← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty Four

Extra 4: Namanya Bagas

POV: Evelyn


Penerbit kami mengangkat editor baru bulan Februari.

Namanya Bagas. Umur dua puluh enam. Lulusan sastra, rajin, sopan, dan punya kebiasaan mengirim pesan ke atasannya jam sebelas malam untuk menanyakan apakah komanya sudah benar.

Aku atasannya.

Aku menceritakannya di meja makan tanpa berpikir panjang, karena aku menceritakan semua yang terjadi di kantor sejak sepuluh tahun lalu dan tidak pernah sekali pun ada masalah.

“Ada anak baru.”

“Hm.”

“Namanya Bagas. Bener-bener rajin, Mas. Dia ngirim pertanyaan jam sebelas malem.”

“Jam sebelas malem?”

“Iya.”

“Ke kamu?”

“Ya ke aku, aku kan atasannya.”

“Hm.”

Dan aku melanjutkan makan dan tidak menyadari apa-apa, karena “hm” adalah kosakata standar laki-laki ini dan aku sudah lama berhenti menganalisisnya.


Yang pertama kusadari terjadi tiga minggu kemudian.

Kami di mobil. Aku sedang membalas pesan.

“Siapa?”

Aku menoleh.

“Hah?”

“Nggak,” katanya. “Nggak apa-apa.”

Dan dia terus menyetir.

Aku menatap sisi wajahnya selama sekitar empat detik.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu barusan nanya siapa.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah nanya siapa.”

“Kamu yang nyuruh aku nanya.”

Dan itu benar. Itu sangat benar. Aku sendiri yang bilang, tiga tahun lalu di kontrakan berukuran satu kamar, bahwa aku cuma minta dia bertanya, satu pertanyaan sehari, apa saja.

“Ini Bagas,” kataku.

“Oh.”

“Nanyain koma.”

“Jam delapan malem?”

“Iya.”

“Hm.”


Yang kedua terjadi minggu berikutnya.

Kantor mengadakan acara ulang tahun penerbit. Boleh bawa pasangan. Aku memberitahunya tiga minggu sebelumnya dan dia bilang iya tanpa berpikir, yang tidak biasa, karena orang ini biasanya mengecek jadwal proyek dulu.

Dia datang dengan kemeja yang disetrika sendiri.

Aku ingin mencatat itu: dia menyetrikanya sendiri, pagi hari, padahal aku menawarkan.

“Aku aja.”

“Nggak usah.”

“Mas, aku bisa.”

“Aku aja, Evelyn.”

Dan waktu kami sampai di acara itu, dia berdiri di sebelahku selama satu jam penuh dan tidak pindah sekali pun, yang untuk laki-laki yang biasanya masuk ke kelompok bapak-bapak dalam empat menit adalah hal yang sangat baru.

Lalu Bagas datang menyalami.

“Mbak Evelyn.”

“Eh, Bagas. Ini suamiku.”

Dan Bagas menyalaminya dengan dua tangan dan sangat sopan dan bilang “salam kenal, Mas,” dan Mas Azzam menyalaminya balik dan bilang “iya.”

Iya.

Bukan “salam kenal juga.” Bukan “oh, ini yang suka nanyain koma.”

Iya.


Di mobil pulang, aku diam selama sepuluh menit.

Lalu aku bilang, “Mas.”

“Hm.”

“Kamu kenapa tadi?”

“Nggak kenapa-napa.”

“Kamu bilang ‘iya’ doang ke Bagas.”

“Aku salaman.”

“Kamu salaman kayak orang lagi nerima paket.”

Dan dia tidak menjawab selama sekitar dua puluh detik, dan aku menonton rahangnya, dan lalu — dan ini bagian yang membuatku hampir berteriak di dalam mobil — dia bilang:

“Dia lebih muda dari aku ya?”


Aku menoleh sepenuhnya ke arahnya.

“APA?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas Azzam.”

“Aku cuma nanya.”

“KAMU CEMBURU?”

“Enggak.”

“KAMU CEMBURU SAMA ANAK DUA PULUH ENAM TAHUN YANG NANYAIN KOMA?”

“Aku nggak cemburu, Evelyn.”

“Kamu bilang ‘dia lebih muda dari aku ya’.”

“Itu pertanyaan faktual.”

“ITU BUKAN PERTANYAAN FAKTUAL.”

Dan dia menyalakan sein dan tidak menjawab, dan telinganya merah, dan aku duduk di kursi penumpang mobil suamiku dan merasakan sesuatu yang harus kuakui dengan jujur:

Aku senang sekali.


Aku ingin menjelaskan kenapa, karena kalau tidak, ini akan kelihatan seperti aku kejam.

Selama setahun pertama pernikahan kami, laki-laki ini duduk di rumah dan tahu istrinya bertemu mantannya di kafe dan tidak mengatakan satu kata pun.

Bukan satu kata. Setahun.

Dia menjemputku dalam hujan dan tidak menanyakan satu dari dua belas pertanyaan yang berhak dia tanyakan.

Dan sekarang dia duduk di kursi pengemudi dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan umur seorang editor junior yang tingginya seratus enam puluh lima sentimeter dan yang minggu lalu menangis di pantry karena naskahnya ditolak.

Kamu tidak akan mengerti kalau kamu tidak pernah menghabiskan setahun ditemani orang yang tidak pernah menuntut apa-apa.

Ini bukan kekurangan.

Ini bukti bahwa dia sudah berhenti berpura-pura.


Jadi aku memancingnya.

Aku mengakuinya. Aku memancingnya dengan sangat sengaja selama sekitar dua minggu, dan aku tidak menyesal sedikit pun.

“Mas, Bagas bilang tulisan aku bagus.”

“Hm.”

“Katanya dia belajar banyak dari aku.”

“Hm.”

“Dia bilang aku editor terbaik yang pernah dia kerja bareng.”

“Dia baru kerja empat bulan.”

“OH JADI KAMU INGET DIA BARU KERJA EMPAT BULAN.”

“Itu informasi umum.”

“Itu bukan informasi umum, Mas, kamu nggak inget nama tetangga sebelah.”

“Namanya Pak Rudi.”

“ITU PAK RIDWAN.”


Vira mendengar ceritanya hari Rabu dan hampir mati.

“KAMU BOHONG.”

“Aku nggak bohong.”

“Mas Azzam? Yang setahun diem waktu kamu—“

“Iya, Vir.”

“Yang itu?”

“Yang itu.”

Vira mengeluarkan suara yang tidak bisa kutulis.

“Vie, kamu tau nggak ini apa artinya?”

“Apa?”

“Ini artinya orang itu udah sembuh.” Dia menggebrak meja kafe cukup keras sampai meja sebelah menoleh. “Sepuluh tahun aku kenal kamu dan aku nggak pernah nyangka aku bakal seneng denger suami temenku cemburuan.”

“Aku juga.”

“Kamu gimana?”

“Aku seneng banget, Vir.”

“Kamu jahat.”

“Aku tau.”

“Kamu jahat banget dan aku bangga sama kamu.” Dia mengangkat gelasnya. “Pancing lagi.”

“Aku emang lagi mancing.”

“PANCING LEBIH.”


Puncaknya hari Kamis.

Aku pulang jam sembilan karena ada revisi mendadak, dan aku mengirim pesan jam delapan bilang aku telat, dan aku menambahkan — dengan sepenuhnya sadar, dengan niat jahat, sambil tersenyum di depan layar komputer:

Aku bareng Bagas, dia bantuin.

Balasannya datang dalam sembilan detik.

Azzam:Oke.

Sembilan detik.

Dan “oke” dengan titik.

Orang ini tidak pernah pakai titik.


Aku sampai rumah jam sembilan lewat.

Lampu ruang tengah menyala. Dia duduk di sofa. Televisi mati.

“Mas.”

“Udah pulang?”

“Udah.”

“Makan?”

“Udah tadi.”

“Sama siapa?”

Dan aku berdiri di ruang tengah dengan tas masih di bahu dan hampir tidak sanggup menahan wajahku.

“Sama Bagas,” kataku.

Dan dia mengangguk sekali dan bilang, “Oh.”

Dan berdiri, dan berjalan ke dapur, dan menyalakan keran, dan mencuci dua gelas yang sudah bersih.


Aku mengikutinya.

Aku bersandar ke kusen pintu dapur dan menonton punggungnya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu lagi nyuci apa?”

“Gelas.”

“Gelasnya udah bersih.”

“Ada bekas.”

“Nggak ada bekas.”

“Ada.”

Aku berjalan mendekat dan mematikan kerannya.

Dia tidak menoleh.

“Mas Azzam.”

“Apa.”

“Liat aku.”

Dan dia menoleh, dan wajahnya wajah orang yang sedang berusaha keras terlihat biasa saja dan gagal total, dan aku hampir tidak sanggup.

“Bagas itu dua puluh enam,” kataku.

“Aku tau.”

“Dia punya pacar. Namanya Kirana. Anak akuntansi. Mereka udah tiga tahun dan dia nabung buat lamaran.”

Dia tidak mengatakan apa-apa.

“Dan dia nangis di pantry minggu lalu gara-gara naskahnya ditolak, terus aku yang ngasih tisu.”

Hening.

“Dan dia manggil aku ‘Mbak’,” kataku. “Mbak, Mas. Dia manggil aku Mbak.”

Dan Azzam mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih basah dan bilang, dengan suara yang sangat lelah:

“Aku tau, Evelyn.”

“Terus kenapa—“

“AKU NGGAK TAU KENAPA.”


Aku berhenti.

Dia bersandar ke meja dapur dengan dua tangan di pinggiran dan menunduk.

“Aku nggak ngerti,” katanya. “Aku beneran nggak ngerti. Aku setahun duduk di rumah ini dan aku tau kamu ketemu dia dan aku diem.”

“Mas—“

“Aku diem, Evelyn. Setahun. Aku bahkan bilang simpan aja.”

Dia mengangkat kepala.

“Terus sekarang ada anak dua puluh enam tahun nanyain koma jam delapan malem dan aku nggak bisa tidur.”

Dan aku berdiri di dapur itu dan berhenti bercanda.


“Mas.”

“Aku tau ini nggak masuk akal.”

“Itu masuk akal banget.”

Dia menoleh.

“Kamu tau kenapa?” kataku. Aku melangkah mendekat. “Karena dulu kamu nggak punya apa-apa buat hilang.”

Dia diam.

“Setahun itu kamu nggak cemburu karena kamu udah anggep aku bukan punya kamu,” kataku. “Kamu nggak bisa takut kehilangan sesuatu yang kamu nggak ngerasa punya.”

Dan aku berdiri di depannya dan menaruh dua tangan di dadanya.

“Sekarang kamu punya.”

Dia menutup mata.

“Aku benci ini,” katanya.

“Aku suka banget.”

“Evelyn.”

“Aku suka banget, Mas. Aku minta maaf tapi aku suka banget.”

“Kamu mancing aku dua minggu.”

“Iya.”

“Sengaja.”

“Sangat sengaja.”

Dan dia membuka mata dan menatapku, dan sesuatu berubah di wajahnya, dan aku mundur setengah langkah karena refleks dan tidak sempat mundur lebih jauh.

“Mas—“

“Kamu sengaja.”

“Iya.”

“Dua minggu.”

“Iya.”

Dan dia mengangkat aku ke meja dapur, yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya seumur hidupnya, dan gelas yang tadi dicuci jatuh ke bak dan untungnya tidak pecah.

“Mas, gelasnya—“

“Biarin.”

“Itu punya Mama kamu—“

“Evelyn.”

“Apa?”

Dan dia bilang, “Diem bentar,” dan aku diam.


Sekitar jam sepuluh, di kamar, dengan lampu sudah mati, dia bilang:

“Evelyn.”

“Hm.”

“Jangan diulang.”

“Yang mana?”

“Yang mancing.”

Aku memiringkan badan ke arahnya.

“Kamu yakin?”

Dan ada jeda yang sangat panjang di kegelapan.

Dan lalu dia bilang, “Nggak.”

Dan aku tertawa ke bantal sampai dia bilang “sudah, tidur” dengan nada orang yang kalah untuk kedua kalinya malam itu.


Besoknya di kantor, Bagas mengirim pesan jam delapan malam.

Mbak, ini komanya bener nggak?

Aku memotret layarnya dan mengirimnya ke Mas Azzam dengan caption:

Saingan kamu.

Balasannya datang dalam empat detik.

Azzam:Suruh dia tidur.

Azzam:Kamu juga.

Azzam:Aku jemput jam berapa.