Chapter Seven
Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
POV: Azzam
Foto prewedding-nya ide Tante Wulan dan dibiayai Ibu, yang berarti tidak ada satu pun dari kami berdua yang punya suara di dalamnya.
“Dua jam doang,” kata Ibu. “Di taman.”
Jadinya lima jam. Di tiga lokasi.
Fotografernya bernama Mas Deka, umurnya mungkin dua puluh enam, dan dia punya energi orang yang minum kopi untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.
“Oke oke oke. Bapak, tangannya di pinggang Ibu. Ibu, kepalanya senderin dikit. Dikit aja. Dikit—ya! Ya! Tahan. Tahan. Jangan napas.”
“Nggak napas sama sekali?” tanya Evelyn.
“Napas dikit.”
“Napas dikit gimana.”
“Ya napas yang nggak keliatan, Bu.”
Rena, yang ikut tanpa diundang dan membawa termos, tertawa sampai harus duduk.
“Mas kaku banget.”
“Diem.”
“Ini serius, Mas. Kayak orang lagi difoto buat KTP tapi badannya kegedean.”
“Rena.”
“Mas Deka, ini kakak saya emang gitu dari lahir.”
“Nggak apa-apa, Mbak,” kata Mas Deka, tanpa menurunkan kamera. “Yang penting Ibunya lepas. Kalau Ibunya lepas, Bapaknya ikut.”
“Berarti aku harus lepas?” tanya Evelyn.
“Iya, Bu.”
“Aku nggak bisa lepas kalau disuruh lepas.”
“Ya jangan mikirin lepas.”
“Sekarang aku mikirin lepas terus.”
Mas Deka menurunkan kameranya dan memandang langit sebentar seperti orang yang sedang berdoa.
Aku tidak akan berpura-pura hari itu tidak menyenangkan.
Evelyn payah difoto. Payah sekali. Setiap kali Mas Deka bilang “natural aja”, wajahnya berubah jadi wajah orang yang sedang mengingat PIN ATM.
“Bu, senyum.”
“Ini udah senyum.”
“Itu bukan senyum, Bu, itu... nahan.”
“Ini senyum aku, Mas.”
“Coba yang kayak lagi liat kucing.”
“Aku nggak suka kucing.”
Mas Deka menurunkan kameranya. “Ibu nggak suka kucing?”
“Enggak.”
“Anjing?”
“Enggak juga.”
“Ibu suka apa?”
“Buku.”
Mas Deka berdiri diam beberapa detik seperti orang yang sistemnya baru saja gagal. Lalu dia bilang, “Bapak, coba Bapak bisikin sesuatu ke Ibu.”
“Bisikin apa?”
“Apa aja.”
Aku condong ke arahnya dan bilang, pelan, “Bosmu nggak bisa bedain em dash sama en dash.”
Dan Evelyn tertawa — bukan senyum, tertawa, sampai bahunya turun dan dia harus menutup mata — dan Mas Deka menekan shutter delapan kali berturut-turut sambil berteriak “NAH ITU. ITU. ITU.”
Foto itu yang akhirnya dipajang di rumah kami nanti.
Lokasi kedua di gedung tua di kota lama. Lokasi ketiga di jembatan yang menurut Mas Deka “lagi viral” dan menurut Rena “isinya orang pacaran semua.”
Di lokasi kedua, sementara Mas Deka mengatur lampu selama dua puluh menit, kami duduk di anak tangga.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu capek nggak?”
“Enggak.”
“Bohong. Kamu dari jam enam pagi udah di proyek.”
Aku menoleh. “Kamu tau dari mana?”
“Rena.” Dia mengibaskan tangan. “Rena tuh kalau ditanya nggak jawab, tapi kalau nggak ditanya cerita semua.”
“Iya, itu emang penyakitnya.”
Dia tertawa, lalu menyandarkan siku ke lutut dan memandang ke seberang jalan.
“Aku juga capek,” katanya. “Bukan hari ini. Maksudnya... ya, gitu.”
“Iya.”
“Kamu nggak nanya gitu apa?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahu. “Kalau kamu mau cerita, kamu cerita.”
Dia diam agak lama.
“Kamu tuh aneh, ya,” katanya akhirnya. “Semua orang nanya. Mama nanya, Tante Ratih nanya, Vira nanya tiap hari sampai aku pengen matiin HP. Kamu satu-satunya yang nggak.”
“Aku nanya kok.”
“Kapan?”
“Barusan kamu bilang capek, aku bilang iya. Itu nanya.”
Dia menoleh ke arahku, dan ada sesuatu di wajahnya yang tidak bisa kubaca, dan Mas Deka berteriak “OKE SIAP” dari kejauhan sebelum aku sempat mencoba.
Kami berdiri.
Waktu jalan menuju posisi, dia bilang, tanpa menoleh, “Makasih ya.”
“Buat apa.”
“Buat nggak nanya.”
Aku ingin sekali mencatat betapa lucunya itu, kalau saja lucu.
Dia berterima kasih untuk hal yang persis sama yang nanti akan menghancurkan kami berdua.
Ini bagian yang sebenarnya ingin kuceritakan.
Sebelum sesi dimulai, Mas Deka menyerahkan daftar kecil ke kami berdua. Isinya hal-hal teknis: jangan pakai jam tangan, jangan pakai kacamata kalau bisa, lepas semua aksesoris tangan kecuali cincin lamaran.
Evelyn membacanya dua kali.
Lalu dia bilang, “Aku ke toilet bentar ya.”
Dia pergi delapan menit.
Waktu kembali, kelingking kanannya kosong.
Dia menggenggam tasnya sedikit lebih erat dari yang perlu.
Aku tahu benda itu ada di dalam tas.
Aku tahu, karena selama lima jam berikutnya tas itu tidak pernah lebih dari tiga meter dari dia. Waktu kami pindah lokasi, dia yang membawanya sendiri padahal Rena sudah membawa tiga tas lain. Waktu Mas Deka minta tasnya disingkirkan dari frame, dia menaruhnya di kursi yang bisa dia lihat, bukan di kursi yang paling dekat.
Aku memperhatikan itu bukan karena aku curiga.
Aku memperhatikan itu karena aku memang selalu memperhatikan, dan itu bukan kemampuan yang bisa dimatikan sesuka hati.
Ini yang tidak dimengerti orang tentang pekerjaanku.
Sepuluh tahun aku dibayar untuk berjalan di lantai yang belum jadi dan melihat hal yang salah sebelum orang lain melihatnya. Retak rambut di dinding. Bekisting yang turun dua sentimeter. Satu tukang yang gerakannya berubah karena tangannya sakit dan dia tidak bilang.
Kamu tidak belajar itu untuk pekerjaan lalu meninggalkannya di gerbang proyek. Kamu jadi orang yang begitu.
Jadi waktu perempuan yang akan menikah denganku dalam dua puluh dua hari melepas sebuah benda dari tangannya dan menjaga tasnya seperti orang menjaga paspor, aku melihatnya.
Aku tidak bisa tidak melihatnya.
Yang bisa kupilih cuma apa yang kulakukan setelah melihat.
Di jembatan, lokasi ketiga, Mas Deka menyuruh kami berpegangan tangan sambil berjalan.
“Jalan biasa aja, Pak, Bu. Ngobrol aja.”
“Ngobrol apa?”
“Apa aja.”
Kami berjalan bolak-balik di jembatan itu delapan kali. Rena menghitung dari pinggir dan mengumumkan angkanya tiap kali kami lewat, yang membuat Mas Deka memohon supaya dia berhenti.
Di lintasan keenam, Evelyn bilang, “Tangan kamu kasar banget.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kerja.”
“Kerja apa sih sampai segini?”
“Megang gambar.”
“Gambar nggak bikin kasar, Mas.”
“Ya kadang megang yang lain.”
Dia menoleh dengan alis naik, dan kupikir dia akan menggoda, tapi dia cuma bilang, “Ada krim buat gitu, tau.”
“Nggak sempet.”
“Nanti aku beliin.”
Dan dia bilang itu ringan sekali, seperti orang bilang mau membelikan roti, dan lalu langsung ganti topik ke hal lain karena Rena berteriak “TUJUH.”
Dia tidak pernah membelikannya. Aku tidak pernah mengingatkannya.
Tapi aku memikirkan kalimat itu berkali-kali selama setahun berikutnya, jauh lebih sering daripada yang pantas untuk kalimat sependek itu.
Jam empat sore, sesi selesai. Mas Deka membereskan alat. Rena membagikan es teh dari termosnya yang ternyata isinya es teh, bukan kopi, dan mengeluh soal itu selama sepuluh menit.
Evelyn duduk di kursi taman, membuka tas, dan mengeluarkan benda itu.
Dia memakainya kembali.
Bukan buru-buru. Bukan sembunyi-sembunyi. Dia melakukannya di tempat terbuka, di depan lima orang, dengan gerakan orang yang memakai jam tangan setelah mandi.
Lalu dia mengembalikan tangannya ke pangkuan, dan aku melihat bahunya turun.
Sama seperti di kafe.
Sama seperti waktu aku bilang “iya.”
Rena mendekat waktu aku sedang membereskan mobil.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku boleh ngomong satu hal terus abis itu nggak usah dibahas?”
“Jangan.”
“Ya udah aku ngomong aja.”
Aku menutup bagasi.
“Yang di kelingking itu dari Ernest,” katanya.
Aku tidak bergerak.
“Anniversary pertama mereka. Dua ribu dua puluh dua.” Rena bicara cepat, seperti orang yang tahu kalau dia berhenti dia tidak akan lanjut lagi. “Aku tau karena dulu Kak Evelyn pernah cerita ke aku pas nungguin Mama di rumah sakit. Dia cerita panjang banget. Aku waktu itu mikir, ih manis banget, aku nggak tau bakal—“
“Rena.”
“—aku nggak tau bakal jadi kayak gini, Mas.”
Aku berdiri di belakang mobil dengan tangan masih di bagasi.
“Kamu udah tau, ya,” katanya.
“Enggak.”
“Mas.”
“Aku belum tau,” kataku. “Sekarang aku tau.”
Rena diam. Lalu dia bilang, suaranya kecil sekali, “Mas mau aku ngomong ke dia?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada yang perlu diomongin.”
“Mas, itu—“
“Rena.” Aku menoleh ke arahnya. “Kalau kamu ngomong, dia bakal lepas. Terus dia bakal minta maaf. Terus tiap kali dia ketawa dia bakal ngecek dulu muka aku. Terus dia bakal ati-ati sama aku selamanya.”
“Bagus dong, harusnya dia emang—“
“Nggak bagus.” Aku menutup pintu bagasi. “Aku nggak mau ditemenin orang yang lagi hati-hati.”
Rena menatapku cukup lama.
“Mas tau nggak,” katanya akhirnya, “itu kedengerannya kayak orang baik. Tapi bukan.”
“Terus apa?”
“Itu kedengerannya kayak orang yang lagi nawar.”
“Mas nawar apa?” lanjutnya, karena Rena tidak pernah berhenti di tempat yang benar. “Mas rela kayak gini, terus berharap suatu hari dia sadar sendiri? Itu bukan sabar, Mas. Itu beli lotre.”
“Aku nggak ngarep apa-apa.”
“Bohong.”
“Rena.”
“Kalau Mas beneran nggak ngarep, Mas nggak akan sakit.” Suaranya naik. “Orang yang nggak ngarep tuh nggak sakit, Mas. Yang sakit itu yang ngarep tapi nggak ngaku.”
Aku tidak menjawabnya, karena tidak ada yang bisa kujawab.
Rena menyeka wajahnya dengan lengan, kesal pada dirinya sendiri karena menangis, dan itu juga sangat Rena.
“Aku sayang sama Kak Evelyn,” katanya, lebih pelan. “Beneran. Dari dulu. Aku pengen dia jadi kakak aku dari SMP.”
“Iya.”
“Tapi aku sayangnya sama kamu duluan.”
Dia masuk ke mobil dan membanting pintunya, dan aku berdiri di parkiran taman selama beberapa detik sebelum menyusul.
Malamnya aku duduk di kamar dan melakukan sesuatu yang, kalau ada orang lain melihat, akan terlihat sangat bodoh.
Aku menulis di aplikasi catatan di ponselku.
Bukan puisi. Bukan curhat. Aku tidak bisa melakukan itu dan tidak berniat belajar.
Aku menulis daftar.
1. Jangan tanya soal cincin.2. Jangan lihat layar HP-nya. Termasuk yang nyala di meja.3. Kalau dia cerita soal harinya, dengerin sampai habis. Jangan cari yang bolong.4. Kalau dia bohong kecil, biarin.5. Jangan pernah bikin dia harus milih. Dia bakal milih, dan itu bukan aku.
Aku membacanya sekali.
Lalu aku menghapus nomor lima dan menulisnya ulang, karena versi pertamanya terlalu jujur.
Versi pertamanya berbunyi: Jangan pernah bikin dia harus milih, karena kamu bakal kalah.
Versi keduanya: Jangan pernah bikin dia harus milih. Dia bakal milih, dan itu bukan aku.
Bedanya tipis sekali. Yang pertama tentang aku. Yang kedua tentang dia.
Aku memilih yang kedua supaya kelihatan seperti aturan, bukan seperti ketakutan.
Lalu aku menambahkan satu baris lagi di bawah.
6. Ini bukan satu keputusan. Ini keputusan yang harus diambil ulang tiap hari.
Aku menyimpannya tanpa judul.
Dan aku ingin menuliskan di sini, sejelas mungkin, bahwa waktu aku mengetik enam baris itu aku benar-benar merasa sedang melakukan hal yang dewasa. Aku merasa seperti orang yang sudah menghitung risiko dan memilih dengan mata terbuka.
Aku tidak sedang menghitung apa-apa.
Aku sedang membuat aturan supaya aku punya alasan untuk tidak bertanya, karena aku takut pada jawabannya, dan aku menyebutnya kedewasaan supaya lebih enak ditelan.
Tapi itu baru kusadari jauh setelahnya.
Malam itu aku menaruh ponsel di meja dan mematikan lampu.
Sebelum tidur, ponselku menyala sekali lagi.
Evelyn:Mas, foto yang aku ketawa itu jangan dikasih ke Mas Deka buat dicetak gede ya. Malu.
Evelyn:Yang aku senyum normal aja.
Aku menatap layar di kegelapan.
Yang mana yang normal?
Evelyn:Yang mukanya kayak lagi inget PIN ATM.
Evelyn:Kata kamu tadi.
Evelyn:Aku denger lho.
Aku tertawa sendirian di kamar jam sebelas malam.
Nggak. Yang ketawa.
Evelyn:Mas.
Evelyn:AZZAM.
Selamat malam, Evelyn.
Dia mengirim tiga emoji marah dan berhenti.
Aku menaruh ponsel menghadap ke bawah dan tidur dengan cukup nyenyak, dan aku ingin itu tercatat juga: malam itu aku bahagia.
Aku sudah punya enam aturan tertulis untuk tidak melihat, tidak bertanya, dan tidak menuntut apa pun seumur hidupku.
Dan aku tidur sambil tersenyum karena seseorang mengirimiku tiga emoji marah.
Dua puluh dua hari lagi akad.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari reading
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis