← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty

Sampai Kau Berhenti Menoleh

POV: Evelyn


Kami tidak langsung baik.

Aku ingin menuliskan itu di kalimat pertama, karena kalau tidak, seluruh bab ini akan jadi bohong.

Dia pindah kembali hari Minggu berikutnya, dengan satu tas dan lima kemeja, dan Rena datang membantu meskipun tidak ada yang perlu dibantu karena barangnya cuma satu tas.

“Ini doang?”

“Ini doang.”

“Mas, aku bantuin pindah kemarin juga cuma satu tas. Aku dateng ke sini buat apa?”

“Kamu yang maksa dateng.”

“IYA TAPI TETEP.”

Rena tinggal sampai jam sembilan malam dan menghabiskan dua bungkus keripik kami.


Bulan pertama susah.

Bukan susah yang besar. Susah yang kecil dan terus-menerus, jenis yang tidak ada di novel mana pun.

Dia lupa. Sering.

Minggu kedua aku pulang dan menemukan pintu kamar mandi yang engselnya sudah dibetulkan tanpa satu kata pun, dan aku berdiri di depan pintu itu selama beberapa detik dan lalu memanggilnya dari ruang tengah.

“Mas.”

“Iya?”

“Engselnya.”

Dan aku melihat wajahnya waktu dia sadar.

“...Iya ya.”

“Iya.”

“Aku lupa.”

“Aku tau.”

Dia duduk di sofa dan mengusap wajahnya. “Aku ngeliatnya pagi ini terus tangan aku gerak sendiri.”

“Nggak apa-apa.”

“Enggak, aku—“

“Mas Azzam.” Aku duduk di sebelahnya. “Aku nggak minta kamu berhenti benerin engsel. Aku minta kamu bilang.”

“Bilang gimana?”

“Ya bilang aja. ‘Engselnya aku betulin tadi.’”

Dia menatapku.

“Itu doang?”

“Itu doang.”

“Aku pikir kamu mau aku nanya izin dulu.”

“Astaga, Mas, enggak.”

Dan dia tertawa, dan aku tertawa, dan hari itu kami menyelesaikan satu hal yang sudah kami gagalkan selama setahun.


Dia mulai bertanya.

Awalnya kaku sekali. Awalnya seperti orang yang membaca dari daftar, dan aku bisa mendengar bahwa dia sudah menyusunnya di mobil dalam perjalanan pulang.

“Kamu hari ini gimana?”

“Baik.”

“Baik gimana?”

“...Mas, kamu nanya kayak dokter.”

“Aku lagi belajar.”

“Aku tau. Maaf.”

Bulan ketiga dia sudah tidak menyusun lagi.

Bulan keempat dia bertanya sesuatu waktu aku sedang menyisir rambut dan jawabannya membuat kami berdebat empat puluh menit tentang apakah warna sofa kami jelek, dan kami tidur dengan kesal, dan besok paginya dia menyeduh dua gelas seperti biasa dan menaruh gelasku dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari biasanya.

Aku tertawa di dapur jam enam pagi sendirian.

Aku belum pernah sebahagia itu karena bunyi gelas.


Bulan kedua kami bertengkar besar.

Aku menuliskannya karena bertengkar besar itu bagian dari cerita ini, dan karena kalau aku melewatinya nanti kelihatan seperti semuanya beres dalam satu percakapan di kontrakan.

Penyebabnya: aku pulang jam sepuluh malam dari acara kantor dan lupa mengabari.

Dan dia menunggu di ruang tengah dengan lampu menyala, dan waktu aku masuk dia bilang, “Kamu dari mana?”

Dan aku, karena tubuhku belum belajar, langsung defensif.

“Acara kantor. Aku udah bilang minggu lalu.”

“Kamu bilang sampai jam delapan.”

“Ya molor.”

“Kamu nggak kabarin.”

“Mas, aku lupa—“

“Aku telepon empat kali.”

Dan aku melihat wajahnya, dan wajahnya bukan wajah orang yang curiga.

Wajahnya wajah orang yang selama dua jam terakhir duduk di ruangan ini sambil menghitung.

“Mas.”

“Aku nggak nuduh kamu apa-apa,” katanya, dan suaranya sudah naik. “Aku cuma—“

Dan dia berhenti.

Dan dia menarik napas dan bilang, dengan susah payah, seperti orang mengangkat sesuatu yang berat:

“Aku takut.”

Dua kata.

Aku berdiri di ruang tengah dengan tas masih di bahu dan sepatu belum lepas.

“Aku takut, Evelyn,” katanya lagi. “Jam delapan aku mikir macet. Jam sembilan aku mulai mikir yang lain. Jam sepuluh aku udah nyusun apa yang bakal aku lakuin kalau kamu pulang terus bilang sesuatu.”

“Mas—“

“Aku tau itu nggak adil.” Dia duduk di sofa dan mengusap wajahnya. “Aku tau kamu nggak ngapa-ngapain. Aku cuma—“

“Enggak.”

Dia mengangkat kepala.

“Jangan minta maaf,” kataku. Aku menaruh tas itu di lantai. “Mas, ini yang aku minta.”

“Apa?”

“Ini.” Aku menunjuk dia, sofa, ruangan itu. “Yang barusan. Kamu marah, kamu takut, kamu ngomong.”

“Aku bentak kamu.”

“Kamu naikin suara dikit.”

“Evelyn—“

“Setahun kamu diem waktu aku bener-bener ketemu orangnya,” kataku. “Dan sekarang kamu panik gara-gara acara kantor.”

Aku duduk di sebelahnya.

“Aku lebih suka yang sekarang,” kataku.

Kami tidak menyelesaikannya malam itu. Kami tidur dengan kesal dan aku bangun jam dua dan dia tidak ada di kasur, dan aku menemukannya di dapur duduk di kursi dengan lampu mati.

Dan aku duduk di kursi seberangnya dan kami bicara sampai jam empat pagi.

Itu percakapan pertama dalam hidup kami di mana dua-duanya bicara sama banyak.


Aku juga belajar.

Aku belajar bahwa orang ini tidak akan pernah bilang dia lelah, jadi aku belajar membaca bahunya.

Aku belajar bahwa kalau dia jadi sangat sopan, artinya ada yang salah, dan bahwa satu-satunya cara mengeluarkannya adalah dengan diam di sebelahnya cukup lama sampai dia bosan.

Aku belajar bertanya balik.

Dan aku belajar hal yang paling sulit, yang butuh hampir setahun: aku belajar meminta.

Bulan kesembilan aku bilang, “Mas, aku pengen kamu pulang lebih cepat hari Jumat.”

Dan dia berhenti mengunyah dan menatapku seperti orang yang baru saja menerima hadiah.

“Kenapa Jumat?”

“Nggak kenapa-kenapa. Aku pengen aja.”

“Oke.”

Dan dia pulang jam enam setiap hari Jumat selama tiga tahun berikutnya, dan aku tidak pernah sekali pun harus mengingatkan.


Ada satu hal yang berubah di rumah itu dan aku baru menyadarinya bulan keenam.

Piringku.

Selama setahun pertama dia yang menyendokkan, dan takarannya selalu pas, dan aku tidak pernah menyadari kapan itu dimulai.

Bulan keenam setelah dia kembali, aku memperhatikan bahwa dia berhenti.

Dia menaruh nasi di meja dan membiarkan aku menyendok sendiri.

Aku menanyakannya, karena sekarang kami menanyakan hal-hal.

“Kamu udah nggak nyendokin.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia mengangkat bahu dan bilang, “Aku sering kebanyakan.”

“Enggak. Kamu nggak pernah salah takaran sekali pun. Setahun.”

Dia menaruh sendoknya.

“Iya,” katanya. “Aku emang nggak pernah salah.”

“Terus kenapa berhenti?”

“Karena kamu nggak pernah minta.”

Dan kami duduk di meja itu, dan tidak ada yang menangis, dan tidak ada yang bilang apa-apa lagi, dan aku menyendok nasiku sendiri malam itu dan setiap malam setelahnya.

Kadang kebanyakan. Kadang kurang.


Kaus kakinya empat puluh dua.

Aku membelinya lima pasang bulan pertama, dan lima pasang lagi bulan keenam, dan sekarang aku beli otomatis setiap kali lewat toko itu, dan dia sudah berhenti berterima kasih karena aku menyuruhnya berhenti berterima kasih.

Kardusnya tidak pernah dibicarakan lagi.

Aku tidak membutuhkannya. Dia tidak menanyakannya. Kami tidak sekali pun menyebut benda itu dalam tiga tahun, dan bukan karena menghindar — karena benar-benar tidak ada yang perlu disebut.

Ernest menikah dua tahun kemudian. Aku tahu dari kabar keluarga, bukan dari dia. Aku senang, dengan cara yang sama seperti aku senang mendengar kabar baik tentang teman SMA yang sudah lama tidak kutemui.

Mas Azzam yang memberitahuku.

“Ibumu cerita ke Ibu,” katanya, sambil memotong bawang. “Katanya di Surabaya.”

“Oh. Bagus.”

“Iya.”

Dan itu seluruh percakapannya.


Kami membicarakannya sekali. Satu kali, di tahun ketiga.

Malam Sabtu, hujan, di sofa, dengan drama yang sudah tamat sejak lama dan sekarang kami menonton yang lain.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu inget Ha-jun?”

“Yang mana?”

“Yang dulu itu. Yang sembilan puluh dua episode nggak ngomong.”

“Tiga puluh dua.”

“Kamu inget angkanya.”

“Aku selalu inget angka.”

Aku menaruh kaki di pangkuannya, yang sudah jadi kebiasaan sejak entah kapan.

“Kamu tau nggak,” kataku, “dulu aku pernah bilang ke kamu Seo-yeon nggak sadar-sadar karena Ha-jun kejago-jagoan nyembunyiinnya.”

“Aku inget.”

“Kamu inget?”

“Aku inget semuanya, Evelyn.”

Aku menoleh ke arahnya.

Dan dia tidak melihat ke arahku. Dia melihat ke layar, dengan wajah yang sama sekali biasa, dan tangannya di pergelangan kakiku.

“Waktu itu,” katanya, “aku pikir kamu lagi ngomongin aku.”

“Aku nggak lagi ngomongin kamu.”

“Aku tau.”

“Aku beneran nggak tau apa-apa waktu itu, Mas.”

“Aku tau.”

Kami menonton beberapa menit.

Lalu dia bilang, “Aku dulu punya kalimat.”

“Kalimat apa?”

“Yang aku ulang-ulang di kepala.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Tiap malam. Bertahun-tahun.”

“Kalimatnya apa?”

Dan dia diam agak lama, dan aku menunggu, karena aku sudah belajar menunggu orang ini.

“Aku bisa tunggu sampai kamu berhenti menoleh,” katanya.


Aku duduk tegak.

“Serius?”

“Iya.”

“Itu kalimat kamu?”

“Iya.”

“Mas, itu jelek banget.”

Dia menoleh. “Jelek?”

“Jelek.” Aku mematikan televisi. “Itu kalimat orang yang nunggu orang lain berubah sambil nggak ngapa-ngapain.”

“Ya emang.”

“Iya kan?”

“Aku udah tau itu sekarang, Evelyn.” Dia tertawa. “Aku nggak lagi belain diri.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku bilang, “Kamu tau nggak, aku udah berhenti menoleh.”

Dia menoleh ke arahku.

“Bukan waktu aku buang kardusnya,” kataku. “Bukan waktu aku ke kontrakan kamu.”

“Terus kapan?”

Dan aku memikirkannya, dan aku sudah memikirkannya berkali-kali selama tiga tahun, dan jawabannya selalu sama.

“Waktu kamu berdiri di meja makan dan ngomong ke tiga puluh orang,” kataku. “Tante Lily, inget?”

Dia diam.

“Aku duduk di situ dan ada orang yang berdiri buat aku,” kataku. “Pertama kali seumur hidup. Terus aku peluk kamu di dapur dan kamu nggak nanya kenapa.”

“Aku hampir nanya.”

“Aku tau. Aku ngerasain kamu hampir nanya.”

Aku bersandar ke bahunya.

“Aku udah berhenti dari situ, Mas. Udah lama. Kamu aja yang nggak liat.”


Dia tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat.

Lalu dia bilang, “Evelyn.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Dan aku tersenyum ke arah televisi yang sudah mati, karena kalimat itu sekarang punya bunyi yang berbeda di rumah ini.

“Tanya.”

“Kamu inget dua puluh halaman kosong itu?”

Aku mengangkat kepala.

Buku itu ada di rak, di ruangan yang dulu gudang dan sekarang bukan. Aku sudah membukanya mungkin dua puluh kali dalam tiga tahun dan tidak pernah membawa pulpen.

“Inget.”

“Kamu mau nyelesaiin?”

Dan aku duduk di sofa dengan kaki di pangkuannya dan hujan di luar, dan aku memikirkan itu dengan serius untuk pertama kalinya.

“Aku nggak tau ceritanya mau ke mana,” kataku. “Aku nulis itu umur tujuh belas.”

“Ya nggak apa-apa.”

“Mungkin jelek.”

“Mungkin.”

“Mungkin aku nggak bakal selesai lagi.”

Dan dia menggeser sedikit supaya kakiku lebih enak, dan tidak melihat ke arahku, dan bilang:

“Kamu nggak perlu buru-buru.”


Dan kali ini kalimat itu bunyinya benar.

Aku sudah mendengarnya dua kali sebelum ini.

Yang pertama di sofa ini juga, tiga tahun lalu, dan waktu itu bahuku turun karena lega, dan lega itu adalah lega orang yang baru diberi tahu bahwa tidak ada yang mengharapkan apa pun darinya.

Yang kedua tidak pernah kudengar. Yang kedua patah di kepalanya sendiri, di dapur, di pagi terbaik dalam hidupnya, dan dia tidak pernah menceritakannya kepadaku sampai tahun kedua.

Yang ketiga ini.

Kalimat yang sama persis. Huruf yang sama persis.

Dan bunyinya sekarang: aku nggak ke mana-mana.


“Mas.”

“Hm.”

“Aku besok mau nasi uduk.”

“Warung Bu Yang Itu?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Yang penting sebelum kerupuknya abis.”

“Berarti jam tujuh.”

“Iya.”

Dan dia mengangguk, dan dia tidak menulisnya di mana pun, dan aku tahu persis dia akan bangun jam lima seperti biasa dan menyeduh dua gelas seperti biasa dan berangkat ke warung itu jam tujuh kurang sepuluh untuk mengantre.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya dan menutup mata.

Di luar hujan.

Di dapur ada dua gelas yang sudah dicuci dan ditelungkupkan, dan di kamar ada guling yang sudah tidak ada gunanya lagi dan tidak pernah dibuang karena tidak ada yang berpikir untuk membuangnya.

Dan di rak, di ruangan yang dulu gudang, ada buku bersampul gading dengan namaku dicetak di tengahnya dan dua puluh halaman kosong di belakang.

Aku belum tahu mau menulis apa di sana.

Tapi aku tidak buru-buru.


TAMAT