Chapter Thirty Three
Dua
POV: Evelyn
Aku tidak mengejarnya.
Itu hal pertama yang harus kutuliskan, karena itu hal pertama yang tidak bisa kumaafkan.
Pintu ditutup jam sebelas lewat empat puluh, dan aku berdiri di ruang tengah selama entah berapa lama, dan aku tidak berlari keluar, aku tidak berteriak dari teras, aku tidak menghalangi mobilnya.
Aku berdiri di sana.
Aku sudah memikirkan kenapa berkali-kali. Yang paling dekat begini: dia tidak sedang mengusulkan sesuatu. Dia sedang memberitahuku hasil.
Sertifikat sudah diurus. Notaris sudah didatangi. Cicilan sudah dihitung. Tas sudah dikemas semalam dan disembunyikan di gudang.
Kamu tidak mengejar orang yang sedang mengumumkan keputusan.
Kamu mengejar orang yang sedang bertanya.
Rumah itu sama sekali tidak berubah.
Itu yang paling tidak masuk akal. Aku pikir akan ada bukti, ada bekas, ada sesuatu yang jelas hilang. Tidak ada.
Sofanya di tempatnya. Meja makan di tempatnya. Kipas angin yang dia perbaiki dua tahun lalu masih di sudut yang sama dan masih tidak berbunyi.
Aku berjalan mengelilingi rumah itu dua kali dan tidak menemukan satu pun ruang kosong.
Baru di kamar mandi.
Dua sikat gigi di gelas. Punyanya biru, punyaku hijau, dan sudah begitu sejak bulan pertama.
Aku berdiri di depan wastafel dan menatap dua sikat gigi itu dan mengerti bahwa dia mengemas tas semalam dan tidak mengambil sikat giginya.
Bukan karena lupa.
Orang seperti dia tidak lupa. Orang seperti dia menyusun daftar dan mencentangnya.
Dia tidak mengambilnya karena dia tidak sanggup masuk ke kamar mandi jam satu pagi dan mengangkat sikat gigi dari gelas yang isinya dua.
Aku duduk di lantai kamar mandi.
Dan begini yang terjadi di dalam kepalaku, dan aku ingin menuliskannya persis, karena bentuknya penting.
Yang pertama datang bukan sedih.
Yang pertama datang: aku belum ngomong.
Enam kata. Aku sudah menyusunnya jam empat pagi hari Jumat, berbaring di kegelapan, sambil memandangi wajah orang yang tidak sedang menahan apa pun.
Aku tau, dan aku tetap di sini.
Aku menyimpannya untuk hari Sabtu. Sabtu ada telepon dari kantor. Aku bilang besok.
Dan besoknya dia bilang dia mau pisah.
Aku duduk di lantai kamar mandi rumahku sendiri dan mengerti bahwa jarak antara aku dan seluruh hidupku adalah dua puluh empat jam dan enam kata, dan bahwa aku sendiri yang memilih untuk menunda, karena aku selalu harus menyusun dulu, karena aku tidak pernah bisa mengucapkan sesuatu sebelum kalimatnya benar.
Aku sudah menghabiskan dua puluh delapan tahun memastikan kalimatku benar.
Dan satu-satunya kalimat yang penting tidak pernah keluar dari mulutku, karena belum sempurna.
Mama menelepon jam empat sore.
Aku tahu dari cara beliau mengucapkan namaku bahwa Azzam sudah bicara.
“Evie.”
“Iya, Ma.”
“Kamu di rumah?”
“Iya.”
“Mama ke sana ya.”
“Nggak usah, Ma.”
“Evie.”
“Ma, aku nggak apa-apa.”
Dan ada jeda di seberang sana, dan jeda itu punya bentuk yang sangat spesifik, dan aku sudah cukup lama jadi anak beliau untuk tahu bahwa beliau sedang menahan sesuatu.
“Ya sudah,” kata Mama. “Kalau butuh apa-apa telepon.”
Beliau menutup telepon.
Tiga menit kemudian aku mendengar mobil masuk ke halaman.
Mama dan Papa datang bersama.
Papa membawa dua kantong plastik dari warung, yang tidak masuk akal karena rumah ini penuh makanan.
Beliau tidak bilang apa-apa. Beliau masuk, menaruh kantong itu di meja, dan duduk di kursi yang biasa diduduki Azzam.
Mama memelukku di ambang pintu selama sekitar satu menit, dan aku tidak menangis, dan itu jauh lebih buruk untuk beliau daripada kalau aku menangis.
Kami duduk di ruang tengah.
“Dia datang tadi jam satu,” kata Papa akhirnya. “Ke rumah kita sama ke rumah Hendra sekaligus. Semua kumpul.”
“Iya.”
“Dia bilang ini dari dia. Dia bilang kamu nggak salah apa-apa.”
“Iya.”
“Ratih nangis.”
“Iya.”
Papa memandangi lantai.
“Evie.”
“Iya, Pa.”
“Bapak nanya sekali doang terus nggak nanya lagi.”
Aku mengangguk.
“Ini yang kamu mau?”
Dan aku duduk di sofa rumahku sendiri, di depan ayahku yang pernah tidak bicara tiga hari dan tidak pernah membahasnya lagi selama dua tahun, dan aku mengerti untuk pertama kalinya betapa besarnya usaha yang beliau butuhkan untuk mengajukan satu pertanyaan.
“Bukan, Pa,” kataku.
Papa mengangguk pelan.
Beliau tidak bertanya lagi. Beliau sudah bilang cuma sekali.
Tapi sebelum pulang, di ambang pintu, beliau berkata, tanpa menoleh:
“Kalau bukan yang kamu mau, jangan diem.”
Rena datang jam tujuh malam.
Dia tidak mengetuk. Dia masuk dan langsung duduk di lantai ruang tengah dan menangis selama mungkin sepuluh menit tanpa mengatakan satu kata pun, dan aku duduk di sebelahnya dan tidak tahu harus bagaimana.
“Kak.”
“Iya.”
“Ini gara-gara aku.”
“Rena.”
“Kalau aku nggak ngomong—“
“Rena, dengerin aku.” Aku memutar bahunya. “Kalau kamu nggak ngomong, aku bakal masih nggak tau apa-apa sekarang, dan dia bakal tetep ngajuin pisah, dan aku bakal ngiyain.”
Dia menatapku dengan mata bengkak.
“Kakak bakal ngiyain?”
“Setahun lalu? Iya.” Aku mengusap wajahku. “Aku bakal bilang oke dalam lima detik, kayak biasa.”
Rena menarik napas beberapa kali.
“Kak.”
“Hm.”
“Mas nelepon aku Sabtu malem.”
Aku menoleh.
“Aku tau dia mau ngelakuin sesuatu,” kata Rena. “Aku ngerasa. Aku bilang jangan. Dia nanya ‘sampai apa’, dan aku—“
Dia berhenti.
“Aku hampir ngomong, Kak. Empat detik. Aku hampir ngomong semuanya.”
“Terus?”
“Terus aku inget aku janji sama Kakak.”
Dan Rena menutup wajahnya dengan dua tangan, dan aku duduk di lantai di sebelahnya, dan kami berdua diam sekitar satu menit.
“Ren.”
“Hm.”
“Dia gimana?”
Rena mengangkat kepala.
“Dia baik banget,” katanya, dan suaranya pecah. “Itu yang bikin aku pengen mukul dia. Dia sampai rumah, dia salim sama Mama, dia jelasin semua ke semua orang selama satu jam, dia jawab semua pertanyaan, dia bilang ini salah dia.”
“Terus?”
“Terus dia naik ke kamar, dia beresin lemari, dia nggak nangis, dan malemnya dia makan malem sama kita kayak nggak ada apa-apa.”
Aku menatap lantai.
“Kak,” kata Rena. “Dia nggak akan berhenti begitu. Dia bakal begitu terus sampai mati.”
“Kak.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya sesuatu yang jelek?”
“Boleh.”
Rena memandangi lantai.
“Kenapa Kakak nggak lari keluar?”
Aku menoleh ke arahnya.
“Waktu dia pergi,” katanya. “Kenapa Kakak nggak lari keluar terus nahan pintu mobilnya?”
Dan aku duduk di lantai ruang tengah itu dan mencoba menjawab dengan jujur.
“Karena dia nggak nanya,” kataku.
“Hah?”
“Dia nggak nanya apa-apa, Ren. Dia ngasih tau.” Aku mengusap wajahku. “Sertifikat udah diurus. Notaris udah didatengin. Tas udah dikemas semalem. Kamu nggak bisa ngejar orang yang lagi baca hasil.”
Rena menatapku cukup lama.
“Kak.”
“Hm.”
“Itu alesannya, atau itu yang Kakak bilang ke diri sendiri?”
Dan aku tidak menjawab, dan Rena tidak mendesak, dan kami duduk di lantai itu sampai dia pulang.
Rena pulang jam sepuluh.
Aku tidur di sofa malam itu karena aku tidak sanggup masuk kamar.
Senin aku tidak masuk kerja.
Aku mengirim pesan ke bosku jam enam pagi bilang aku sakit, dan itu bohong pertama yang kuucapkan minggu itu dan tidak akan jadi yang terakhir.
Aku menghabiskan hari Senin melakukan satu hal.
Aku membaca ulang lagi.
Aku sudah melakukannya tiga bulan lalu — sebelas bulan, dari malam pertama sampai hari itu — dan aku pikir aku sudah selesai.
Aku belum.
Karena tiga bulan lalu aku membacanya dengan satu informasi baru: bahwa dia mencintaiku.
Hari Senin aku membacanya dengan informasi yang kedua: bahwa dia sudah memutuskan untuk pergi, dan bahwa dia sudah memutuskannya sejak Kamis, dan bahwa tiga malam terakhir kami adalah tiga malam orang yang sudah tahu.
Guling di kursi.
Aku bangun Jumat pagi dan guling itu tidak di tengah kasur, dan aku berdiri di kamar itu selama lima detik dan merasa hangat sekali.
Dia memindahkannya ke kursi hari Jumat pagi, dan hari Minggu dia pergi.
Aku duduk di sofa hari Senin sore dan mengerti bahwa laki-laki itu memberi dirinya sendiri tiga hari.
Tiga hari yang dia tahu tidak akan berlanjut, dan dia mengambilnya, dan itu satu-satunya hal serakah yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Hari Selasa aku masuk kerja karena aku tidak tahu harus apa lagi.
Waktu pulang jam enam, gerbang tidak terkunci.
Aku berdiri di halaman selama beberapa detik dengan jantung yang berbunyi terlalu keras, dan aku membuka pintu, dan rumah itu kosong.
Tapi ada yang berubah.
Keran dapur yang menetes sejak dua bulan lalu sudah tidak menetes. Pegangan pintu kamar mandi yang longgar sudah kencang. Tabung gas sudah diganti dan yang kosong sudah ditaruh di teras belakang untuk diambil.
Lampu teras yang mati minggu lalu menyala.
Aku berjalan mengelilingi rumah itu dan menghitung. Tujuh hal.
Tujuh hal yang tidak pernah kusebut ke siapa pun, karena semuanya kecil, karena aku selalu berpikir nanti saja.
Di meja makan ada kertas.
Gasnya aku ganti. Yang kosong di belakang, hari Kamis biasanya diambil.
Keran dapur karetnya yang aus, aku ganti dua. Sisanya aku taruh di laci bawah kalau nanti bocor lagi.
Nomor tukang listrik aku tulis di bawah. Namanya Pak Deden. Bilang aja dari aku.
Air panas tetap dinyalakan dulu dua menit.
Dan di bawah, di baris terakhir, dengan tulisan tangan yang sama seperti di buku tugas kelompok tiga puluh tahun yang lalu:
Aku masuk pakai kunci yang lama. Nanti aku titipin ke Rena.
Aku memegang kertas itu dengan dua tangan dan berdiri di dapur rumah yang dia bayar cicilannya, di depan keran yang dia perbaiki, dengan lampu teras yang dia ganti menyala di luar.
Dan aku menangis untuk pertama kalinya sejak hari Minggu.
Bukan karena dia pergi.
Karena dia datang ke rumah ini hari Selasa siang, sendirian, sambil membawa perkakas, dan menghabiskan mungkin tiga jam memperbaiki tujuh hal supaya perempuan yang baru saja dia tinggalkan tidak perlu repot.
Lalu dia menulis catatan.
Lalu dia menaruh kunci rumahnya sendiri di saku dan pergi sebelum aku pulang, supaya aku tidak perlu bertemu dengannya.
Dan tidak satu pun dari itu dia lakukan supaya aku tahu.
Dia melakukannya supaya kerannya tidak bocor.
Aku duduk di meja makan itu sampai jam sepuluh malam dengan kertas itu di depanku.
Lalu aku mengambil ponsel dan mengetik satu kalimat, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi.
Enam kali.
Yang ketujuh aku kirim.
Mas. Aku mau ngomong. Kapan kamu bisa?
Centang biru dalam empat menit.
Balasannya datang setengah jam kemudian.
Azzam:Kalau soal rumah atau surat-surat, telepon aja kapan aja.
Azzam:Kalau soal yang lain, kayaknya nggak usah dulu ya.
Aku menatap dua pesan itu.
Lalu aku menaruh ponsel di meja, menghadap ke bawah, dan pergi ke kamar mandi.
Dua sikat gigi masih di gelas.
Aku tidak menyentuhnya.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua reading
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis