Chapter Sixteen
Aku Cerita Semuanya
POV: Evelyn
Aku mengiriminya pesan sembilan hari setelah makan siang dengan Vira.
Sembilan hari itu bukan sembilan hari menahan diri. Aku ingin jujur soal itu. Sembilan hari itu sembilan hari mencari alasan yang cukup bagus, dan di hari kesembilan aku menemukannya.
Buku masak.
Ada buku masak di kardus itu dengan tulisan tangan ibunya di halaman depan. Buku itu milik ibunya, dipinjamkan ke aku dua tahun lalu, dan tidak pernah kukembalikan.
Itu alasan yang sah. Itu alasan yang bisa kukatakan ke siapa pun. Kalau Vira bertanya, aku bisa bilang “aku balikin buku ibunya” dan itu benar seratus persen.
Aku menyusun pesannya tujuh belas menit.
Nest, aku baru sadar buku masaknya Tante masih di aku. Maaf banget. Aku anter ya? Atau kamu ambil aja kalau lebih gampang.
Dibaca. Tidak dibalas selama dua jam.
Lalu:
Ernest:nggak usah repot. buang aja.
Aku menatap tiga kata terakhir itu.
Lalu aku mengetik, dan aku ingin sekali bisa bilang bahwa aku berpikir dulu.
Nggak enak, itu tulisan tangan Tante. Sabtu aku ke daerah situ kok.
Dibaca.
Empat puluh menit.
Ernest:ya udah. jam 11.
Sabtu pagi aku bilang mau ke rumah Mama.
Itu tidak sepenuhnya bohong. Aku memang ke rumah Mama, dua jam sebelumnya, dan makan siang di sana, dan membantu Mama memilah baju lama.
Aku cuma tidak menyebutkan bagian yang setelahnya.
Mas Azzam sedang di teras waktu aku pamit, memasang sesuatu di sepeda motor tetangga yang entah kenapa jadi tanggung jawabnya.
“Aku ke rumah Mama ya.”
“Iya. Bawa payung.”
“Nggak hujan.”
“Nanti hujan.”
“Kok tau?”
Dia menunjuk ke arah barat tanpa mengangkat kepala dari mesin. “Awannya.”
“Kamu ini kayak nenek-nenek.”
“Bawa payung, Evelyn.”
Aku membawa payung.
Dia sudah di sana waktu aku sampai. Sudut yang sama dengan enam bulan lalu, karena kafe ini punya tiga meja pojok dan dia selalu memilih yang menghadap pintu.
“Vie.”
“Hai.”
Aku menaruh buku masak itu di meja. Sampulnya sudah kubersihkan semalam dengan lap basah, dan aku menyadari betapa memalukannya itu justru waktu meletakkannya, karena dia bahkan tidak melihat ke arahnya.
“Makasih,” katanya.
“Iya.”
Dia memindahkannya ke kursi di sebelahnya tanpa membuka.
Aku menunggu.
Aku ingin sekali bisa bilang aku tidak menunggu, tapi aku menunggu, dan aku bahkan tahu apa yang kutunggu. Aku menunggu dia membukanya. Aku menunggu dia melihat tulisan tangan ibunya dan berhenti sebentar. Aku menunggu tiga detik di mana dia mengingat sesuatu.
Dia memesan kopi.
“Yang sama?” tanya pelayan.
“Iya.”
Pelayan itu mengenalnya. Artinya dia sering ke sini. Artinya kafe ini bukan tempat netral yang kupilih di tengah antara rumahku dan rumahnya. Ini tempatnya.
Aku memesan teh dan tidak berkata apa-apa soal itu.
Dua puluh delapan menit.
Aku menghitungnya, karena aku selalu menghitung.
Dua puluh delapan menit, dan tidak ada satu pun yang terjadi.
Dia menanyakan pekerjaanku. Aku menjawab. Aku menanyakan pekerjaannya. Dia menjawab, pendek, tiga kalimat, lalu berhenti.
Dia menanyakan kabar orang tuaku. Aku bilang baik. Dia bilang “syukurlah.”
Aku menanyakan kabar ibunya. Dia bilang sudah bisa jalan sendiri, sudah kontrol sebulan sekali, tidak apa-apa.
Ada satu momen di menit kedua belas di mana ponselnya bergetar di meja dan dia membaliknya dengan satu gerakan yang sangat cepat dan sangat terlatih, dan aku melihat gerakan itu dan tubuhku bereaksi sebelum kepalaku sempat menamainya.
Dia tidak menyebutkan siapa.
Aku tidak bertanya.
Tapi aku menghitung berapa lama dia membiarkannya di posisi terbalik, dan jawabannya adalah sisa pertemuan, dan aku tahu persis apa artinya karena aku melakukan hal yang sama setiap hari di rumahku sendiri.
Ada satu momen lagi, di menit kelima belas, yang lebih buruk dari itu.
Aku menceritakan sesuatu yang lucu dari kantor. Cerita yang bagus, yang selalu berhasil, yang membuat Rena tertawa sampai batuk minggu lalu.
Dia tersenyum.
Senyum yang sopan. Senyum yang kamu berikan ke rekan kerja yang menceritakan sesuatu tentang anaknya.
Dan aku, di detik berikutnya, mendengar suaraku sendiri menambahkan: “Ya, nggak lucu ya.”
“Lucu kok.”
“Enggak.”
“Lucu.”
Dan dia minum kopinya.
Aku ingin mencatat ini karena ini bagian yang paling tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk Vira: pagi itu aku merendahkan ceritaku sendiri di depan orang yang sudah tidak peduli, supaya dia tidak merasa tidak enak karena tidak tertawa.
Di menit kedua puluh dua dia melihat jam.
“Aku ada—“
“Iya, iya. Nggak apa-apa.”
“Bukan gitu.”
“Aku juga harus pulang kok.”
Kami berdiri.
Dan di sinilah aku ingin menuliskan sesuatu dengan sangat hati-hati, karena kalau aku menuliskannya salah, aku akan terdengar seperti orang yang dizalimi, dan aku bukan orang yang dizalimi.
Ernest tidak melakukan apa pun yang salah pagi itu.
Dia sopan. Dia datang tepat waktu. Dia membalas dua kali padahal tidak harus. Dia tidak menyentuhku, tidak menggodaku, tidak sekali pun mengucapkan satu kalimat yang bisa kutafsirkan sebagai harapan.
Yang dia lakukan cuma satu: dia meladeni.
Dia membalas cukup untuk membuatku datang lagi, dan tidak cukup untuk membuatku berhenti.
Dan aku tidak yakin sampai sekarang apakah dia sadar sedang melakukan itu, atau apakah dia cuma laki-laki dua puluh sembilan tahun yang tidak tega bilang tidak dan tidak tahu bahwa tidak tega itu bisa jauh lebih kejam.
“Vie,” katanya di pintu.
Aku menoleh.
“Suami kamu orangnya gimana?”
Aku berdiri di pintu kafe itu dan tidak siap sama sekali.
“Baik,” kataku.
“Baik gimana?”
“Ya... baik.” Aku mengangkat bahu. “Baik banget malah.”
Ernest mengangguk.
“Bagus,” katanya. “Syukurlah.”
Dan dia tersenyum, dan senyumnya lega.
Lega.
Aku menyetir pulang empat puluh menit dengan satu kata itu di dada, dan hujan turun di kilometer kelima persis seperti yang dia bilang, dan aku punya payung dan tidak menggunakannya karena aku di mobil, dan entah kenapa itu membuatku menangis lebih keras daripada apa pun yang terjadi di kafe.
Aku sampai rumah jam empat sore.
Aku sudah membersihkan wajah di parkiran minimarket sebelum masuk kompleks. Aku sudah memeriksa mata di kaca spion. Aku sudah menyiapkan versi hari ini: rumah Mama, baju lama, makan siang, macet.
Mas Azzam ada di dapur.
“Udah pulang?”
“Udah.”
“Hujan?”
“Sempet.”
“Payungnya kepake?”
“Nggak, aku di mobil.”
“Ya berarti nggak kepake.”
“Ya kan kamu yang nyuruh bawa.”
“Bawa itu buat jaga-jaga.” Dia menutup kulkas. “Kepake atau enggak itu urusan lain.”
Aku tertawa, dan tawanya keluar sedikit lebih keras dari yang seharusnya karena ada yang tersangkut di tenggorokanku sejak tadi.
Aku duduk di kursi meja makan dan menaruh dagu di tangan.
Dan aku mulai bercerita.
Aku tidak berencana bercerita.
Aku ingin itu tercatat, karena ini bagian yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri, dan penjelasannya membuatnya lebih buruk, bukan lebih baik.
Aku mulai dari rumah Mama. Baju lama. Mama yang menyimpan seragam SMA-ku selama dua belas tahun dan menolak membuangnya. Aku bercerita lima menit soal itu dan dia tertawa dua kali.
Lalu aku bercerita soal hujan di kilometer kelima.
Lalu aku bercerita soal kafe.
Bukan menyebut nama. Aku tidak segila itu. Aku bilang “aku mampir bentar” dan “ada urusan bentar,” dan kalimat-kalimat itu keluar dengan sangat mulus karena aku sudah menyiapkannya.
Tapi setelah itu aku tidak berhenti.
Aku bercerita bahwa aku merasa capek. Aku bercerita bahwa ada hal-hal yang sudah lama tidak selesai di kepalaku dan aku tidak tahu cara menyelesaikannya. Aku bercerita bahwa aku benci sekali jadi orang yang menunggu jawaban, karena aku bukan orang seperti itu, karena di kantor aku orang yang paling cepat memutuskan.
Aku bercerita bahwa aku pernah, waktu SMP, ikut lomba baca puisi dan lupa satu bait di tengah dan berdiri diam sebelas detik di depan satu sekolah.
“Sebelas detik?”
“Aku ngitung.”
“Kamu ngitung sambil di panggung?”
“Aku selalu ngitung.”
Dia menaruh pisaunya.
“Kenapa?”
“Hah?”
“Kenapa selalu ngitung?”
Aku membuka mulut untuk menjawab dengan sesuatu yang ringan, dan yang keluar bukan itu.
“Biar kelihatan kayak ada yang aku kendaliin,” kataku.
Ruangan itu diam beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Masuk akal,” dan mengambil pisaunya lagi, dan tidak menggali lebih dalam, dan entah kenapa justru itu yang membuatku terus bicara.
Aku bercerita mungkin dua puluh menit.
Dan setiap kali aku berhenti, dia bilang “hm,” atau “terus?”, dan aku lanjut.
Dan di suatu titik dia duduk di kursi seberangku dan tidak lagi memotong bawang, dan tangannya di atas meja, dan dia mendengarkan sepenuhnya.
“Aku ngomong kebanyakan ya,” kataku akhirnya.
“Enggak.”
“Aku bahkan nggak jelasin apa-apa. Kamu pasti bingung.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu nggak nanya?”
Dia menggeleng sekali.
“Kenapa?”
“Karena kamu belum selesai.”
Aku menatapnya.
“Aku udah selesai kok.”
“Ya udah kalau gitu.”
Dan dia berdiri dan kembali ke bawangnya.
Aku duduk di kursi itu beberapa saat lagi.
Ada perasaan yang datang malam itu yang tidak bisa kunamai, dan aku mencoba menamainya di kamar mandi sambil menyikat gigi dan gagal, dan aku mencoba lagi di tempat tidur dan gagal lagi.
Yang paling dekat begini.
Sepanjang hari itu, aku duduk berhadapan dengan orang yang dua tahun lalu mengenal aku lebih dari siapa pun, dan aku menghitung setiap detiknya, dan aku pulang dengan tangan kosong.
Lalu aku pulang dan berbicara dua puluh menit tanpa henti ke orang yang tidak menuntut apa pun, dan dia mendengarkan sampai selesai, dan aku tidak menghitung satu menit pun dari dua puluh menit itu.
Aku tidak sadar aku tidak menghitung sampai malam.
Aku menatap langit-langit dan berpikir: aneh ya.
Lalu aku tidur.
Besok paginya ada teh di meja, seperti biasa, dengan tutup di atasnya supaya tidak dingin.
Aku minum sambil berdiri di dapur, dan aku melihat cangkirnya di sebelah bak cuci, sudah dicuci, sudah ditelungkupkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, aku bertanya-tanya jam berapa dia bangun.
Aku tidak pernah bertanya. Tujuh bulan.
Aku tahu dia berangkat setengah enam. Aku tahu dia pulang antara tujuh dan setengah sembilan. Aku tahu dia mengangkat jemuran dan mematikan lampu teras.
Aku tidak tahu jam berapa dia bangun untuk menyeduh benda yang kupegang ini.
Aku menghitung mundur. Kalau berangkat setengah enam, mandi dua puluh menit, seduh dua gelas, kira-kira lima.
Jam lima.
Dua ratus dua belas hari.
Aku berdiri di dapur dengan gelas teh yang masih panas dan menghitung hal itu tiga kali karena aku pikir aku salah, dan aku tidak salah.
Lalu aku menghabiskan tehnya dan berangkat kerja dan tidak memikirkannya lagi sampai malam.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya reading
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis