waktu ada tamu yang bertanya “ini yang dulu pacarnya anak Bu Lily itu bukan sih?” cukup keras, dia tersenyum dan bilang “Tante apa kabar, udah lama nggak ketemu,” dan tamu itu lupa pertanyaannya sendiri dalam empat detik.
Aku menatap sisi wajahnya sebentar waktu dia melakukan itu.
Orang ini kuat sekali, pikirku.
Terlalu kuat malah, kata suara Tante Wulan di kepalaku, dari tiga minggu lalu. Kalau ada apa-apa dia nggak akan bilang.
Aku menyingkirkan suara itu dan menyalami tamu berikutnya.
Jam delapan malam kami duduk di ruang transit di belakang panggung selama sepuluh menit, sendirian, untuk pertama kalinya sejak jam lima pagi.
Evelyn melepas sepatunya dan menaruh kaki di lantai keramik.
“Mas, kaki aku mati rasa.”
“Punyaku juga.”
“Kamu pakai sepatu enak.”
“Enak dari mana.”
“Ya kan cowok.”
“Sepatu cowok juga bisa jelek, Evelyn.”
Dia tertawa dan menyandarkan kepala ke dinding di belakangnya dan menutup mata.
Riasannya masih rapi. Sanggulnya sudah mulai turun sedikit di satu sisi. Ada satu helai rambut yang menempel di pipinya dan dia terlalu lelah untuk membetulkannya.
“Mas.”
“Hm.”
“Kita udah nikah.”
“Iya.”
“Aneh ya.”
“Iya.”
Dia membuka mata dan memandang langit-langit ruang transit yang catnya mengelupas di satu sudut.
“Aku pikir bakal berasa beda,” katanya. “Ternyata sama aja. Cuma capek.”
“Besok mungkin beda.”
“Kamu bilang gitu buat nyenengin aku?”
“Enggak. Aku beneran nggak tau.”
Dia menoleh ke arahku.
“Kamu tuh nggak pernah ngarang jawaban ya,” katanya.
“Ngarang gimana?”
“Ya... yang bagus-bagus. Yang orang biasa bilang.” Dia mengangkat bahu. “Semua orang hari ini ngomong yang bagus-bagus ke aku. Sampai capek.”
“Aku nggak pinter ngomong.”
“Bukan nggak pinter.” Dia menutup mata lagi. “Kamu cuma nggak bohong.”
Dan aku duduk di kursi seberang, tiga jam setelah menikahinya di atas satu kebohongan yang belum kucabut, dan tidak mengatakan apa pun.
Dan tangannya ada di pangkuan.
Cincin yang kupasang bulan lalu di jari manis kanan.
Dan dua sentimeter di sebelahnya, di kelingking, lingkaran perak yang kusam di beberapa bagian.
Ponselnya tergeletak di sofa di sebelah pahanya, layar menghadap ke bawah.
Aku duduk di kursi seberang dengan dasi yang sudah kulonggarkan dan menonton istriku beristirahat selama beberapa detik, dan berpikir bahwa ini hari terbaik dalam hidupku, dan bahwa aku tidak boleh melihat ke arah ponsel itu.
Aturan nomor dua.
Aku melihat ke langit-langit sampai orang datang memanggil kami untuk penutupan.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim reading
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis